Share

Rasa Bersalah

Author: Lhala Ahbib
last update Last Updated: 2025-12-29 20:58:06

Muak.

Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu.

Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas.

Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa.

Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu.

“Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir.

Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya.

Lima juta.

Sebulan.

Sepuluh tahun.

“Enam ratus juta,” desahnya.

Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil.

“Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mungkin … mungkin masih bisa.”

Ia menggeleng.

Menikah dengan Levian terasa jauh lebih mengerikan daripada membayangkan hidup miskin bertahun-tahun.

Karena uang bisa dicari. Sementara Harga diri—tidak.

**

Larisa langsung menegakkan tubuh saat Alya menyampaikan keputusan itu.

“Kamu serius?” tanyanya, nada suaranya tak lagi bercanda.

Alya mengangguk mantap. “Aku gak sanggup, Sa. Cara Om Levian ngomong aja bikin aku merasa kecil. Aku bukan calon istri di matanya. Aku tumbal dari rasa sakit nya karena perselingkuhan Tante Sasti.”

Larisa terdiam, lalu menyandarkan punggung nya pada kursi di kamar itu. Tatapan nya serius, menatap Alya yang masih bersandar pada kepala ranjang.

“Enam ratus juta itu bukan angka main-main, Al.”

“Aku tahu.” Alya menatap lurus ke depan. “Tapi menikah dengan dia … rasanya kayak bunuh diri pelan-pelan.”

Larisa menghela napas panjang. Kali ini tak ada ide gila. Tak ada candaan.

“Kalau gitu,” katanya akhirnya, “kamu harus siap. Tante Sasti gak bakal nerima penolakan kamu dengan baik.”

“Aku juga gak berharap dia mengerti,” jawab Alya lirih. “tapi ini hidupku, Sa. Aku berhak memilih.”

Larisa menatapnya lama, lalu mengangguk kecil usai helaan nafas dalam lolos dari bibir nya.

“Kalau kamu sudah sejauh ini mikirnya, berarti kamu sudah siap.”

Alya mengangguk. Ia memang sudah siap.

Setidaknya, ia pikir begitu.

**

Esok harinya, Alya datang ke toko Sasti dengan langkah mantap.

Toko itu tidak besar, tapi selalu ramai. Rak-rak penuh barang kebutuhan rumah tangga. Bau plastik, deterjen, dan kopi sachet bercampur menjadi aroma khas yang selalu Alya kenal sejak remaja.

Ia menarik napas dalam.

'Aku harus bicara,' batinnya.

Namun baru beberapa langkah masuk, langkah Alya melambat.

Suasana toko tidak seperti biasa.

Beberapa pegawai berkumpul di satu sudut. Wajah-wajah mereka tegang. Ada bisik-bisik. Ada raut cemas yang tak bisa disembunyikan.

“Bu Sasti beneran mau nutup toko, ya?”

“Katanya supplier udah mulai nahan barang.”

“Kalau toko tutup, kita kerja di mana?”

Kalimat-kalimat itu seperti menghantam dada Alya bertubi-tubi.

Ia menoleh ke arah kasir. Seorang ibu paruh baya, yang ia tahu punya dua anak sekolah, tampak mengusap mata diam-diam. Di sudut lain, seorang karyawan laki-laki muda berdiri gelisah sambil memegang ponsel, mungkin sedang menghitung sisa saldo di rekeningnya.

Dada Alya mendadak sesak.

Ini bukan sekadar toko. Ini sumber hidup.

Ia baru melihat Sasti di balik meja kecil di belakang. Wanita itu tampak lebih pucat dari biasanya. Wajahnya lelah. Tatapannya kosong menatap tumpukan kertas. Nota, faktur, entah apa lagi.

“Tante,” panggil Alya pelan.

Sasti mendongak. Tatapan mereka bertemu.

Ada sesuatu di mata Sasti kali ini. Bukan manipulasi. Bukan drama. Tapi ... Ketakutan.

“Al,” ucap Sasti lirih, “kamu lihat sendiri, kan?”

Kalimat yang seharusnya Alya sampaikan—penolakan, kemantapan hati, keberanian—semuanya tertahan di tenggorokan.

Ia kembali memandang sekeliling.

Pegawai-pegawai itu bukan bagian dari perjanjian gila antara dirinya, Sasti, dan Levian. Namun nyatanya, mereka ikut terancam.

Ego Alya tersentil.

Bukan ego karena harga diri. Melainkan ego karena ia merasa punya andil.

Kalau ia menolak, toko ini mungkin benar-benar tutup.

Kalau toko ini tutup, berapa banyak hidup yang ikut runtuh?

Alya mengepalkan tangan.

“Aku …” suaranya tercekat.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Alya merasa bahwa pilihan yang ia anggap benar, ternyata juga menyakitkan bagi orang lain.

Dan itu jauh lebih berat daripada intimidasi Levian.

