MasukKelakuan Ryn emang unik :(
Guys, akhirnya tamat juga!Nggak kerasa, sudah sembilan bulan aku menulis perjalanan Ryn dan Kylar sampai akhirnya mereka tiba di penghujung cerita. Senang banget bisa menyelesaikan kisah mereka, tapi jujur, ada rasa kosong juga. Ternyata sesedih itu harus pisah sama karakter yang selama ini nemenin hari-hariku.Terima kasih buat kalian yang sudah bertahan membaca sampai ending. Terima kasih sudah bersabar menghadapi Ryn yang keras kepala dan Kylar yang egoisnya kadang bikin emosi ^^Aku tahu cerita ini masih punya banyak kekurangan, dan aku akan terus belajar supaya bisa menulis lebih baik lagi.Dari perjalanan Ryn dan Kylar, aku berharap kita bisa belajar bahwa cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, melainkan tentang bagaimana dua orang yang sama-sama punya kekurangan belajar untuk saling memahami. Tapi, jangan lupa, cinta juga seharusnya menjadi tempat yang aman, bukan alasan untuk terus bertahan dalam luka.Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi bagian dari perjala
Malam sudah hampir larut ketika Kylar mengajak Ryn berjalan-jalan di pesisir pantai.Seperti biasa, mereka harus menunggu ketiga anaknya tertidur lebih dulu sebelum bisa menikmati waktu berdua.“Laut dan malam. Kombinasi yang sempurna, ya, Mas.” Ryn melirik suaminya yang menggenggam tangannya erat. Angin laut menyapu rambutnya, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi samar dari tubuh Kylar.Kylar menggeleng. “Laut, malam, dan kamu. Itu baru kombinasi sempurna. Aku pernah lihat laut dan malam, tapi rasanya nggak sempurna kalau nggak ada kamu di dalamnya.”Ryn terkekeh. “Kamu kalau lagi begini, sebenarnya habis baca buku romantis atau emang sengaja latihan bikin istrinya meleleh?”“Kalau aku jawab latihan, kamu mau kasih nilai berapa?”“Enam.”“Enam?” Kylar menoleh, tidak terima. “Aku udah kasih tiga unsur alam, masih enam?”“Unsur alamnya bagus, tapi gombalannya biasa aja.”Kylar tertawa, lalu mengayunkan tangan mereka pelan sambil terus berjalan. Namun, beberapa langkah kemudia
“Maaf ya, Sayang.”Entah sudah berapa ratus kali Kylar mengucapkan kalimat itu sejak Ryn kembali ke rumah dua bulan lalu. Kadang disertai pelukan, kadang dengan kecupan di kening, dan kadang hanya berupa bisikan ketika mereka berbaring berdampingan sebelum tidur.Kylar tahu permintaan maaf tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi, tetapi dia tetap mengatakannya karena sampai sekarang pun, rasa bersalah itu belum benar-benar pergi.Sore ini, mereka sedang bersantai di teras vila pribadi mereka di Bali, tempat hamparan pasir putih terbentang tepat di balik halaman belakang. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi bunga dari taman kecil di sisi vila.Ryn menyandarkan kepala di paha Kylar, sementara pria itu sesekali mengusap rambut istrinya. Tidak jauh dari sana, si kembar bermain di pinggir pantai di bawah pengawasan seorang staf vila.“Hm, iya, Mas,” jawab Ryn pelan.Kalau ditanya apakah Ryn sudah memaafkan suaminya, mungkin jawabannya iya.Ryn sud
Kylar nyaris berlari begitu turun dari mobil.Lima hari terakhir, dia sudah bolak-balik ke tempat rehabilitasi itu. Namun, istrinya tetap tidak bersedia menemuinya. Karena itu, ketika pihak rehabilitasi menghubunginya dan mengatakan Ryn ingin bertemu, Kylar langsung meninggalkan pekerjaannya tanpa berpikir panjang.“Ibu Ryn ada di danau dekat taman, Pak. Silakan masuk,” beri tahu resepsionis.“Terima kasih.” Kylar mengangguk cepat sebelum kembali melangkah, kali ini dengan jantung berdebar begitu kencang sampai dia sendiri kesulitan membedakan antara gugup dan bahagia.Begitu tiba di tepi danau, pandangannya langsung menemukan sosok Ryn yang duduk di bangku kayu.Rambut perempuan itu diikat setengah, sementara pakaian pasien yang dikenakannya membuat Kylar kembali teringat bahwa istrinya masih menjalani perawatan.Selama lima hari ini, dia hanya bisa membayangkan wajah Ryn dari ingatan, bertanya-tanya apakah perempuan itu memakan kirimannya, menulis di buku harian yang dibawanya, atau
“Apa-apaan kamu, Mas?” Ryn mundur setengah langkah, terkejut melihat Kylar berlutut di hadapannya.“Jangan pergi dulu.” Suara Kylar terdengar serak. Dia mendongak, menatap Ryn dengan mata yang mulai memerah. “Aku tahu aku nggak berhak minta kamu bertahan setelah semua yang aku lakukan. Aku tahu aku yang bikin kamu terluka sampai kamu nggak sanggup lagi tinggal di rumah kita. Tapi, Ryn, aku mohon ... jangan akhiri semuanya kayak gini.”Dada Ryn terasa sesak. Dia sudah membayangkan banyak kemungkinan ketika memutuskan menemui Kylar, tetapi tidak pernah membayangkan laki-laki itu akan berlutut di hadapannya lagi.“Berdiri, Mas,” pinta Ryn lirih.Kylar menggeleng. Jemarinya mengepal di atas lutut, menahan gemetar yang tak lagi bisa disembunyikannya. “Aku bisa berdiri nanti. Aku bisa menanggung malu setelah ini. Tapi sekarang, aku cuma mau minta satu hal sama kamu.”Kylar menarik napas panjang, tetapi suaranya tetap bergetar ketika melanjutkan, “Kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuan
“Kamu akhirnya nyerah juga, Mas?” tanya Ryn ketika mereka sudah duduk berdampingan di bangku taman belakang gedung rehabilitasi. Jarak di antara mereka tidak seberapa, tetapi rasanya seperti ada sesuatu yang membentang lebar dan mustahil diseberangi. “Padahal kamu tinggal kasih berkasnya ke pengacara aku. Kenapa masih mau ketemu segala?”Kylar tidak menjawab. Dia justru mengeluarkan amplop dari saku jaketnya, mengangkatnya sebentar di hadapan Ryn, lalu merobek berkas di dalamnya menjadi dua. Tidak berhenti di situ, dia merobeknya lagi hingga potongan kertas itu tak lagi utuh, kemudian meletakkannya di samping bangku.Katakanlah Kylar egois. Maka dia tidak akan menyangkalnya. Cintanya kepada Ryn memang selalu menyisakan sisi egois yang tidak pernah benar-benar bisa dia kendalikan.Dia ingin Ryn tetap berada di sisinya, tetap menjadi istrinya, tetap menjadi rumah tempatnya pulang. Ketertarikan sesaat kepada perempuan lain tidak pernah mengubah keinginannya untuk mempertahankan kehidupan
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tad
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry







