Share

Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan
Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan
Penulis: Saraswati_5

Bab 1

Penulis: Saraswati_5
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 09:12:13

"Aaahhh ... iya, Sayang, seperti itu ... nghh ...."

"Apa seperti ini?"

"Iyaa ... seperti ini ... hhh ...."

"Apakah kamu menyukainya?"

"Iya ... aku sangat menyukainya ...."

"Kamu juga sangat nikmat, Baby."

Rahang Tharie mengeras dengan kedua telapak tangan yang mengepal saat mendengar percakapan dari arah kamar kekasihnya.

Ia sangat tidak menyangka, niatnya untuk memberi kejutan pada sang kekasih hati setelah sekian lama tidak bertemu akibat dirinya yang harus ikut dengan kedua orang tuanya untuk mengunjungi kakek dan neneknya malah berakhir menyakitkan.

Dan kini ia malah disajikan dengan pemandangan apartemen kekasihnya yang berantakan. Dengan baju perempuan yang berceceran dan yang lebih menyakitkan adalah ketika ia sampai di depan pintu kamar kekasihnya ia malah disajikan dengan suara-suara aneh dari dalam sana.

"Terus, Sayang ... lebih cepat nghh ...."

Rahang Tharie mengeras saat kembali mendengar suara menjijikkan milik seorang perempuan di dalam sana. Tangannya pun mengepal kuat, hingga kuku-kuku jarinya memutih.

Sungguh, hatinya sangat sakit, apalagi saat ia juga mendengar suara seperti tepukan yang ia yakini ulah dari sang kekasih.

Ia tidak ingin membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Namun, pikirannya terus tertuju pada sesuatu yang sedang dilakukan kekasihnya dengan perempuan lain.

Tidak bisa menahan diri, Tharie membuka pintu kamar kekasih hatinya itu dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.

BRAKK!!

"RONI!"

Kedua orang yang sedang memadu kasih di atas tempat tidur dengan dibanjiri peluh tersentak. Bahkan saking terkejutnya si pria refleks menghentikan kegiatannya itu.

Mereka berdua seketika melihat ke arah pintu. Detik selanjutnya kedua orang itu melebarkan kedua bola mata mereka saat melihat siapa yang ada di sana.

"Tharie?" gumam laki-laki yang dipanggil 'Roni' oleh Tharie.

"BAJINGAN KAMU RONI" teriak Tharie sambil berbalik dan pergi dari sana.

Dengan segera Roni melepaskan diri dari si perempuan dan mengambil celana miliknya yang tergeletak di lantai. Setelah itu, ia menyusul Tharie yang sudah keluar dari kamarnya. Sementara si perempuan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

Roni sedikit berlari mengejar Tharie, hingga tidak lama ia bisa meraih tangan Tharie dan menggenggamnya.

"Lepas!" sentak Tharie, sembari menghempaskan genggaman tangan Roni.

"Dengerin penjelasan aku dulu, Thar!"

"Nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas!"

"Please, Thar, ini nggak seperti yang kamu liat. Aku cuma—"

PLAK!!

"Cuma apa?! Cuma nyalurin hasrat be jad kamu itu sama perempuan sialan itu, HAH!" bentak Tharie dengan sorot mata penuh emosi, "gimana rasanya? Enak? Sumpah ya, aku nggak nyangka banget kamu bakal ngelakuin hal kayak gitu di belakang aku," lanjut Tharie dengan sorot mata tajam tetapi penuh dengan rasa kecewa.

Roni menatap Tharie dengan tatapan menyesal. "Tharie, please ini nggak seperti yang kamu liat. Aku ... aku itu dijebak. Aku nggak bermaksud mengkhianati kamu," ucapnya mencoba menjelaskan.

Tharie tertawa sinis mendengar apa yang diucapkan Roni. "Dijebak? Kalau iya kamu benar-benar dijebak? Kenapa kamu seperti sangat menikmati apa yang kamu lakukan tadi, huh?!"

Roni menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bohong, Thar, aku benar-benar dijebak. Sasa yang udah ngerayu aku duluan, sampai aku dan dia—"

"Sampai melakukan hal yang tidak bermoral seperti tadi!" ucap Tharie memotong ucapan Roni.

"Enggak, Thar, enggak. Nggak seperti itu, aku mohon dengerin dulu penjelasan aku," ucap Roni sambil meraih telapak tangan Tharie.

Napas Tharie memburu. Matanya terbakar dengan amarah yang membara saat Roni mencoba meraih tangannya, memohon dan mencoba menjelaskan. Namun, Tharie cepat-cepat menarik tangannya, matanya melotot dengan ketidakpercayaan.

