Se connecterNoah semakin diam mendengar ucapan Yessica.Sampai, kalimat Yessica menjawab semua pertanyaan di kepalanya.“Aku sepertinya mau flu, aku ganti baju dulu, Kak.”Noah tetap diam menatap kepergian Yessica.Satu-satunya alasan yang bisa Noah mengerti kenapa Yessica ingin menjatuhkan Kiran, karena perbedaan status mereka yang dipaksa untuk disamakan.Di sisi lain.Surya mencari Kiran karena cemas. Langkah Surya terhenti ketika melihat Kiran sedang duduk bersama Elvano.Apalagi dari sudut pandangnya sekarang, Surya melihat Elvano begitu perhatian membersihkan rambut Kiran.Senyum Surya terangkat lebar. Dia lupa dengan siapa Kiran berada sekarang.Selama Kiran bersama Elvano, maka putrinya ini akan selalu baik-baik saja.Surya mengembuskan napas pelan, sebelum dia melangkah menghampiri Elvano dan Kiran.“Ternyata kalian di sini.” Surya berdiri di dekat Kiran dan Elvano duduk.Kiran dan Elvano menoleh bersama.Ketika melihat Surya di sana, Elvano buru-buru bangun dari duduknya. “Paman, silak
Kamila dan Raihan terkejut melihat Yessica yang datang sambil menggigil kedinginan.Kamila meminta sopir untuk segera mengambilkan pakaian ganti di mobil, sebelum mendekati Yessica.“Bagaimana bisa kamu basah kuyup begini?” Kamila membersihkan kotoran yang ada di rambut Yessica.“Yessica jatuh ke danau.” Adrian yang menanggapi pertanyaan Kamila.“Apa?” Kamila terkejut sambil menatap pada Adrian. “Bagaimana bisa jatuh ke danau?”Bibir Yessica masih bergetar. Kedua tangan masih memeluk erat tubuhnya.“Tadi, aku berniat mengajak main Kiran, tapi dia tak sengaja mendorongku.” Suara Yessica sedikit lirih dan goyah.“Yang mendorongmu Kiran?” Kamila memastikan.Yessica mengangguk, tetapi setelahnya menggeleng. “Mama jangan menyalahkan Kiran.” Yessica menjeda ucapannya sejenak sebelum kembali berkata, “Dia sepertinya juga tidak sengaja.”“Tapi Kiran juga tak seharusnya mendorongmu ke danau, Yess.” Raihan ikut bicara.Di dekat Raihan dan Kamila, Surya berdiri diam mendengar apa yang Yessica ka
Kiran tersentak kala kakinya terseret ke belakang, membuat tubuhnya terhuyung hampir hilang kendali.Sadar belakangnya danau. Kiran sigap memutar tubuhnya agar menghadap ke orang yang menariknya.Saat itu kedua tangan Kiran langsung mengambil posisi mendorong kuat lengan orang yang menariknya, menggantikan dirinya yang hampir tercebur ke danau.“Akh!!” Teriakan melengking itu diikuti suara riuh air yang terhantam sesuatu yang berat.Kiran tersentak melihat siapa yang sekarang ada di dalam air. “Yessica.” Mata Kiran menyipit tak percaya. Meski saat ini dia sedang menetralkan jantungnya yang berdegup cepat.Saat itu, Elvano dan yang lain berlari menghampiri Kiran.Melihat seseorang ada di dalam air, Elvano lebih memilih segera menghampiri Kiran lebih dulu. “Kamu baik-baik saja? Kamu terluka?” Elvano mengecek tubuh Kiran dengan cepat.Sedang Adrian dan Noah kaget melihat Yessica ada di air. Noah segera mendekat, dia berjongkok di tepian lalu mengulurkan tangannya.“Gapai tanganku, Yess
Noah diam.Ekspresi wajahnya tak menunjukkan keterkejutan sama sekali.Sampai, Noah mengembuskan napas kasar.“Kamu boleh tertarik. Tapi jangan harap bisa mengambil hati Kiran.” Tatapan Noah kini tertuju pada Kiran yang bersama Elvano.“Tahta di hatinya hanya bisa diduduki olehnya.” Dagu Noah kini terarah ke arah Elvano.Senyum Adrian terangkat getir. Sebelum dia menghela napas kasar. “Aku tahu.”Kening Noah berkerut dalam. Dia menoleh pada Adrian yang baru saja bicara.“Aku bilang punya ketertarikan. Tapi aku sadar, aku juga tidak bisa memilikinya.” Sorot mata Adrian berubah sendu meski bibirnya tertarik kecil.Tangan Noah menepuk-nepuk pundak Adrian. “Benar, lupakan saja ingin mengambil hati Kiran.”“Aku sebagai kakaknya saja, tidak berani mengusik hubungan mereka, apalagi kamu?” Noah menatap serius pada Adrian. “Kecuali kamu ingin Kiran sangat membencimu.”Adrian tersenyum tipis. “Bagaimana lagi?”“Walau aku adalah tunangannya, jauh sebelum ada Elvano Radjasa. Tapi sepertinya meman
Kiran berjalan-jalan di tepian sungai yang membelah bagian utara dan selatan area wisata ini.Sepanjang melihat-lihat, senyum manis terus berhias di bibirnya.Di belakangnya. Noah dan Elvano berjalan bersama. Keduanya tampak bersaing, tetapi sebenarnya sedang sama-sama melindungi Kiran.“Kiran tidak bisa berenang, kamu malah mengajaknya berwisata di wahana air. Kolam renang dan sungai di sini hanya akan menjadi pemandangan sia-sia.” Elvano membuka suara setelah sejak tadi diam.“Kiran bukan tidak bisa berenang. Sepertinya trauma yang dialaminya masih membekas di perasaannya, meski dia hilang ingatan.”Elvano menghentikan langkah mendengar balasan dari Noah.“Apa maksudmu?” Kening Elvano berkerut dalam saat menatap pada Noah.Noah ikut menghentikan gerakan kakinya. Dia menoleh pada Elvano yang sudah menatapnya.Noah lebih dulu memandang ke Kiran yang sedang berjongkok memperhatikan bunga di tepi sungai. Sebelum kembali menatap pada Elvano.“Saat kecil, kami pernah pergi ke tempat ini. T
Mata Elvano menyorot tak suka. Atmosphere di tempat ini berubah dingin.Kiran yang terkejut, perlahan menoleh pada Elvano.Sejak awal Elvano tidak menyukai keberadaan Adrian, sekarang mereka bertemu lagi di sini.“Adrian.” Noah menatap heran. “Kamu mengundangnya?” tanya Noah saat menatap pada Yessica.Yessica mengangguk-angguk cepat. “Ya, aku pikir, lebih banyak orang, lebih bagus. Apalagi, aku dengar kalau Adrian juga ternyata dulu atasan Kiran, jadi pasti mereka juga dekat, ‘kan?” Tatapan Yessica tertuju pada Kiran setelah bicara.Sedang Adrian menatap pada Elvano, dia menerima tatapan tajam dari pria yang dicintai oleh Kiran ini.“Kalian kenapa hanya berdiri? Karena Adrian sudah datang, kita duduk dan makan dulu. Setelahnya kalian bisa main sepuasnya.” Suara Raihan mengalihkan tatapan semua orang.Kiran menyentuh lengan Elvano. Kepalanya mengangguk pelan saat Elvano menoleh padanya.Mereka semua akhirnya bergabung bersama yang lain.Makanan yang dihidangkan di meja, semua terasa
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Suasana mendadak tegang. Apalagi saat Kiran melihat Dania menatap tajam padanya. “Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Saya hanya–” “Aku tahu, mungkin kamu sulit percaya pada orang lain, apalagi posisimu sekarang bisa dibilang lebih tinggi dari staff lain di divisi pemasaran.” Dania memotong ucapan
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak







