LOGINSetelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti.
Bunda Nisya?! Via sempat tercekat karena melihat mertuanya sudah ada di ruang makan privat hotel sepagi ini. Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. "Ya ampun, akhirnya kamu turun juga, Nak? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock sama masalah pernikahan. Maklum, akibat Melisa kabur banyak sekali yang diuruskan." Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi, kamu tenang saja, intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak. Ngomong-ngomong kamu aman, kan?" 'Aman? Lah, kok pertanyaanya sama kayak Mbak Sarah? Kenapa sih pada nanya aku aman atau nggak? Aneh!' Via membatin. Tapi, segera dia hempaskan keraguan. Alhasil, Ia hanya tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku aman kok. Dan aku paham kok kalau Bunda sibuk. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin mendadak begitu, terima kasih udah mau menerima Via," cicitnya salah tingkah. Tak berapa lama, terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka, rupanya Matin sudah datang ke ruang makan dengan berjas kasual rapi, memasang wajah dingin tanpa ekspresi seolah insiden 'kentut' tadi tidak pernah terjadi. Tapi saat mata mereka beradu, sudut bibir Matin tertarik membentuk smirk menyebalkan. "Nah, ini dia anak Bunda yang paling tampan udah datang kebetulan ada yang harus Bunda bicarakan. Ayo, Tin, Vi, duduk." Bunda Nisya mengajak mereka duduk di meja makan. Mereka pun menganggukkan kepala. Namun, baru saja duduk melingkar. Tiba-tiba, ponsel di saku celana Matin bergetar. Pria tampan dan mapan itu melirik layar sekilas. Dalam sepersekian detik, aura di sekitarnya berubah drastis-tatapannya berubah setajam silet, sorot mata pria yang terbiasa hidup di dunia gelap penuh ancaman, jauh dari imej bos kantoran biasa. Guratan bekas luka tipis di balik kerahnya sempat mengintip. Tapi secepat kilat, ekspresi itu lenyap saat ia kembali menatap Via dengan wajah datar andalannya. "Siapa, Tin?" sapa Bunda mendelik curiga yang membuat Matin gegas membalik ponselnya. "Hem, bukan siapa-siapa Bun, biasalah," katanya datar. Bunda hanya tersenyum tipis dan membuka percakapan kembali. "Ehm! Ngomong-ngomong soal kalian berdua..." Suara lembut Bunda Nisya memecah lamunan Via sambil meletakkan cangkir teh. "Kalian ini... kapan rencana mau bulan madu? Jangan bilang mau sibuk kerja mulu ya. Bunda udah gak sabar pengen nimang cucu." Matin berdehem pelan, mencoba menolak halus. "Soal bulan madu... Kayaknya harus ditunda dulu, Bun. Saya masih banyak pekerjaan di kantor yang belum selesai." Bunda Nisya mendengkus, sementara sang Ayah ikut tersenyum penuh arti. "Alasan klasik! Pekerjaan kantor itu tidak akan ada habisnya, Matin. Lagian, Ayah sama Bunda sudah kepalang booking semuanya dari jauh-jauh hari. Kamu tinggal berangkat saja, tidak usah banyak protes," tegas Bunda Nisya kekeh. Matin menghela napas pasrah. Lelaki itu lantas menoleh, melirik ke arah Novia yang masih kaku, lalu bertanya dengan nada datar namun penasaran, "Kamu sendiri bagaimana? Menurut kamu, kita mau berangkat kapan?" Sebelum Via sempat mencari alasan logis untuk menolak, Bunda Nisya sudah lebih dulu menyahut antusias, "Malam ini!" Seketika, suasana di meja makan mendadak hening. Semuanya pun syok. Via melotot kaget nyaris jantungan, sementara Matin yang biasanya tenang mendadak terdiam seribu bahasa menatap sang ibu tak percaya. Malam ini?! Bulan madu? Ya Allah, tolong selamatkan hamba dari serangan jantung bertubi-tubi ini! batin Via histeris. Seketika, seluruh sel otak Via langsung disconnected secara massal kayak kabel terminal korslet. Bulan madu? Malam ini?! Yang bener aja! Baru juga tadi pagi dia sukses bikin rekor reog lewat aksi 'roket kentut subuh' di depan suaminya, sekarang malah disuruh terbang berdua ke tempat antah-berantah untuk bulan madu? Mau ditaruh di mana muka seorang Novia kalau seandainya di tengah jalan dia masuk angin atau salah makan lagi gara-gara stres? Bisa-bisa sejarah per-kentut-an nasional di depan suami tercatat abadi di buku rekor MURI! Di seberang meja, Matin yang biasanya keliatan tenang kayak patung pahlawan mendadak keliatan kaya orang mau pingsan tapi jaim. Rahang tegas cowok itu mengetat. Matanya berkedip dua kali, tanda kalau sistem di kepala sang bos besar lagi lag parah gara-gara todongan tak berakhlak dari sang bunda. "Bun...." Matin mencoba bersuara dengan nada sedingin es kutub utara, berusaha mempertahankan imej bos arogan dan berwibawa di depan orang tuanya. "Apa gak tergesa-gesa buat kami untuk bulan madu? Saya masih harus ngurusin perusahaan Bun." "Halah kamu itu kerja mulu. Udah di-booking dan diurus semua sama Ayah dari minggu lalu!" potong Ayah Matin dengan senyum paling tanpa dosa sedunia sambil nyuap roti panggang. "Udah, gak usah banyak alasan. Kamu tĺnggal bawa badan sama istri kamu yang cantik ini. Kasian Via, pasti dia butuh waktu mengenal sama kamu!" Matin langsung memajukan badannya serius. Dia seolah tahu bulan madu mustahil bagi mereka, pria itu membuat Via gak enak. Pastinya Matin ingin menghindar. "Bun, tapi tetap saja, ada project yang harus Matin selesaikan. Apalagi Matin--" "Gabisa, Matin! Ini perintah! Semua udah dipesen! Jadi, Bunda gak mau tahu, malam ini kalian harus berangkat bulan madu!" sergah Bunda Nisya telak, sukses bikin Matin kicep seketika tanpa bisa membela diri membuat sepasang pengantin baru itu sontak saling pandang. Astaga! Gimana nih? Bulan madu sama pria yang bergairah sama wanita? Apakah ini berbahaya?"Mas.""Hm?""Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang Mas rencanakan."Jari-jarinya yang semula santai perlahan menegang.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang."Aku juga tahu Mas menikahiku karena keadaan. Awalnya, aku pikir setelah semuanya berlalu, kita bisa menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri pada umumnya."Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan."Ternyata, tinggal serumah dengan Mas lebih sulit daripada mengerjakan soal ujian.""Memangnya kamu sering mengerjakan ujian?"Aku mendongak.Astaga.Dari sekian banyak kalimat yang bisa keluar dari mulutnya, kenapa justru itu yang ia pilih?"Mas, aku sedang serius.""Saya juga.""Bagian mana yang serius?""Bagian kamu mengeluh."Aku memejamkan mata sebentar.Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi suami sendiri.Namun, ketika kembali menatapnya, aku tidak lagi menemukan keinginan untuk bercanda di wajahnya."Aku tidak meminta Mas mencintaiku," lanjutku. "Aku juga tidak memaks
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Mas Matin, aku merasa benar-benar tidak mengenal pria yang tidur satu ranjang denganku.Bukan karena aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau kebiasaannya yang selalu memasang wajah dingin. Aku tahu semua itu. Namun, ada bagian dari dirinya yang terasa begitu jauh, seolah-olah selama ini aku hanya mengenal seseorang yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.Dan yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa pria itu sepertinya tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan kami.Aku teringat bagaimana pernikahan ini bermula.Melisa. Perempuan yang sebelumnya menjadi calon istri Mas Matin. Perselingkuhan perempuan itu terbongkar ketika persiapan pernikahan mereka sudah berjalan cukup jauh. Aku masih ingat bagaimana sahabat kakakku itu datang dengan wajah dingin, lalu mengatakan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan.Aku pikir ia sedang bercanda.Siapa yang mau menikahi perempuan yang bahkan tidak dici
Aku masih berdiri mematung dalam dekapan Mas Matin ketika pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melipat kertas ancaman tadi, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan cepat."Mas, kita harus lapor polisi, kan?" tanyaku hati-hati."Nanti."Jawabannya singkat. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang."Raka, gue butuh bantuan lo."Aku mengamati wajahnya yang berubah serius. Tidak ada lagi sisa kecanggungan akibat kejadian di pesawat tadi. Pria yang berdiri di hadapanku sekarang terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi berbahaya."Cek CCTV kompleks dari satu jam terakhir. Ada mobil hitam masuk tanpa menyalakan lampu. Cari tahu siapa pemiliknya."Ia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sana."Jangan bergerak sendiri. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi gue. Jangan ambil tindakan sebelum gue datang."Setelah menutup telepon, Mas Matin memeriksa kunci jendela, kemudian berjalan menuju p
Suara pramugari yang terdengar lewat pengeras suara kabin sukses membuyarkan lamunan romantis kami. Sontak, aku menarik diri perlahan, merapikan letak kerudungku yang sedikit miring, sementara Mas Matin menegakkan kembali punggungnya. Meski wajahnya kembali memasang topeng dingin andalannya, aku sempat menangkap rona merah tipis di ujung telinganya.Perjalanan darat dari bandara menuju rumah terasa begitu senyap. Hujan telah reda, menyisakan jejak basah di sepanjang aspal kota. Namun, di dalam mobil, pikiranku sama sekali tidak tertuju pada jalanan yang lengang.“Dia tidak bohong, Via memang istri saya.”Kalimat itu, ditambah pelukan protektifnya saat turbulensi tadi, terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Pria yang mengaku punya trauma dan tidak bisa menyentuh wanita itu justru dua kali melanggar batasnya sendiri—demi aku.Begitu tiba di rumah, suasana hening langsung menyambut. Mas Matin langsung pamit menuju ruang kerjanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesa
Wanita bernama Helen itu seketika gelagapan. Wajahnya yang tadi berhias senyum genit nan percaya diri kini pias, merah padam menahan malu. Tanpa berani menatap kami lagi, ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membenarkan selimutnya dan menyandarkan kepala ke arah jendela. Syukurin! Makanya, jangan suka menilai buku dari sampulnya, apalagi berani menggoda suami orang.Namun, kemenanganku atas Helen menguap begitu saja, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang kini memonopoli seluruh sarafku.Tangan Mas Matin masih menangkup sisi wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar—jejak masa lalunya yang keras—tanpa sadar mengusap lembut tulang pipiku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali, perlahan, seolah ada keengganan di sana.Aku menelan ludah, tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Suhu pendingin kabin pesawat yang sedari tadi menusuk tulang mendadak tak terasa lagi, kalah telak oleh hawa panas yang menjalar cepat dari leher hingga ke kedua telingaku."Dia tidak bohong, Via memang
Bulan madu dengan crush. Mungkin itulah judul perjalananku kali ini. Sesudah pertemuan singkat kami dengan Pak Ando dan Bu Rini di rumah sederhana tadi, entah mengapa Mas Matin tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Lelaki itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan banyak hal—terutama setelah bayang-bayang masa lalunya sebagai seorang mantan gangster kembali berkelebat di kepalanya.Tak terasa setengah jam sudah pesawat kami mengudara, membelah langit pagi yang tampak kelabu dan tidak bersahabat. Hujan lebat mengguyur badan pesawat, membuat suasana di kabin terasa semakin sendu, semendung wajah Mas Matin yang duduk persis di sampingku. Sejak pertemuan tadi, ia hanya melemparkan pandang ke arah jendela yang tak menampilkan pemandangan indah apa pun.Aku melirik pergelangan tangan, mendapati sisa penerbangan yang masih cukup panjang. Rasanya amat menyiksa jika harus terjebak dalam keheningan canggung seperti ini. Mau mengajak bicara duluan pun rasanya agak ciut, seba







