Share

Bab 5

Author: Fiska Aimma
last update publish date: 2026-08-21 09:39:20

Via membuka mata saat ada sesuatu yang bergetar di atas nakas kecil yang ada di samping ranjang. Gadis itu pertama-tama mengerjapkan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina. Setelah siap, barulah dia meraba-raba nakas karena Via tahu kalau itu ulah ponselnya.

"Halo, assalammu'alaikum. Siapa nih?" sapa Via jutek masih dengan suara yang serak-serak berserakan. Maklum dia mah suka ngereog kalau pagi-pagi begini, nyawanya suka belum kumpul.

"Wa'alaikumsalam. Dek, ini Mbak Sarah."

Mendengar kalau kakak iparnya yang menelepon, mata ngantuk Via seketika terbuka lebar. "Eh, Mbak, maaf Via tadi gak liat siapa yang nelepon, langsung geser tombol aja. Soalnya masih ngantuk, hehehehe ...." Via terkekeh malu. Bisa-bisanya dia gak sopan sama Sarah selaku kakak ipar yang sangat dihormatinya.

"Iya gak apa-apa Dek, maaf juga Mbak nelepon sepagi ini."

"Gak apa-apa Mbak. Via malah seneng. Oh, ya, Mbak, katanya Mbak hamil? Ya Allah selamat ya Mbak, Via akhirnya dapat ponakan baru," seru Via tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Mengingat Sarah pernah keguguran pertama kali karena kecapean mengurus keluarganya yang gak tahu diri membuat Via jadi merasa kasihan. Kakak iparnya terlalu banyak menderita. Untung sekarang  Sarah sudah menikah dengan Deva yang berasal dari keluarga berada yang juga mau mengangkatnya sebagai adik. Sayang, ketika Via sudah merasakan kebaikan keluarga, siapa sangka orang tua Deva yang juga orang tua angkatnya Via harus meninggal oleh sebab yang tak jelas.

Inilah yang membuat Via trauma, dari dulu sampai sekarang, Via merasa gak pantas buat bahagia. Dia merasa tak dibutuhkan karena telah dibuang oleh ibunya sejak ia dilahirkan. 

"Iya Dek makasih ya. Doakan Mbak untuk kehamilan ini sehat dan selamat," ujar Sarah disertai tawa khasnya.

"Of course, my sister." Via nyengir bahagia membuat Sarah terkekeh juga. Namun, tak lama Via mendengar kakak iparnya itu mendesah berat.

"Oh, ya, Dek gimana malam pertama kamu aman, kan?" tanya Sarah di seberang sana. Terdengar hati-hati seolah tidak ingin menyinggung perasaan Via.

Via memainkan bibirnya bingung, walau agak canggung mendengar pertanyaan Sarah tapi tak ayal dia berpikir juga.

Honestly, jika saja malam pertama Via lancar-lancar saja tanpa drama mungkin Via akan bercerita begitu antusias tapi kali ini beda.

Dia tidak bisa bebas bercerita, sekali pun selama ini tak ada yang bisa ia rahasiakan dari Sarah, termasuk tentang perasaannya. Namun, tampaknya khusus untuk kali ini Sarah harus menyembunyikan itu karena gak mungkin jikalau Via harus bilang pada Sarah tentang Matin yang memiliki kekurangan yaitu impoten.

Bukankah itu termasuk aib suaminya? Ya kali, Via tega membocorkannya pada Sarah atau seluruh dunia, bisa diazab jadi istri durhaka nantinya.

"Dek ...." panggil Sarah lagi.

Via terkesiap. "Oh eh, aman Mbak. Kenapa emangnya?" tanya Via heran.

"Eh, ehm, enggak. Mbak hanya khawatir saja soalnya pernikahan kalian kan dadakan takutnya ...."

"Takut apa?"

"Takut kamu butuh bimbingan," canda Sarah membuat keduanya tergelak.

"Yaelah Mbak, gitu doang perlu bimbingan tenang nanti aku d******d tutorialnya di youtube."

Walau masih terasa aneh bagi Via, dia tetap saja tertawa. Mau bagaimana lagi, memang sereceh itu mereka, semoga suaminya tahan-tahan aja.

"Alhamdullilah deh kalau kamu gak butuh tutorial, gakgakgak. Kalau gitu Mbak gak perlu khawatir, Mbak doakan kamu senang dan bahagia. Rumah tangga kamu aman, sakinah, mawaddah dan sejahtera."

"Aamiin Mbak, Amiin. Makasih ya Mbak."

"Sama-sama Dek. Oh, ya, Dek, Mbak nitip ya, kamu harus bisa jaga diri selama di sana. Soalnya Matin itu bukan orang sembarangan. Mbak yakin, dia bisa jagain kamu tapi kamu juga kalau ada apa-apa, jangan takut cerita sama Mbak. Oke?" Nasehat Sarah yang bernada khawatir itu otomatis membuat alis Via mengernyit dalam.

"Loh, kok, Mbak kesannya kayak ketakutan gitu, emangnya Mas Matin kenapa Mbak? Kenapa dua bukan orang sembarangan?" tanya Via makin penasaran. Mengingat sejak dulu Matin memang terlalu misterius untuk diabaikan.

Sejenak Sarah terdiam, tapi tiba-tiba terdengar Deva memanggilnya hingga Sarah seolah kelabakan. "Oh, eh, nanti Mbak cerita kalau ketemu. Udah dulu, ya, De, Mbak mau mandi dulu, ya? Assalammu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Hubungan telepon dengan Sarah pun terputus. Tinggallah Via yang masih terdiam di ranjangnya sambil merenungi semua pembicaraannya dengan Sarah.

Entah mengapa dia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Sarah. Tumben sekali, kakak iparnya itu penasaran untuk hal yang begituan. Via curiga sepertinya ada sesuatu yang ingin Sarah tanyakan tapi ragu untuk dilontarkan padanya.

"Mengapa Mbak Sarah bertanya tentang malam pertamanya aman atau nggak? Dan kenapa dia menyebutkan Matin bukan pria sembarangan? Emang kenapa, ya? Jangan-jangan Mas Deva udah bilang sama Mbak Sarah kalau Mas Matin punya masalah 'gairah'? Atau ada yang lain? Agh, gak mungkin! Mas Deva kan penjaga rahasia terbaik di dunia," gumamnya seolah bertanya pada diri sendiri.

Memikirkan tentang itu semua membuat Via teringat suaminya. Via pun menolehkan kepala ke arah samping untuk memastikan Matin ada di dunia. Dan terpampanglah nyata di hadapan Via, seorang Matin yang sedang terbaring di sofa. Lelaki tampan itu tidur menyamping menghadap ke arahnya.

Entah ada magnet apa yang merasuki Via, tiba-tiba dia memutuskan untuk melihat lelaki itu lebih dekat. Via pun secara perlahan menurunkan kakinya dari ranjang dan berjalan menuju ke sofa. Sampai di depan Matin, dia berjongkok dan menundukkan kepalanya untuk menatap lebih seksama pahatan wajah indah pujaan hatinya.

Melihat Matin yang tidur layaknya bayi yang polos, Via tetiba ingin iseng menyentuhnya. Tanpa bisa dicegah, tangannya sudah mengawang mengitari wajah Matin. Dimulai dari alis hitamnya yang tebal, kelopak matanya yang lucu kalau berkedip sampai ke hidung.

"Yaelah, ini hidung mancung bener kek tower. Makan apaan dah Mama Vina punya anak sebegini cakepnya?" Via terkekeh geli sambil mengetuk-ngetuk hidung bangir Matin yang mancung. Masih belum cukup menganggumi Matin, telunjuk Via kini beralih menatap bibir Matin yang cipok-able.

Via berpikir, sayang sekali bibir sebagus itu dianggurin. Lebih baik segera dipergunakan agar bisa lebih manfaat. Ya, manfaat untuk kesehatan jiwanya Via.

"Nah, gimana kalau aku cobain aja?" gumam Via sambil memonyongkan bibirnya. Niatnya sih hanya ngetes namanya juga usaha.

"Awas kalau coba-coba nyentuh! Kondisiin bibirnya!" Mata Matin tiba-tiba terbuka, meskipun pandangannya masih sayu tapi cukup membuat Via memundurkan badannya.

"Eh, Mas, udah bangun aja?" tanyanya konyol sambil cengar-cengir penuh kepalsuan. Dia tidak menyangka bakal ketahuan sebelum melancarkan aksinya.

Matin mendelik sebal. "Ya, iyalah, saya udah bangun. Kamu mencet-mencet hidung saya, mana mungkin saya gak sadar?" protes Matin sambil mengusap hidungnya beberapa kali seolah tangan Via itu kotoran yang harus dibersihkan sesegera mungkin.

Via memberengut. "Ya maaf sih, perkara nepuk doang, masa gak boleh?" demo Via tanpa rasa bersalah.

"Ya bukannya gak boleh tapi ...."

"Tapi Mas anti disentuh, kan?" tebak Via sambil nyengir. "Iya, saya tahu kok. Maaf deh, saya gak ... agh, aw sakit!"

Via gak jadi melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba dia merasa perutnya bergejolak, melilit dan terasa begah seolah banyak udara. Rasa-rasanya dia ingin PUP dan kentut tapi mana mungkin dia kentut di depan Matin.

Matin yang melihat Via tiba-tiba pucat langsung menghampirinya. "Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanyanya dengan nada menyesal. Pria itu berpikir, bisa saja Via kesakitan karena dia menegur Via cukup keterlaluan.

Seharusnya dia bisa memaklumi Via, bukankah dia sendiri yang mau cepat sembuh?

Via menggelengkan kepalanya panik. "Bukan Mas, bukan sakit aku cuman harus ke kamar mandi. Maaf aku duluan ya, Mas?" ijin Via sambil memegang perutnya dan bergerak bagai cacing kepanasan.

Dia tidak mau kalau sampai mengeluarkan gas yang tak seharusnya di depan Matin. Bisa disangka istri yang gak sopan dan hancurlah dunia persilatan.

"Jadi, kamu mandi duluan begitu?"

Via mengangguk cepat. "Iya Mas, aku duluan, ya? Permisi!"

Karena tidak tahan dengan sesuatu yang mendesak, Via pun bergegas melewati Matin untuk menuju ke arah kamar mandi tapi baru saja beberapa langkah tiba-tiba perutnya berontak dan terdengar suara nyaring ....

DUUUUUD!

Gawat! Bahaya!

Via kelepasan, siapa sangka dia akhirnya kentut di depan sang pujaan. Sontak saja Via tercengang sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukannya.

Dengan wajah horor, dia melihat ke arah belakang berharap Matin tak berada tepat di belakangnya.

Nahas. Ternyata Matin berdiri sejajar dengan Via. Pria itu tengah melongo syok sambil menatap Via geram.

"Viaaaa! Kamuuu!"

"Mas Matiiin maaaaaf!" lolong Via sambil buru-buru masuk ke kamar mandi.

Oh, Via. R.I.P harga diri. Semoga gak dipecat jadi istri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 19

    "Mas.""Hm?""Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang Mas rencanakan."Jari-jarinya yang semula santai perlahan menegang.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang."Aku juga tahu Mas menikahiku karena keadaan. Awalnya, aku pikir setelah semuanya berlalu, kita bisa menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri pada umumnya."Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan."Ternyata, tinggal serumah dengan Mas lebih sulit daripada mengerjakan soal ujian.""Memangnya kamu sering mengerjakan ujian?"Aku mendongak.Astaga.Dari sekian banyak kalimat yang bisa keluar dari mulutnya, kenapa justru itu yang ia pilih?"Mas, aku sedang serius.""Saya juga.""Bagian mana yang serius?""Bagian kamu mengeluh."Aku memejamkan mata sebentar.Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi suami sendiri.Namun, ketika kembali menatapnya, aku tidak lagi menemukan keinginan untuk bercanda di wajahnya."Aku tidak meminta Mas mencintaiku," lanjutku. "Aku juga tidak memaks

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 18

    Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Mas Matin, aku merasa benar-benar tidak mengenal pria yang tidur satu ranjang denganku.Bukan karena aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau kebiasaannya yang selalu memasang wajah dingin. Aku tahu semua itu. Namun, ada bagian dari dirinya yang terasa begitu jauh, seolah-olah selama ini aku hanya mengenal seseorang yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.Dan yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa pria itu sepertinya tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan kami.Aku teringat bagaimana pernikahan ini bermula.Melisa. Perempuan yang sebelumnya menjadi calon istri Mas Matin. Perselingkuhan perempuan itu terbongkar ketika persiapan pernikahan mereka sudah berjalan cukup jauh. Aku masih ingat bagaimana sahabat kakakku itu datang dengan wajah dingin, lalu mengatakan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan.Aku pikir ia sedang bercanda.Siapa yang mau menikahi perempuan yang bahkan tidak dici

