ログインKamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan.
Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu saja. Meninggalkan Via yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala dan muka penuh harap. Harap disayang, ternyata malah disayang sama angin malam. "Ya Allah, kok Mas Matin belum masuk ya? Kira-kira, abis tadi liat tubuh mungilku, Mas Matin tuh shock, apa jijik, sih?" gumam Via sambil memandangi bayangan bulan purnama dari jendela. "Tapi yang nyobek dia kan? Masa aku yang disalahin?" Tiba-tiba, klik—pintu kamar terbuka. Via refleks balik badan, dan hampir refleks juga jatuh pingsan. Mas Matin muncul, dengan kemeja putih digulung sampai siku dan wajah setampan iklan pasta gigi. "Mas Matin ...." ucap Via dengan mulut terbuka kayak lagi lihat pahlawan Marvel nyasar ke kamar pengantin. Sungguh, dari zaman Via masih suka ngehalu di bangku kuliah, dia gak pernah nyangka bakal nikah beneran sama cowok yang jadi crush-nya sejak dulu—walau pernikahannya super dadakan dan penuh drama. Tapi tiap lihat wajah Mas Matin, niat buat benci suka luntur kayak foundation kena air wudhu. "Saya kira kamu udah tidur," kata Mas Matin sambil nyamperin sofa dan buka laptop, seperti gak ada tragedi robek-robekan sebelumnya. Via buru-buru pura-pura nguap. "Ini, hoawaaah ... mau tidur," katanya sambil taruh HP di nakas. Padahal tadi dia sibuk ngetik: "Suami ganteng banget, harus jaga jarak sebelum aku kelewat halu." "Baguslah. Anak kecil emang harus tidur lebih awal. Udah sana tidur duluan, Mas nyusul," ujar Matin santai, seolah Via ini murid SD yang disuruh tidur siang. Via langsung nyala dari mode standby. "Loh, jadi kita... seranjang, Mas?" tanyanya dengan mata membulat kayak bola pingpong. Dalam hatinya udah siap bikin status: Ternyata dia mau seranjang! Tapi dia juga takut salah paham. Siapa tahu 'seranjang' versi Mas Matin itu maksudnya tidur gaya plank sejauh dua meter. "Ya, seranjang. Emang kenapa? Saya gak akan nyentuh kamu," jawab Matin tanpa dosa, dengan ekspresi datar kayak nasi dingin. Via ngunyah harga dirinya dalam diam. Kayak ditolak halus padahal udah berharap banyak. Hello? Masa iya dia segitu gak menariknya? Kesal, Via langsung lipat tangan. "Ih, aku tidur di sofa aja deh. Mas aja yang di kasur. Ribet!" Matin berdiri dari sofa dan sandarkan diri ke dinding. "Kamu ngambek? Ya udah, saya aja yang tidur di sofa. Kamu tidur di kasur, biar gak masuk angin." "Beneran Mas mau di sofa? Gak dingin ta? Takut masuk angin lho," goda Via, setengah ngetes. Matin ngelirik sinis. "Dasar bocah! Ribet banget. Tidur atau saya gotong kamu ke kasur?" Via mendelik. "Bocah-bocah terus! Emangnya aku Shiva di kartun India?!" Akhirnya, daripada panjang debat dan dapat gelar 'bocah' lagi, Via nurut dan naik ke kasur. Tapi pas udah rebahan, dia malah gak bisa tidur. Dadanya deg-degan. Matin emang duduk jauh, tapi auranya terasa sampai ke jantung. Bahkan Via sampe takut kentut saking gugupnya. Bentar-bentar, dia liatin aku, ya? Ya ampun, Mas, jangan gitu dong. Kan aku jadi pengen kentut malu-malu. Mas Matin tiba-tiba berdiri dan matiin lampu tidur. "Tidur. Besok banyak acara. Saya juga tidur." Suara Matin kali ini lebih lembut, bikin Via jadi patuh kayak anak pramuka. "Iya, Mas," jawabnya sambil miring ke kiri dan pura-pura tidur. Padahal hatinya sibuk konser band indie. Setelah Via diam dan kasur terasa stabil, Matin pun balik ke sofa. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Beberapa menit kemudian, Matin mendengar suara lirih. Gumaman aneh dan suara gemerisik kain. Dia intip pelan-pelan. Via gelisah. Wajahnya ketakutan. Tangan terkepal. Bibirnya bergetar. "Ampun, Bu... ampunin Via... Via gak salah...." Matin terkejut. Ini anak kenapa? Mimpi buruk? Tanpa pikir panjang, Matin nyamperin, nyalain lampu, dan membangunkan Via yang udah basah air mata. "Via hey, Via! Bangun! Hey!" Via buka mata pelan. Begitu lihat Matin, dia langsung melas. "Kenapa, Mas?" "Kamu mimpi buruk, ya?" Via ngangguk pelan. "Iya, maaf ya, Mas. Ganggu, ya?" Matin geleng. "Enggak, kamu gak ganggu." Walau jantungku ikut deg-degan juga, sih. "Tapi aku—" "Udah, ayo tidur lagi. Jangan takut, ada saya di sini," kata Matin sambil nyelimutin Via sampe ke dada. Via diam. Jantungnya melambung tinggi. Duh, Mas, kamu kalau sweet gitu aku bisa hamil perasaan, lho. Melihat Matin begitu perhatian, Via tahu satu hal pasti: dia makin gak bisa benci. Yang ada, makin sayang. Bahaya.Di luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam ini juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan di kantor."M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja.Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, a
Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti. Bunda Nisya. Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. "Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak." Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin m
Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu
Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu
Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyu
"Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan. Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan? "Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang. "Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat ka