"Cukup, Roni! Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi! Dan jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu itu," ucap Tharie dengan suara yang bergetar karena emosi.

Roni, dengan wajah pucat dan mata yang memohon, berusaha untuk bicara, "Tharie, aku mohon, dengarkan aku ...."

"Sudahlah, Ron. Kamu nggak perlu ngemis-ngemis sama dia, lagi pula dia nggak bisa 'kan muasin kamu," ucap Sasa dengan sombongnya.

Tatapan mata Tharie menatap Sasa yang baru saja keluar dari kamar Roni dengan kaos kebesaran milik Roni yang melekat di tubuh perempuan itu.

Dengan wajah menyebalkannya dan tanpa rasa bersalahnya itu, Sasa berjalan mendekat ke arah Thari dan Roni. Ia langsung bergelayut manja di lengan Roni.

"Diam kamu, Sasa! Jangan menambah keadaan semakin ruyam!" bentak Roni sambil menyentakkan tangan Sasa.

"Loh, emang bener 'kan? Kamu sendiri yang pernah bilang satu minggu lalu waktu kita pertama kali kita melakukannya. Kamu bilang Tharie itu gadis naif yang nggak pernah mau kamu sentuh selama kalian pacaran? Kamu juga selalu bilang kalau kamu macarin dia karena tidak enak sama Papa Tharie yang berstatus sahabat Papa kamu."

Mata Roni melotot mendengar ucapan Sasa. "Diam kamu, Sa! Ini bukan urusan kamu!" bentak Roni.

"Jadi selama ini kamu pacarin aku cuma gara-gara papa aku itu sahabat papa kamu?" tanya Tharie.

Ia lalu tertawa miris. "Perlu kamu tahu, Ron, kalaupun kamu memutuskan aku, aku akan dengan mudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih dari kamu!"

Roni menatap Tharie dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan percaya ucapan Sasa, Thar, dia itu cuma ngarang. Aku nggak seperti itu."

"Sudahlah, Ron. Semuanya sudah jelas dan mulai sekarang hubungan kita selesai, jangan pernah ganggu aku," ucap Tharie.

Roni kembali menggelengkan kepalanya namun kali ini lebih kuat. "Enggak, Thar. Aku nggak mau putus sama kamu, tolong kasih aku kesempatan," mohon Roni.

Namun, Tharie sudah berbalik, memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan kata-kata penuh tipu dari Roni. Langkah kakinya di lantai apartemen itu begitu cepat, seolah ingin segera menghapus jejak-jejak pengkhianatan yang terasa mengikuti di setiap sudut ruangan. Tangannya mencengkeram tasnya dengan erat, seakan menahan segala emosi yang hampir meledak.

Melihat Tharie yang berjalan pergi, dengan segera Roni menyusul. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencengkeram lengannya.

Roni menatap tangan Sasa dengan penuh emosi. "Lepasin, Sa!"

"Biarin dia pergi, Ron. Lagian itu lebih baik, kita bisa lanjutin kegiatan kita yang tertunda," ucap Sasa dengan nada suara yang dibuat manis.

Roni menatap Sasa dengan tatapan tidak habis pikir. Baru saja ia hendak membuka mulutnya untuk menegur Sasa tetapi terhenti saat ia mendengar suara pintu apartemen yang tertutup dengan kerasnya.

Brak!

Pintu apartemen ditutup dengan keras, suara benturan itu seperti menandai akhir dari segala harapan dan mimpi yang pernah mereka bangun bersama. Tharie meninggalkan apartemen Roni, meninggalkan semua kenangan dan luka yang kini terasa semakin perih di hatinya.

Melihat pintu apartemen yang sudah tertutup, Roni segera menyentakkan tangan Sasa dan mengejar Tharie. Ia tidak ingin hubungannya dengan Tharie berakhir.

***

Tharie yang rapuh, menapaki trotoar dengan langkah yang goyah. Hatinya penuh luka, pikirannya terbelenggu oleh pengkhianatan yang tidak pernah ia duga dari Roni sebelumnya. Matanya yang sembab memandang jauh ke depan, seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, "Apa kurangnya aku, Ron? Kenapa kamu tega selingkuh."

Langit malam itu seakan turut berduka, mendung menggantung rendah, tidak ada bulan, tidak ada binta yang bersinar, hanya ada kegelapan malam yang mencerminkan kesuraman hati Tharie.

Sesampainya di tengah jembatan, langkahnya terhenti. Ia mendekat ke pinggir jembatan, menatap jauh ke arah air yang mengalir di bawah jembatan.

Mata yang biasanya bersinar kini terlihat suram dan kosong. Air mata mulai menggenang, menandakan betapa hancurnya hati gadis itu.

Tharie masih diam, berdiri di tempatnya tadi, merasakan angin sepoi-sepoi yang dingin, menusuk tulang. Namun, rasa itu tidak sebanding dengan dinginnya hati Tharie saat ini. Sebuah ide mengerikan tiba-tiba menyusup ke pikirannya, berbisik lirih bahwa mungkin, hanya dengan melompat, semua kesedihan dan pengkhianatan itu bisa berakhir.

Pikirannya melayang pada kenangan bersama Roni, pada janji-janji yang kini terasa seperti pisau yang menghujam ulu hati. Bagaimana mungkin cinta yang ia berikan berakhir seperti ini? Bagaimana mungkin pengorbanan dan kesetiaannya dibalas dengan pengkhianatan?

Dalam keputusasaan, Tharie mulai menundukkan badan, siap untuk melompat. Namun, tepat saat kakinya mulai terangkat, sebuah tangan dengan cepat menariknya kembali ke atas jembatan.

"Jangan lakukan itu," ujar laki-laki itu.

"Apapun masalahmu, ini bukan solusi yang tepat. Lagi pula, apa yang kamu lakukan tidak pantas dengan penampilan kamu ini," lanjutnya sambil menatap Tharie yang masih membelakanginya.

Napas Tharie memburu, jantungnya juga berpacu dengan cepat saat ada orang yang menggagalkan rencananya untuk mengakhiri hidup. Tharie yang sangat emosi, kemudian berbalik, menatap laki-laki yang sudah menghentikannya dengan tatapan tajam.

Untuk sesaat, Tharie terdiam saat melihat wajah laki-laki di hadapannya itu. Tampan, satu kata itu yang terlintas di dalam benak Tharie. Namun, dengan cepat Tharie menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri dan kembali menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam.

"Anda siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan saya! Ini itu bukan urusan Anda!" sentak Tharie pada laki-laki di hadapannya.

Sementara laki-laki yang sudah menolong Tharie terdiam saat melihat wajah gadis yang sudah ia tolong, lebih tepatnya pada sorot mata gadis itu. Sorot mata gadis di hadapannya itu sangat mirip dengan sorot mata milik mendiang istrinya.

"Queen?" gumam Gilang pelan.

Tharie mengerutkan keningnya saat samar-samar mendengar gumaman laki-laki di hadapannya itu. Baru saja ia berniat untuk membuka mulutnya untuk menanggapi gumaman laki-laki itu, tetapi terhenti saat tanpa sengaja ia melihat Roni sedang berjalan mendekat ke arahnya. "Buat apa dia nyusulin aku, sih!" gumam Tharie di dalam hati.

Merasa bingung dan tidak ingin berurusan lagi dengan Roni, tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Tharie. Ia kemudian menarik krah kemeja laki-laki di hadapannya, membuat Gilang membungkuk dan detik selanjutnya ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 99

    Aula sekolah yang semula riuh perlahan berubah menjadi ruang penuh bisik dan tatapan tajam. Pernyataan Gilang masih menggantung di udara ketika pria yang mengaku sebagai orang tua murid itu melangkah maju.“Saya tidak puas dengan klarifikasi seperti ini,” katanya tegas. “Hubungan guru dan murid itu sakral. Sekali tercoreng, kepercayaan kami sebagai orang tua runtuh.”Beberapa orang mengangguk setuju. Beberapa lain terlihat ragu.Kepala sekolah mencoba menenangkan suasana. “Pak, kami sedang melakukan investigasi internal. Mohon beri kami waktu.”“Waktu?” pria itu mendengus. “Sementara rumor terus menyebar? Anak-anak kami melihat ini setiap hari di media sosial!”Tharie merasakan dadanya seperti diremas. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Gilang, menyaksikan bagaimana pria itu tetap tegak di tengah tudingan.“Apa Bapak punya bukti pelanggaran?” tanya Gilang tenang.“Bukti?” pria itu tersenyum sinis. “Kadang kebenaran

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 98

    Pagi itu, halaman sekolah terasa berbeda.Biasanya suara tawa siswa memenuhi udara, bercampur dengan derap langkah yang terburu menuju kelas. Namun hari ini, bisikan lebih dominan daripada tawa. Tatapan lebih tajam daripada sapaan.Tharie merasakan semuanya.Begitu ia turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada yang terang-terangan menatap dengan rasa ingin tahu berlebihan.“Eh itu dia…”“Katanya mau nikah sama Pak Gilang…”“Seriusan? Gila…”Bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk satu per satu.Tharie menunduk, mencoba menguatkan langkahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan lari.Di sisi lain halaman, Gilang berdiri di depan ruang guru. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan.Beberapa guru berbisik saat ia lewat.“Ini sudah keterlaluan.”“Walaupun belum terbu

