Share

Dilematis

Author: Lhala Ahbib
last update publish date: 2025-12-27 20:50:20

Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya.

Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya.

”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak.

Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan.

Ia memejamkan mata.

Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada.

Levian Pradana Dinata

Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi.

'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?'

'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpikan.'

Alya bangkit dari duduknya, melangkah mondar-mandir di kamar kos yang sempit. Jemarinya mencengkeram ujung baju, menariknya tanpa sadar.

“Ini gila …” bisiknya.

Namun, angka itu kembali muncul di kepalanya.

Sepuluh tahun.

Empat sampai lima juta per bulan.

Jumlah yang bahkan tak sanggup ia bayangkan untuk dilunasi seumur hidupnya.

Ia teringat wajah Sasti saat mengucapkan kalimat itu. Senyumnya dingin. Tatapannya tajam. Seolah Alya bukan keponakan, melainkan barang yang bisa ditukar dengan kesepakatan.

'Kalau kamu menolak, kamu bayar.'

Tak ada ruang untuk menawar.

Di tengah-tengah kegundahan yang tak kunjung menemukan titik ujung, ponsel Alya tiba-tiba bergetar.

Satu pesan masuk dari kontak yang sejak dulu ia beri nama Om Tengil.

[Besok malam, kita bicara.]

Hanya itu. Tanpa emotikon. Tanpa penjelasan. Tanpa pilihan.

Jantung Alya berdegup lebih kencang. Telapak tangannya mendadak dingin.

Belum sempat ia mengetik balasan, pesan kedua muncul kembali.

[Gak perlu bawa motor, aku yang akan menjemputmu ke rumah. Dan kita akan mencari tempat untuk bicara nya bersama.]

Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang, menatap pesan itu lama. Terlalu lama.

“Bicara apa?” gumamnya, meski tahu jawabannya.

Larisa benar. Secara logika—jika logika bisa dipakai dalam situasi segila ini—semua terdengar rapi.

Terencana. Menguntungkan.

Tapi hatinya menolak.

Karena pernikahan bukan sekadar tanda tangan. Bukan sekadar hidup dibiayai. Dan bukan pula permainan strategi.

Itu tentang harga diri yang di gadaikan demi uang. Tentang pilihan. Tentang masa depan yang, sekali dilangkahkan, tak bisa ditarik kembali dengan mudah.

Alya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Jika ia menolak, hidupnya akan hancur oleh hutang yang tak pernah ia buat. Dan jika ia menerima, ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Entah sampai kapan.

Ia menutup mata.

“Kenapa harus aku …?” lirihnya.

Di luar, malam kian larut. Lampu kota berkelip, seolah menertawakan kegelisahannya. Dan di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan itu, Alya tahu satu hal pasti, apa pun keputusannya nanti, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

**

**

Sebuah Lexus Coupe Sport Luxury berwarna hitam melaju mulus, nyaris tanpa suara, membawa dua penumpang di dalam kabinnya, berhenti tepat di depan sebuah restoran bergaya klasik Eropa, dengan fasad bata ekspos dan lampu-lampu temaram yang memantulkan cahaya hangat ke trotoar basah.

Alya turun perlahan. Tangannya menahan sedikit kegugupan saat menutup pintu mobil. Napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya ia melangkah masuk.

Pria itu berjalan tenang di depan. Tidak memerintah, namun membuat Alya merasa terpaksa mengekorinya dari belakang.

Rupanya, pria itu membawa Alya menuju meja yang terletak di dekat jendela, dengan dua kursi yang tersusun rapi saling berhadapan. Jelas bukan kebetulan. Semuanya telah disiapkan. Jarak duduk, arah pandang, bahkan pencahayaan yang sengaja dibuat temaram, cukup untuk menyembunyikan ekspresi namun tidak untuk menghindari tatapan.

Levian menarik salah satu kursi, gesturnya sopan tapi dingin, nyaris seperti formalitas yang hampa makna.

“Duduk.”

Satu kata.

Berhasil membuat Alya mendengus kecil.

Levian sudah duduk di sofa tunggal, punggungnya tegak, kedua tangannya bertaut di atas lutut. Kemeja abu-abu yang ia kenakan disetrika rapi. Seperti biasa, tak ada satu pun yang tampak berantakan darinya.

Meski enggan, Alya menuruti. Duduk di sofa berseberangan, menjaga jarak. Punggungnya kaku.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Levian menatapnya.

Tatapan itu datar, meneliti, seolah Alya adalah berkas yang sedang ia pertimbangkan untuk ditandatangani.

