MasukKakak, 2 bab buat pagi ini, ya. Makasih
Hari berikutnya.Kiran duduk menatap Sabrina yang mengaduk-aduk makanan saat jam makan siang.Kening Kiran berkerut dalam melihat wajah frustasi temannya ini.“Apa Wina membuat masalah?” Kiran memastikan.Sabrina menghela napas panjang.“Tidak membuat masalah, tapi sejak pembicaraan semalam, entah kenapa aku masih saja kesal sampai pagi ini.”Kiran menoleh pada Elvano, keduanya saling pandang karena ucapan Sabrina.Kiran kembali menatap Sabrina, sampai dia mendengar Sabrina menceritakan apa yang Wina katakan.“Bagaimana bisa dia percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya.” Sabrina kesal karena sampai berdebat.Walau pagi ini Wina tetap membersihkan rumah dan membuat sarapan, tetapi keduanya sama-sama diam tak ada yang bicara.“Tapi Wina yang sering berinteraksi dengan ayahmu, meski dia dipenjara. Mungkin saja, apa yang Wina katakan benar.” Kiran mengungkap pandangannya setelah mendengar cerita Sabrina.“Bisa saja dia dibohongi, jelas-jelas dia ini terlalu polos.” Sabrina mendengk
Sabrina pulang setelah menenangkan diri.Dia berdiri termangu menatap pintu kayu di depannya.Sabrina tak langsung masuk.Beberapa kali dia menghela napas kasar.Saat tangannya terulur untuk meraih gagang pintu, Sabrina terkejut pintu di depannya sudah terbuka.Wina berdiri menyambutnya dengan senyum di wajah.“Apa kamu sudah makan? Aku masak nasi goreng, bagaimana kalau makan bersama?” Wina bicara dengan nada cerita. Tak setegang sore tadi.Sabrina menatap datar.Dia memandang Wina yang terus saja tersenyum.Haruskah dia melakukan apa yang Kiran sarankan padanya?Sabrina memilih masuk lebih dulu.Dia menuju meja makan bersama Wina.“Aku tidak tahu, kamu suka pedas atau tidak. Jadi aku buat tidak terlalu pedas.” Tatapan Sabrina tak tertuju pada Wina yang sedang bicara. Dia memandang seporsi nasi goreng di atas meja.Tanpa kata, Sabrina memilih duduk dulu. Dia mengambil alat makan dan mulai mencicipi masakan Wina.Ketika mengunyah makanan, pandangan Sabrina tertuju ke arah Wina.Anak
Wina urung melangkahkan kaki saat mendengar suara Sabrina.Kepalanya berputar pelan, tatapannya kini tertuju pada Sabrina.Sabrina berdiri dari duduknya setelah menghela napas kasar.“Kamu tidak bisa tinggal di sini, aku tidak mau membahayakan nyawa Ibu.” Suara Sabrina tegas tak terbantah.Ranti menatap putrinya yang keras kepala, dia saja tidak bisa mencegah.Sedang Wina menundukkan kepala lagi. Dia tak berani menatap mata Sabrina.“Kamu tinggal bersamaku.”Kalimat yang meluncur dari Sabrina, sukses mengangkat pandangan Wina ke arah Sabrina.Bibir Wina terangkat kecil, kelegaan terpancar di wajahnya.Ranti menatap tak percaya Sabrina membuat keputusan seperti ini.“Tapi, kamu tidak akan tinggal gratis. Kalau kamu tidak punya uang, kamu harus masak, mengepel, mencuci baju di kontrakan yang aku tempati. Kalau kamu bisa menghasilkan uang, kamu harus membayar uang sewa.” Sabrina bicara dengan ekspresi datar. Wina mengangguk-angguk mengiyakan. “Iya, aku mau. Aku bisa melakukan semuanya.”
Sabrina masih mencengkram kuat lengan putri dari ayahnya ini.“Apa kamu dan ibumu masih tidak puas? Setelah bertahun-tahun, kamu datang lagi kemari. Mau apa? Mau minta bantuan ibuku untuk menanggung hidupmu, hah?”Terakhir kali Wina–anak ayah Sabrina, datang bersama ibunya kemari. Ibu Wina meminta bantuan finansial pada mereka, sedangkan selama ini Sabrina dan ibunya yang menjalani hidup tanpa sosok laki-laki.Wina menggeleng, matanya memerah dan sedikit berembun.“Tidak seperti itu, Kak.”Sabrina menatap tak percaya dengan sebutan yang Wina tujukan untuknya.“Kamu pikir aku menerimamu sebagai adikku? Jangan memanggil namaku sembarangan!” Sabrina melepas lengan Wina sambil sedikit mendorongnya.Wina hampir menabrak kursi. Dia terus menundukkan kepala, tak berani menatap pada Sabrina.Saat itu, ibu Sabrina keluar.Wanita berusia hampir lima puluh tahun ini, langsung membantu Wina berdiri.“Kamu tidak apa-apa?” Ranti–ibu Sabrina, bertanya lembut pada Wina.Sabrina membuang napas kasar.
Punggung Kiran ditegakkan melihat Sabrina terkejut, apalagi wajahnya mendadak pucat.Setelah saling tatap sejenak dengan Elvano, Kiran kembali memandang Sabrina yang baru saja mengakhiri panggilan.“Sab, ada apa?” Kiran melihat kepanikan di wajah Sabrina.Sabrina menggigit bibir bawahnya, sebelum tatapannya tertuju pada Kiran.Dengan tatapan ragu, Sabrina bicara dengan suara lirih. “Ibu menghubungiku dan mengatakan kalau anak mantan suaminya datang meminta izin tinggal dengannya.”Bola mata Kiran membulat. “Tunggu, maksudnya? Anak mantan suami? Maksudnya anak lain dari ayahmu? Ayahmu yang pergi meninggalkanmu saat kecil karena berselingkuh?”Suara Kiran berat tertahan mengingat cerita yang pernah Sabrina katakan padanya.Sabrina mengangguk-angguk.“Entahlah, mau apa coba anak itu menemui ibuku? Sore ini mau tidak mau aku harus pulang dan memastikan sendiri. Jangan sampai dia datang hanya untuk menyakiti ibuku.” Jemari Sabrina mencengkram erat ponsel yang ada di tangannya.Kiran menoleh
Siang hari.Kiran masuk ke dalam ruang kerja Elvano setelah sebelumnya mengetuk pintu.Kiran berdiri di depan meja kerja Elvano sebelum bertanya, “El, siang ini tidak ada jadwal keluar perusahaan. Apa kamu mau dipesankan makanan?”Saat pandangan Elvano tertuju pada Kiran, tangannya bermasaan menutup berkas di atas meja.“Bagaimana kalau makan di luar?” tanya Elvano.Kiran tak sepakat.“Aku sudah lama tidak makan di kantin, aku mau makan di kantin perusahaan saja.” Senyum Kiran terangkat kecil setelah bicara, takut menolak ajakan Elvano, tetapi juga ingin dengan pilihannya sendiri.“Oke.” Elvano berdiri dari duduknya. “Kita ke kantin bersama.”Kiran mengangguk-angguk, senyumnya lebar mendengar Elvano menyetujui pilihannya.Mereka keluar dari ruangan bersama menuju kantin.Saat tiba di kantin.Semua tatapan langsung tertuju pada Elvano dan Kiran.Sebagai Presdir baru, tentu kedatangan Elvano di kantin sukses mencuri perhatian semua orang.Semua aktivitas makan para karyawan sampai terhe
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta







