Share

2. Pria Dominan

Penulis: Blue Rose
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 22:43:34

Semua orang menoleh ke arah suara dan mendapati pria yang paling terhormat berdiri di sana.

Atmosfer loby langsung berubah. Resepsionis yang tadinya sibuk menyapa orang dengan ramah, kini menunduk rapih.

Pria yang mengubah suasana itu Kieran Kingsley. Duda berusia 38 tahun, tinggi 180 cm dan bentuk tubuh proporsional. Di usianya itu, ia masih sangat bugar dan awet muda. Mengingat ia merupakan bule yang mudah menua.

Di belakangnya ada seorang pemuda berkacamata yang agak mirip dengannya.

"Pak Kieran Kingsley," sebut Manajer pemasaran.

Ia dan para senior pemasaran langsung menunduk, termasuk Febi yang sudah tau siapa dia. Febi lalu menyenggol lengan Siti agar temannya itu menunduk juga.

"Siapa?" bisik Siti sambil menunduk.

"Bapaknya Tuan Muda, Bos besar kita."

Siti langsung menunduk dengan tegang. Jangan-jangan bos besar mereka mendengar percakapannya dengan Victor, dan akan memecatnya.

Langkah kaki Kieran mendekat. Ketegangan makin terasa, seiring dengan langkah kaki penuh wibawa itu. Kedatangannya saja sudah membuat semua orang di loby seolah kehabisan oksigen.

Siti merasa hilang harapan ketika mengingat ia begitu berani melawan anak dari orang paling berkuasa itu.

Victor sendiri terlihat menyeringai. Ia merasa menang dengan kedatangan sang ayah.

"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Victor?" tanya Kieran.

Ia berdiri di samping putranya dan di depan Siti yang menunduk.

"Hehe... Pih. Papi udah siap untuk rapat?" tanya Victor.

Victor selalu terlihat cengengasan dan angkuh, tapi di depan ayahnya ada sikap yang berubah darinya. Rasa hormat yang timbul secara alami.

"Siap. Tapi sepertinya kamu yang belum siap malah sibuk mencari Mami baru," balas pria itu.

Kieran menatap dengan tatapan peringatan pada putra keduanya yang bandel itu.

Victor terkekeh garing. "Iya, Pih. Bercanda, dia teman seangkatanku."

Kieran melirik ke arah gadis yang ditunjuk anaknya lagi. Lalu ia melihat name tag di hijab gadis itu, dan ternyata nama yang ia kenali.

"Oh ini yang namanya Siti?" tanyanya.

"Iya Pih, ini Siti yang kerja di sini sekaligus teman seangkatanku di kampus."

"Papi tanya dia, Victor."

Kieran tampak fair. Ia tidak mengatakan apapun setelahnya, seolah menahan diri untuk mengomeli anaknya di depan banyak orang.

Febi diam-diam menyenggol lengan Siti lagi, membuat Siti tersadar, dan buru-buru mengangguk.

"Be--benar, Pak. Nama saya Siti Dahayu, saya biasa dipanggil Siti."

Saking gugupnya, Siti malah memperkenalkan dirinya seperti itu. Victor sendiri hanya tersenyum melihat kejadian itu. Sasaran bully-nya yang biasanya melawan, tampak menciut di depan sang ayah.

"Oke, Siti. Karena Victor menyukaimu. Bagaimana kalau habis selesai live streaming, kamu ke ruangan saya?"

Siti dan semua yang ada di sana sontak mengangkat wajahnya kaget. Dan untuk pertama kalinya sejak kedatangan pria itu, Siti bisa melihat dengan jelas setampan apa ia.

Benar kata Victor, ayahnya sangat tampan. Saking tampannya membuat Siti terpanah, dan tak bisa mengendalikan tatapannya.

Pria itu juga terlihat biasa dengan reaksi Siti, mungkin sudah biasa mendapat tatapan itu.

"Baik, Pak."

Siti tak bisa menolak tentu saja. Ia sadar kalau pria di depannya itu adalah yang bisa memecatnya kalau ia mau.

"Oke, waktu kita gak banyak, Vic. Ayo, Papi ajarkan caranya memikat seorang gadis untuk menjadi Mami kamu."

Kieran terlihat tersenyum miring dan membuat pemuda berkacamata di belakangnya tertawa pelan. Sementara itu beberapa petinggi kantor yang ada di sana ikut tertawa pelan.

Pria itu memiliki aura mendominasi, tapi ia suka bercanda. Jadi terkadang bawahannya mencoba menanggapi candaan itu meskipun tak lucu. Sementara Siti hanya tersenyum bingung, tak tau letak lucunya.

