共有

Bab 2

作者: Saraswati_5
last update 公開日: 2026-01-09 09:15:47

"Apa keputusan kamu udah bulat, Lang?" tanya Hanung, ayah angkatnya, saat mereka berdiri di depan rumah. Kedua tangan Hanung menyelipkan dirinya di saku celana, sementara tatapannya penuh perhatian. Tidak ada nada memaksa, hanya harapan agar Gilang benar-benar yakin dengan jalan yang ia pilih.

"Iya, Pah," jawab Gilang mantap, meskipun ada keraguan yang menggelayuti pikirannya.

Hanung menatap putra angkatnya dengan lembut. "Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Tapi harus kamu ingat di mana pun kamu, kamu harus ingat kalau kamu masih punya Papah, Aditya, dan Intan. Kami akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkannya kami." Suaranya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha untuk tetap tegar, seakan ingin meyakinkan Gilang bahwa ia tidak sendirian.

Gilang mengangguk pelan, menatap ayah angkatnya dengan penuh rasa terima kasih. "Iya, Pah," jawabnya dengan nada berat. Meskipun ia tahu bahwa mereka akan selalu ada untuknya, namun ada perasaan kesepian yang menggigit hati. Ia sudah terbiasa hidup dengan Queen, istrinya yang kini sudah tiada, dan kepergian ini seperti memutuskan sebuah ikatan yang sulit untuk dilepaskan.

Aditya mengangguk dengan senyum tipis. "Benar yang dikatakan Papah, Lang. Kami akan selalu ada untuk kamu. Walaupun Queen sekarang sudah nggak ada, tapi kamu tetap adik sekaligus anak Mas." Nada suara Aditya terdengar hangat, tetapi ada kesedihan yang tersirat dalam mata kakaknya itu.

Gilang tahu, Aditya mungkin lebih sering berusaha tegar di depannya, tetapi dalam hati, ia tahu bahwa Aditya juga merasakan kehilangan yang sama. "Iya, Mas," jawab Gilang, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa sesak. "Kalau begitu, aku pamit dulu, Mas."

Aditya mengangguk pelan. "Iya, hati-hati." Ucapan itu terdengar ringan, namun Gilang tahu bahwa itu adalah ucapan yang penuh makna. Mereka semua tahu, kepergiannya adalah titik balik dari kehidupan yang sudah lama terjebak dalam bayang-bayang kesedihan.

Gilang beralih kepada Intan, kakak ipar sekaligus ibu mertuanya, yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang penuh makna. Intan, yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka, kini hanya bisa memberikan senyum tipis. "Mbak, aku pergi dulu ya. Jaga kesehatan Mbak," ucap Gilang, sambil menyalami tangan Intan.

Intan tersenyum lemah, namun ada kehangatan yang terlihat di mata kakak iparnyaitu. "Iya, kamu juga ya," jawab Intan, menggenggam tangan Gilang untuk waktu yang cukup lama.

Gilang merasakan bahwa genggaman tangan Intan bukan sekadar sebuah salam perpisahan, tetapi juga sebuah do'a dan harapan yang besar. "Dan ingat, kepergian Queen itu sudah takdir yang Maha Esa, kamu harus mengikhlaskan. Itu semua bukan salah kamu, jadi lupain semuanya dan mulai hidup yang baru. Mbak sangat ingin melihat kamu hidup bahagia dan cepat cari pengganti Queen."

Ucapan Intan itu mengiris hati Gilang. Betapa pun ia berusaha, ia masih merasa sulit untuk melupakan Queen. Istrinya itu adalah segalanya baginya, dan rasa kehilangan itu masih terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja.

Gilang menghela napas panjang, mencoba meredakan gelombang perasaan yang begitu berat. "Entahlah, Mbak. Rasanya sangat sulit untuk melupakan Queen."

Intan tersenyum tipis, seperti memahami betul perasaan Gilang. "Mbak nggak minta kamu untuk melupakan Queen, Gilang. Mbak cuma mau kamu melanjutkan hidup kamu. Kalau kamu seperti ini terus, Mbak yakin Queen di sana tidak bahagia. Mbak yakin, pasti di atas sana Queen juga berharap kamu melanjutkan hidup kamu lagi dan hidup dengan bahagia, dengan pendamping baru."

Gilang mengembuskan napas pelan saat mengingat ucapan Intan saat ia akan pergi. Ia lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, kepergiannya adalah langkah pertama untuk memulai hidup baru. Namun, perasaan takut dan cemas selalu menggelayuti hatinya. Akankah ia bisa menjalani hidup baru tanpa merasa kehilangan? Akankah ia bisa membuka hati untuk orang lain? Atau apakah ia akan terus terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya?

