Share

Bab 6

Penulis: Fiska Aimma
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 09:40:03

Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti.

​Bunda Nisya.

​Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat.

​"Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak."

​Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin mendadak begitu, terima kasih udah mau menerima Via," cicitnya salah tingkah.

​Di seberang meja, Matin sudah duduk anteng berjas kasual rapi, memasang wajah dingin tanpa ekspresi seolah insiden subuh tadi tidak pernah terjadi. Tapi saat mata mereka beradu, sudut bibir Matin tertarik membentuk smirk menyebalkan.

​Meski begitu, saat piring roti panggang berada di dekat Via, tangan kokoh Matin sigap menggeser mangkuk sup hangat ke hadapannya.

​"Minum dulu biar gak keselek. Kamu gak apa-apa, kan?," bisik Matin dengan suara baritonnya yang tenang. Dingin, tapi terselip perhatian kecil.

​Via mengangguk pelan. "Ng-nggak apa-apa."

​Tiba-tiba, ponsel di saku celana Matin bergetar. Pria tampan dan mapan itu melirik layar sekilas. Dalam sepersekian detik, aura di sekitarnya berubah drastis-tatapannya berubah setajam silet, sorot mata pria yang terbiasa hidup di dunia gelap penuh ancaman, jauh dari imej bos kantoran biasa. Guratan bekas luka tipis di balik kerahnya sempat mengintip. Tapi secepat kilat, ekspresi itu lenyap saat ia kembali menatap Via dengan wajah datar andalannya.

"Siapa, Tin?" sapa Bunda mendelik curiga yang membuat Matin gegas membalik ponselnya.

"Hem, bukan siapa-siapa Bun, biasalah," katanya datar.

Bunda hanya tersenyum tipis dan membuka percakapan kembali.

​"Ehm! Ngomong-ngomong soal kalian berdua..." Suara lembut Bunda Nisya memecah lamunan Via sambil meletakkan cangkir teh. "Kalian ini... kapan rencana mau bulan madu? Jangan bilang mau sibuk kerja mulu ya. Bunda udah gak sabar pengen nimang cucu."

​Matin berdehem pelan, mencoba menolak halus. "Soal bulan madu... Kayaknya harus ditunda dulu, Bun. Saya masih banyak pekerjaan di kantor yang belum selesai."

​Bunda Nisya mendengkus, sementara sang Ayah ikut tersenyum penuh arti. "Alasan klasik! Pekerjaan kantor itu tidak akan ada habisnya, Matin. Lagian, Ayah sama Bunda sudah kepalang booking semuanya dari jauh-jauh hari. Kamu tinggal berangkat saja, tidak usah banyak protes," tegas Bunda Nisya kekeh.

​Matin menghela napas pasrah. Lelaki itu lantas menoleh, melirik ke arah Novia yang masih kaku, lalu bertanya dengan nada datar namun penasaran, "Kamu sendiri bagaimana? Menurut kamu, kita mau berangkat kapan?"

​Sebelum Via sempat mencari alasan logis untuk menolak, Bunda Nisya sudah lebih dulu menyahut antusias,

​"Malam ini!"

​Seketika, suasana di meja makan mendadak hening.

​Semuanya pun syok. Via melotot kaget nyaris jantungan, sementara Matin yang biasanya tenang mendadak terdiam seribu bahasa menatap sang ibu tak percaya.

​Malam ini?! Ya Allah, tolong selamatkan hamba dari serangan jantung bertubi-tubi ini! batin Via histeris.

​Seketika, seluruh sel otak Via langsung disconnected secara massal kayak kabel terminal korslet. Bulan madu? Malam ini?! Yang bener aja! Baru juga tadi pagi dia sukses bikin rekor reog lewat aksi 'roket subuh' di depan suaminya, sekarang malah disuruh terbang berdua ke tempat antah-berantah untuk bulan madu?

​Mau ditaruh di mana muka seorang Novia kalau seandainya di tengah jalan dia masuk angin atau salah makan lagi gara-gara stres? Bisa-bisa sejarah per-kentut-an nasional di depan suami tercatat abadi di buku rekor MURI!

​Di seberang meja, Matin yang biasanya keliatan tenang kayak patung pahlawan mendadak keliatan kaya orang mau pingsan tapi jaim. Rahang tegas cowok itu mengetat. Matanya berkedip dua kali, tanda kalau sistem di kepala sang bos besar lagi lag parah gara-gara todongan tak berakhlak dari sang bunda.

​"Bun..." Matin mencoba bersuara dengan nada sedingin es kutub utara, berusaha mempertahankan imej bos arogan dan berwibawa di depan orang tuanya. "Ini pernikahan baru berjalan sehari. Persiapan teknisnya belum ada. Tiket, jadwal penerbangan, mental... maksud saya, jadwal meeting penting saya di kantor-"

​"Udah di-booking dan diurus semua sama Ayah dari minggu lalu!" potong Ayah Matin dengan senyum paling tanpa dosa sedunia sambil nyuap roti panggang. "Udah, gak usah banyak alasan. Kamu tĺnggal bawa badan sama istri kamu yang cantik ini. Beres!"

​Via menelan ludah susah payah. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Matanya melirik ke arah Matin secara diam-diam. Sialnya, cowok itu juga lagi mandang dia dengan tatapan tajam nan penuh ancaman seolah ngomong lewat telepati: 'Awas aja kalau kamu berani ngadu yang aneh-aneh ke Bunda!'

​Via balas mendelik sengit lewat mata beloknya. 'Dih, emang lu kira gue mau apa, bos kulkas?! Ogah banget! Untung cinta!

​Bunda Nisya yang peka banget sama interaksi 'tumbuh benih-benih benci tapi cinta' di antara anak dan menantunya langsung senyum-senyum penuh arti. Beliau dengan penuh kasih sayang menepuk tangan Via di atas meja.

​"Udah, Nak Novia. Jangan takut ya kalau si Matin ini kaku kayak kayu penahan jembatan. Kalau dia berani bikin kamu cemberut, jutek, atau gak romantis selama bulan madu nanti, aduin aja langsung ke Bunda. Nanti Bunda suruh anak buah Ayah buat hukum dia cuci piring pakai sikat WC seminggu penuh!"

​Matin langsung mendengus protes tak terima. "Bun, saya ini CEO perusahaan besar, bukan sukarelawan kebersihan. Sudahlah, bulan madu bisa nanti lagi!"

​"Gabisa. Semua udah dipesen! Jadi, Bunda gak mau tahu, malam ini kalian harus berangkat bulan madu!" sergah Bunda Nisya telak, sukses bikin Matin kicep seketika tanpa bisa membela diri.

​Via yang tadinya mau nangis histeris di pojokan meja makan mendadak pengen ngakak.

Mampus! Kena mental juga kan bos es batu dan ganteng di depan mamanya sendiri!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 7

    Di luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam ini juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan di kantor.​"M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja.​Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, a

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 6

    Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti. ​Bunda Nisya. ​Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. ​"Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak." ​Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin m

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 5

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 4

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 3

    Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 2

    "Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan. Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan? "Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang. "Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status