LOGIN
”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!”
Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ibu Alya itu membelakangi, tak lama berbalik menenteng teko berisi air mendidih dan menuangkan nya ke dalam cangkir. Dapat Alya lihat sembab menghiasi wajah cantik nya. Tak segan Alya pun menghampiri, kemudian menarik salah satu kursi dan menjatuhkan bobot tubuh nya disana. ”Kenapa? Berantem lagi semalam?” tanyanya, tanpa menoleh. Tangan nya sibuk menuangkan Air putih ke dalam gelas untuk ia tenggak. Sasti tampak membuang muka sesaat, sembari menarik nafas dalam. Tanpa memberikan jawaban, ia berbalik menaruh teko di tangan nya ke tempat semula, sambil meraih sendok kecil yang menggantung pada standing nya. Tak lama, salah satu kursi yang letaknya terhalang satu kursi lain di samping Alya ia tarik. Bokong nya ia hempaskan kesana. Hembusan nafas kasar keluar dari bibir wanita yang mengenakan dress tanpa lengan itu. ”Levi sudah mengetahui semuanya, Al.” ujarnya. Alih-alih terkejut, Alya malah berdecak. Gelas yang sudah terangkat kembali turun dalam hitungan detik. Ia urung minum. “Padahal aku sudah pernah mengingatkan, Tante. Tapi Tante tetap memilih jalan itu. Sekarang kalau akibatnya datang, ya mau tidak mau harus dihadapi.” Sasti mendengus, tak sama sekali menampakkan ketersinggungan atas kalimat yang Alya layangkan. Sebagai Tante dan keponakan yang hanya berselisih usia sepuluh tahun, keakraban mereka lebih pantas terlihat seperti teman. Ya, teman. Terlebih ada fakta yang masih wanita itu sembunyikan rapat dari Alya bahwa status mereka bukanlah sebenar-benarnya keponakan dan Tante kandung. Sebab Alyandra Prameswari hanya merupakan putri angkat dari Hanum Prameswari. Kakak kandung Sasti. Andai tidak ada perjanjian antara dirinya dan mendiang Hanum, mungkin sejak dulu ia melepas Alya untuk hidup mandiri tanpa sokongan darinya. Beruntungnya, kali ini pikiran itu berbalik, kehadiran Alyandra bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan untuknya. ”Bukannya aku juga udah beberapa kali jelasin sama kamu,” katanya, namun Alya malah memutar bola matanya, ”aku juga begini ada alasannya. Kamu gak bakal ngerti tentang kebutuhan biologis yang gak dipenuhi..” Ia menatap Alya serius, lalu melanjutkan kalimat nya. ”Aku wanita normal, Al. Aku perlu di perhatikan, di berikan kasih sayang penuh setiap saat. Dan Levian gak bisa ngasih itu.” Bagi Alya, Kata-kata itu justru terdengar seperti pembelaan atas hal gila yang sang Tante lakukan. Padahal jika di pikir, banyak cara yang lebih bermartabat dari sekedar berselingkuh dan membagi tubuh nya untuk laki-laki lain. Kalau Alya jadi Levian pun, tentu tak akan terima. “Aku ngerti, Tan, walaupun belum sepenuhnya memahami problematik rumah tangga. Dan aku pikir, harusnya Tante punya pilihan yang lebih bijak,” ucap Alya pelan. “Kalau emang udah gak bahagia, seharusnya diselesaikan dulu. Bukan dengan melibatkan orang lain. Apalagi malah selingkuh sama si Mbah Dukun itu.” ”Namanya Alam, Al. Apa-apan sih kamu, temennya Mbah dukun temennya Mbah dukun.” protes Sasti tak terima. “Iya. Alam.” Alya menghela napas pendek. “Alam yang ikut memperumit semesta orang lain.” Sasti hanya mendengus. Susah memang bicara dengan Alya. Meski lebih banyak memahami setiap kondisi, tak jarang Alya terkesan lebih berani menasehati. Dan ia, yang merasa jauh lebih dewasa, jauh lebih banyak memiliki pengalaman, terkadang merasa tak terima. Untung di balik sikap menyebalkannya, Alya memiliki kepedulian yang tak bisa Sasti sangkal. Timbal balik yang baik atas sepuluh tahun dirinya berjuang menyokong hidup putri tunggal dari mendiang Kakak nya itu hingga bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Meski belum selesai. Kedua nya terlibat dalam diam. Sibuk dengan kemelut pikirannya masing-masing. Hingga tak lama, keheningan itu pecah saat Sasti kembali bersuara. ”Bercerai dengan Levian itu nyatanya tidak sesederhana yang kamu bayangkan, Al. Selama ini, kamu cuma gak tahu kalau tokoku masih bisa berjalan atas bantuan besar dari dia. Kalau aku menceraikannya sejak dulu, dari mana aku bisa dapat uang untuk mencukupi kebutuhan, bahkan menyekolahkanmu sampai sekarang.” katanya. Alya kali ini tak menjawab. Mendengar itu, hatinya sedikit tersentil oleh rasa bersalah. Pasalnya, yang Sasti katakan benar adanya. Bahkan sampai sekarang, sampai dirinya mendapatkan pekerjaan di samping jadwal kuliahnya, aliran dana dari Sasti masih menjadi penyelamat pendidikannya. Gajinya setiap bulan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan untuk cicilan motor yang tiga bulan lagi akan segera bisa ia lunasi. ”Dan sekarang dia marah besar, mengancam akan bercerai lalu menarik semua bantuan yang pernah masuk ke toko. Aku bisa bangkrut, Al.” Sasti menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di detik itu, Alya bisa melihat ketakutan sang Tante. Ia jadi merasa bersalah. ”Andai aku bisa bantu, pasti aku bakal berusah bantu Tante. Tapi Tante juga tahu sendiri, jangankan bisa bantu jadi donatur buat toko, buat biaya kuliah aja aku sering nya di bantuin dari hasil penjualan di toko, kan?” Alya menuduk sesaat, sambil membuang nafas kasar. Namun anehnya, saat ia kembali mendongak, bukan lagi kesedihan yang ia tangkap dari bias milik Sasti. Melainkan semburat senyum lega, layaknya seseorang baru saja mendapatkan oase di tengah-tengah pandang pasir yang tandus nan gersang. Alya menyipitkan mata, menunggu adik dari Almarhumah sang Mama yang sudah kembali membuka bibir hendak bicara. ”Sebenarnya ... kamu bisa bantu aku, Al. Dan caranya pun, cukup mudah.” ungkap nya. Makin lah menukik tajam kerutan pada celah antara kedua alis Alya. ”Cara apa?” Sasti menghela nafas panjang, membasahi bibir nya seolah berusaha mencari kata yang tepat untuk ia sampaikan. ”Eum ...,” gumamnya ragu, ”semalam, aku dan menawarkanmu menjadi Istri pengganti untuk Levian. Sebagai kompensasi, agar dia tidak menuntut pengembalian uang.” ”Apa!” Alya memekik, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ”tawaran gila apa itu, Tante? Gak usah aneh-aneh. Aku masih mau menyelesaikan kuliahku.” Melihat penolakan yang serta merta keluar dari bibir Alya, Sasti memasang wajah sendu. Menarik tangan gadis itu, untuk kemudian ia genggam. ”Ayolah, Al. Kuliah bisa di selesaikan walaupun kamu sudah berstatus istri Levian. Pernikahan tidak akan menjadi hambatan.” Alya tetap menggeleng, “Justru karena ini pernikahan, Tante,” ucap Alya lirih namun tegas. “Aku tidak bisa mengorbankan hidupku hanya untuk menutup kesalahan orang lain. Apa yang akan orang bicarakan nanti, aku menikahi mantan suami tanteku sendiri.” Membayangkannya saja, cukup untuk membuat Alya menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Walau sesaat. Kedua pelupuk mata Sasti langsung di penuhi oleh genangan. Suaranya melemah, ”Jadi kamu lebih memperdulikan pandangan orang, ketimbang nolongin Tante yang sudah membiayai hidupmu selama sepuluh tahun ini.” Kegamangan menghantam perasan Alya. Ia melepaskan genggaman tangan Sasti, kemudian mengusap wajahnya kasar. ”Tapi ini pernikahan, Tante. Bukan hal kecil yang bisa kalian anggap main-main.” sergahnya. Kesal, kecewa, takut, dan kamarahan berpadu menjadi satu. Bagaimana mungkin, Sasti bisa dengan tega merekomendasikan dirinya menjadi istri pengganti untuk suaminya sendiri. Itu sama saja dengan menjual nya. ”Lagi pula, belum tentu Om Levi nya mau.” tambahnya. Pemikiran itu seperti angin segar. Ya, benar, melihat dingin dan datarnya selama ini sikap Levian selama mereka tinggal dalam satu atap, Alya pikir tawaran Sasti belum tentu di sanggupi pria itu. Bahkan bertegur sapa pun nyaris tidak pernah. Bagaimana mungkin ia dan laki-laki seusia Sasti itu bisa menjadi pasangan suami istri. Terlebih, rumor yang ia dengar dari sang Tante, yang mengatakan bahwa suaminya impoten, Alya pikir tidak akan ada yang di untungkan dari pernikahan mereka. ”Levian mau, Al. Dia justru tak berpikir panjang dan langsung menyanggupi.” kata Sasti, seperti sambaran petir yang berhasil menghanguskan kepercayaan diri Alya. Gadis itu membelalak untuk kesekian kali. ”Tidak mungkin, Tante!” Ia beranjak dari duduknya. ”Tidak mungkin bagaimana? Nyatanya Levian siap, dan aku pun sanggup merelakan dia untukmu. Tinggal kamu nya yang gak usah banyak drama.” ”Drama?!” Alya menggeleng kecewa, ”Tante keterluan! Aku tetap gak mau mengikuti rencana gila kalian.” tegas nya, sambil berbalik kemudian mengayunkan langkah cepat meninggalkan ruang makan. Namun baru beberapa langkah, suara Sasti yang kembali menginterupsi, membuat nya berhenti seketika. ”Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.””Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”“Cukup, Tante.”Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang
Sunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko. Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya
Muak. Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu. Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas. Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa. Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu. “Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir. Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya. Lima juta. Sebulan. Sepuluh tahun. “Enam ratus juta,” desahnya. Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil. “Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mun
Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya. Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya. ”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak. Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan. Ia memejamkan mata. Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada. Levian Pradana Dinata Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi. 'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?' 'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpika
'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.' Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia. ”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang. kepalanya mendongak, menatap langit-langit. ”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruanga
”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!” Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ib







