LOGINDi RDJ.Elvano menekuk lengan kirinya, dia menatap ke jarum yang ada di arlojinya, sebelum pandangannya tertuju ke luar ruangan.Sudah hampir setengah jam dan Kiran belum kembali dari kafe.“Apa dia terjebak antrian panjang? Ini bukan jam istirahat, harusnya kafe tidak akan ramai di jam-jam ini.”Elvano mulai gelisah.Dia meraih ponsel di atas meja untuk menghubungi Kiran.Namun, sebelum Elvano berhasil menekan tombol panggil, ponselnya sudah lebih dulu bergetar.Kiran menghubunginya.“Halo, Ki. Kenapa kamu lama sekali? Apa ada–”“El, aku sekarang sedang menuju rumah sakit. Apa kamu bisa menyusulku?”Punggung Elvano menegak.Rumah sakit?“Ki, ada apa? Apa yang terjadi padamu?” Elvano bangkit dari duduknya.Suara Kiran yang berat dan sedikit tertahan, membuat kepanikan membuncah di dadanya.Elvano bergegas meninggalkan ruangan masih dengan panggilan yang terhubung dengan Kiran.“Aku baik-baik saja, tapi tolong susul aku ke rumah sakit.”Elvano mengangguk walau Kiran tidak melihat.“Kam
Di tengah kepanikan yang dialaminya. Pandangan Kiran tertuju pada sosok pria yang tidak pernah dia bayangkan kehadirannya.Noah.Kenapa pria ini di sini?“Menyingkir darinya.” Farhan menarik kasar pundak salah satu preman.Memberikan jalan pada Noah yang kini melangkah menghampiri Kiran.“Kamu baik-baik saja?” Kedua tangan Noah terangkat untuk menyentuh, tetapi dia tahan dan hanya menggantung di udara.Kiran mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.”“Ternyata ada yang mau menjadi pahlawan kesiangan.” Salah satu preman langsung meledek.Farhan sudah berdiri berhadapan dengan para preman.Noah membalikkan tubuhnya. Dia menatap satu persatu preman yang berniat kurang ajar pada Kiran.“Pergi dari sini jika kalian tidak ingin menyesal.” Suara Noah dalam dan penuh penekanan.Bukannya takut. Para preman ini tertawa.“Harusnya, kami yang mengatakan itu.” Telunjuk salah satu preman mengarah ke wajah Noah. “Pergi, atau kalian berdua, akan menyesal.”Belum juga Noah merespon ucapan preman ini. Sal
Tatapan Kiran tertuju pada sang ayah.Bibirnya tersenyum kecil tanpa rasa bersalah.“Kulepas saat tadi mau mandi, Ayah,” kilahnya. Sedangkan kalung itu sudah tidak dia pakai berhari-hari ini.Surya mengembuskan napas lega.“Kenapa tidak dipakai lagi?” Surya kembali memanggang daging setelah mendapat jawaban dari Kiran.Senyum Kiran sedikit masam. Dia memasukkan potongan daging ke mulut, sebelum membalas, “Iya, nanti aku pakai lagi. Sekarang, bolehkan aku makan yang banyak dulu.”Kiran memberikan tatapan memelas ke ayahnya.“Baiklah, baiklah, makan dulu yang banyak sekarang.” Surya kembali meletakkan potongan daging di piring Kiran. Senyum hangat penuh kasih sayang, tidak lekang dari wajah tuanya.**Hari berikutnya.Kiran berada di ruangan Elvano mengatur berkas-berkas yang harus kekasihnya ini tandatangani.“Ini sudah semua, sisanya aku akan cek ulang sebelum kamu tandatangani.” Kiran menyodorkan beberapa stopmap yang sudah dia pilah.“Terima kasih.” Tangan Elvano terulur menerima ber
Surya tersentak.Tetapi, dia segera memasang senyumnya.“Menangis? Siapa yang menangis?” Surya menyentuh pipinya agar Kiran tidak curiga.“Tapi mata Ayah juga merah.” Kiran tak percaya begitu saja. “Ada apa, Ayah? Apa ada masalah di pekerjaan? Karena itu Ayah tidak kerja?”Kiran berasumsi. Ayahnya tidak mungkin cuti tanpa alasan.Surya mencebik. Menyanggah pemikiran putrinya“Kamu ini terlalu curigaan, Kiran.” Secepatnya Surya mengelak. “Ayah sudah berangkat, tapi teman Ayah bilang butuh uang tambahan dan minta jatah kerja Ayah hari ini saja. Makanya Ayah pulang lagi. Biarlah dia dapat tambahan buat istrinya.”Mata Kiran menyipit. Dia masih tidak percaya.“Kamu ini, kenapa tidak percaya sekali sama ayahmu ini?” Surya kembali meyakinkan.Melihat sang ayah yang gigih menjelaskan. Kiran akhirnya mengabaikan.“Baiklah kalau benar seperti itu.” Kiran kembali menatap sang ayah sebelum masuk kamarnya. “Mumpung Ayah di rumah, bikin barbeque ya, Ayah. Saat kemah kemarin, aku belum puas. Jadi,
