LOGINBab 251: Kesadaran
Giant Stone Golem mengamuk di taman selatan.Setiap langkahnya menghancurkan tanah. Setiap ayunan tinjunya merobek udara. Dua puluh meter granit-obsidian bergerak tanpa arah — tanpa pikiran — hanya insting.Viper berdiri di depan yang lain."Sekarang."Shade, Fang, dan Raven bergerak.Tiga arah berbeda. Membentuk segitiga di sekeliling Golem.Shade berlutut di sisi utara. Fang di tenggara. Raven diBab 289 — Bocah Pengasuh Aldhelm bergerak. Tidak ada peringatan. Tidak ada ancang-ancang. Satu detik dia berdiri di sana — detik berikutnya dia SUDAH di depan Raka. Cepat. TERLALU cepat. Tangan kegelapan terangkat — siap menghancurkan kepala Raka. "Kau duluan." KRAKK! Perisai es MUNCUL — tepat di antara tangan Aldhelm dan wajah Raka. [Ice Shield] Levi. Dari dalam kantong Raka — kura-kura kecil itu menjulurkan kepalanya dan menyemburkan es dalam sepersekian detik. Perisai itu RETAK seketika — tapi cukup untuk menahan satu pukulan. Raka melompat mundur. Dia langsung mengincarku. FWOOSH! Nox melompat dari bahu Raka — tubuh kecilnya membuka mulut LEBAR. [Hellfire Burst] Semburan api hitam kemerahan mengarah ke wajah Aldhelm. Aldhelm memiringkan kepala. Api melewati pipinya — membakar ujung jubahnya.
Bab 288 — Bangkit Medan perang sunyi. Debu mengendap. Asap menipis. Langit yang tadi terbelah — perlahan menutup kembali. Semua orang jatuh. Kelelahan dan kehabisan mana. Elena duduk bersandar di bahu Lullaby. Tangan esnya menghilang — tidak ada tenaga untuk membentuknya lagi. Tapi sebelum itu — dia sudah menarik semua orang ke belakang. Bima. Leonidas. Viper. Mantis. Crow. Satu per satu. Tangan es raksasa yang terakhir — menyeret mereka dari medan perang sebelum akhirnya LENYAP. Blaze mendarat di samping Bima. Ukurannya menyusut — dari naga perang menjadi naga kecil seukuran anjing. Meringkuk. Napas berat. Nox dan Levi — dua Calamity yang tadi menggetarkan langit — kini kembali ke ukuran kecil. Nox seukuran kucing, terkapar di pangkuan Raka. Levi masuk ke kantong Raka.Venom, Leavy, Blacky kembali ke alam familiar. Alaric terbaring. Richard batuk. Valerian duduk dengan lenga
Bab 287 — Sacred Fire Di atas kepala Nox. Raka berdiri diam. Angin pertempuran menerpa jubahnya. Matanya masih menatap tubuh Raja Iblis — menunggu momen yang tepat. Lalu layar status muncul di depannya. [NOTIFIKASI] Anak asuh: Helios Status: Berhasil mengalahkan kebencian dalam dirinya Luluskan pengasuhan? [OK] [Tunda] Raka berkedip. "...Hah?" Dia menatap layar itu. "Cepat sekali lulusnya. Padahal aku belum melakukan apa-apa." Nox melirik ke atas. "Tuan muda?" "Tidak. Bukan apa-apa." Raka menekan [OK]. Di dalam jantung Raja Iblis. Hellfire di tubuh Helios berubah. Perlahan. Seperti logam yang ditempa ulang. Putih keemasan bergeser — menjadi PUTIH MURNI. Bersih. Suci. Tidak membakar — tapi MENYINARI. Api itu tidak lagi menghancurkan kegelapan. Api itu MENGUSIR kegelapan. Layar stat
Bab 286 — KebencianKenangan itu retak.Seperti kaca yang dipukul dari dalam. Amanda kecil yang memeluk kakinya — senyumnya — gaun putihnya — semuanya PECAH menjadi serpihan cahaya.Dan suara itu masuk."Mereka mengambil dua puluh tahunmu."Aldhelm."Jangan lupa itu."Helios dewasa menutup mata."Tidak..."Serpihan cahaya berubah. Membentuk kenangan lain.Aula istana. Megah. Dingin.Raja Aldric berlutut di hadapannya.Seorang RAJA — berlutut."Kau anakku, Helios. Darah dagingku."Kata-kata itu seharusnya membuatnya bahagia. Seharusnya menjawab semua pertanyaan yang dia simpan sejak kecil di panti asuhan. Siapa orang tuanya. Kenapa dia ditinggalkan.Tapi yang datang bukan kebahagiaan.Yang datang adalah RASA SAKIT.Dua puluh tahun.Dua puluh tahun aku hidup tanpa tahu.Kenangan itu pecah.Digantikan yang lain.Aldhelm berdiri di hadapannya. Jubah hitam. Senyum tipis."Aku yang membunuh ibumu, Helios.""Malam itu. Saat kau masih bayi.""Dia melawan. Tapi tidak cukup kuat."Helios merasa
Bab 285 — BertemuKenangan Keenam — Akademi Kerajaan. Tujuh Tahun Lalu.Helios berdiri di barisan calon ksatria. Umur dua puluh tahun. Tubuh tegap. Iris mata merah. Rambut emas menyala di bawah matahari.Di tribun kehormatan — Raja Aldric duduk. Mahkota emas. Jubah merah tua. Wajah yang sudah dimakan waktu dan penyesalan.Mata Raja menyapu barisan calon.Lalu BERHENTI.Pada satu wajah.Jantungnya berdegup. Tangannya mencengkeram sandaran takhta.Mata itu. Rambut itu. Garis rahang itu."...Sora?"Bukan. Bukan istrinya. Istrinya sudah meninggal. Dua puluh tahun lalu.Tapi wajah itu — SAMA.Raja berdiri dari takhtanya. Seluruh tribun berbisik.Dia turun. Satu anak tangga. Dua. Tiga.Pengawal bergerak mengikuti. Raja mengangkat tangan — mundur.Dia berjalan menuju barisan. Berdiri di depan Helios."Siapa namamu?"Helios menatapnya datar."Helios.""Siapa ibumu?"Hening."Sora.""Siapa ayahmu?""Tidak punya."Raja menatap wajah itu. Setiap garis. Setiap lekuk.Air matanya jatuh."Kamu... p
Bab 284 — HarapanCahaya baru.Kenangan Ketiga — SeleneMalam hari. Kamar panti.Helios kecil duduk di pinggir kasur. Seluruh tubuhnya BABAK BELUR. Lebam di lengan. Lecet di lutut. Luka di telapak tangan.Hari ini dia latihan terlalu keras. Jatuh berkali-kali. Pedang kayunya menghantam tangannya sendiri dua kali.Dia meringis saat menggerakkan jari."Jangan digerakkan."Selene kecil berdiri di depannya. Rambut panjang. Mata lembut. Boneka kelinci — Luna — diselipkan di ketiak kiri. Tangan kanannya memegang kotak P3K lusuh dari lemari panti."Sini, biar aku obatin.""Nggak usah, Selene. Cuma luka kecil—""DUDUK."Helios duduk.Selene membuka kotak P3K. Alkohol, kapas, perban. Tangannya — untuk anak seusia mereka — TELITI. Hati-hati.Alkohol menyentuh luka."SSSHH—""Tahan.""Perih...""Kalau nggak diobatin, infeksi. Kalau infeksi, nggak bisa latihan besok. Mau?""...Nggak.""Ya sudah tahan."Selene membersihkan setiap luka. Satu per satu. Perbannya dililitkan rapi — lebih rapi dari yan
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,







