Share

Rencana Pernikahan.

Author: Lhala Ahbib
last update Last Updated: 2026-02-12 22:13:50

”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum.

Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut.

“Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”

“Cukup, Tante.”

Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.

Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.

“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”

Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.

“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”

Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.

Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang.

Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang dititipkan mendiang sang Kakak itu sebagai beban. Terlebih ia tahu betul, bahwa Alya bukan putri kandung dari Herwina.

Dan kini, setelah merasa kehadiran Alya cukup menguntungkan, ia tak perlu lagi jawaban mengapa Herwina Prameswari sang Kakak dulu mewanti-wanti agar ia menjaga Alya layaknya keponakan kandung.

Senyum di bibirnya perlahan-lahan terbit.

**

**

Di kamarnya, Alya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tepi ranjang. Foto kebersamaannya dengan Herwina Prameswari yang ada di atas pangkuan, ia sentuh penuh kelembutan.

Ia biarkan sesaknya terurai melalui lelehan airmata yang menetes membasahi bingkai kecil itu.

”Ma, bilang sama Alya, keputusan Alya udah bener, kan?” gumamnya, meski ia tahu jawaban akan mustahil ia dapatkan.

Angin malam menyusup lewat celah jendela yang tak tertutup rapat. Tirai tipis bergoyang pelan, seolah ikut menjadi saksi kebimbangan yang menggantung di kamar itu.

Alya memejamkan mata.

Bayangan wajah Levian muncul tanpa diminta.

Tatapan dingin itu. Tenang. Sulit ditebak.

Pria yang dulu selalu menjaga jarak setiap kali mereka berada di satu ruangan. Pria yang bahkan tak pernah berbicara padanya lebih dari seperlunya.

Dan kini … ia harus menjadi istrinya.

Istri dari mantan suami tantenya sendiri.

Alya tertawa kecil. Hambar.

“Lucu banget hidup Alya, Ma,” bisiknya serak. “dulu Mama bilang jangan gampang percaya sama orang. Sekarang Alya malah menyerahkan hidup ke orang yang bahkan nggak pernah Alya pahami.”

Jauh dari dasar hatinya, Alya tak terima.

Hanya satu hal yang ia yakini akan menjadi penyelamat dalam pernikahan itu, yaitu impotensi yang Levian idap.

Ya, setidaknya ia akan terbebas dari satu hal penting tanpa harus bersusah payah menghindari.

Tok. Tok.

Ketukan pelan di pintu membuat Alya tersentak.

Cepat-cepat ia mengusap pipinya.

“Masuk,” ucapnya lirih.

Pintu terbuka perlahan. Sasti berdiri di ambang, wajahnya kembali lembut seperti biasa.

“Levian mau ketemu kamu besok pagi,” katanya tanpa basa-basi. “dia minta kamu datang ke kantornya. Jam sepuluh.”

Alya terdiam beberapa saat.

“Keputusanku tadi, sudah Tante sampaikan ke dia?”

Sasti mengangguk. Sementara Alya mendesah lirih.

Namun tak urung pula, setelahnya gadis itu mengiyakan tanpa memprotes.

”Dia ...” Sasti berkata lagi, ”pasti minta kamu datang buat bahas detail pernikahan kalian. Kamu harus ingat, Al, dia itu orangnya nggak suka bertele-tele.”

Alya hanya kembali mengangguk, tanpa menoleh ke arah Sasti yang berlalu, kemudian menutup pintu.

**

**

Keesokan harinya, Langit kota tampak kelabu ketika Alya berdiri di depan gedung perusahaan Levian.

Tinggi. Dingin. Kaku. Sama seperti pemiliknya.

Ia melangkah masuk dengan napas yang berusaha ia atur.

Lift membawanya ke lantai paling atas. Begitu pintunya kembali terbuka, seseorang menyambutnya seolah menanti kedatangannya.

“Silakan masuk, Nona Alyandra. Pak Levian sudah menunggu,” ujar sekretaris wanita dengan sopan.

Alya mengangguk, lalu mengekori berpakaian formal itu hingga tiba di depan sebuah pintu kaca bertuliskan ruangan CEO.

Alya mengetuk sekali sebelum mendorong pintu itu.

