Se connecterPerawat menatap pada Kamila, dengan senyum ramah dia membalas. “Bayinya laki-laki dan sangat sehat.”Semua orang tua langsung mengucap syukur. Sedang Elvano merasakan haru, matanya sampai berkaca-kaca dengan dada yang mendesir hebat mengetahui bayi dan istrinya baik-baik saja.“Kami akan memindah pasien ke ruang perawatan bersama bayinya, jadi nanti keluarga bisa ikut ke sana,” kata perawat lalu pamit dan kembali masuk ke dalam ruang persalinan.Elvano benar-benar tak menyangka bayinya benar berjenis kelamin laki-laki.“El, selamat ya.” Surya mendekat pada Elvano, lalu dia memeluk menantunya ini.“Terima kasih, Ayah.” Elvano membalas pelukan dari Surya.Tak hanya Surya, Aksa dan Raihan juga bergantian memeluk Elvano.Semua orang benar-benar bahagia. Mereka pergi ke ruang perawatan yang sudah disiapkan, setelah Kiran selesai ditangani.Di dalam ruang inap VIP ini, para orang tua sibuk mengerumuni bayi Kiran yang begitu tampan dan gemuk.Sedang Elvano duduk di tepian ranjang sambil men
Kepanikan melanda seluruh anggota keluarga saat brankar yang membawa Kiran didorong cepat menyusuri koridor Rumah Sakit Ibu dan Anak menuju ruang persalinan. Dokter dan perawat bergerak sigap karena kontraksi Kiran makin sering dan pembukaannya bertambah cepat.Begitu Kiran sudah masuk ke dalam ruang persalinan.Alina, Kamila, Raihan, Aksa, Surya, dan Nindy menunggu di depan pintu ruang persalinan dengan wajah panik.Para orang tua itu terus merapal doa untuk keselamatan Kiran dan bayinya.“Apa Elvano sudah dikabari?” Kamila bertanya sambil menatap pada Alina yang ada di sampingnya.Alina tersentak. Dia sangat mencemaskan Kiran sampai lupa mengabari putranya.“Sebentar biar aku telepon.” Alina mengeluarkan ponsel dari tasnya.Namun, sebelum Alina menekan nomor Elvano di layar ponselnya, sudah lebih dulu terdengar suara Nindy.“Aku tadi sudah kirim pesan ke Elvano, Mama Alina. Tadi aku hubungi, tapi tidak dijawab, mungkin dia sedang rapat, semoga pesanku segera dibaca,” ucap Nindy den
Delapan bulan berlalu dengan cepat. Suasana di kediaman Radjasa mendadak sibuk. Usia kandungan Kiran sudah memasuki bulan kesembilan, dan hari perkiraan lahir hanya tinggal menghitung hari.Di kamar bayi yang berada tepat di sebelah kamar utama, para orang tua tampak sangat bersemangat menyelesaikan mendekor kamar bayi untuk menyambut kelahiran anak Kiran dan Elvano.Alina dan Kamila sibuk menyusun baju-baju bayi berukuran kecil ke dalam lemari, memasang kelambu, hingga menata sprei tempat tidur bayi. Sementara Aksa, Raihan, dan Surya berkumpul di sudut ruangan, sibuk merakit mainan gantung yang akan digantung di atas baby box.Kiran sendiri hanya duduk santai di sofa empuk kamar bayi seraya menikmati semangkuk buah potong segar karena gerakannya kini terbatas, ditemani Nindy yang juga ada di sana siang ini.Tangan Kiran mengusap lembut perutnya yang sudah sangat besar. Dia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kehebohan para kakek dan nenek yang ingin menyambut bayinya.“Mau aku
Keesokan harinya. Kiran sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah kondisinya dinyatakan membaik dan stabil oleh dokter. Elvano menjelma menjadi sosok suami yang super protektif dan sigap luar biasa. Sejak langkah pertama keluar dari pintu kamar rawat inap, Elvano tidak membiarkan Kiran membawa apa pun, bahkan tas kecil miliknya sendiri sudah bertengger rapi di bahu Elvano.Dengan penuh kehati-hatian, Elvano menuntun Kiran melangkah menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di parkiran. “Hati-hati,” ucap Elvano memastikan Kiran tidak terbentur tepian kabin seolah istrinya ini bisa pecah kalau tersenggol.Kiran hanya tersenyum melihat sikap Elvano yang berlebihan, tetapi dia senang melihat antusias Elvano menjadi calon ayah.Kiran duduk dengan nyaman di dalam mobil, Elvano memasangkan sabuk pengaman untuk Kiran dengan gerakan sangat lembut, memastikan tali pengaman itu tidak menekan perut istrinya terlalu kencang.“Sudah nyaman, ‘kan? Tidak ada yang menekan?” Elvano memast
Alina dan Kamila tak bisa menyembunyikan kecemasan mereka.Saat Alina hendak kembali menghubungi putranya, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar dengan nama Elvano terpampang di layar. Tanpa membuang detik, Alina langsung menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga."El! Kamu ke mana saja, sih?! Mama sama Mama Kamila nyari kamu dari tadi sampai pusing!" cecar Alina meluapkan kekesalannya. “Di mana Kiran? Apa kalian pulang? Apa Kiran sakit?”Suara Elvano terdengar tenang dari seberang panggilan dengan embusan napas lega. "Ma, maafkan aku sudah membuat kalian cemas. Aku tidak sempat pamit tadi karena buru-buru membawa Kiran ke rumah sakit."Kata 'rumah sakit' seketika membuat jantung Alina seolah berhenti berdetak. Wajahnya berubah pucat, memancing Kamila mendekat dengan kening berkerut."Rumah sakit?!" pekik Alina panik sampai membuat beberapa tamu di sekitarnya sempat menoleh. "Kiran kenapa, El? Sakit apa dia? Kenapa bisa sampai dibawa ke rumah sakit? Mama ke sana sekarang y
Elvano membawa Kiran ke rumah sakit tanpa memberi kabar yang lain.Setelah mendaftar di loket, mereka menunggu beberapa saat, sampai akhirnya dipanggil masuk ke dalam ruang pemeriksaan.Suasana di dalam ruang pemeriksaan rumah sakit terasa dingin dan hening. Kiran berbaring di atas ranjang periksa dengan tirai putih yang melingkupinya. Di sampingnya, Elvano berdiri tak tenang. Elvano terus mengusap punggung tangan Kiran yang terasa dingin, sembari menatap cemas ke arah layar monitor ultrasound di sebelah dokter spesialis kandungan yang sedang memeriksa perut istrinya.Rasa khawatir menggulung dada Elvano. Bayangan tentang Kiran yang mendadak lemas, pucat, dan hampir pingsan di tengah kemegahan pesta pernikahan Noah dan Nindy tadi masih terekam jelas di ingatan."Bagaimana kondisi istri saya, Dokter? Kenapa dari sejak satu minggi ini hingga pagi tadi dia lemas dan mual-mual terus?" tanya Elvano dengan nada suara bergetar tak sabar.Dokter wanita paruh baya itu menghentikan gerakan al