Saat ini, ia sedang mengendarai mobil menuju Yogyakarta, tempat tinggal barunya. Tidak ada yang bisa membantunya melepaskan perasaan ini kecuali waktu dan diri sendiri.

Setelah kematian Queen yang ketiga tahun, Intan sering kali membujuk dirinya untuk membuka hati kembali, untuk mencari pengganti Queen. Namun, Gilang selalu menolak dengan alasan yang sama, jika ia belum siap. Bahkan sering kali Intan membawa banyak perempuan, dari kenalannya atau anak dari kenalannya pada Gilang tetapi selalu Gilang tolak dengan alasan jika ia masih betah hidup seorang diri.

Jujur saja, Gilang sampai saat ini masih mencintai mendiang istrinya dan belum bisa mengijinkan perempuan lain untuk menggantikan posisi mendiang istrinya itu dalam hatinya, karena baginya, Queen adalah wanita yang sempurna, yang tidak akan tergantikan. Dan hal yang paling penting, ia sampai saat ini masih takut jika menjalin hubungan lagi dengan perempuan lain, ia tidak bisa menjaga perempuan itu dan berakibat seperti Queen dulu.

Kepergian ini mungkin akan memberinya ruang untuk berpikir dan menyembuhkan luka yang selama ini menganga di hatinya. Namun, ia tahu bahwa perjalanan menuju penyembuhan ini tidak akan mudah. Hanya waktu yang bisa memberi jawaban atas segala keraguan dan ketakutannya.

Gilang menatap jalanan kota Yogyakarta yang terbentang luas. Jalanan di depannya terlihat sepi, sampai ketika ia sampai di sebuah jembatan. Gilang melihat seorang gadis yang sedang berdiri di tengah-tengah jembatan, menatap ke bawah jembatan. Gilang mengerutkan keningnya saat melihat ada gelagat aneh pada gadis itu, tetapi ia mengabaikannya. Hingga ketika mobilnya semakin dekat dengan keberadaan gadis yang ia yakini sedang kalut dan ingin bunuh diri tiba-tiba ia teringat dengan Queen yang tidak bisa ia selamatkan waktu itu. Tiba-tiba timbul perasaan yang tidak mau membiarkan gadis itu melakukan hal yang tidak-tidak. Detik selanjutnya, Gilang memutuskan untuk menghentikan mobil dan menolong gadis itu. Namun, kejadian tidak terduga malah terjadi.

Kembali ke waktu sekarang. Gilang terdiam, dengan mata yang melebar saat merasakan benda lembut menyentuh bibirnya. Ia sangat terkejut saat tiba-tiba gadis yang ia tolong yang tadi marah-marah, malah menarik krah kemejanya dan mencium bibirnya.

Tubuh Gilang membeku, seolah waktu berhenti sejenak. Detik pertama, detik kedua, hingga detik ketiga, ia masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Gadis yang baru saja ia tolong kini malah menciumnya. Tanpa peringatan, tanpa alasan yang jelas.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 152

    Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 151

    Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 150

    Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 149

    Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 148

    Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 147

    Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 41

    “Ada apa, Tharie?” tanya Gilang santai, suaranya tenang seolah tidak ada yang janggal sama sekali. Ia berdiri bersandar di kusen pintu rumahnya, bertelanjang dada tanpa rasa bersalah, ekspresinya datar namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.Tharie yang sejak tadi membelakangi Gilang men

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 40

    Tharie membuka pintu rumahnya dengan cepat. Rumah itu menyambut Tharie dengan keheningan yang sudah terlalu ia kenal.Begitu pintu utama tertutup di belakangnya, hanya ada suara langkah kakinya sendiri yang bergema di ruang tamu yang luas. Lampu belum dinyalakan, tirai masih terbuka setengah, membi

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 39

    Di dalam mobil, suasana terasa sunyi —bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan. Mesin mobil berdengung halus, berpadu dengan suara AC yang berembus pelan. Jalanan sore itu cukup lengang, cahaya matahari menguning menembus kaca depan, membentuk bayang-bayang panjang di aspal.Thari

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 38

    Jam dinding di kelas berdetak pelan, jarumnya akhirnya berhenti di angka yang ditunggu-tunggu hampir seluruh siswa. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, memecah suasana yang sejak tadi dipenuhi dengung lelah dan kantuk.Tharie menghembuskan napas panjang, menutup bukunya dengan gerakan pelan. Kepal

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status