Share

Bab 4

Author: Allina
last update publish date: 2025-12-05 12:39:05

Saat aku menyerahkan gelas berisi air hangat itu kepadanya di ambang pintu kamar pelayan, jari-jari lentiknya yang halus sengaja bersentuhan lama dengan tanganku.

Piyama sutra merah mudanya yang tipis menerawang di bawah sorot lampu lorong yang remang-remang, memperlihatkan siluet tubuh mudanya yang padat dan belum tersentuh gravitasi.

Nona Sora kemudian menatapku lalu berjinjit sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Makasih ya, Mas Rafli, aku nggak nyangka kamu gagah banget waktu nahan badan aku, padahal tubuh kamu cungkring. Tapi barusan, aku lihat, loh, perut kamu kotak-kotak, ternyata kamu punya badan bagus cungkring-cungkring gini," bisiknya manja.

Sebelum aku sempat menjawab dengan otakku yang korslet, gadis itu sudah melesat pergi ke kamarnya sambil terkikik kecil.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dengan mata sedikit bengkak kurang tidur.

Setelah mandi dan memakai seragam sopir yang sudah disetrika licin, aku menghadap Nyonya Alika di ruang makan.

Nyonya Alika sedang menikmati kopi paginya sambil membaca tablet, mengenakan kimono tidur satin berwarna emas tua. Tali pengikat di pinggangnya terlihat longgar, membuat bagian dada kimono itu terbuka cukup lebar dan menampilkan belahan dada putih mulus yang matang dan penuh.

"Pagi, Nyonya," sapaku sambil menunduk sopan, berusaha mati-matian agar bola mataku tidak menggelinding ke arah dada beliau.

"Pagi, Rafli, kayaknya pagi ini kamu kelihatan seger banget," balas Nyonya Alika sambil tersenyum tipis, matanya meneliti tubuhku dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang dagangan.

“Ahha, Nyonya bisa aja. Oh iya, tumben banget Nyonya panggil saya pagi-pagi begini. Biasanya saya udah motongin rumput di kebon belakang.”

"Tugasmu pagi ini antar Claudia ke kampus, jadi kamu nggak usah potongin rumput dulu."

"Nona Claudia itu yang anak tengah ya?" tanyaku memastikan.

"Iya, yang paling fashionable tapi juga paling susah diatur," Nyonya Alika meletakkan cangkir kopinya, lalu menatapku tajam. "Dengar baik-baik, Rafli. Hari ini kamu antar-jemput dia. Jangan biarkan dia naik taksi online, apalagi dijemput teman-temannya yang rambutnya warna-warni itu!"

"Kenapa memangnya, Nyonya?" tanyaku polos.

Nyonya Alika menghela napas panjang. "Dia itu lagi hobi banget keluyuran ke diskotik atau bar sepulang kuliah. Nilainya udah ancur banget, terus kuliahnya udah masuk sesi skripsian. Dia udah telat 1 semester. Jadi, pastikan kamu bawa dia pulang, kalau perlu seret dia ke rumah begitu kuliahnya selesai. Kalau dia maksa belok ke tempat hiburan malam, kamu lapor saya atau kamu hadang aja. Paham?"

"Siap, Nyonya! Berarti saya jadi bodyguard dadakan nih?"

"Kurang lebih begitu. Kalau kamu berhasil jaga Claudia hari ini, saya kasih bonus buat rokok kamu, Surya Exclusive 2 bungkus!" janji Nyonya Alika sambil mengedipkan sebelah matanya.

Bonus uang itu penting, tapi kedipan mata janda kaya ini rasanya lebih mahal dari bonusku hari ini.

Tak lama setelah aku menunggu di pintu depan, Nona Claudia turun dari lantai dua.

Berbeda dengan Nona Shella yang elegan atau Nona Sora yang imut nan manja, Nona Claudia ini definisi cabe-cabean mahal.

Berangkat ke kampus aja memakai crop top ketat berwarna putih yang memamerkan perut ratanya yang bertindik, dipadu dengan rok mini jeans yang saking pendeknya aku sampai khawatir dia bakal masuk angin kalau duduk.

Wajahnya jutek minta ampun saat melihatku berdiri di samping mobil sedan hitam yang sudah mengkilap kucuci subuh tadi.

"Ih, Mama serius nyuruh orang kampung ini nganter aku?" protes Nona Claudia sambil memutar bola matanya malas.

"Tenang aja, Claudia, itu si Rafli punya SIM A sama SIM B. Udah gitu, dia lebih jago nyetir daripada teman-teman kamu yang modal gaya doang," potong Nyonya Alika tegas dari ambang pintu.

“Nggak ada opsi lain yang lebih bagus, apa? Mending aku naik taksi daripa...”

