LOGIN“Ak-aku ikut denganmu!”
Suara Lin Xiao pecah, nyaris tertelan oleh deru angin hutan yang dingin. Ia mencengkeram lengan kekar pria di hadapannya seolah itu adalah satu-satunya dahan di tengah badai. Napasnya memburu, paru-parunya yang ringkih terasa perih menghirup udara yang terlalu tajam.
Cang Yan terdiam sebentar. Mata emasnya menyipit, menatap jari-jari putih Lin Xiao yang gemetar di atas kulit lengannya yang gelap dan keras. Seringai tipis muncul di sudut bibirnya, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai predator daripada manusia.
“Pilihan yang cerdas, Betina,” gumam Cang Yan dengan suara berat yang bergema di dada Lin Xiao yang menempel pada tubuh pria itu.
Tanpa peringatan, Cang Yan menyentakkan tubuhnya. Ia tidak membimbing Lin Xiao berjalan; ia menyambar pinggang wanita itu dengan satu tangan dan menyampirkan tubuh ringkih itu di bahunya seperti hasil buruan yang berharga.
“Hei! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!” seru Lin Xiao dengan wajah yang menghadap ke bawah, menatap tanah yang bergerak cepat di bawah kaki telanjang Cang Yan.
“Kau terlalu lambat,” sahut Cang Yan pendek. “Lumpur ini akan menelan kakimu dalam sepuluh langkah. Dan aku tidak suka menunggu.”
Lin Xiao mendengus kesal, namun ia berhenti melawan. Tubuhnya yang lemas karena sisa dari serangan jantung yang baru saja merenggut nyawanya di dunia modern tidak memiliki energi untuk berdebat.
Ia bisa merasakan otot bahu Cang Yan yang bergerak dinamis di bawah perutnya. Kulit pria itu panas, kontras dengan udara hutan yang lembap.
Namun, ada sesuatu yang salah.
Lin Xiao memperhatikan arah langkah Cang Yan. Mereka tidak menuju ke area terbuka yang mungkin merupakan desa atau pemukiman. Sebaliknya, Cang Yan mendaki lereng berbatu yang semakin terjal, menjauh dari jalur-jalur hewan yang biasa.
“Cang Yan, ke mana kita? Bukankah seharusnya ada orang lain? Klanmu?” tanya Lin Xiao, suaranya mulai dihinggapi rasa cemas yang baru.
“Klan adalah urusan nanti,” jawab Cang Yan dingin. “Kau tidak punya tanda. Jika aku membawamu ke desa sekarang, pejantan lain akan mencabikmu hanya untuk mendapatkan aromamu. Aku tidak suka berbagi.”
“Aroma? Apa maksudmu?”
Cang Yan berhenti mendaki sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu hidungnya bergerak-gerak di dekat punggung Lin Xiao. “Kau tidak merasakannya? Setiap kali kau ketakutan, setiap kali napasmu memburu, kau mengeluarkan bau yang menyiksa.”
Lin Xiao membeku. Ia mencium bau tubuhnya sendiri, bau keringat, bau ketakutan, dan sesuatu yang manis seperti nektar yang baru pecah. Ia tidak sadar bahwa di dunia ini, hormon dan feromonnya adalah sinyal bahaya yang mematikan.
“Turunkan aku sekarang,” bisik Lin Xiao. “Aku tidak mau ke tempat terpencil bersamamu.”
“Terlambat.”
Cang Yan melompat melewati celah batu dan mendarat di depan sebuah lubang gua yang tersembunyi di balik tirai tanaman rambat. Ia menurunkan Lin Xiao ke lantai gua yang tertutup kulit binatang kering.
Lin Xiao segera mundur hingga punggungnya menempel pada dinding gua yang dingin. “Ini bukan desa, tapi ini sarangmu.”
“Ini tempat teraman bagimu,” Cang Yan melangkah maju, melepaskan ikat pinggang kulitnya yang sederhana. “Atau kau lebih suka tidur di luar bersama macan tutul bertaring?”
“Aku lebih suka tidak menjadi tawanan!”
