Share

Kembali ke Hansen

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 11:30:49

Perutku keroncongan parah. Seisi dapur apartemen Kak Hansen penuh bahan makanan bagus, sayuran segar, daging premium, bahkan kulkas penuh susu almond yang mahal. Ironisnya, aku berdiri terpaku, karena aku bahkan tak tahu cara memecahkan telur dengan benar.

Serius… semenyedihkan ini hidupku?

Tidak heran dalam mimpiku keluarga Dikta selalu menghinaku.

Tapi, itu cuma mimpi kan?

Selama ini mereka cukup baik padaku, atau… sebenarnya mereka sama seperti dalam mimpiku, hanya pandai bersandiwara?

Aku tidak tahu. Dan itu yang membuatku takut.

Aku akhirnya memberanikan diri menyalakan kompor. Kulempar sayuran, ayam, minyak semua sekaligus. Kebodohan fatal. Beberapa menit kemudian asap menebal seperti kabut neraka kecil. Panci mendesis, ayam berubah jadi batu bara, dapur aestetik Kak Hansen hancur reputasinya hanya karena aku menonton tutorial masak satu menit.

Lalu suara batuk terdengar.

Huk...
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Buruk Lagi

    Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Jalur yang Salah

    “Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Antara Marah dan Malu

    Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Psikiater

    Ya, kenapa aku bisa nggak kepikiran sampai sana? Semua itu cuma mimpi. Kenapa aku harus setakut ini? Catalina menatapku lalu mendengus kecil. “Aku kira kamu harus ke dokter jiwa, deh,” katanya sambil meledek. Aku hampir membalas ketika pintu kamar terbuka. Andreas masuk membawa keranjang buah. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Catalina melirikku, lalu berdiri. “Aku pulang dulu, ya.” Ia mendekat dan berbisik di telingaku sambil melirik Andreas yang sedang menaruh buah di nakas. “Kamu belum cerita soal dia.” Aku hanya menatapnya kesal. Catalina lalu sedikit membungkuk ke arah Andreas. “Tuan Andreas, aku permisi dulu.” Andreas hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Setelah Catalina pergi, Andreas duduk di sisi ranjang. “Kamu mau makan buah?” tanyanya. “Mau,” jawabku. “Kamu mau apa?” “Apel.” Ia bangkit, mengambil satu apel, lalu mengupasnya dengan tenang. Setelah selesai, apel itu diserahkan padaku tanpa kata-kata tambahan. Tak lam

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mulai Sadar

    Aku membuka mata. Aroma obat-obatan langsung menyusup ke hidungku. Tenggorokanku terasa kering, kepalaku masih berat. Samar-samar, aku mendengar percakapan dua orang yang suaranya sangat kukenal. “Sumpah, aku nggak tahu,” suara Catalina terdengar panik. “Aku datang, aku bicara, dia bengong lalu natap aku aneh, kayak ketakutan. Habis itu dia pingsan.” “Apa yang kamu katakan?” suara Andreas terdengar datar, tapi ada tekanan di sana. “Aku cuma nanya apa dia serius mau menikah sama Dikta. Itu pertanyaan biasa. Sebelumnya aku juga sering nanya hal yang sama.” Aku memejamkan mata lagi. Jelas aku yang berlebihan. Terlalu larut dalam mimpi. Terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku tidak membuka mata, pura-pura masih tertidur. Aroma itu. Aku tahu. Andreas. Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, hangat. Lalu bibirnya menyentuh punggung tanganku dengan lemb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status