"Diantar Rafli atau Mama bekukan kartu kredit kamu bulan ini?" Ancaman kartu kredit itu ampuh. Nona Claudia langsung cemberut, lalu masuk ke kursi penumpang depan dengan kasar.

Sepanjang perjalanan menuju kampus yang terletak di pusat kota, Nona Claudia sibuk dengan ponselnya, sesekali berdecak kesal atau memaki pelan.

Ekor mataku sesekali melirik ke arahnya, karena posisi duduknya yang mengangkat satu kaki ke atas dasbor itu benar-benar menguji iman. Paha putih mulusnya terekspos jelas dari samping.

"Heh! Mata lo dijaga ya! Ngapain ngelirik-lirik paha gue?" semprot Nona Claudia tiba-tiba tanpa menoleh, seolah dia punya mata di setiap sisi kepalanya.

Aku kaget dan nyaris salah injak pedal gas. "Eh, anu Non, saya liat spion kiri. Spionnya agak miring ke dalam. Lagian Nona duduknya begitu, saya jadi ngeri kalau Nona kesemutan, terus jalan pincang ke kampus."

"Alasan! Dasar sopir mesum. Semua cowok sama aja, liat kulit dikit langsung jelalatan!”

Claudia menurunkan kakinya, tapi kini malah menyilangkan kaki dengan gaya yang membuat roknya semakin ketat mencetak pinggulnya. "Awas ya lo kalau bawa mobilnya nggak becus. Gue nggak suka sopir yang ngerem mendadak atau gaspol nggak jelas!”

Aku mengemudi dengan hati-hati, berusaha membuktikan kalau aku bukan sopir gerobak sapi seperti tuduhannya.

Nona Claudia mulai terlihat sedikit rileks, mungkin karena dia sibuk video call dengan temannya, merencanakan pesta nanti malam yang jelas-jelas dilarang ibunya.

"Iya beb, gue bete banget diantar sopir baru nyokap. Sumpah, orangnya freak banget, badannya oke, sih, berotot kayak kuli panggul, cuma agak cungkring. Kek, apasih, najis deh," ucapnya di telepon, tak peduli aku mendengarnya dengan jelas.

Aku hanya bisa mengelus dada.

Tiba-tiba, dari arah jalur busway di sebelah kanan, sebuah bus besar berwarna oranye memotong jalur kami dengan brutal tanpa menyalakan lampu sein.

Bus itu membanting setir ke kiri untuk menghindari motor, tepat ke arah moncong mobil sedan yang kami tumpangi. Jaraknya hanya tinggal sejengkal.

"AAAAAA!!!" Nona Claudia menjerit histeris dengan ponsel yang terlempar dari tangan.

Refleksku yang terlatih menghindari sapi nyebrang dan lubang jalanan di desa langsung bekerja otomatis.

Kakiku menginjak pedal rem dalam-dalam tapi tidak sampai mengunci ban, sementara tanganku memutar setir sedikit ke kiri untuk memberi ruang, lalu meluruskannya kembali begitu bus itu lewat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Mamad
tanggung banget ni ceritanya
goodnovel comment avatar
Sudarta Google
.......... apa selanjutnya?
goodnovel comment avatar
Bambang Irawan
menarik ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 693 (TAMAT)

    Setelah perut terisi penuh nanti, agenda selanjutnya adalah menyapa langsung setiap tamu VVIP yang hadir merayakan lembaran baru kehidupan paling bersejarah bagi seluruh kongsi Keluarga Hermawan.Obrolan kami berdua mendadak disela oleh kedatangan Claudia dan Dion. Adik iparku itu langsung menarik dua kursi kosong di meja VIP kami dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Dion mengekor di belakangnya membawa dua piring penuh berisi beraneka ragam hidangan laut."Gila, makanan di sini enak-enak banget, Raf! Gue sampai nambah salmon panggangnya tiga kali," puji Claudia menerima piring dari tangan kekasihnya."Makan yang banyak, Clau. Biar tenaga lo kuat buat ngurusin perumahan cabang selatan besok Senin," ujarku menunjuk piringnya menggunakan garpu."Siap, Bos! Pokoknya habis acara nikahan ini, gue bakal langsung tancap gas ngejar target penjualan," sahut Claudia mengacungkan ibu jarinya mantap.Sora tiba-tiba muncul dari arah meja prasmanan pencuci mulut. Gadis berkacamata itu membawa mangkuk k

