LOGINSunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko.
Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya tak akan mudah ia cari. Melainkan oleh wajah-wajah cemas di toko itu. Bu Rini. Dimas. Pegawai-pegawai lain yang bahkan hanya tahu nama Levian Pradana Dinata, Sasti Arumdita, Alyandra Prameswari, tapi tidak tahu perjanjian kotor apa yang sedang dipertaruhkan. Mereka hanya tahu: besok harus tetap bekerja. Anak harus tetap sekolah. Cicilan harus tetap dibayar. Dan keluarga harus tetap makan. Alya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Kenapa harus aku …,” bisiknya nyaris tak bersuara. Ia mencoba menalar. Kalau ia menolak, ia memang menyelamatkan dirinya sendiri. Ia bebas. Ia tidak terikat pada pria yang membuat perutnya mual hanya dengan cara bicara. Hanya harus rela menggadaikan kebebasan nya demi hutang hidup yang entah kapan bisa sampai terlunasi. Jika saja enam ratus juta itu bisa instan ia dapatkan, mungkin itu bisa membantu meringankan beban toko, tanpa harus mengikuti ide gila. Tapi ... ini enam ratus juta. Ia menghela nafas dalam, dan membuangnya secara kasar. “Menikah itu bukan mati,” gumamnya, Tiba-tiba. Hampir seperti naluri yang mengajaknya mencoba berdamai dengan logika yang sama dinginnya seperti milik Levian. “Aku masih bisa bernapas. Masih hidup.” Namun kalimat itu tidak menenangkan. Justru membuat dadanya makin sesak. Karena ia pikir, yang akan mati pelan-pelan adalah dirinya yang sekarang. Alya mengeluarkan ponsel. Jarum jam bergerak. Notifikasi masuk. Grup chat pegawai toko, yang entah kenapa ia masih tergabung di dalamnya—ramai dengan pesan-pesan cemas. [Semoga ada jalan keluar.] [Bu Sasti kelihatan capek banget hari ini.] [Kalau tutup, gue gak tau mau kerja di mana.] [Iya. Sementara sejauh gue berjuang nyari kerjaan, cuma toko ini yang mau nerima karyawan dengan pendidikan rendah kayak gue. Mana nyokap harus berobat jalan karena sakit diabet nya.] [Gue, harus nyicil hutang bekas pengobatan Almarhum Bapak.] Pesan-pesan itu ditambahi dengan emoticon menangis. Seketika bergetar di tangan Alya. Cukup. Gadis itu menutup mata. Di dalam kepalanya, dua bayangan berdiri saling berhadapan. Yang satu adalah dirinya, lelah, miskin, tapi bebas. Yang lain, dirinya yang lain, terikat, tercekik, tapi … semua orang selamat. Air mata jatuh tanpa Alya sadari. “Aku benci ini,” lirihnya. Namun kebencian itu tidak mengubah apa pun. Pelan-pelan, Alya menegakkan punggungnya. Tangannya yang gemetar berhenti. Ada sesuatu yang mengeras di dadanya—bukan keberanian, bukan juga keikhlasan. Melainkan pasrah yang disertai kesadaran penuh. Ia berdiri. Langkahnya berat, tapi arahnya jelas. Bukan ke kost. Bukan ke tempat aman. Melainkan ke keputusan yang sejak awal ingin ia hindari. ** ** Malam harinya, Alya kembali ke rumah. Tempat selama ini ia pulang jika tak menginap di kost milik Larisa. Pandangan nya langsung tertuju pada Sasti yang tengah termenung di meja makan, menatap kosong tanpa melirik pada berbagai sajian yang sudah di persiapkan di atas meja. ”Aku pulang,” Sasti langsung menoleh, namun ekspresi nya tak berubah. Juga tak menjawab, hanya dadanya yang terlihat naik, kemudian turun lagi seirama dengan kedua bahu nya. “Aku sudah siapin makan, duduklah.” Alya menurut, menarik salah satu kursi kemudian menghempaskan bokongnya disana. “Aku mau bicara,” katanya. Berhasil menciptakan setitik binar di mata Sasti. Alya rasa, sasti memang sudah menunggu jawaban itu. Tapi entah mengapa kini bagi Alya itu hal yang wajar. ”Kalau kamu mau bilang soal ketidak setujuanmu tentang Ide ku yang terdengar gila ini, sebaiknya gak perlu, Al. Aku gak mau gila sekarang karena mikirin ini semua.” Lagi-lagi Alya membuang nafas kasar, ia mendengus. ”Lagian Tante juga cari masalah sendiri, coba aja bertahan sama Om Levi, nerima semua kekurangan nya tanpa harus mengkhianatinya. Semua juga gak bakal kayak gini.” ”Al, harus berapa ratus kali aku jelasin sama kamu, aku wanita normal. Aku dewasa, aku butuh—” ”Lalu gimana nanti aku, kalau aku benaran menikah sama dia?” Alya memotong, suaranya satu oktaf lebih tinggi dari pada Sasti, ”Tante pikir aku gak normal, aku gak dewasa?” ”Tapi beda, Al. Kamu bilang kamu gak mau sama Levi, justru impotensi yang di alaminya itu bisa kamu jadiin kesempatan, kan?” Alya mengerti dengan maksud Sasti, kurang lebih, sama seperti yang Larisa katakan kemarin. Tapi entah mengapa, bagi Alya itu masih terdengar tidak masuk akal. ”Gini aja, kamu nikah sama Levian sementara. Hanya sampai aku bisa mengumpulkan semua uang yang nanti Levian berikan untuk toko. Setelah terkumpul, dan tokoku maju lagi, kamu ceraikan dia." papar Sasti, seolah tanpa beban. Kalimat itu berhasil membuat Alya mendelik tajam. Namun belum sempat ia membalas, Sasti melanjutkan seolah tak memberinya kesempatan. ”Lagi pula ... mungkin suatu saat aku akan mempertimbangkan untuk meninggalkan Alam, dan kembali pada Levian. Apalagi sekarang dia sedang dalam masa pengobatan, katanya. Kalau dia sembuh, kita ganti peran lagi, kamu yang pura-pura menyakiti Levian, dan aku akan masuk lagi sebagai penyelamat di hidup dia.” ”Tante gila!” Alya memekik, ”Tante selingkuh, menganggap pernikahan sebagai mainan, menumbalkanku, dan bahkan—” ”Aku udah bilang, Al. Keputusan ada di kamu. Aku mikir gitu juga karena semua sudah terlanjur.” Hening menyelimuti sejenak. Hanya suara deru nafas Alya yang perlahan berubah tenang. Terlebih, ketika pikiran nya tertuju pada apa yang sudah ia saksikan dan pertimbangan tadi siang. Ia kalah lagi. ”Baiklah, kalau gitu. Aku mau mengikuti ide gila Tante. Tapi bukan untuk mendukung kegilaan itu, aku cuma mikirin orang-orang yang sama sepertiku, jadi korban. Dan aku mau, penderitaan nya cukup di aku.” Seketika, semburat senyum terbit di bibir Sasti.”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”“Cukup, Tante.”Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang
Sunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko. Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya
Muak. Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu. Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas. Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa. Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu. “Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir. Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya. Lima juta. Sebulan. Sepuluh tahun. “Enam ratus juta,” desahnya. Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil. “Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mun
Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya. Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya. ”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak. Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan. Ia memejamkan mata. Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada. Levian Pradana Dinata Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi. 'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?' 'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpika
'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.' Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia. ”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang. kepalanya mendongak, menatap langit-langit. ”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruanga
”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!” Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ib