Sasti tidak mengatakan apa pun. Namun itu justru hal yang paling terasa mengerikan bagi Alya.

Sang Tante, hanya kembali menunduk pada berkas-berkas di atas meja kecil di belakang toko. Jemarinya bergerak pelan, terlalu pelan, seolah setiap lembar kertas memiliki beban yang tak sanggup ia angkat sekaligus.

Alya masih berdiri di tempatnya. Ia menunggu.

Padahal, kata-kata. Bentakan. Tuduhan. Bahkan tangisan. Apa pun akan lebih mudah dihadapi daripada diam.

“Tante …” Alya mencoba membuka suara lagi, namun Sasti hanya mengangguk kecil, tanpa menoleh.

“Duduk dulu, Al,” katanya pelan. “Tante lagi nyusun ulang nota.”

Nada itu datar. Lelah. Tidak memaksa.

Alya menarik kursi plastik dan duduk. Pandangannya kembali menyapu toko. Seorang pegawai wanita tengah melayani pelanggan dengan senyum yang dipaksakan. Di balik senyum itu, ada kecemasan yang kentara.

“Aku tadi mau ngomong soal keputusan aku,” ucap Alya akhirnya. Sasti berhenti menulis.

Hanya berhenti. Ia tidak menoleh. Tidak memotong. Tidak bertanya.

Beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya berlalu.

“Kamu dengar mereka tadi?” tanya Sasti tiba-tiba, masih dengan posisi membelakangi Alya.

Alya menelan ludah. “Iya, ”

Sasti mengangguk kecil. “Mereka kerja di sini rata-rata sudah lima sampai tujuh tahun.”

Alya tak menjawab.

“Bu Rini di kasir,” lanjut Sasti pelan, “suaminya kena PHK tahun lalu. Gajinya dari sini buat sekolah dua anaknya.”

Setiap kalimat seperti dijatuhkan perlahan, tidak keras, tapi tepat sasaran. Langsung menancap pada ulu hati.

“Dimas,” Sasti melanjutkan lagi, “yang jaga gudang, dia baru ambil cicilan rumah. Baru setahun.”

Alya memejamkan mata.

Ini bukan cerita. Ini daftar korban.

“Kalau toko ini berhenti jalan,” Sasti akhirnya menoleh, menatap Alya dengan mata yang tampak kering namun sayu, “mereka semua ikut berhenti.”

Nada suaranya tetap tenang.

Tak ada satu pun kata tolong.

Tak ada kalimat demi Tante.

Namun Alya tahu, ini jauh lebih kejam daripada permohonan.

“Aku gak pernah minta kamu berkorban buatku saja,” lanjut Sasti. “aku cuma … capek, Al. ”

Ia menghela napas panjang.

“Capek harus mikirin semuanya sendirian.”

Alya menunduk. Kukunya kembali menekan telapak tangannya sendiri.

“Aku juga gak akan maksa,” kata Sasti lagi, bangkit dari duduknya. “Keputusan tetap di kamu.”

Ia melangkah keluar dari balik meja, berjalan ke arah rak depan. Menyapa pelanggan dengan senyum tipis, profesional, seolah tak ada badai yang sedang menggantung di atas kepala mereka.

Meninggalkan Alya yang duduk terpaku.

'Keputusan tetap di kamu.'

Kalimat itu justru terasa seperti borgol.

Karena jika ia menolak, ia bukan hanya menolak Sasti.

Ia menolak nasib orang-orang yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang perjanjian kotor itu.

Sasti kembali ke belakang membawa satu dus kecil.

“Ini pesanan terakhir dari supplier,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Mereka minta pelunasan minggu depan.”

Ia menatap Alya singkat.

“Kalau tidak, pengiriman berikutnya dihentikan.”

Sunyi kembali turun. Alya merasakan dadanya sesak.

Ia datang ke toko ini dengan keyakinan. Namun harus pulang dengan beban yang jauh lebih berat.

Dan di tengah tekanan yang tak diucapkan itu, Alya mulai menyadari sesuatu yang mengerikan, Sasti tidak perlu memaksa. Karena rasa bersalah sudah melakukan tugasnya dengan sempurna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rencana Pernikahan.

    ”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”“Cukup, Tante.”Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Keputusan

    Sunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko. Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rasa Bersalah

    Muak. Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu. Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas. Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa. Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu. “Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir. Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya. Lima juta. Sebulan. Sepuluh tahun. “Enam ratus juta,” desahnya. Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil. “Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mun

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Dilematis

    Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya. Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya. ”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak. Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan. Ia memejamkan mata. Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada. Levian Pradana Dinata Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi. 'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?' 'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpika

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Ide Tak Kalah Gila

    'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.' Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia. ”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang. kepalanya mendongak, menatap langit-langit. ”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruanga

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Tawaran Gila

    ”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!” Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status