“Aku tidak akan bertele-tele,” ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, tenang, namun terasa tajam. “kamu pasti sudah dengar semuanya dari Sasti.”

Alya mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering.

“Dan kamu juga tahu kenapa aku setuju.”

Itu bukan pertanyaan. Harusnya menjadi pertanyaan.

Alya menelan ludah. “Karena … pernikahan Om dan Tante Sasti sudah tidak bisa diselamatkan, Tante Sasti menjualku, dan Om membelinya? Kalian sama-sama gila.” gadis itu membuang pandangan. Muak.

Levian tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras tipis.

“Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan,” balasnya kemudian. “Dan meski memang terdengar gila, tapi aku benar-benar membutuhkanmu.”

Jujur. Terlalu jujur.

Alya meremas ujung tasnya.

“Dan kamu,” lanjut Levian, “tentunya butuh aku untuk menjadi solusi atas semua yang akan kamu hadapi di kemudian hari.”

Kalimat itu membuat dada Alya terasa riuh. Fakta, tapi begitu sulit untuk Alya terima.

“Ini bukan paksaan,” tambahnya, seolah membaca raut wajah Alya. “tapi aku juga tidak ingin memberimu banyak pilihan.”

Alya hampir tertawa. Egois, itu yang ia tangkap dari sosok Levian Pradana Dinata.

Andai pria itu memberikan opsi kedua selain menjadikan nya istri, misal pembantu. Tentu Alya akan lebih memilih opsi kedua itu.

“Jadikan saja aku pembantu, Om. Itu jauh lebih baik, ” suara Alya terdengar lebih kecil dari yang ia harapkan, “asal Om masih tetap membantu Tante Sasti, dan aku tidak perlu membayar sepuluh tahun biaya yang sudah kuhabiskan untuk hidup.”

Levian menatapnya lama. Kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan iba. Tapi … entah apa.

“Aku tidak kekurangan pembantu,” katanya. “jadi aku tidak butuh.”

“Lalu apa tujuan Om mengajakku bicara di sini?”

”Hanya untuk memastikan kesiapanmu.” jawab Levian yakin.

Satu kalimat itu meluncur begitu saja. Seolah tanpa beban.

Hening.

Alya lebih memilih diam, menghembuskan nafas kasar. Terus bicara pun, ia rasa tak akan ada guna nya.

Beberapa saat setelahnya, untuk pertama kalinya, Levian mengalihkan pandangan. Ia berdiri, berjalan ke arah jendela besar, membelakangi Alya.

“Alya,” ucapnya pelan, “pernikahan ini akan sederhana. Tanpa tuntutan. Tanpa drama.”

”Tapi—”

”Dan aku tidak menerima syarat yang tidak masuk akal dalam bentuk apapun di pernikahan ini,” Levian memotong, ”jika kamu bersedia.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Kejutan Untuk Sasti

    Suara Levian terdengar berat, bergetar tipis oleh sesuatu yang belum sepenuhnya reda. Malam itu tak lagi dipenuhi perdebatan. Tak ada lagi rumor yang berdiri sebagai tameng. Yang ada hanya dua manusia asing yang terikat janji, saling menguji batas, lalu perlahan melebur dalam keheningan yang berbeda. Alya tak pernah membayangkan, bahwa keyakinan yang ia bangun kokoh bisa runtuh hanya dalam satu malam. Ia telah memberikan satu-satunya hal paling berharga dalam diri. Tanpa paksaan. bukan pula oleh kemarahan. Melainkan oleh rasa penasaran konyol atas pembuktian yang akhirnya tak dapat ia bantah. Tirai malam menjadi saksi bagaimana jarak yang tadi terasa selebar jurang, perlahan menyempit. Nafas yang semula saling berbenturan dalam adu ego, berubah menjadi irama yang mencoba menemukan selarasnya. Tak ada lagi kata-kata menantang. Yang tersisa hanya bisikan-bisikan pelan, yang tak seluruhnya bisa diterjemahkan oleh logika. Dan ketika akhirnya semuanya mereda, Alya hanya mampu

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Biar Kubuktikan Kebenaran Tentang Rumor itu ...

    Bukan hanya terkesiap, tetapi kedua netra Alya membelalak sempurna. Wajahnya pucat pasi, kacau. Bahkan ia tak mampu memikirkan apapun selain bayangan tentang apa yang akan terjadi malam ini. Malam dimana Levian Pradana Dinata pasti akan meminta hak nya sebagai seorang suami. Sampai-sampai, ia lupa pada rumor impotensi yang menjadi salah satu alasan bersedianya ia terseret dalam masalah yang sedang Sasti hadapi. Beruntung lupanya hanya beberapa saat. Ketika ia mengingatnya kembali, desakan ketakutan itu perlahan melemah. ”Om, gak usah bercanda.” katanya, dibuat setenang mungkin. Di balik pintu yang hanya terbuka sejengkal itu, Alya berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Meski jemarinya masih terasa digenggam kuat oleh tangan Levian yang terulur dari luar.Hening beberapa detik. Hanya terdengar suara napas mereka, terpisah daun pintu, namun terasa terlalu dekat.“Menurutmu aku bercanda?” tanya Levian akhirnya. Suaranya rendah. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat tengkuk

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Membangunkan Singa Yang Sudah Lama Tidur

    Kalimat itu menghantam dada Sasti seperti palu raksasa yang jatuh tanpa aba-aba. Wajahnya memerah, napasnya memburu, harga dirinya terasa dipereteli di hadapan dua pasang mata. Demi apa pun, tak pernah terlintas dalam benaknya Levian akan setegas, dan setelanjang itu mempermalukannya. “Gak bisa seenaknya begitu, Lev!” teriaknya, suaranya memantul di dinding ruang yang luas. “Jangan mentang-mentang kamu sudah menikahi Alya, kamu bisa nyingkirin aku sesuka hati. Aku juga berhak atas rumah ini!” Levian tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangkat satu alis, lalu perlahan menurunkan Alya dari gendongannya. Gerakannya tenang, seolah tak ada badai yang sedang mencoba merobohkan kesabarannya. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Sasti. “Hak?” ulangnya datar. “Kamu lupa, semua hakmu atas apa yang kumiliki sudah gugur sejak kamu memilih menjadi jalang untuk laki-laki itu? Kenapa tidak kamu minta saja hakmu padanya?” Ucapan itu tidak keras. Justru karena dingin dan rata, ia terasa lebih

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Kamar Utama

    Suara penghulu terdengar tenang, teratur, membacakan rangkaian ijab kabul dengan khidmat. Ruangan itu hening. Hanya detak jam dinding dan suara napas tertahan yang terdengar samar. Alya menunduk, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Telapak tangannya dingin, meski ruangan tak berpendingin berlebihan. Ia mencoba mengatur napas. 'Ini hanya formalitas,' katanya pada diri sendiri. 'Hanya sebuah perjanjian.' 'Hanya sementara.' Namun ketika nama lengkapnya disebut dengan lantang, sesuatu di dadanya bergetar. “Saudara Levian Pradana Dinata bin—” Suara itu seperti datang dari kejauhan. Alya mengangkat pandangannya tanpa sadar. Tatapan Levian lurus ke depan. Tegas. Tidak ragu. Tak ada keraguan di wajah lelaki itu. Tak ada tanda keterpaksaan, seolah ini memang keputusan yang sudah lama ia pastikan. Ijab kabul pun diucapkan. Lancar dalam sekali tarikan napas. Sah. Satu kata itu menggema di kepala Alya lebih keras dari suara apa pun. Sah. Beberapa orang meng

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Pernikahan.

    Kediaman megah berlantai tiga di sebuah kawasan perumahan elite di penuhi oleh gema kemarahan seorang wanita hampir setengah baya. Suara gebrakan meja memecah sunyi. Levian hanya duduk memasang wajah datar seolah kemarahan itu sama sekali tak menyentuh egonya. ”Setelah ini, apa ada lagi rencana yang lebih gila dari ini, Levi?” sergah nya, ”kamu menikahi wanita rendahan itu saja sudah membuat Mama muak! Baru saja Mama bisa bernafas setelah mendengar bahwa kamu sudah menceraikannya. Dan sekarang ... ” Wanita yang pakaiannya berharga fantastis itu menjeda kalimatnya, menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menurunkan suaranya demi menjaga keadaannya sendiri. Hanya selang beberapa detik, ia melanjutkan, ”Sekarang kamu menikahi keponakannya yang katanya juga gak jelas asal-usul sebenarnya. Apa sih yang ada di pikiran kamu, Levian?” Levian membuang nafas kasar, kemudian menoleh pada sang Ibu. ”Sudah, marah-marah nya?” tanya nya, tenang. Wanita paruh baya itu mendengus kesal.

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rencana Pernikahan.

    ”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—” “Cukup, Tante.” Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti. Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan. “Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.” Senyum di bibir Sasti sedikit memudar. “Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.” Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat. Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status