Lin Xiao melihat celah di antara tubuh Cang Yan dan dinding gua. Dengan nekat, ia berlari. Ia tidak berpikir panjang, insting bertahannya sebagai manusia modern yang mandiri mengambil alih. Ia menyingkap tanaman rambat dan berlari keluar.
“Lin Xiao, berhenti!” teriak Cang Yan.
Lin Xiao terus berlari. Kakinya yang lembut tergores bebatuan tajam, tapi ia tidak peduli. Ia harus menjauh dari pria yang menatapnya seolah ingin menelannya bulat-bulat itu. Namun, penglihatannya yang belum sepenuhnya pulih menipunya. Di depan sana, vegetasi yang lebat tiba-tiba menghilang.
Ia menginjak udara kosong.
“Ah!”
Tubuh Lin Xiao terjungkal ke depan. Di bawahnya adalah jurang dengan sungai berbatu yang menderu. Ia memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang familiar dari kematian kembali menjemputnya.
Sret!
Sebuah tangan besar melingkari pergelangan tangannya dengan kekuatan yang nyaris mematahkan tulang. Lin Xiao tergantung di udara, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
Cang Yan menariknya ke atas dengan satu sentakan kuat. Begitu kaki Lin Xiao menyentuh tanah yang stabil, pria itu tidak melepaskannya. Ia justru memutar tubuh Lin Xiao dan menekannya ke batang pohon besar di tepi jurang.
Napas mereka beradu. Wajah Cang Yan hanya berjarak beberapa milimeter. Mata emas pria itu kini berkilat gelap, pupilnya membesar, menelan seluruh warna irisnya.
“Kau ingin mati?” desis Cang Yan. Suaranya bergetar karena amarah atau mungkin gairah yang tertahan.
“Aku... aku hanya ingin bebas,” bisik Lin Xiao dengan suara gemetar. Ia bisa merasakan tangan Cang Yan yang besar menekan pinggangnya, dan jemarinya meremas kain compang-camping yang ia kenakan.
“Di sini tidak ada kebebasan tanpa kekuatan,” tangan Cang Yan berpindah ke leher Lin Xiao, tidak mencekik, tapi mengunci. Ibu jarinya mengusap nadi di leher Lin Xiao yang berdenyut liar. “Bau ini... kau sengaja melakukannya, Betina? Kau ingin aku kehilangan akal?”
“Aku tidak melakukan apa-apa!” tangis Lin Xiao. Air mata menetes di pipinya yang kotor. “Aku hanya ingin pulang! Aku bukan milik siapa pun!”
Cang Yan menggeram rendah, sebuah suara yang benar-benar berasal dari binatang. Ia menempelkan dahinya ke dahi Lin Xiao. Panas dari tubuh pria itu merembes ke kulit Lin Xiao, menciptakan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh sarafnya. Kontak fisik ini begitu mentah, begitu intens, hingga Lin Xiao merasa otaknya mulai tumpul.
“Kau milikku sejak aku menemukanmu di lumpur itu,” bisik Cang Yan, bibirnya menyentuh ujung hidung Lin Xiao. “Jangan lari lagi, atau aku akan merantaimu di dalam gua.”
Lin Xiao terengah-engah, dan tubuhnya melemas di bawah tekanan pria itu. Ia sadar, di dunia ini, aturan desain dan logika tidak berlaku. Yang ada hanya predator dan mangsa. Dan saat ini, ia adalah mangsa yang sangat berharga.
Tiba-tiba, sebuah suara dingin yang sudah mulai ia kenali bergema di kepalanya, memecah ketegangan yang menyesakkan itu.
Lin Xiao membelalak. Ia menatap wajah Cang Yan yang masih berada di depan wajahnya, menanti jawaban atas klaimnya.
Jika ia menolak, ia akan menjadi santapan seluruh hutan. Jika ia menerima, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria serigala ini padanya.
“Bagaimana?” tanya Cang Yan, suaranya kini lebih lembut tapi jauh lebih berbahaya. “Kau mau ikut kembali ke gua dengan patuh, atau harus kupaksa?”
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