Levian berdiri membelakanginya, menghadap jendela besar yang memperlihatkan hamparan kota di bawah sana. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, posturnya tegap tanpa cela.

“Kamu datang,” ucapnya tanpa langsung menoleh.

“Aku gak punya alasan untuk tidak datang,” jawab Alya tenang.

Baru setelah itu Levian berbalik, tatapan mereka bertemu.

Tak ada basa-basi.

Tak ada senyum.

“Aku dengar kamu setuju,” katanya.

Alya mengangguk. “Kalau itu satu-satunya cara menyelamatkan toko peninggalan Mama, ya. Lagi pula, kalian tidak memberiku pilihan.”

Levian berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Terukur. Hingga jarak di antara mereka menyisakan ruang yang terlalu sempit untuk disebut aman.

“Kamu yakin?” Pertanyaan itu bukan terdengar sebagai keraguan. Melainkan peringatan.

Alya menegakkan dagu. “Yakin gak yakin, bukan nya itu sudah menjadi keharusan? Meskipun aku tahu kalau masa depanku menjadi korban? .”

Mata Levian turun sejenak, menatap wajahnya lebih dalam. Mencari sesuatu dari tatapan Alya.

Ia menemukan kekenencian dan keputusasaan. Tapi ia lebih memilih tak peduli.

”Kamu tahu konsekuensinya menikah denganku?” tanganya kemudian.

Alya terdiam sepersekian detik.

Rumor itu kembali terlintas di benaknya.

Impoten.

Ia menguatkan diri dengan keyakinan itu.

“Aku tahu,” jawabnya mantap, ”dan, Om, juga seharusnya tahu konsekuensinya menikah dengan didasari keterpaksaan. ”

Samar, sesuatu bergerak di sudut bibir Levian. Bukan senyum. Lebih seperti penilaian.

“Aku tahu,” katanya akhirnya. “dan aku sudah jauh lebih siap dari yang kamu bayangkan.”

Alya tak menjawab. Hanya mendelik, lalu mendengus.

Sampai akhirnya, setelah beberapa saat suara Levian kembali menginterupsi.

”Pernikahan akan digelar dua minggu lagi. Gak perlu nunggu proses perceraianku dengan Sasti selesai. Dan kamu tidak perlu khawatir tentang nama baikmu, aku akan mengumumkan pada semua orang bahwa aku dan Sasti resmi bercerai satu minggu sebelum pernikanan kita.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rencana Pernikahan.

    ”Kamu serius, Al?” tanya Sasti. Dua netra jernihnya dipenuhi oleh binar. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Jemari Alya yang saling bertaut di atas meja ia tarik untuk ia genggam lembut. “Aku janji, Al. Ini cuma sementara, sampai aku bisa benar-benar nyelametin toko. Dan setelahnya—”“Cukup, Tante.”Alya menarik pelan tangannya dari genggaman Sasti.Gerakan itu tidak kasar. Tapi cukup tegas untuk memutus kehangatan palsu yang berusaha dibangun di atas meja makan.“Jangan janji apa pun,” lanjutnya datar. “Karena dari awal ini bukan tentang sementara atau selamanya.”Senyum di bibir Sasti sedikit memudar.“Aku cuma perlu tahu satu hal,” ujar Alya. “Setelah ini, Tante tidak akan lagi menjadikanku bagian dari rencana apa pun. Apa pun itu.”Sasti terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk cepat.Tak ada kalimat sebagai penolakan atau sangkalan. Ia hanya membiarkan Alya beranjak pergi tanpa melanjutkan makan malamnya, lalu mendesah panjang. Dulu, ia memang pernah menganggap gadis yang

