MasukMalam berikutnya. Kiran, Noah, dan Surya duduk di ruang tunggu bandara. Mereka segera pergi ke bandara begitu Kiran pulang dari RDJ. Saat menunggu panggilan untuk masuk ke pesawat, tatapan Noah tertuju ke cincin di jari manis kiri Kiran. “Cincin baru?” Pertanyaan Noah mengalihkan tatapan Kiran pada Noah, sebelum dia menurunkan pandangan ke jari manisnya. “Pemberian El.” Tidak ada yang Kiran tutupi. “Di jari manis?” Kening Noah berkerut dalam. Kiran kembali mengamati cincin di jarinya. “Ada yang salah?” Noah ingin bicara, tetapi sekuat tenaga dia tahan. Mempertimbangkan apakah ucapannya akan menyinggung Kiran. “Memang dipakaikan di jari manis. El akan melamarku segera.” Kiran jujur pada Noah. Lagi pula, cepat atau lambat rencana mereka akan diketahui semua orang. “Melamar?” Noah terkejut dan menatap tak percaya. “Ada yang salah?” Kiran menatap aneh melihat reaksi Noah. “Usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, bukankah wajar kalau El ingin melamarku?” “Ini ….” Tatapan Noah me
Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di lantai ruang kerja Elvano yang baru.Tangan kanannya menenteng paper bag yang sudah dia siapkan dari rumah.Kaki Kiran berhenti melangkah di depan pintu ruang kerja Elvano.Dia mengetuk lebih dulu, sebelum masuk ke dalam ruangan.“Kamu sudah datang.”Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang melangkah cepat menghampirinya.Dari sudut pandangannya, Kiran bisa melihat aura yang berbeda dari Elvano.Kekasihnya ini sekarang lebih dewasa dan tampak berwibawa.“Kebetulan aku juga mau ke sini menemuimu, ternyata kamu mengirim pesan dulu untuk memintaku datang.” Kiran menghentikan langkah saat berhadapan dengan Elvano.“Benarkah?” Senyum Elvano begitu lebar.Sampai tatapannya tertuju ke paper bag yang Kiran angkat di hadapannya.“Apa ini?” tanya Elvano.“Hadiah.” Kiran menyerahkan paper bag ke tangan Elvano. “Bukankah kemarin aku sudah bilang, aku akan memberimu hadiah lain untuk kenaikan pangkatmu.”Elvano tak sabar. Dia menerima paper bag
Alina beberapa saat menahan napas mendengar apa yang Elvano katakan. Apalagi putranya sudah menatap penuh curigaSebelum akhirnya Alina buru-buru mengembangkan senyum lalu menggeleng pelan. “Tidak kenapa-napa. Wajar kalau kami terkejut. Kami kira, Kiran akan tetap di sini bersama ayahnya.” Alina akhirnya membuka suara. Menepis dugaan Elvano kepadanya dan sang suami.“Kalian sekarang ragu pada Kiran karena informasi ini?” Elvano memastikan. Dia tak senang.“Kiran memang menerima keluarganya. Tapi dia pergi hanya untuk acara penyambutan saja, dia akan tetap di sini bersama ayahnya.” Elvano memperjelas. “Mungkin statusnya berubah, tapi di mana dia akan tinggal dan hidup, itu tidak akan pernah berubah.”Alina dan Aksa diam.“Aku tahu, Papa dan Mama tidak akan mempermasalahkan asal-usul Kiran, karena itu aku harap kalian jangan pernah berubah sikap terhadapnya, hanya karena dia sekarang menjadi bagian dari keluarga Bimantara.” Nada bicara Elvano tegas tak terbantah.Alina terkejut melihat
Kiran berdiri di depan etalase. Matanya menyapu ke gulungan dasi yang terpajang di sana.“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”Tatapan Kiran tertuju pada pelayan toko, kepalanya mengangguk, tetapi Kiran belum menentukan pilihan.Dia menoleh pada Noah yang sudah berdiri di sampingnya.“Noah, menurutmu bagus yang mana?” Kiran menatap penuh harap Noah mau membantunya memilih.Noah memandang ke etalase, telunjuknya mengarah ke dasi berwarna navy.“Itu lebih cocok untuk pacarmu itu.” Noah menoleh lagi pada Kiran setelah memberi balasan.Senyum Kiran terangkat lebar. Dia meminta pelayan untuk membungkus dasi yang dipilih Noah.Kiran menoleh pada Noah yang sudah menjauh darinya.Dia menatap sang kakak yang sedang melihat manset bedah.Kiran mendekat, tatapannya tertuju ke etalase. Dia melihat-lihat manset bedah untuk Elvano.Kali ini Kiran tidak meminta saran Noah. Dia memilih manset bedah sesuai dengan yang dia inginkan.Saat menoleh pada Noah, Kiran melihat sang kakak sedang menatap ke tie cli
Sore hari.Kiran melangkah keluar dari lift yang baru saja terbuka di lobby.Dia berjalan sambil bermain ponsel, berbalas pesan dengan Elvano yang masih belum bisa pulang bersamanya.Ketika baru saja menginjakkan kaki di depan lobby, Kiran melihat panggilan masuk dari Noah.Dia menggeser tombol jawab sebelum menyentuhkan ponsel ke telinga.“Halo, ada apa?” Kiran bicara sambil mengayunkan langkah pelan.“Kamu sudah pulang, ‘kan?” “Hm … tidak perlu menjemput. Aku akan pulang naik bus. Aku juga mau mampir membeli sesuatu dulu.” Kiran berjalan sambil sesekali mengangguk ke staff yang menyapanya.“Aku sudah ada di dekat pintu keluar. Kamu mau ke mana, aku antar.”Mata Kiran membola lebar.Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu keluar area perusahaan.Kiran mengakhiri panggilan dengan cepat.Kakinya terayun cepat menuju pintu keluar.Sesampainya di sana, Kiran menatap tak percaya Noah benar-benar menunggunya.Kiran menoleh ke kanan dan kiri sebelum menarik tangan Noah untuk segera masu
Kening Elvano berkerut dalam.Dia melepas pelukannya.Elvano memegang kedua lengan Kiran, tatapannya tak teralihkan dari wajah sang kekasih.Bola mata Kiran terlihat berkaca-kaca.“Kenapa kamu berpikir jika aku sedih?” Elvano menatap ke dalam bola mata Kiran.Elvano bisa melihat kesedihan di balik senyum yang Kiran pajang.Kiran tenang, dia tak ingin Elvano semakin bersedih.Jemari Kiran meraih dasi Elvano.Dia merapikan ikatannya, sambil berucap, “Sikapmu ini cukup memberitahu bagaimana perasaanmu sekarang.”Tatapan Kiran kembali tertuju ke wajah Elvano. “Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras.”Bibir Elvano dilipat ke dalam. Dia sedikit menurunkan pandangan dari Kiran, senyumnya dia kulum rapat.Ketika kembali menatap Kiran, Elvano menunjukkan senyumnya yang manis.“Jadi, kamu mengira aku bersedih?”Kiran mengangguk-angguk pelan. “Jika tidak, lalu apa?”Elvano mengembuskan napas panjang. “Ya, tidak bisa dibilang itu juga.”Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas. Dia menatap bingung
Malam hari.Elvano tiba di rumah saat pukul delapan malam. Kakinya melangkah menuju tangga, ketika telinganya mendengar suara sang kakak ipar di ruang keluarga.Berbalik arah ke arah suara kakak dan kakak iparnya berada, Elvano menemukan keduanya sedang bicara di ruang keluarga.“Kalian di sini? Le
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me







