MasukBab 117: Segel Calamity
Hening masih menyelimuti perpustakaan House Nightfall.Layar sistem kuning pastel perlahan memudar.[Monster Calamity Detected: 4][Objective:][Bring The Lost Children Home]Tidak ada yang berbicara.Nox masih menundukkan kepalanya di balik gerbang segel raksasa.Mata merahnya yang biasanya menakutkan kini terlihat jauh lebih tenang.Namun rantai-rantai hitam yang melilit tubuhnya tetap bBab 251: Kesadaran Giant Stone Golem mengamuk di taman selatan. Setiap langkahnya menghancurkan tanah. Setiap ayunan tinjunya merobek udara. Dua puluh meter granit-obsidian bergerak tanpa arah — tanpa pikiran — hanya insting. Viper berdiri di depan yang lain. "Sekarang." Shade, Fang, dan Raven bergerak. Tiga arah berbeda. Membentuk segitiga di sekeliling Golem. Shade berlutut di sisi utara. Fang di tenggara. Raven di barat daya. Tiga pasang tangan menyentuh tanah. [Sealing Triangle — Activate.] Cahaya putih menyala di tanah — menghubungkan tiga titik. Segitiga raksasa terbentuk di bawah kaki Golem. Dinding cahaya naik — tiga sisi, tiga tembok transparan. Golem menghantam dinding. BOOOOM!!! Dinding bergetar — tapi tidak pecah. "TAHAN!" Shade berteriak. Darah menetes dari hidungnya. Fang menggertakkan gigi. Raven menancap
Bab 250: Resonansi 100% Di luar istana. Darius berlutut di tanah. Darah mengalir dari mulut dan pelipisnya. Tubuhnya gemetar. Shadow Resonance sudah lenyap. Tidak ada bayangan yang tersisa. DUUUUM. DUUUUM. DUUUUM. Langkah dari dalam istana. Dinding sayap timur runtuh — Giant Stone Golem melangkah keluar. Dua puluh meter. Granit-obsidian berkilau di bawah cahaya bulan. Mata merah menemukan Darius. GROOOOAAAHHHH!!! Darius mencoba berdiri. Kakinya tidak mau menurut. "Sial—" Golem mengangkat tinjunya. Darius mengangkat kedua tangannya. Bayangan tipis — sisa terakhir — membentuk perisai kecil di depannya. BOOOOOOM!!! Perisai hancur seketika. Tinju granit-obsidian menghantam Darius. Tubuhnya terlempar — menghancurkan tiga pohon, menggali tanah, dan berhenti di tepi taman selatan. Di antara akar pohon yang hancur, tubuh Da
Bab 249: Batu vs Bayangan Sayap timur istana — atau apa yang tersisa darinya. Giant Stone Golem berdiri di tengah reruntuhan. Dua puluh meter. Granit hitam. Mata merah menyala tanpa kesadaran. Di hadapannya — Darius. Shadow Resonance. Sepuluh meter. Bayangan pekat. Mata merah menyala dengan kesadaran penuh. Dua raksasa. Satu koridor. Golem bergerak duluan. Tanpa peringatan. Tanpa kuda-kuda. Tinjunya menghantam ke bawah — tepat ke posisi Darius. BOOOOOOM!!! Lantai meledak. Kawah terbentuk. Debu dan batu beterbangan ke segala arah. Darius melompat ke samping. Bayangan di kakinya mendorongnya — cepat. Tapi Golem tidak berhenti. Tinju kedua menyusul. KRAAAK!!! Dinding sayap timur jebol. Cahaya bulan masuk dari lubang raksasa yang terbentuk. Darius menghindari lagi. Bayangan di tubuhnya bergetar dari gelombang kejut. "Kekuatannya
Bab 248: Giant Stone Golem Sayap timur istana. KRAAAK!!! Tinju bayangan Darius menghantam Marco telak di dada. Giant Axe terangkat — tapi terlambat. Marco terpental. Tubuh raksasanya melayang ke belakang — menghancurkan dua pilar, menembus dinding, dan mendarat di ujung koridor. DUUUUM!!! Debu dan puing berterbangan. Marco tidak bergerak. Darius — Shadow Resonance — berdiri di tengah kehancuran. Sepuluh meter. Mata merah menyala. "Sudah selesai?" Matanya beralih. Di ujung koridor — Anna. Chiki. Tonton. Tiga target yang tidak bisa melawan. Darius mengangkat tinjunya. Melesat. Tonton menggeram. "GROOOH!!!" Babi hutan berbatu itu melangkah maju — tepat di depan Anna dan Chiki. [Heavy Armor.] Kulit granit Tonton menebal. Berlapis-lapis. Batu di punggungnya mengembang — membe
Bab 247: Belum Selesai Taman selatan. Shade masih berlutut. Air matanya belum berhenti. Tangannya mencengkeram bahu Mantis yang tak bergerak. "Ketua... ketua..." Sebuah tangan menyentuh bahunya. Lembut. Lullaby berdiri di belakang Shade dan Fang. Satu tangan di bahu masing-masing. "Berhenti menangis." Suaranya tenang. "Mereka belum mati." Raven mendongak. "...Benarkah?" Lullaby menutup matanya. Iris keemasan berpendar. [Clairvoyance.] "Patah tulang rusuk — tiga di Mantis, dua di Crow. Luka dalam di organ, tapi tidak fatal. Pendarahan sudah berhenti secara alami." Lullaby membuka matanya. "Mereka cuma pingsan." Shade menundukkan kepalanya. "Syukurlah..." Jack menghampiri. Tangannya merogoh kantong di sistemnya [Harvest Granary] — dan mengeluarkan dua buah tomat merah yang bersinar samar. [Healing Tomato] [Efek : Penyembuhan in
Bab 246: Guardian Sayap selatan istana. Sulur-sulur Jack membelit tubuh Selene — leher, lengan, pinggang. Duri-duri kecil menancap di kulitnya. Darahnya menetes. Selene tidak bisa bergerak. Belum. Jack berdiri di tengah taman yang hancur. Tangan kanannya terangkat — mengendalikan sulur dari jarak jauh. Wajahnya tenang. "Kak Lulla, Bagaimana kondisi Elena?" Lullaby sudah berlutut di samping Elena. Tangannya menyentuh dahi gadis itu. Matanya berubah — iris kuning keemasan berpendar. [Clairvoyance.] Dalam sekejap, Lullaby membaca seluruh kondisi Elena. Bukan hanya luka fisik — tapi jalur mana, titik kelelahan, kerusakan internal. "Mana tersisa 4%. Jalur sihir kelelahan. Tiga tulang rusuk retak. Luka dalam di bahu kiri." Lullaby membuka matanya. "Tapi tidak ada kerusakan permanen." Elena tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja..." "Bohong." Lullaby men
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,