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 17

    Aku masih berdiri mematung dalam dekapan Mas Matin ketika pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melipat kertas ancaman tadi, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan cepat."Mas, kita harus lapor polisi, kan?" tanyaku hati-hati."Nanti."Jawabannya singkat. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang."Raka, gue butuh bantuan lo."Aku mengamati wajahnya yang berubah serius. Tidak ada lagi sisa kecanggungan akibat kejadian di pesawat tadi. Pria yang berdiri di hadapanku sekarang terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi berbahaya."Cek CCTV kompleks dari satu jam terakhir. Ada mobil hitam masuk tanpa menyalakan lampu. Cari tahu siapa pemiliknya."Ia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sana."Jangan bergerak sendiri. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi gue. Jangan ambil tindakan sebelum gue datang."Setelah menutup telepon, Mas Matin memeriksa kunci jendela, kemudian berjalan menuju p

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 16

    Suara pramugari yang terdengar lewat pengeras suara kabin sukses membuyarkan lamunan romantis kami. Sontak, aku menarik diri perlahan, merapikan letak kerudungku yang sedikit miring, sementara Mas Matin menegakkan kembali punggungnya. Meski wajahnya kembali memasang topeng dingin andalannya, aku sempat menangkap rona merah tipis di ujung telinganya.Perjalanan darat dari bandara menuju rumah terasa begitu senyap. Hujan telah reda, menyisakan jejak basah di sepanjang aspal kota. Namun, di dalam mobil, pikiranku sama sekali tidak tertuju pada jalanan yang lengang.“Dia tidak bohong, Via memang istri saya.”Kalimat itu, ditambah pelukan protektifnya saat turbulensi tadi, terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Pria yang mengaku punya trauma dan tidak bisa menyentuh wanita itu justru dua kali melanggar batasnya sendiri—demi aku.Begitu tiba di rumah, suasana hening langsung menyambut. Mas Matin langsung pamit menuju ruang kerjanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesa

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 15

    Wanita bernama Helen itu seketika gelagapan. Wajahnya yang tadi berhias senyum genit nan percaya diri kini pias, merah padam menahan malu. Tanpa berani menatap kami lagi, ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membenarkan selimutnya dan menyandarkan kepala ke arah jendela. Syukurin! Makanya, jangan suka menilai buku dari sampulnya, apalagi berani menggoda suami orang.​Namun, kemenanganku atas Helen menguap begitu saja, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang kini memonopoli seluruh sarafku.​Tangan Mas Matin masih menangkup sisi wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar—jejak masa lalunya yang keras—tanpa sadar mengusap lembut tulang pipiku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali, perlahan, seolah ada keengganan di sana.​Aku menelan ludah, tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Suhu pendingin kabin pesawat yang sedari tadi menusuk tulang mendadak tak terasa lagi, kalah telak oleh hawa panas yang menjalar cepat dari leher hingga ke kedua telingaku.​"Dia tidak bohong, Via memang

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 14

    Bulan madu dengan crush. Mungkin itulah judul perjalananku kali ini. Sesudah pertemuan singkat kami dengan Pak Ando dan Bu Rini di rumah sederhana tadi, entah mengapa Mas Matin tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Lelaki itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan banyak hal—terutama setelah bayang-bayang masa lalunya sebagai seorang mantan gangster kembali berkelebat di kepalanya.​Tak terasa setengah jam sudah pesawat kami mengudara, membelah langit pagi yang tampak kelabu dan tidak bersahabat. Hujan lebat mengguyur badan pesawat, membuat suasana di kabin terasa semakin sendu, semendung wajah Mas Matin yang duduk persis di sampingku. Sejak pertemuan tadi, ia hanya melemparkan pandang ke arah jendela yang tak menampilkan pemandangan indah apa pun.​Aku melirik pergelangan tangan, mendapati sisa penerbangan yang masih cukup panjang. Rasanya amat menyiksa jika harus terjebak dalam keheningan canggung seperti ini. Mau mengajak bicara duluan pun rasanya agak ciut, seba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status