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Keputusan

    Sunyi itu menempel di dada Alya, bahkan setelah ia melangkah keluar dari toko. Suara hentakan kaki yang lalu lalang melewati pintu kaca di belakangnya, seperti palu yang menghantam kesadaran. Ia berdiri di trotoar beberapa detik, tak langsung berjalan. Lalu lintas berlalu lalang. Orang-orang sibuk dengan hidup mereka sendiri. Dunia tidak runtuh. Tidak ada yang berhenti bernapas. ”Untung gak bawa motor sendiri, bisa-bisa susah fokus berkendara aku.” gumamnya, menahan frustasi. 'Keputusan tetap di kamu.' Kalimat itu terus berputar, seperti jarum rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Alya berjalan tanpa tujuan jelas. Langkahnya otomatis membawa tubuhnya ke halte kecil di ujung jalan. Ia duduk. Menatap aspal. Menatap sepatu sendiri yang mulai usang di ujungnya. 'Harga diri.' Kata yang sempat begitu kokoh berdiri di kepalanya. Seperti benteng terakhir yang ia jaga mati-matian, kini retak. Bukan hanya oleh Levian, dan uang yang sejumlah enam ratus juta yang pastinya

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Rasa Bersalah

    Muak. Itu satu-satunya kata yang mampu Alya sematkan pada perasaannya sejak keluar dari restoran hari itu. Bukan karena Levian dingin. Bukan pula karena pria itu arogan. Melainkan karena cara Levian berbicara, tenang, logis, seolah ia sedang menawarkan solusi paling masuk akal. Padahal sesungguhnya sedang menekan tanpa memberi ruang bernapas. Alya membanting tubuhnya ke atas ranjang kost Larisa. Tatapannya kosong menembus langit-langit yang mulai menguning. Napasnya memburu. “Logika paling masuk akal, katanya,” gumamnya lirih, menirukan nada Levian dengan getir. Ia bangkit, duduk bersandar, lalu meraih ponsel. Angka-angka kembali berputar di kepalanya, lebih keras dari sebelumnya. Lima juta. Sebulan. Sepuluh tahun. “Enam ratus juta,” desahnya. Jumlah itu besar, ya. Sangat besar. Tapi entah kenapa, kali ini tidak lagi terdengar mustahil. “Kalau aku kerja mati-matian,” Alya bergumam, menatap layar ponsel yang kembali gelap, “ngambil dua kerjaan, nunda hidup nyaman, aku mun

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Dilematis

    Lagi-lagi, ide dari Larisa terus saja berputar dalam kepala Alya. Sulit bagi nalar gadis itu menerima bahwa cara tersebut adalah jalan keluar dari segala kegundahannya. ”Menjadi istri Om Tengil itu,” gumaman itu keluar lirih, nyaris tak bersuara, namun cukup membuat dadanya terasa sesak. Alya menatap layar ponselnya yang sejak tadi gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan. Seolah semesta memang sedang bersekongkol untuk membiarkannya tenggelam sendirian dalam kebimbangan. Ia memejamkan mata. Bayangan tentang rumah besar itu kembali menyeruak. Tentang lorong-lorong yang selalu terasa dingin. Tentang sosok pria dengan wajah datar dan tatapan kosong, yang lebih sering melewatinya seperti ia tak pernah ada. Levian Pradana Dinata Pria itu bahkan tak pernah memanggil namanya dengan benar. Selalu singkat. Selalu dingin. Selalu tanpa emosi. 'Lalu bagaimana mungkin aku harus hidup bersamanya?' 'Bangun di rumah yang sama. Menjalani peran yang bahkan tak pernah kuimpika

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Ide Tak Kalah Gila

    'Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.' Kata-kata itu seperti labirin, yang membuat pikiran Alya berputar tanpa tahu bagaimana cara untuk keluar. Ia mendesah lirih, hampir seperti mengeluarkan sesuatu yang terasa menindih dada. Walau hasilnya sia-sia. ”Sepuluh tahun, di kali empat sampai lima juta dalam sebulan,” Ia bergumam, kemudian menyembunyikan kembali wajah pada lutut yang di tekuk sejajar dengan dada. Hanya sesaat, posisi nya langsung berubah, dengan kaki yang di selonjorkan ke lantai, sementara punggung nya bersandar pada sisi ranjang. kepalanya mendongak, menatap langit-langit. ”Lagian kenapa sih, Om Levi harus menyanggupi ide segila ini?” Ia menutup kembali wajah nya dengan kedua tangan, mengusap nya secara kasar, "ini pernikahan, lho, pernikahan! Rasanya gak sanggup walau cuma ngebayangin, hidup dalam satu ruanga

  • Dipaksa Menikahi Om Impoten   Tawaran Gila

    ”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!” Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status