로그인Semua orang menoleh ke arah suara dan mendapati pria yang paling terhormat berdiri di sana.
Atmosfer loby langsung berubah. Resepsionis yang tadinya sibuk menyapa orang dengan ramah, kini menunduk rapih. Pria yang mengubah suasana itu Kieran Kingsley. Duda berusia 38 tahun, tinggi 180 cm dan bentuk tubuh proporsional. Di usianya itu, ia masih sangat bugar dan awet muda. Mengingat ia merupakan bule yang mudah menua. Di belakangnya ada seorang pemuda berkacamata yang agak mirip dengannya. "Pak Kieran Kingsley," sebut Manajer pemasaran. Ia dan para senior pemasaran langsung menunduk, termasuk Febi yang sudah tau siapa dia. Febi lalu menyenggol lengan Siti agar temannya itu menunduk juga. "Siapa?" bisik Siti sambil menunduk. "Bapaknya Tuan Muda, Bos besar kita." Siti langsung menunduk dengan tegang. Jangan-jangan bos besar mereka mendengar percakapannya dengan Victor, dan akan memecatnya. Langkah kaki Kieran mendekat. Ketegangan makin terasa, seiring dengan langkah kaki penuh wibawa itu. Kedatangannya saja sudah membuat semua orang di loby seolah kehabisan oksigen. Siti merasa hilang harapan ketika mengingat ia begitu berani melawan anak dari orang paling berkuasa itu. Victor sendiri terlihat menyeringai. Ia merasa menang dengan kedatangan sang ayah. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Victor?" tanya Kieran. Ia berdiri di samping putranya dan di depan Siti yang menunduk. "Hehe... Pih. Papi udah siap untuk rapat?" tanya Victor. Victor selalu terlihat cengengasan dan angkuh, tapi di depan ayahnya ada sikap yang berubah darinya. Rasa hormat yang timbul secara alami. "Siap. Tapi sepertinya kamu yang belum siap malah sibuk mencari Mami baru," balas pria itu. Kieran menatap dengan tatapan peringatan pada putra keduanya yang bandel itu. Victor terkekeh garing. "Iya, Pih. Bercanda, dia teman seangkatanku." Kieran melirik ke arah gadis yang ditunjuk anaknya lagi. Lalu ia melihat name tag di hijab gadis itu, dan ternyata nama yang ia kenali. "Oh ini yang namanya Siti?" tanyanya. "Iya Pih, ini Siti yang kerja di sini sekaligus teman seangkatanku di kampus." "Papi tanya dia, Victor." Kieran tampak fair. Ia tidak mengatakan apapun setelahnya, seolah menahan diri untuk mengomeli anaknya di depan banyak orang. Febi diam-diam menyenggol lengan Siti lagi, membuat Siti tersadar, dan buru-buru mengangguk. "Be--benar, Pak. Nama saya Siti Dahayu, saya biasa dipanggil Siti." Saking gugupnya, Siti malah memperkenalkan dirinya seperti itu. Victor sendiri hanya tersenyum melihat kejadian itu. Sasaran bully-nya yang biasanya melawan, tampak menciut di depan sang ayah. "Oke, Siti. Karena Victor menyukaimu. Bagaimana kalau habis selesai live streaming, kamu ke ruangan saya?" Siti dan semua yang ada di sana sontak mengangkat wajahnya kaget. Dan untuk pertama kalinya sejak kedatangan pria itu, Siti bisa melihat dengan jelas setampan apa ia. Benar kata Victor, ayahnya sangat tampan. Saking tampannya membuat Siti terpanah, dan tak bisa mengendalikan tatapannya. Pria itu juga terlihat biasa dengan reaksi Siti, mungkin sudah biasa mendapat tatapan itu. "Baik, Pak." Siti tak bisa menolak tentu saja. Ia sadar kalau pria di depannya itu adalah yang bisa memecatnya kalau ia mau. "Oke, waktu kita gak banyak, Vic. Ayo, Papi ajarkan caranya memikat seorang gadis untuk menjadi Mami kamu." Kieran terlihat tersenyum miring dan membuat pemuda berkacamata di belakangnya tertawa pelan. Sementara itu beberapa petinggi kantor yang ada di sana ikut tertawa pelan. Pria itu memiliki aura mendominasi, tapi ia suka bercanda. Jadi terkadang bawahannya mencoba menanggapi candaan itu meskipun tak lucu. Sementara Siti hanya tersenyum bingung, tak tau letak lucunya. Namun ia juga berpikir, apakah jenis candaan itu sederhana atau tidak. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ayah dari Victor. Ia tak tau betul karakter seperti apa yang dimiliki oleh Kieran. Di kepalanya hanya tertanam bahwa Kieran mungkin akan seperti Victor yang sombong dan jahil. Bisa saja ia membela putranya, dan mau putranya diperlakukan bagaikan Pangeran. Sementara dirinya yang berani melawan, bisa saja dipecat dengan mudah. Siti merasa khawatir mengingat hal itu. Pekerjaan di sana sangat menjanjikan, sangat tinggi gajinya dibandingkan Live di tempat lain. Setelah itu, Kieran terlihat melangkah pergi diikuti para petinggi kantor. Victor pun mengikuti ayahnya juga. Namun sebelum itu, ia melemparkan wink genit pada Siti. Siti sendiri menghela napas lega. Ia harap, bos besarnya itu tak memecatnya. Ia tak tau apa yang hatus ia katakan. . Selesai Live Streaming, Siti terpaksa harus memenuhi panggilan dari bos besarnya itu. Sekitar pukul 19.10 WIB, ia sampai di depan ruangan sang pemilik kantor. Siti terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak gegabah dalam menjawab sang bos. Ia yang terkenal kuat dan berani, biasanya akan dengan lantang membela diri. Namun dalam kasus pekerjaan, ia lebih khawatir pada nasibnya setelah dipecat. Ada hal yang harus ia tanggung, dan semua bergantung pada pekerjaannya saat ini. Saat ia gugup di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar sapaan santai. "Hai, Mbak Siti! Silahkan masuk," sapa Victor dengan cengiran khasnya. Siti menatapnya sekilas, sebelum akhirnya melangkah masuk. Ia langsung disuguhi aroma mahal wods dan ruangan rapih, nuansa gelap, tapi terlihat sekali kesan mewahnya. Di sana, Kieran terlihat habis bicara dengan pemuda berkacamata yang mengikutinya sejak di loby. Pria itu kemudian menoleh ke arah Siti dengan gestur santai. "Selamat malam, Pak Kingsley. Saya memenuhi panggilan, Anda," ucap Siti sopan. Ia menunduk sedikit, dan memang tidak berani menatap wajah Kieran langsung. Pria itu terlihat sangat galak, membuat Siti terus berdoa dalam hati. "Oh Siti, silahkan duduk," ujar pria. Pria itu menunjuk ke arah sofa. Siti langsung duduk dengan hati-hati. Kieran yang awalnya duduk di kursi kebesarannya, pindah ke sofa, berhadapan dengan Siti yang tampak tegang. Di ruangan itu, hanya ada Kieran, pemuda berkacamata, dan Victor. Namun kedua pemuda itu berdiri di belakang Kieran, sementara Kieran--menatap Siti dengan senyuman manis. Siti bingung dengan situasi ini. "Perkenalkan, saya Kieran Kingsley atau biasa karyawan saya menyapa Tuan Kingsley." Perkenalan yang tiba-tiba dan tampak ramah. Tapi Siti masih merasa kalau ada yang salah. Senyum tipisnya perlahan muncul, tapi jelas ia merasa begitu takut. Di dalam ruangan besar, dan hanya bersama pria itu dan dua pria lain. "Pak... Tuan Kingsley, saya Febi... eh maksud saya Siti, Siti Dahayu." Setiap kata yang diucapkan Siti terasa seperti menelan duri dan tersangkut di tenggorokannya. Berat sekali. Sudah begitu ia salah sebut nama admin yang sudah seperti bestie baginya. Ia tanpa sadar menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya. "Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu." Siti tambah tegang. Ia merasa sudah di ambang kematian kalau begini caranya. Ia juga sempat melirik Victor, tapi wajah Victor juga terlihat penasaran. Sementara Kieran tampak masih santai, seolah sedang nongkrong santai dengannya. Kemudian ia berkata, "Menikahlah denganku, Siti.""Salsa? Siapa Salsa?" Puk! Siti menepuk lengan suaminya gemas dari atas pelana kuda. "Pasangannya Keiron loh, Mas. Anak sulungmu. Masa lupa sih." Kieran memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. Aura Alpha yang tadi sempat memancar tajam seketika mengendur karena teguran sang istri. "Baru juga sehari," gumam Kieran pelan. Ia mengembuskan napas berat, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinganya. "Kirim lokasi sekarang. Hubungi Keiron dan katakan padanya pacarnya sedang dalam bahaya." Sementara itu, di sebuah gang yang berjarak dua blok dari rumah kosnya, Salsa terduduk di atas aspal yang dingin. Kerudung pashminanya sudah berantakan. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang kini menyisakan bekas kemerahan akibat tamparan kasar. Di depannya, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah berantakan tertawa puas sambil mengacung-acungkan sebuah kartu ATM. Dia adalah Rian, kakak kandung Salsa yang selama ini menjadi benalu dalam hidupny
Kieran melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengambil Baby Maya dari dekapan kaku Keiron. Setelah bayi perempuan itu berpindah ke lengannya, aura dingin dan mengintimidasi yang tadi sempat membuat Keiron dan Victor tegang, seketika menguap tanpa bekas. Ketegangan kedua putra tertua Kingsley itu langsung berubah menjadi helaan napas lega. "Hai, putri Papi paling cantik," bisik Kieran. Suaranya melembut drastis, berbanding terbalik dengan suaranya saat bicara pada kedua putranya yang sedang bisik-bisik itu. "Abubu... maa..." gumam Baby Maya pelan. Ia menggeliat nyaman di dada bidang sang ayah. Baby Maya memang sudah mulai merespons dengan bahasa bayi karena sedang berada di fase banyak mengoceh. Kieran benar-benar langsung berganti wajah jika sudah berada di dekat Siti dan putri bungsunya. Kerutan tegas di dahinya hilang, digantikan oleh senyuman tulus seorang ayah yang sedang kasmaran pada bayinya sendiri. Ia terus menciumi wajah gembul Maya yang w
"Gak usah sokap deh lu," ujar Keiron ketus, langsung menyikut lengan Victor yang tiba-tiba datang dan menepuk bahunya. Victor hanya memegangi tulang rusuknya yang sedikit ngilu akibat sikutan maut sang kakak, sambil tertawa lebar. Di antara semua bersaudara Kingsley, Victor memang yang paling jahil dan hobi memancing emosi kakak tertuanya. "Galak amat, Bang," ujar Victor, merapikan setelan jasnya yang sedikit bergeser. Matanya melirik ke arah Salsa yang masih menggendong Baby Maya di kejauhan. "Btw, lu udah nemu pujaan hati ternyata. Sampai heboh tuh di bawah." Keiron mendengus kasar, memalingkan wajahnya. "Gak usah lebay lu." "Halah, gengsi mulu dipelihara. Itu kemeja lu ganti baru, kan? Berarti bener gosip si Fera nyiram anggur dan lu pasang badan buat Salsa. So sweet bener," Victor menaik-turunkan alisnya, sengaja memprovokasi. Keiron tidak membalas. Alih-alih meladeni adiknya yang berisik, ia memilih melangkah pergi menjauh, mencari tempat yang lebih tenang di sudut bangk
Suasana resepsi pernikahan Julian Kingsley yang megah berubah drastis dalam hitungan detik. Area prasmanan yang tadinya tenang kini mendadak hening, membuat beberapa tamu undangan menoleh karena penasaran. Salsa, yang masih merasa canggung di tengah kerumunan elite itu, duduk di sisi Keiron sambil mendengarkan pria itu menjelaskan teknis evaluasi desain untuk launching produk selanjutnya. Tiba-tiba, bayangan seseorang berdiri menjulang di hadapan mereka. "Keiron? Aku nggak nyangka kamu bakal datang ke sini, apalagi bawa... siapa?" Suara itu terdengar merdu, namun sarat dengan nada sinis yang tajam. Seorang wanita bergaun backless berwarna merah menyala berdiri di sana. Namanya Fera, seorang model papan atas yang sempat digosipkan memiliki hubungan spesial dengan Keiron di masa lalu. Wajahnya cantik, bak porselen yang sempurna, namun sorot matanya yang menatap Salsa penuh dengan api kebencian. "Mungkin karyawannya," sahut temannya. Tidak sopan memang. Fera dan teman-teman sosialit
"Launching dulu," ujar Keiron saat ditanya Salsa. Salsa bertanya apakah mereka akan kondangan dulu atau lauching. Tapi Keiron langsung membalas 'launching' dulu. Salsa terheran dengan bosnya itu. Acara bahagia milik adiknya, tapi ia malah masih sibuk kerja. Padahal acara lauching-nya sudah bisa diserahkan ke bawahannya termasuk Salsa-tim desain. "Bapak gak ke sana dulu?" tanya Salsa sambil merapihkan letak berkas di tangannya. Mereka sedang berjalan menuju tempat acara launching. "Gak ada waktu. Kita rampungkan dulu acara launching yang hanya setengah hari ini." "O--oke, Pak," sahut Salsa pasrah. Ia mengikuti langkah Keiron yang begitu lebar. Selama setengah hari ke depan, Salsa menyaksikan sisi lain dari Keiron. Keiron bukan lagi pria yang berusaha mendekatinya atau bos yang kaku di ruang rapat. Dia adalah seorang komandan perang. Keiron mengawasi setiap sudut venue, mengecek pencahayaan, memastikan display produk terlihat sempurna, hingga menegur staf jika ada satu bro
Saat pintu ruang ganti terbuka, Salsa keluar dengan gaun pertama. Itu adalah gaun berbahan silk premium dengan potongan A-line yang jatuh menjuntai anggun hingga ke lantai. Hijabnya dipadukan dengan gaya clean look yang simpel menggunakan bahan senada, memberikan kesan sangat berkelas sekaligus menjaga kesantunannya. Salsa yang biasa memakai pakaian sederhana tapi anggun di kantor, tampak pangling melihat bayangannya sendiri di cermin besar. "Gimana, Pak? Terlalu berlebihan nggak ya buat saya?" tanya Salsa sambil merapikan letak hijabnya yang sedikit bergeser karena grogi. Keiron yang sedari tadi bersikap dingin, mendadak kehilangan kemampuannya untuk berdeham. Ia menatap Salsa lewat pantulan cermin. Gaun itu menutupi tubuhnya dengan sempurna namun tetap menonjolkan aura yang berbeda. Cantik, tenang, dan sangat berwibawa. "Tutup tirainya," perintah Keiron pelan, suaranya sedikit parau. "Loh, kenapa? Bapak nggak suka?" tanya Salsa khawatir kalau ia terlihat jelek. "Bukan,"
"Dua bulan lagi, Siti dsn Victor akan wisuda. Otomatis orang tua Siti akan ke Jakarta. Untuk menghenat waktu, aku akan mengundang mereka ke sini agar bisa membicarakan soal pernikahan kami." Semuanya tak bisa berkata apa-apa, bahkan Siti. Ketiga putranya juga mungkin sudah lelah, dan tau kalau kep
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Kieran. Ia berkecak pinggang di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Siti dan Victor langsung menjauh, tapi kemudian Siti menjawab. "Kita cuma lagi berdebat seperti biasa saat di kampus. Kamu udah selesai makan?" tanya Siti mendekati
Kieran sibuk menjawab telpon grup dari ketiga anaknya yang lain. Edric sudah marah-marah secara langsung, kini giliran Keiron, Victor, dan bahkan Julian yang ada di Amerika. "Kita rapat keluarga aja besok. Buat Julian bisa online aja," ujar Kieran sudah lelah diberondong omelan. "Pih, seriousl
Kieran hampir saja buka mulut, tapi Keiron langsung memberi tatapan peringatan pada sang adik. Selain Kieran, Keiron ai sulung juga begitu disegani oleh adik-adiknya, jadi adik-adiknya tak berani membantah. Meski Edric kelihatan ingin berdiri, ia menahannya. Hal itu membuat Siti tambah yakin, kala