Di mobil Noah.Noah menatap ke jalanan yang mereka lewati.Tatapannya menyorot tak biasa. Ada optimisme yang membuat semangatnya terbakar.“Anda tahu kalau Kiran adalah anaknya Pak Surya, tapi kenapa Anda sangat yakin jika dia adik Anda, Pak?” Farhan menatap heran. Bagaimanapun sikap Noah sangat aneh saat ini.Noah menoleh pada Farhan.Senyum Noah terangkat kecil.“Bagaimana jika Kiran adalah anak angkat? Anak pungut? Atau semacamnya? Bukankah kita tidak tahu pasti?” Ucapan Noah sangat meyakinkan.Kening Farhan berkerut dalam.“Tapi, bukankah Pak Adrian bilang kalau Kiran anaknya Pak Surya?” Farhan bicara dengan sangat hati-hati.“Anak saja, tidak ada kata anak kandung atau anak angkat. Kata anak bisa kita asumsikan dengan banyak hal.”Farhan membuka bibir untuk bicara lagi.Tetapi ucapan Noah tak terbantah.Farhan kembali melipat bibirnya.Noah kembali memandang keluar jendela, setelah Farhan diam.“Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Kiran. Wajahnya sangat tidak asing bagiku.”
Di rumah sakit.Kiran duduk di kursi tunggu depan ruang pemeriksaan kejiwaan.Jemarinya saling meremat, bibir bawahnya dia gigit kuat-kuat saat pandangannya tertuju ke pintu ruangan yang ada di depannya.Sampai, tangan hangat Elvano mengurai jemarinya. Kiran menoleh ketika Elvano menggenggam sempurna telapak tangannya.“Gugup?” Pertanyaan Elvano sukses membuat napas Kiran berembus kasar.“Sedikit.” Meski memaksakan senyumnya, tetap saja terlihat kegelisahan di wajah Kiran.Elvano menggenggam lebih erat telapak tangan Kiran. “Aku akan terus bersamamu. Jangan terlalu tegang.”Kiran mengangguk pelan.Saat perawat memanggil nama Kiran.Elvano yang pertama kali berdiri.“Ayo.” Tangan Elvano masih menggenggam telapak tangan Kiran.Napas Kiran berembus panjang.Kiran akhirnya berdiri. Dia melangkah masuk ke ruang konsultasi bersama Elvano.Setelah menyapa ramah dokter yang dulu juga menangani kasus trauma sang kakak. Elvano langsung menyampaikan keluhan yang Kiran alami.“Jadi, seperti itu.
Kiran baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi saat mendengar Elvano bicara.“Jadi, aku ini atasanmu, ya?”Kiran menoleh pada Elvano yang sudah menatapnya. “Kalau bukan atasan, lalu apa?” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mana mungkin aku balas kamu mantanku, ‘kan?”Bibir Elvano terbuka
Kiran berdiri di depan meja Elvano. Tangannya menyusun stopmap-stopmap di meja, tetapi tatapannya lurus menembus udara.Harus bagaimana sekarang?Kiran bingung, pikirannya tak bisa mencari jalan untuk mengatasi masalahnya.Bagaimana caranya Kiran meminta kalungnya dari Elvano?Napas Kiran begitu be
Jemari Kiran menyapu cepat air mata yang ada di wajahnya. Tangannya memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, sebelum dia berdiri. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang kini juga berdiri berhadapan dengannya. Senyum Kiran paksakan terpajang di wajahnya yang merah dan basah, dia mencoba be
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak







