LOGINSesuai janji ya guys! Dan aku mau minta maaf dulu buat pembaca lama, sepertinya untuk ke depan aku cuma bisa up 2 bab setiap hari. Soalnya aku ada beberapa yang harus dikerjakan. Semoga kalian tetap betah ya!
“Wah, wangi banget. Kamu masak apa, Sayang?”Kylar muncul di ambang pintu dapur dengan pakaian yang sudah rapi untuk perjalanan. Koper dan tas kerjanya sudah menunggu di dekat pintu depan, semua berkas untuk Paris juga sudah selesai disiapkan.Dia sengaja mengambil penerbangan tengah malam agar masih bisa makan malam bersama keluarga sebelum berangkat, tetapi begitu mencium aroma masakan dari dapur, bukannya langsung duduk, Kylar malah berjalan mendekati istrinya.“Ada sop iga, ayam bakar, tumis buncis, sama capcay. Masih ada beberapa lauk lagi yang tinggal dipanasin.” Ryn yang sedang mengaduk sop menoleh sebentar. “Duduk dulu, Mas. Bentar lagi ini matang.”Bukannya menurut, Kylar malah berdiri tepat di belakangnya. Kedua lengannya melingkari pinggang Ryn, menarik tubuh istrinya mendekat sebelum dagunya bertumpu di bahu Ryn. Dia menghirup aroma rambut dan leher istrinya yang terikat tinggi, lalu mengecup sisi leher yang terbuka.Ryn yang sedang memegang spatula langsung terkikik geli.
Kylar menahan tawa, sedangkan Ryn langsung mengulurkan satu tangan ke arah putra keduanya. “Sini, sini. Siapa bilang nggak diajak?”Reyansh turun dari ranjang tanpa menunggu lebih lama. Dia langsung berjalan cepat ke arah mereka, lalu menyelipkan tubuh kecilnya di antara Ryn dan Kylar.“Aku juga mau pelukan,” gumam Reynash sambil memeluk pinggang Ryn.“Iya, Sayang,” jawab Ryn sambil tertawa kecil. “Ibu peluk semuanya.”Reyansh mendongak. “Aku juga dapat cium?”“Dapat.”“Banyak?”“Banyak.”Ryn mencium pipi Reyansh berkali-kali sampai anak itu terkikik, kemudian mengecup kening Lucius yang sudah setengah tertidur. Kylar ikut merangkul kedua putranya sekaligus, membuat mereka bertiga berhimpitan di tengah ranjang.Reyansh yang sudah kembali ceria tiba-tiba menoleh kepada Lucius. “Kakak tadi dipeluk Ibu?”Lucius membuka mata sedikit. “Iya.”“Kenapa?”“Karena Ibu sedih.”Reyansh langsung menatap Ryn. “Ibu sedih?”Ryn tersenyum. “Tadi sedikit.”Reyansh berpikir sebentar, lalu memeluk ibunya
“Aku takut, Mas.”Kylar mengangguk pelan. “Aku juga.”Jawaban itu membuat Ryn menoleh. Mungkin dia berharap Kylar akan mengatakan semuanya baik-baik saja, bahwa mereka tidak perlu khawatir, atau bahwa Lucius akan baik-baik saja. Namun Kylar tidak memilih memberikan janji kosong.“Aku juga kepikiran hal yang sama sejak kita keluar dari ruangan Nadia,” lanjut Kylar. “Aku juga mikir tentang masa depannya. Tentang sekolah, pekerjaan, orang-orang yang nanti dia temui. Tentang banyak hal yang bahkan sekarang belum bisa kita bayangkan.”Ryn menggigit bibir bawahnya.“Tapi ada satu hal yang aku nggak mau kita lakukan.”“Apa?” tanya Ryn.“Menganggap Lucius lemah hanya karena cara dia berbeda.”Ryn diam, membiarkan Kylar melanjutkan.“Dia mungkin akan menghadapi kesulitan yang berbeda dari anak lain. Itu mungkin. Tapi bukan berarti dia nggak mampu. Dan kita juga nggak tahu sekarang dia akan jadi seperti apa ketika besar nanti.” Kylar mengusap tangan Ryn. “Jadi jangan menghukum diri kamu sendiri