Namun ia juga berpikir, apakah jenis candaan itu sederhana atau tidak. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ayah dari Victor.

Ia tak tau betul karakter seperti apa yang dimiliki oleh Kieran. Di kepalanya hanya tertanam bahwa Kieran mungkin akan seperti Victor yang sombong dan jahil. Bisa saja ia membela putranya, dan mau putranya diperlakukan bagaikan Pangeran.

Sementara dirinya yang berani melawan, bisa saja dipecat dengan mudah. Siti merasa khawatir mengingat hal itu. Pekerjaan di sana sangat menjanjikan, sangat tinggi gajinya dibandingkan Live di tempat lain.

Setelah itu, Kieran terlihat melangkah pergi diikuti para petinggi kantor. Victor pun mengikuti ayahnya juga. Namun sebelum itu, ia melemparkan wink genit pada Siti.

Siti sendiri menghela napas lega. Ia harap, bos besarnya itu tak memecatnya. Ia tak tau apa yang hatus ia katakan.

.

Selesai Live Streaming, Siti terpaksa harus memenuhi panggilan dari bos besarnya itu. Sekitar pukul 19.10 WIB, ia sampai di depan ruangan sang pemilik kantor.

Siti terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak gegabah dalam menjawab sang bos. Ia yang terkenal kuat dan berani, biasanya akan dengan lantang membela diri.

Namun dalam kasus pekerjaan, ia lebih khawatir pada nasibnya setelah dipecat. Ada hal yang harus ia tanggung, dan semua bergantung pada pekerjaannya saat ini.

Saat ia gugup di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar sapaan santai.

"Hai, Mbak Siti! Silahkan masuk," sapa Victor dengan cengiran khasnya.

Siti menatapnya sekilas, sebelum akhirnya melangkah masuk. Ia langsung disuguhi aroma mahal wods dan ruangan rapih, nuansa gelap, tapi terlihat sekali kesan mewahnya.

Di sana, Kieran terlihat habis bicara dengan pemuda berkacamata yang mengikutinya sejak di loby.

Pria itu kemudian menoleh ke arah Siti dengan gestur santai.

"Selamat malam, Pak Kingsley. Saya memenuhi panggilan, Anda," ucap Siti sopan.

Ia menunduk sedikit, dan memang tidak berani menatap wajah Kieran langsung. Pria itu terlihat sangat galak, membuat Siti terus berdoa dalam hati.

"Oh Siti, silahkan duduk," ujar pria.

Pria itu menunjuk ke arah sofa. Siti langsung duduk dengan hati-hati.

Kieran yang awalnya duduk di kursi kebesarannya, pindah ke sofa, berhadapan dengan Siti yang tampak tegang.

Di ruangan itu, hanya ada Kieran, pemuda berkacamata, dan Victor. Namun kedua pemuda itu berdiri di belakang Kieran, sementara Kieran--menatap Siti dengan senyuman manis.

Siti bingung dengan situasi ini.

"Perkenalkan, saya Kieran Kingsley atau biasa karyawan saya menyapa Tuan Kingsley."

Perkenalan yang tiba-tiba dan tampak ramah. Tapi Siti masih merasa kalau ada yang salah.

Senyum tipisnya perlahan muncul, tapi jelas ia merasa begitu takut. Di dalam ruangan besar, dan hanya bersama pria itu dan dua pria lain.

"Pak... Tuan Kingsley, saya Febi... eh maksud saya Siti, Siti Dahayu."

Setiap kata yang diucapkan Siti terasa seperti menelan duri dan tersangkut di tenggorokannya. Berat sekali. Sudah begitu ia salah sebut nama admin yang sudah seperti bestie baginya.

Ia tanpa sadar menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya.

"Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu."

Siti tambah tegang. Ia merasa sudah di ambang kematian kalau begini caranya. Ia juga sempat melirik Victor, tapi wajah Victor juga terlihat penasaran.

Sementara Kieran tampak masih santai, seolah sedang nongkrong santai dengannya. Kemudian ia berkata,

"Menikahlah denganku, Siti."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   8. Dilabrak Anak si Duda

    Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan fokus tadi," balas Kieran sebelum memeluk ibunya dengan hangat. Clara--ibu kandung Kieran pun mencium kening dan pipi anaknya dengan penuh kerinduan. Sejak kematian suaminya dua tahun lalu, mereka baru bertemu lagi. Kieran sangat sibuk dan kesehatan Clara sudah tidak stabil. Program kesehatan yang ia ikuti nyatanya tak bisa menahan fakta bahwa tubuhnya sudah tua. Usia 80 tahun, usia yang begitu riskan untuknya. Sementara itu Kieran mempekerjakan Suster dan penjaga di rumah sang ibu. Sayangnya mereka tentu tak bisa menahan perasaan kesepian yang hinggap. Mereka pun duduk dengan basa-basi seperti menanyakan kabarnya dan kabar anak-anak Kieran. "Apa yang kamu pikirkan sejak tadi,

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   7. Negosiasi Pernikahan

    Kieran sebenarnya tau, tapi berusaha terlihat sangat terkejut. "Maksud kamu apa, Siti?" tanyanya balik. Siti menatap ekspresi Kieran, ia jadi frustasi. Kepanikan menjalar di wajahnya. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya di bawah meja. "Saya--" "Oke oke... saya paham," potong Kieran merasa iba, karena gadis itu sudah panik. "Tapi kenapa kamu berniat menanyakan perjanjian pernikahan itu lagi? Kamu sudah menolaknya." Kieran ingin memperjelasnya. Apalagi setelah ini, ia harus bertemu seseorang lagi, jadi tak bisa berlama-lama. "Itu... Tuan, saya ... saya akan menikah dengan Anda. Saya berubah pikiran, dan saya pikir itu bukan ide yang buruk." Wajah Kieran yang biasanya datar, menjadi lebih tegang. Ia jelas terkejut. Melihat reaksi itu, Siti menunduk lagi. Ia takut kalau Kieran marah padanya. "Saya tau ini aneh, tapi beri saya kesempatan," lirih Siti agak bergetar. Kieran hanya diam selama beberapa menit, membuat suasana semakin tegang. Siti merasa ingin kencing di ce

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   6. "Kieran"

    Tak ada solusi. Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya. Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu. Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta. Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis. Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu. Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma. Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   5. Pulang Kampung

    Keadaan tegang itu hanya berlaku sebentar, Victor langsung tertawa seolah itu hal paling lucu yang pernah ia dengar hari itu. "Hahaha!" Sementara Siti bingung, bagian mana yang lucu. "Gue ama sodara-sodara gue juga pernah mikir gitu, tapi... gue punya rahasia buat membantah pernyataan itu." "Apa?" tanya Siti. "Intinya gue ama sodara gue udah pada curiga kalau dia mungkin you know-lah, belok. Tapi faktanya, dia lurus-lurus aja kok. Entah karena terlalu higienis atau apa, dia gak pernah nyentuh wanita di luar sana." "Tau dari mana lo? Emang lu tiap hari dan tiap waktu nempelin dia?" tanya Siti. "Bukan gue, Abang gue kan asisten dia. Lu inget kan orang yang buntutin dia terus dan ada sama kita di ruangan Bokap gue?" Siti mengangguk-angguk mengerti. Jadi terjawab siapa pria yang agak mirip dengan Kieran juga Victor, lalu mengikutinya terus. "Terus, maksud lo yang membuktikan kalau dia straight?" tanya Siti lagi. Ia sebenarnya tidak merasa itu penting, tapi dirinya

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   4. Tak Terjadi Apa-apa

    Keesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu. Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa. Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan. Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang. "Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya. Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya." "Ooh

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   3. Penawaran Gila

    "Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu." "Apa maksud Anda?" tanya Siti. "Maaf sebelumnya Pak, tapi saya hanya karyawan biasa dan hanya seorang Host Live. Saya bukan orang yang tepat untuk kerjasama dengan orang hebat seperti, Bapak... Tuan." Siti berkali-kali melirik ke arah Victor yang hanya mengangkat bahu--tidak tau apa-apa. Namun di tengah kebingungan itu, Kieran tiba-tiba mendorong sebuah map dengan judul: 'Proposal Pernikahan' "Menikahlah denganku, Siti." Siti seperti hampir pingsan mendengar ucapan itu. "Mohon maaf, Pak, ini gak masuk akal.""Gak masuk akal bagaimana?""Menikah... ini--"Kata-kata Siti terpotong oleh Victor yang heboh. "Buset, Pih! Tiba-tiba banget ngelamar Siti! Gak gak boleh," ucapnya berdiri di depan keduanya. "Iya Pak, ini gak boleh!"Meskipun ada rasa panik, tapi Siti tetap menyadari posisinya. Menikah dengan sang CEO, rasanya seperti ia memimpikan menikah dengan aktor kesukaannya. "Pih... plea

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status