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 97

    Rumah sakit itu terasa lebih dingin dari biasanya.Bau antiseptik menusuk hidung, lampu-lampu putih menyilaukan mata, dan suara langkah tergesa di lorong panjang membuat jantung siapa pun ikut berdegup tak karuan.Tharie hampir berlari menyusuri koridor, Gilang di sampingnya, Papa Elham dan Mama Ami sedikit tertinggal di belakang. Di ujung lorong, papan bertuliskan ICU berdiri seperti gerbang yang memisahkan harapan dan kehilangan.“Bagaimana kondisi Ayah saya?” tanya Papa Elham pada dokter yang baru keluar.Dokter itu menghela napas pelan. “Tekanan darah beliau turun drastis. Kami sudah melakukan tindakan stabilisasi. Untuk sementara, kondisinya kritis, tapi masih bisa dipantau.”Tharie merasa lututnya melemas.“Kakek sadar?” suaranya bergetar.“Beberapa kali membuka mata. Tapi tidak lama.”Mama Ami memeluk putrinya, namun Tharie hampir tidak merasakan pelukan itu. Dunia di sekitarnya seperti teredam, hanya menyisakan satu pikiran: waktu.Waktu yang mungkin benar-benar menipis.Setel

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 96

    Langit sore itu menggantung rendah di atas rumah besar keluarga Elham, seperti ikut menahan napas bersama seorang gadis yang duduk terdiam di tepi ranjangnya. Tharie menatap lurus ke luar jendela. Halaman rumahnya yang biasanya terasa luas dan nyaman kini seperti berubah menjadi penjara tanpa jeruji. Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai putih yang menjuntai hingga lantai. Ia memeluk kedua lututnya, pikirannya berputar-putar pada satu kalimat yang terus terngiang sejak kemarin malam. “Kamu harus menikah dengan Gilang secepatnya.” Kalimat itu tak hanya mengejutkannya. Kalimat itu meruntuhkan dunianya. Pintu kamar diketuk pelan. “Tharie, boleh Mama masuk?” suara Mama Ami terdengar lembut, tapi ada ketegangan samar di dalamnya. Tharie tidak menjawab. Namun pintu tetap terbuka perlahan. Mama Ami masuk dengan langkah hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya yang tampak lebih pucat dari biasanya. “Kamu belum makan dari tadi siang,” ucapnya pelan. “Aku tidak lapar, M

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 95

    Setelah pertemuan dengan Hanum, Aditya, dan Intan, hidup Tharie terasa… lebih sunyi.Bukan karena tekanan berkurang sepenuhnya.Justru karena semuanya menjadi terlalu tenang.Tidak ada lagi desakan langsung dari Papa. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Tidak ada tatapan menghakimi dari keluarga Gilang. Bahkan di sekolah, rumor mulai mereda karena fokus siswa teralihkan oleh ujian akhir.Namun ketenangan itu membuat pikirannya bekerja lebih keras.Ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan.Tentang Queen.Tentang masa lalu Gilang.Tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua dalam hidup seorang laki-laki yang pernah mencintai begitu dalam.---Suatu sore, setelah les tambahan, Tharie tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia pernah mengatakan, “mari coba.”Langit berwarna jingga. Angin s

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 94

    Ketenangan itu kembali terusik ketika Papa Elham menerima tamu tak terduga di rumah.Tharie baru tahu ketika Mama memanggilnya turun dengan wajah yang tak bisa ia baca—antara tegang dan gugup.“Tharie, ada tamu.”Ia menuruni tangga perlahan. Dari balik pegangan kayu, ia melihat tiga sosok duduk di ruang tamu.Dan napasnya tercekat.Gilang tidak datang.Yang datang adalah keluarganya.Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah tegas namun anggun duduk paling depan. Sorot matanya tajam, tetapi tidak dingin. Di sampingnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan pembawaan tenang dan dewasa. Dan di sebelah pria itu, seorang wanita yang wajahnya lembut, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.Tharie mengenali mereka dari cerita yang pernah Gilang sampaikan.Hanum.Ayah angkatnya.Aditya, kakak angkatnya.Dan Intan—istri Aditya—yang tidak lain adalah orang tua dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status