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 692

    Melihat putra kandungnya berhasil mencapai puncak kebahagiaan sempurna nyatanya sukses meruntuhkan seluruh pertahanan batin wanita hebat ini.Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan kelam masa lalu yang berani menampakkan diri di tengah perayaan kemenangan cinta agung ini."Ibu nangis lagi tuh, Raf. Samperin gih sebentar buat nenangin," bisik Shella menyikut pinggangku pelan.Aku segera menarik Shella mendekat ke arah wanita paruh baya yang telah melahirkanku itu."Udah dong, Bu, jangan nangis terus. Nanti riasan cantiknya luntur lho, masa ibunya pengantin kalah kinclong sama besan lain," bujukku merangkul pundak Ibu Liora dengan hangat."Ibu cuma kelewat bahagia, Nak. Rasanya kayak mimpi bisa lihat kamu segagah ini menggandeng wa

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 691

    Aku menerima gulungan kertas berpita itu dengan kening sedikit berkerut keheranan. Pasalnya, ini adalah kali pertama seorang kepala daerah mengirimkan utusan khusus menembus ring pengamanan acaraku."Wah, repot-repot banget Pak Gubernur sampai ngutus asisten pribadinya ke tengah karpet merah begini. Makasih banyak lho, Pak. Tolong sampaikan salam hormat saya balik buat beliau," balasku menjabat tangannya dengan erat."Pasti akan saya sampaikan, Pak Rafli. Mari, silakan dilanjutkan kembali jalannya menuju aula. Saya permisi undur diri dulu dari hadapan kalian," pamit asisten itu lalu melangkah menyingkir, membuka jalan lebar untuk kami berdua.Shella sontak memegang lengan kiriku semakin erat hingga kukunya sedikit menancap di balik kain jas."Buka cepat suratnya, Raf. Ja

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 690

    "AC-nya udah disetel mentok paling dingin ini, Sayang. Kamunya aja yang kelewat tegang mikirin ijab kabul. Santai aja, tarik napas dalam-dalam," hiburku mengusap punggung tangannya menggunakan ibu jari.Pandangan Shella kemudian beralih mengamati pemandangan di luar kaca jendela mobil. Dahinya perlahan berkerut tajam melihat deretan gedung pencakar langit yang baru saja kami lewati."Kok arah jalannya mengarah ke pusat pemerintahan kota Jakarta Pusat sih, Raf? Gedung hotel kita kan arahnya nggak lewat mari."Padahal, Shella sendiri yang mem-booking gedung hotel mewah di kawasan selatan jauh-jauh hari. Shella masih belum menyadari rute perjalanan yang mengarah menuju pusat pemerintahan kota Jakarta Pusat ini sengaja kubuat sebagai kejutan."Ada pengalihan arus lalu lintas dadakan pagi ini, Shel. Kata Bang Tigor, jalan raya arah selatan lagi ada perbaikan aspal yang ambles," ngelesku dengan wajah sedatar tembok."Masa iya sih dadakan banget? Kok Cindy nggak ngasih laporan apa-apa ke aku

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 689

    Tepat saat tawa mereka pecah, Ibu Liora melangkah masuk membawa nampan berisi secangkir teh kamomil hangat. Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya hijau botol yang membalut tubuhnya dengan sangat anggun."Diminum dulu tehnya, Sayang. Biar urat saraf kamu agak rileks sedikit ngadepin acara panjang nanti," ucap Ibu Liora menyodorkan cangkir teh itu ke arah Shella."Makasih banyak, Bu. Jantung Shella dari tadi subuh udah deg-degan nggak karuan rasanya sampai keringat dingin.""Wajar aja kalau kamu gugup. Semua calon pengantin pasti ngerasain hal yang sama kok. Tarik napas pelan-pelan aja biar nanti nggak kaku senyumnya pas difoto."Shella menuruti nasihat calon ibu mertuanya itu dengan sangat patuh. Selesai dirias, wajahnya sama sekali tidak berlebihan. Shella dirias sanga

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 688

    "Satu lagi, Ko," tambahku memberikan langkah taktis lanjutan. "Kirim juga tim teknisi rekanan kita dari divisi operasional langsung ke lokasi pemasok makanan. Biar teknisi kita yang bantu mindahin bahan baku dalam waktu singkat biar dagingnya nggak keburu busuk.""Ide yang sangat brilian. Tim teknisi akan segera meluncur ke lokasi mogoknya mobil vendor tersebut sekarang juga.""Bagus. Kabari saya lagi kalau urusan pemindahan dagingnya udah beres seratus persen. Saya mau lanjut fokus ngurusin pindahan keluarga ke lokasi vila."Sambungan telepon langsung kututup usai memastikan seluruh perintah tersampaikan dengan jelas. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana dengan perasaan amat lega. Masalah teknis sekecil ini nyatanya bisa diselesaikan dengan sangat mudah berkat ketersediaan sumber daya perusahaan sendi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status