LOGIN
"Kakak... kakak cinta! Ayok boleh ditap-tap dulu layarnya. Yang masih bergabung di sesi live aku jangan ragu buat tanya-tanya, mau di-spill etalase berapanya. Nanti aku jelasin, dan yang mau langsung payment bakal aku kasih voucher diskon spesial 12.12.!"
Bunyi lonceng live streaming pun terdengar di studio itu. Siti dengan semangat menjelaskan produk yang sedang ia jual pada calon pembeli online. "Kalo yang mau minta rekomendasi ukuran, warna, dan lain-lain, boleh sini mau direkomendasiin etalase berapa. Komen aja BB sama TB-nya yah." Siti bekerja di salah satu perusahaan besar. Di mana perusahaan tersebut adalah perusahaan cabang dari King Corp yakni Haul Fashion. Perusahaan itu adalah milik salah satu orang terkaya di dunia. Siti sendiri merupakan mahasiswa akhir yang tinggal menunggu jadwal Sidang. Ia bekerja di dua studio di tempat yang sama sebagai Host Live. Di mana durasi live masing-masing studio empat jam. Menjalani kuliah di Ibukota membuatnya harus bekerja juga, demi bisa menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Beasiswa setengah yang ia dapat cukup meringankan bebannnya. Namun sebagai anak sulung dari keluarga pas-pasan, ia merasa berkewajiban membantu orang tuanya. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya bekerja untuk. mereka, tapi hanya cukup untuk biaya hidup dan biaya sekolah. Kedua adik-adiknya tidak bisa jajan kalau tidak ia yang mengirim uang. Bagi banyak orang, mungkin hidupnya cukup menderita dan tak adil. Namun bagi Siti sendiri, ia tidak selalu menyalahkan ibunya. Ada banyak spektrum dalam hidup yang membuatnya sekuat sekarang--tempaan hidup salah satunya. Lalu manusia, tidak akan lepas dari ujian. Kalaupun Siti tidak diuji dengan ekonomi dan lahir dari keluarga yang kekurangan. Mungkin ia akan diuji dengan perkara yang lain. Itu alami, selama kita masih bernapas. Saat Siti sedang fokus live, tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang admin live streaming. Wajahnya terlihat ceria sekali. "OMG, Sayangku, Siti! Liat, kamu dapet penjualan terbanyak lagi!" pekiknya bahagia. Perempuan berkacamata dan berhijab panjang itu menunjukkan iPad berisi data penjualan di tiga hari terakhir. Siti yang kaget pun tetap profesional menatap kamera, tapi ia juga tetap menanggapi sang admin dengan ramah. "Makasih, Kak. Ini juga karena Kak Febi yang kasih produk paling gacor di tiga hari terakhir," balas Siti rendah hati. Febi menepuk pundaknya dan berkata. "Aih, masih aja merendah. Padahal kamu emang bagus juga live-nya." Siti hanya tertawa ringan, lalu siap-siap pergantian shift dengan rekannya. Setelah keluar dari ruangan, ia dan sang admin berjalan bersama. Febi terus mengoceh tentang betapa senangnya ia karena pujian dari atasan selama Siti bekerja di sana. Siti pun tetap merendah, bahwa penjualan naik didukung oleh banyak pihak, tak hanya dirinya saja. Namun saat mereka berjalan beriringan, seorang pemuda yang begitu Siti kenal menghadang langkahnya. "Yo! Ada Mbak Siti di sini, halo!" sapanya sok asik. Pemuda bermata biru dengan rambut agak gondrong itu memiliki tato di leher dan punggung tangan kirinya. Di kantor pun pakaiannya tidak rapih. Siti hanya memutar bola matanya. Lelah rasanya kalau harus menanggapi pemuda nakal satu itu. "Mau ke mana? Mau jual gorengan pasti ... mau dong pisang gorengnya sepuluh ribu, hahaha!" Ingin rasanya Siti menempeleng kepala pemuda itu. Sayangnya ia tak bisa melakukannya, sebab pemuda itu adalah putra kedua dari pemilik perusahaan. Anak orang kaya memang jarang ada yang beres. Mungkin terlalu dipermudah hidupnya, membuat mereka lupa untuk napak tanah. Victor adalah teman seangkatan Siti yang paling populer. Sayangnya ia harus terlibat dengannya dalam beberapa kesempatan, sehingga Anak Papi itu mengganggunya. Alasan Victor mengganggunya sederhana, ia memang pembully dan tertarik dengannya yang memiliki nama Siti. Padahal dari segi penampilan, Siti cukup modis dan tidak cupu. Ia stylish dan pandai menggunakan make-up. Namun hanya dengan namanya, banyak yang mengolok terutama Victor. Meski begitu, Siti bangga dengan nama itu, Siti Dahayu. Namanya estetik dan bermakna indah, artinya.wanita mulia yang cantik jelita. Sebenarnya panggilan kecilnya Ayu, tapi semenjak sekolah ia dipanggil Siti sampai sekarang. "Selamat untuk penjualan terbanyaknya. Gak nyangka, Mbak Siti jago jualan juga. Oh iya, kan basically penjual gorengan. Hahaha!" Orang-orang di belakang Victor ikut terkekeh mendengarnya. Mereka adalah atasan devisi pemasaran di Haul Fashion. Siti menghela napas malas, dan mencoba berjalan melewatinya. Namun gerakan itu langsung ditahan oleh Victor dengan menghadangnya. "Tunggu dulu dong. Buru-buru amat, mau ke mana?" "Mau ganti Studio," jawabnya kesal. "Siti, yang sopan kalau bicara sama Tuan Muda." Siti hanya diam ditegur begitu oleh atasannya-manajer pemasaran. "Gak perlu begitu, santai aja. Kita kan teman seangkatan, ya gak, Siti?" balas Victor dengan wajah mengejek. Victor sedang ditugaskan oleh ayahnya untuk belajar memegang cabang fashion, di mana ia juga memiliki passion di bidang tersebut. Namun yang tidak ayahnya ketahui selain bekerja, Victor juga mengganggu karyawan terbaik devisi pemasaran. Siti terus diam di tempatnya, tak mau ribut. Sementara itu Febi terlihat panas dingin, terlalu takut jika Siti mendapat masalah dengan sikap dinginnya itu. "Boleh saya langsung masuk studio, Tuan Muda?" tanya Siti berusaha menajan diri. "No! Belum saatnya. Jawab pertanyaan gue dulu, lo mau gak jadi Mami tiri gue? Soalnya lu kayak Mak Lampir kalo lagi marah. Haha!" "Najis banget gue punya anak berandal kayak lo, minggir!" balas Siti akhirnya. Ia tak tahan lagi dibully terus oleh tuan muda satu itu. Sementara orang yang ada di sana terlihat tegang, Siti terlalu berani. "Oh ya? Ayolah... Papi gue ganteng dan awet muda untuk usianya yang udah tua." Victor menyeringai dengan tangannya yang mengurung Siti di samping tembok. "Lo kira gue sinting kayak lo apa?!" balas Siti lebih keras. Ia berusaha melewati Victor yang terus menghadangnya, tapi tak berhasil. "Minggir!" "Lo boleh pergi asal lo setuju jadi Mami tiri gue, ayo bilang!" ujar Victor lagi. "Gak! Apaan sih anjir! Lo kalo sinting gak usah ganggu gue kerja. Ini udah waktunya gue nge-live lagi, minggir!" "Nanti ah, gue kan udah bilang. Gue bakal biarin lo pergi kalo lu mau jadi Mami gue." "Gak, awas!" "Ayolah, gue--" Perdebatan itu terhenti saat sebuah suara menarik atensi semua orang. "Victor. Bukan seperti itu caranya melamar seorang gadis untuk jadi Mami kamu."Siti dengan panik menelpon Kieran, berharap kalau suaminya berhenti melakukan tindakan apapun yang ingin ia lakukan kepada pelaku. Namun Kieran sama sekali tidak mengangkat teleponnya, atau tidak membaca pesannya. Kieran tidak bisa dihubungi dengan cara apapun, bahkan beberapa Bodyguard yang ia memiliki nomornya tidak ada yang menjawab. Siti panik dan hampir melepas infusnya, tapi Febi menahan. "Tenang, Ti. Tenang... aku yakin pasti gak seperti yang kamu pikirin. Victor cuma asbun aja dia," ujarnya. Victor mendelik, tapi karena itu demi kebaikan Siti. Ia mengerti dan diam saja dikatakan asbun. Aslinya Victor serius, tapi ia tak mempertimbangkan reaksi Siti yang sepanik itu. Bisa-bisa kalau ayahnya tau ia memberitahu Siti, pasti ayahnya akan memarahinya. "Gue... gue cuma becanda, anying. Masa lo percayaan banget," tambah Victor. Nadanya gugup, tapi kemudian Febi mengangguk ke arah Siti, meyakinkannya agar tidak panik lagi. Siti pun langsung tenang. "Gue harus nem
Siti membuka mata setelah seharian pingsan. Namun di sana tidak ada siapa-siapa, selain Evi--pembantu rumah. Evi yang melihat pergerakan dari nyonya Kingsley pun langsung berdiri dari duduknya dan merasa sangat bahagia. Ia pun memencet tombol untuk memanggil perawat dan juga langsung menawarkan Siti untuk minum. "Nyonya, apakah haus?" Siti pun langsung mengangguk. Evi kemudian memberikan Siti minum. Tak lama, Dokter datang dan memeriksa Siti singkat dengan bantuan para perawat. Dokter menyampaikan kalau Siti sudah mulai membaik dan butuh waktu 2 hari sampai 3 hari agar mereka bisa memastikan kembali apakah Siti bisa pulang atau tidak. Setelah dokter dan perawat pergi pun, Siti melihat ke arah Evi dan bertanya, "Mbak Evi, Kieran mana?" tanyanya. Evi pun terlihat berpikir sejenak. "Tadi sih Tuan menyampaikan untuk saya menjaga Nyonya. Kalau bangun saya kabari Beliau. Saya sudah kabari beliau, tapi beliau tidak menceritakan di mana sekarang beliau," jawab Evi agak muter-muter. Tap
Brak! Victor, Julian, dan Edric keluar dari pintu tersebut dan langsung menerjang orang-orang yang menghalangi mereka. "Minggir woy!" teriak Edric yang paling belakang. "Minggir bangsat! Lo pada ngapain?!" bentak Victor. Tak hanya itu, ia mendorong dua gadis yang menahan Siti yang sudah hampir pingsan itu. "Aaaa!" para gadis itu terjatuh. Sementara dua yang lain terlihat saling merapat dan ketakutan melihat tiga putra Kingsleu datang. Tak hanya itu, saat Victor dan Julian mengngkat Siti, Kieran datang dengan panik. "Ada apa ini?" tanya Kieran. "Siti--" Edric belum selesai bicara karena keempat gadis itu akan kabur. Ia kemudian menghadang dan menangkap dua dari mereka, tapi yang dua lain berhasil lari. Julian menyerahkan pegangannya pada Siti ke ayahnya. "Siti?!" ujar Kieran shock. Victor lalu menyerahkan gendongannya pada sang ayah sepenuhnya. "Aku akan urus mereka, Pih." "Oke." Kieran tak bisa memikirkan hal lain sekarang. Ia langsung bergegas
"Gak tau gue, mereka terlalu bahaya menurut feeling gue," ujar Victor. Ia membawa kacang entah dari mana, yang juga dicemili oleh Edric. "Memang Maminya Julian tinggal di US juga?" tanya Siti. "Enggak, pindah-pindah dia," jawab Victor secara alami. Posisi Victor ada di tengah dan Edric di sisi kanan Victor, dan Siti di sebelah kirinya. Edric juga menjelaskan, "Secara gak langsung, dia itu emang bosenan pada banyak hal termasuk pas nikah sama Papi. Mereka cerai karena si Tante bosen aja." Siti manggut-manggut. "Oh gitu, tapi Julian keliatan sayang banget sama dia." "Mungkin karena Emak kandung," ujar Victor. "Em... tapi aku masih bingung. Edric pernah serumah sama Maminya Julian berarti?" tanya Siti. Edric mengangguk, "Dari sejak gue dibawa ke Mansion udah ada dia," balasnya. Di situ Siti mulai bingung lagi. Kalau dilihat dari timeline lahirnya Julian yang jaraknya cukup jauh dengan Edric, kemudian Edric yang sudah bertemu dengan ibu Julian di mansion, kemudia
Pintu kamar itu didobrak dan langsung terbuka kencang. Kieran dan Siti spontan memisahkan diri. Kieran spontan menutupi tubuh Siti dengan selimut yang sebenarnya belum ada yang terbuka sepenuhnya. Tapi wajah Kieran terlihat sangat tidak senang. "Apa yang kalian lakukan?!" geram Kieran. Ia benar-benar marah pada orang-orang yang mengganggu aktivitasnya. Di ambang pintu telah berdiri Putri Wijaya dan dua pria dengan penampilan bodyguard. "Om, kalian lagi ngapain?" tanya Putri tidak menyangka. "Ya mau ngeseks lah sama istri," jawab Kieran enteng. Plak! Siti langsung menggeplak lengan bisep suaminya, saking tak terkontrolnya mulutnya itu. "Mas!" bisiknya. Putri terluhat gelisah seperti tak percaya pada sesuatu, tapi terlanjut melihat kenyataannya. "Tapi Om, bukannya kamu--" "Dasar brengsek, ganggu privasi orang! Keluar!" Di titik itu, Putri yang sebenarnya dari keluarga terkuat di Ibukota pun tak berdaya. Ia langsung berlari sambil menangis, sementara kedua body
"Siti, kamu tenang saja. Aku punya rencana," potong Kieran. "Saya juga, Pak... eh saya, aku maksudnya Mas, hehe!" Kieran terkekeh melihat Siti yang saking semangatnya sampai lupa panggilan mereka. Ia menggenggam tangan Siti dengan tangan kirinya, dan mengelus pipinya dengan tangan kanannya. "Sayang, maksudku... aku udah siap dengan keadaan ini. Pada dasarnya aku udah bisa menhadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun." "Tapi Mas, itu... aku sempet liat seorang pelayan memasukkan obat ke dalam gelas yang kemudian di kasih ke kamu. Kamu tadi minum?" tanya Siti. Kini giliran Siti yang menggenggam tangan suaminya, ia begitu takut dengan apa yang akan mereka hadapi. "Aku--" "Mas, serius kamu gak minum dari gelas itu kan?" Kieran menghela napas, ia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman. "Itu..." gumamnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri. "Panas banget, Sayang. Lemes." Siti mendelik, ia panik. Sementara Kieran terus menggosok-gosok dadanya sendiri. Ia berusaha m
Jam 8 malam, Kieran benar-benar menelpon Siti. Tentu membicarakan soal proyek mereka. "Besok hari Senin, ada rapat wali murid di sekolah Edric. Aku ingin kamu yang datang, sekaligus buat deketin Edric." "Sama kamu?" tanya Siti. "Ck, tadi saya bilang 'kamu yang datang', berarti kamu sendiri.
Seperti yang diharapkan dari tempat tinggal orang kaya, begitu mewah. Mansion itu terletak di komplek perumahan elit, di mana banyak sekali rumah mewah. Siti dijemput oleh sopir Kieran, dan diperlakukan setara dengan Kieran. Seolah-olah Kieran sudah menegaskan posisinya pada semua orang. Bagi ora
Kieran sibuk menjawab telpon grup dari ketiga anaknya yang lain. Edric sudah marah-marah secara langsung, kini giliran Keiron, Victor, dan bahkan Julian yang ada di Amerika. "Kita rapat keluarga aja besok. Buat Julian bisa online aja," ujar Kieran sudah lelah diberondong omelan. "Pih, seriousl
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Kieran. Ia berkecak pinggang di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Siti dan Victor langsung menjauh, tapi kemudian Siti menjawab. "Kita cuma lagi berdebat seperti biasa saat di kampus. Kamu udah selesai makan?" tanya Siti mendekati







