로그인"Brengsek!" umpatku seraya menarik kerah lehernya kembali. Mengangkat tubuh Arland yang terasa ringan tanpa perlawanan. Lalu melayangkan lagi empat bogem mentah di wajahnya. Hingga jejak lebam tercetak jelas pada pipinya itu. Aku sadar aku sudah gegabah, tapi demi apapun kesabaranku sudah benar-benar habis. Aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, setidaknya tanganku bisa memberinya pelajaran walau tak seberapa."Ayo, pukul lagi," ucapnya meledek tapi tatapan matanya masih saja menantang. "Pukul sampai kamu puas. Dan besok, kamu tahu apa yang akan terjadi."Aku mendecih. "Saya gak peduli. Pukulan saja gak cukup, orang seperti kamu pantasnya mati!"Setelah aku berkata demikian, barulah si brengsek itu bangkit. Wajahnya babak belur, tapi sorot matanya menunjukkan ia tidak pernah kalah.Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kamu hanya seorang perwira. Bukan malaikat maut. Dan aku gak akan menyerahkan nyawaku sama kamu!"Aku menatapnya dengan kemarahan yang membakar se
Bau asap tembakau bercampur nikotin seketika menerpa indera penciuman saat aku menepikan motor di halaman rusun tiga lantai. Pohon mangga tumbuh besar tinggi menjulang di samping bangunannya membuat tempat itu dikenal dengan sebutan rusun Mangga.Aku masih di atas motor. Menyapu pandangan pada setiap teras pintu di lantai bawah.Sampai aku menemukan sosok yang kucari berada di teras bangunan paling ujung.Itu Arland, berkumpul dengan tiga orang lelaki yang sedang merokok dan bermain karambol.Mereka tertawa terbahak-bahak di sana. Tapi tawa itu seperti bensin yang membakar hebat hati ini.Aku segera turun dari motor lalu melangkah cepat menuju teras rusun."Arland!" Aku berteriak hingga semua lelaki yang berada di teras itu menoleh.Tanganku bergerak lebih cepat dibanding otak, hingga aku menarik kerah kemeja Arland membuat lelaki itu bangkit.Bugh!Bugh!Bugh!Aku menghantam wajahnya dengan bogem mentah di pipinya. Namun rasanya tidak cukup, aku menendang perutnya dengan lutut dan me
"Arland mengikat tanganmu?" tanyaku seraya merundukkan tubuh hingga wajah kami sejajar.Lyra mengangguk lemah. Respon kecil yang sangat berarti bagi."Mulutku ... disumpal," sambungnya membuat tubuhku menegang.Aku diam. Menatap wajah serta matanya yang memancarkan ketakutan sekaligus amarah tertahan.Lyra menunduk, kembali sesenggukan.Aku sabar menunggu meski tanganku mengepal kesal.Lyra masih sesenggukan sambil memeluk lututnya. Dan aku berharap ia akan kembali bicara, bukan mengamuk."Pahaku disuntik," sambung Lyra lagi.Dadaku seperti ditikam belati.Dari tiga keterangan yang Lyra sampaikan, aku tidak dapat lagi berpikir tenang. Napasku terasa memburu meski aku berusaha mengaturnya dengan baik. Hatiku bergemuruh hebat."Tubuhku ...." Lyra berkata lagi meski setelahnya ada jeda cukup panjang.Aku menelan ludah. "Apa ...?" tanyaku dengan suara pelan walau sebenarnya darahku mendidih sampai ke ubun-ubun.Lyra memeluk tubuhnya makin erat. "Di ujung tempat tidur.""Tubuhku ... telung
Aku tidak langsung pulang setelah Bu Neva berpamitan dan meninggalkanku sendiri di kursi tunggu rumah sakit.Rasanya hatiku masih belum terima. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan menyesakkan di balik dada ini.Kuhembus napas panjang sambil menatap pintu ruang rawat yang sudah tertutup rapat. Kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi.Mataku refleks memejam.Dan tanpa diminta, wajah Arland tiba-tiba saja hadir.Otakku juga berpikir hal terburuk yang mungkin ia lakukan pada istriku.Tanganku mengepal tanpa sadar. Hatiku kian bergejolak."Kalau semua dugaan ini benar ... saya tidak akan melepaskan kamu bajingan!" gumamku masih dalam posisi yang sama.Entah sudah berapa lama aku mengisi kursi tunggu. Setiap harinya, aku selalu langsung ke rumah sakit tanpa berganti pakaian dinas lebih dulu.Sekarang harusnya aku bisa pulang, membersihkan diri dan beristirahat sejenak di rumah lalu kembali ke rumah sakit dengan membawa buku kesukaan Lyra seperti saran Bu Neva.Namun aku tidak
Hari demi hari berlalu dan Lyra masih menjalani perawatan di rumah sakit tanpa perubahan berarti. Aku yang masih aktif di militer tidak bisa menjaga dan memantaunya, sehingga hanya mengandalkan penjagaan dari suster jaga di sana. Serta Bu Neva yang masih terus mendampingi.Sudah satu Minggu Lyra dirawat. Dan selama itu juga, keadaannya masih sama. Lyra tidak mau bicara. Lyra takut dengan sentuhan sekecil apapun. Ia juga masih sering menangis.Rasanya aku benar-benar putus asa karena Lyra masih saja seperti itu.Bu Neva akan datang setiap sore seperti permintaanku sehingga aku bisa ikut tahu perkembangan kondisi Lyra.Seperti sore ini, aku mengintip dari celah pintu.Lyra duduk di ujung ranjang besi dengan pandangan kosong. Lingkar matanya pun tampak menghitam. Bu Neva dengan sabar selalu mengajaknya bicara dengan pelan."Kalau Mba Lyra sudah merasa percaya dengan Ibu, Mba Lyra bisa cerita apa saja, ya," ucap Bu Neva yang duduk di ujung ranjang. Berhadapan dengan Lyra."A ... Arland ..
Aku hanya bisa menyetujui saat Dokter Wirawan menyarankan hal demikian.Tak berselang lama, rekan psikiater yang dihubunginya pun datang. Seorang perempuan paruh baya yang begitu ramah pada pertemuan pertama ini.Aku diminta meninggalkan ruangan hingga hanya psikiatri dan Lyra yang mengisi ruang rawat."Tenang, Mayor. Istrimu pasti sembuh," ucap Dokter Wirawan saat aku baru saja menyandarkan punggung pada dinding di luar ruangan.Aku hanya mengangguk lemah. Dokter Wirawan lantas pergi menyusuri, langkahnya terdengar saat lorong rumah sakit. Meninggalkanku sendiri dengan rasa gelisah yang membelit.Desahan napasku yang berat terasa begitu jelas di antara udara kosong di sekitar.Aku menoleh pada daun pintu yang sudah tertutup. Berharap di dalam sana Lyra bisa tenang dan masalah ini menemukan titik terang.Aku masih menyandarkan kepala. Memejamkan mata bersama hati yang terus berharap. Hingga rasanya terlalu sulit menahan
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR ******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang







