LOGINnih kalo ada yg bingung sebutan 4 bujang ke Siti yang 'lu gue' ini cuma negasin kalo mereka masih gengsi sepenuhnya manggil Mami gitu🥰
"Salsa? Siapa Salsa?" Puk! Siti menepuk lengan suaminya gemas dari atas pelana kuda. "Pasangannya Keiron loh, Mas. Anak sulungmu. Masa lupa sih." Kieran memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. Aura Alpha yang tadi sempat memancar tajam seketika mengendur karena teguran sang istri. "Baru juga sehari," gumam Kieran pelan. Ia mengembuskan napas berat, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinganya. "Kirim lokasi sekarang. Hubungi Keiron dan katakan padanya pacarnya sedang dalam bahaya." Sementara itu, di sebuah gang yang berjarak dua blok dari rumah kosnya, Salsa terduduk di atas aspal yang dingin. Kerudung pashminanya sudah berantakan. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang kini menyisakan bekas kemerahan akibat tamparan kasar. Di depannya, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah berantakan tertawa puas sambil mengacung-acungkan sebuah kartu ATM. Dia adalah Rian, kakak kandung Salsa yang selama ini menjadi benalu dalam hidupny
Kieran melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengambil Baby Maya dari dekapan kaku Keiron. Setelah bayi perempuan itu berpindah ke lengannya, aura dingin dan mengintimidasi yang tadi sempat membuat Keiron dan Victor tegang, seketika menguap tanpa bekas. Ketegangan kedua putra tertua Kingsley itu langsung berubah menjadi helaan napas lega. "Hai, putri Papi paling cantik," bisik Kieran. Suaranya melembut drastis, berbanding terbalik dengan suaranya saat bicara pada kedua putranya yang sedang bisik-bisik itu. "Abubu... maa..." gumam Baby Maya pelan. Ia menggeliat nyaman di dada bidang sang ayah. Baby Maya memang sudah mulai merespons dengan bahasa bayi karena sedang berada di fase banyak mengoceh. Kieran benar-benar langsung berganti wajah jika sudah berada di dekat Siti dan putri bungsunya. Kerutan tegas di dahinya hilang, digantikan oleh senyuman tulus seorang ayah yang sedang kasmaran pada bayinya sendiri. Ia terus menciumi wajah gembul Maya yang w
"Gak usah sokap deh lu," ujar Keiron ketus, langsung menyikut lengan Victor yang tiba-tiba datang dan menepuk bahunya. Victor hanya memegangi tulang rusuknya yang sedikit ngilu akibat sikutan maut sang kakak, sambil tertawa lebar. Di antara semua bersaudara Kingsley, Victor memang yang paling jahil dan hobi memancing emosi kakak tertuanya. "Galak amat, Bang," ujar Victor, merapikan setelan jasnya yang sedikit bergeser. Matanya melirik ke arah Salsa yang masih menggendong Baby Maya di kejauhan. "Btw, lu udah nemu pujaan hati ternyata. Sampai heboh tuh di bawah." Keiron mendengus kasar, memalingkan wajahnya. "Gak usah lebay lu." "Halah, gengsi mulu dipelihara. Itu kemeja lu ganti baru, kan? Berarti bener gosip si Fera nyiram anggur dan lu pasang badan buat Salsa. So sweet bener," Victor menaik-turunkan alisnya, sengaja memprovokasi. Keiron tidak membalas. Alih-alih meladeni adiknya yang berisik, ia memilih melangkah pergi menjauh, mencari tempat yang lebih tenang di sudut bangk
Suasana resepsi pernikahan Julian Kingsley yang megah berubah drastis dalam hitungan detik. Area prasmanan yang tadinya tenang kini mendadak hening, membuat beberapa tamu undangan menoleh karena penasaran. Salsa, yang masih merasa canggung di tengah kerumunan elite itu, duduk di sisi Keiron sambil mendengarkan pria itu menjelaskan teknis evaluasi desain untuk launching produk selanjutnya. Tiba-tiba, bayangan seseorang berdiri menjulang di hadapan mereka. "Keiron? Aku nggak nyangka kamu bakal datang ke sini, apalagi bawa... siapa?" Suara itu terdengar merdu, namun sarat dengan nada sinis yang tajam. Seorang wanita bergaun backless berwarna merah menyala berdiri di sana. Namanya Fera, seorang model papan atas yang sempat digosipkan memiliki hubungan spesial dengan Keiron di masa lalu. Wajahnya cantik, bak porselen yang sempurna, namun sorot matanya yang menatap Salsa penuh dengan api kebencian. "Mungkin karyawannya," sahut temannya. Tidak sopan memang. Fera dan teman-teman sosialit
"Launching dulu," ujar Keiron saat ditanya Salsa. Salsa bertanya apakah mereka akan kondangan dulu atau lauching. Tapi Keiron langsung membalas 'launching' dulu. Salsa terheran dengan bosnya itu. Acara bahagia milik adiknya, tapi ia malah masih sibuk kerja. Padahal acara lauching-nya sudah bisa diserahkan ke bawahannya termasuk Salsa-tim desain. "Bapak gak ke sana dulu?" tanya Salsa sambil merapihkan letak berkas di tangannya. Mereka sedang berjalan menuju tempat acara launching. "Gak ada waktu. Kita rampungkan dulu acara launching yang hanya setengah hari ini." "O--oke, Pak," sahut Salsa pasrah. Ia mengikuti langkah Keiron yang begitu lebar. Selama setengah hari ke depan, Salsa menyaksikan sisi lain dari Keiron. Keiron bukan lagi pria yang berusaha mendekatinya atau bos yang kaku di ruang rapat. Dia adalah seorang komandan perang. Keiron mengawasi setiap sudut venue, mengecek pencahayaan, memastikan display produk terlihat sempurna, hingga menegur staf jika ada satu bro
Saat pintu ruang ganti terbuka, Salsa keluar dengan gaun pertama. Itu adalah gaun berbahan silk premium dengan potongan A-line yang jatuh menjuntai anggun hingga ke lantai. Hijabnya dipadukan dengan gaya clean look yang simpel menggunakan bahan senada, memberikan kesan sangat berkelas sekaligus menjaga kesantunannya. Salsa yang biasa memakai pakaian sederhana tapi anggun di kantor, tampak pangling melihat bayangannya sendiri di cermin besar. "Gimana, Pak? Terlalu berlebihan nggak ya buat saya?" tanya Salsa sambil merapikan letak hijabnya yang sedikit bergeser karena grogi. Keiron yang sedari tadi bersikap dingin, mendadak kehilangan kemampuannya untuk berdeham. Ia menatap Salsa lewat pantulan cermin. Gaun itu menutupi tubuhnya dengan sempurna namun tetap menonjolkan aura yang berbeda. Cantik, tenang, dan sangat berwibawa. "Tutup tirainya," perintah Keiron pelan, suaranya sedikit parau. "Loh, kenapa? Bapak nggak suka?" tanya Salsa khawatir kalau ia terlihat jelek. "Bukan,"
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda







