Share

Ide Tak Kalah Gila

Penulis: Lhala Ahbib
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 13:01:23

'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.'

Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia.

”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang.

kepalanya mendongak, menatap langit-langit.

”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruangan yang sama, beraktivitas setiap hari dengan pria yang bahkan jarang sekali menyapa. Meski setiap hari bertemu.”

Tiba-tiba gadis itu bergidik.

Hampir tiga puluh menit ia menunda kepergiannya menuju kampus, namun selama itu pula gejolak dalam kepalanya hanya berputar tanpa memberikannya jalan keluar.

**

**

”Hah, serius?” pekik Larisa. Satu-satunya sahabat Alya, ketika gadis itu menemuinya, dan menceritakan apa yang ia alami, dengan niat berusaha mengurangi beban, ”bukan nya selama ini aku lihat rumah tangga Tante Sasti sama Om Levian harmonis-harmonis aja, kenapa tiba-tiba dia nawarin kamu jadi—”

Kalimat itu tak selesai, tertahan oleh tangan Alya yang membekap bibir nya.

”Kenapa gak sekalian aja pake toa? Biar jadi pengumuman?” gerutu Alya. Padahal ia tadi bicara sepelan mungkin agar tak mengundang perhatian berpasang-pasang telinga yang ada di sekitarnya.

Larisa hanya cengengesan.

Walau sikap nya kerap kali menyebalkan, tapi Alya tahu betul bahwa sahabatnya mampu tempat terbaik untuk menampung lalu menyimpan semua keluh kesah, menjadi bahu yang kokoh untuk nya menyandarkan beban.

Terkadang pula, bisa memberikan Alya solusi atas masalah nya. Terkadang, hanya terkadang. Sisa nya ... ada gila-gila nya.

”Aku keceplosan, Al. Lagian ceritamu terlalu antimainstream, ” Larisa menurunkan suaranya, nyaris berbisik, tubuh nya sedikit ia condong kan ke depan. Bibir nya masih sibuk mengunyah makan siang yang tengah mereka nikmati di kantin itu, ”masa jadi istri Om Levian?”

”Ya makanya itu. Bayangin aja udah bergidik aku. Dia lebih tua dari Tante Sasti lho, dua tahun. Otomatis dua belas tahun selisihnya sama aku.” Setiap kali ingatan Alya terlempar pada hal itu, ia selalu ingin menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

”Tapi walaupun jauh lebih dewasa, dia hot, lho, Al. Apalagi bakal jadi duda, ya, otomatis jadi hot duda.” Kekehan Larisa menguar, namun justru membuat Alya merasa muak, ”badannya tinggi, tegap, rahangnya kokoh, iris hitam kecoklat-coklatan nya tegas. Ketampanan nya juga, diatas rata-rata. Aku rasa ... gak terlalu buruk.”

”Gak terlalu buruk kepalamu.” Alya membuka wajah nya, mendelik. Namun hanya dalam hitungan detik, bola matanya berputar malas, ”kamu tahu, dia lebih dingin dari kulkas empat pintu. Misal kalau jalan, bertubrukan sama aku juga dia gak bakal nanya atau minta maaf. Padahal kita tinggal dalam satu rumah yang sama. Seperti itu kamu bilang gak terlalu buruk?"

Larisa hanya mengangguk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Kebingungan Alya benar-benar berhasil menular padanya.

”Lagi pula nih, Sa,” Alya melanjutkan. Posisi duduknya ia condong kan ke arah Larisa, agar suara bisikannya sampai dengan baik ke telinga sahabatnya itu, ”katanya, Om Levian itu impoten. Makanya Tante Sasti memilih selingkuh,”

”Apa!” Larisa malah memekik. Membuat Alya meringis.

Buru-buru, Larisa memperbaiki intonasi nya. Meski tetap saja, banyak pasang mata yang akhirnya menatap mereka.

Namun selama inti pembahasan mereka tak terdengar, Alya maupun Larisa tak peduli.

”Bilang, Sa, mau di siram pake Air Juice atau pake sambel Mie ayam ini?”

Larisa cengegesan lagi, ”Ya ... maaf, Al. Lagian info dari kamu benar-benar bikin aku kaget untuk kesekian kalinya.”

Alya mendengus, ”Nah, kaget kan? Kamu cuma denger, aku ngalamin!”

”Te—terus, kalau impoten kayak gitu, apa yang mau kamu dapat dalam pernikahan itu? Kita sebagai wanita kan gak mungkin, ya, cuma kenyang makan sama bergaya.”

”Ya itu dia yang aku pikirin, Sa. Selain nanti bagaimana tanggapan teman dan kerabat yang lain, aku juga mikirin ke arah situ.”

Alya mengambil satu sendok Mie Ayam nya, kemudian memasukkan nya ke dalam mulut dengan cepat. Meski wajah sedih dan frustasi tetap ia pasang, biasanya keinginan makan nya tak pernah surut.

”Ya udah, kalau gitu tolak aja, Al.” kata Larisa lagi, setelah beberapa saat termagu, seperti tengah membantu Alya mencarikan solusi.

”Lalu biaya sepuluh tahun biaya hidup yang Tante Sasti minta, gimana?” Alya mendelik, ”aku jual ginjal aja kayaknya gak bakal cukup buat bayar semuanya.”

Tak memiliki jawaban, Larisa malah membuang nafas kasar.

Untuk beberapa saat keduanya terjebak dalam keheningan. Sampai akhirnya suara Larisa kembali memecah.

”Aku punya ide, Al.”

Alya menyipitkan mata, ”Ide apa? Please kali ini jangan gila, Sa.”

“Enggak, aku serius. Dan ini aku rasa keputusan terbaik. ”

Alya malah menatap curiga. Namun ia biarkan Larisa melanjutkan kalimat nya.

”Gini, Al. Impotensi Om Levian itu justru harusnya bagus buat kamu. Kamu gak mau, kan, sebenarnya nikah sama dia? Cuma terpaksa?”

Alya mengerutkan kening, tetapi tak urung mengangguk.

”Lalu Om Levian juga kaya, kan?"

Gadis itu mengangguk lagi, walau sejauh itu, belum dapat ia tebak kemana Arah pembicaraan Larisa.

”Nah, ini kesempatan buat kamu hidup enak tanpa harus capek-capek kerja seperti sekarang. Kamu menikah, hidup mu di biayai, dan kamu gak perlu melayani dia di tempat tidur. Nanti selama menjalani pernikahan, dia pasti kasih kamu uang bulanan banyak, dan itu harus kamu tabung. Setelah terkumpul, kamu minta cerai dengan jadiin impotensi Om Levian sebagai alasan. Dan kamu bebas.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rencana Pernikahan.

    ”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”“Cukup, Tante.”Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Keputusan

    Sunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko. Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rasa Bersalah

    Muak. Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu. Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas. Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa. Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu. “Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir. Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya. Lima juta. Sebulan. Sepuluh tahun. “Enam ratus juta,” desahnya. Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil. “Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mun

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Dilematis

    Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya. Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya. ”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak. Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan. Ia memejamkan mata. Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada. Levian Pradana Dinata Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi. 'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?' 'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpika

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Ide Tak Kalah Gila

    'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.' Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia. ”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang. kepalanya mendongak, menatap langit-langit. ”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruanga

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Tawaran Gila

    ”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!” Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ib

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status