Setelah mengetahui bahwa Lucius berada dalam spektrum autisme, Ryn dan Kylar tidak langsung mampu menerima semuanya dengan mudah.Nadia memang sudah menjelaskan bahwa Lucius memiliki kebutuhan dukungan yang rendah. Namun, penjelasan yang masuk akal di ruang konsultasi tidak selalu mampu menghentikan kekhawatiran yang muncul ketika mereka sudah berada di rumah dan tidak lagi berhadapan dengan seorang profesional yang bisa memberikan jawaban atas setiap pertanyaan.Mereka bahkan tidak jadi pergi ke tempat kerja setelah meninggalkan klinik. Kylar membatalkan beberapa agenda sore itu dan membawa keluarganya pulang.Ryn juga memilih tidak membuka laptop lagi, meskipun beberapa kali tangannya sempat meraih ponsel untuk memeriksa pekerjaan.Hari itu, mereka hanya ingin berada di rumah bersama anak-anak, seolah kehadiran mereka di tempat yang sama bisa membuat semuanya terasa sedikit lebih baik.Namun, ketika malam tiba dan rumah mulai sunyi, pikiran Ryn justru semakin ramai.Reynash sudah te
“Iya.” Nadia mengangguk pelan. “Tapi saya ingin kalian memahami satu hal dulu. ASD itu spektrum, jadi kondisi setiap anak bisa sangat berbeda. Pada Lucius, karakteristiknya memang terlihat, tetapi kebutuhan dukungannya saat ini relatif rendah.”“Dia mampu berkomunikasi, mengikuti percakapan, belajar, memahami instruksi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan cukup baik. Saya juga tidak melihat kebutuhan untuk penanganan intensif atau terapi khusus hanya karena dia berada di spektrum.”Ryn mengembuskan napas yang sejak tadi seperti tertahan di dadanya. “Jadi ... dia tidak sakit?”“ASD bukan penyakit yang sedang kita cari obatnya,” jawab Nadia lembut. “Ini bagian dari cara kerja dan perkembangan otaknya. Yang perlu kita lakukan adalah memahami bagaimana Lucius memproses dunia, apa yang membuatnya kesulitan, dan bagaimana lingkungan bisa membantunya.”Kylar akhirnya bersuara. “Berarti selama ini memang ada alasan kenapa dia berbeda?”“Bisa dibilang begitu.” Nadia mengangguk. “Tapi sa
“Wah, aku harus belajar dari Agis kayaknya,” komentar Kylar setelah mendengar cerita Ryn tentang kejadian di restoran tadi.Kini mereka sedang duduk di ruang tunggu klinik, menanti Lucius dipanggil. Ini sudah sesi keempat sejak mereka membawa putra mereka menemui Nadia, dan berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, hari ini Nadia memang sudah berjanji akan menyampaikan hasil evaluasi yang selama beberapa minggu terakhir mereka jalani.Ryn yang mendengar komentar suaminya langsung menoleh dengan dahi berkerut. “Kok? Emangnya Mas mau ngelamar siapa?”Kylar terkekeh melihat wajah istrinya yang seketika berubah masam. Dia buru-buru mengangkat satu tangan, seolah ingin menghentikan kesalahpahaman yang baru saja dia buat sendiri. “Bukan gitu maksud aku, Sayang. Maksudnya aku harus belajar jadi seabsurd Agis.”“Ngapain belajar absurd?”“Biar kamu nggak pernah bosan sama aku.”Ryn mendengus. “Mas tuh sebenarnya udah cukup aneh tanpa perlu belajar dari Bang Agis.”Kylar tersenyum santai. “Be
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya pere
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes







