LOGINPendeta itu berdehem, membuka kitab suci di hadapannya. Suaranya berat dan bergema di keheningan ruangan yang mencekam.
"Di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir, kita berkumpul untuk mempersatukan dua jiwa dalam ikatan pernikahan yang suci," ucap sang pendeta memulai liturgi. Ia menoleh ke arah Grand Duke Amborgio. "La Viel de Amborgio, apakah engkau bersedia menerima wanita ini sebagai istrimu, untuk menyayangi dan menghormatinya, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, dan setia kepadanya sampai maut memisahkan kalian?" Viel tidak ragu sedetik pun. Dia berdiri tegak, memancarkan aura dominan yang seolah mampu menundukkan seluruh ruangan. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah salib besar di belakang pendeta, namun jemarinya mencengkram tangan Petra dengan tekanan yang seolah mengatakan bahwa pelarian wanita itu telah berakhir. "Saya bersedia," jawab Viel. Suaranya rendah, tegas, dan penuh finalitas. Tidak ada keraguan, hanya ada tekad yang dingin dan mutlak. Pendeta itu mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang putri yang tampak seperti api yang siap meledak. "Dan engkau, Petra de Halfghon," lanjut sang pendeta dengan nada yang sedikit lebih lembut, namun tetap formal. "Apakah engkau bersedia menerima pria ini sebagai suamimu, untuk mengabdi dan menghormatinya, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, dan setia kepadanya sampai maut memisahkan kalian?" Hening. "Nona Petra?" sang pendeta mengulangi, kali ini dengan nada bertanya yang lebih mendesak. "Apakah engkau bersedia?" Petra membuka mulutnya, matanya berkilat menantang tepat ke arah manik mata Viel yang kini mulai meliriknya dengan tatapan peringatan yang dingin. Aku bersedia,” katanya pelan. “Bersedia menjadi istri bagi pria yang menghancurkan rumahku… dan membunuh ayahku.” Meski begitu pernikahan tetap dilangsungkan sampai selesai. Kalimat itu meluncur dari bibir Petra seperti belati yang dibungkus sutra—dingin, tajam, dan mematikan. Suasana di dalam altar seketika membeku. Sang pendeta terpaku, tangannya yang memegang kitab suci sedikit gemetar mendengar pengakuan jujur yang seharusnya tidak diucapkan di tempat suci ini. Namun, Viel tidak berkedip. Dia tetap berdiri tegak dengan keangkuhan seorang penakluk. Dia tidak membantah, tidak pula merasa bersalah. Baginya, pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan tentang penguasaan mutlak. "Lanjutkan," perintah Viel dingin, memutus ketegangan yang menyesakkan itu. Pendeta itu menelan ludah, lalu dengan suara yang agak tercekat, ia menyelesaikan prosesi tersebut. "Dengan ini... saya nyatakan kalian sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia.” — Setelah pernikahan, perjamuan makan malam pun tiba. Suasana hening. Di dalam meja panjang yang muat banyak orang hanya ada dua pasang pria dan wanita yang baru saja menikah dengan ketegangan. “Makanlah,” kata Viel singkat. Petra menatap hidangan yang di jejerkan memanjang di hadapannya. Hidangan ini… adalah hidangan-hidangan dari kerajaan Petra. Viel sengaja ingin menunjukkan kekuasaannya dengan menyajikan makanan mewah dari tanah kelahiran petra. Entah sebagai nostalgia, atau penghinaan sesaat. “Aku tahu kau belum terbiasa dengan makanan disini, jadi aku membawakannya untukmu,” katanya sambil tersenyum tipis. Petra menatap makanan itu, tidak sudi melihat Viel. Namun ujung matanya melihat persis bagaimana ekspresi Viel saat mengucapkan kalimatnya. Itu bukan kalimat iba atau kalimat sayang, itu kalimat yang menghina. Setidaknya, bagi Petra. “Ini penghinaan,” kata Petra pelan. Viel menoleh, senyumannya memudar. “Penghinaan? Aku hanya ingin istriku makan dengan lahap, apa aku salah?” Tanyanya tenang. Lagi-lagi Petra diam. Dia tidak membalas perkataan Viel. Suasana di meja makan itu dingin. Hanya ada dentingan sendok Viel yang sedang makan dan Petra yang hanya duduk diam tanpa menyentuh makanannya. “Aku tidak butuh kau mencintaiku, Petra.” Viel berbicara pada akhirnya setelah menyadari istrinya tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia meletakkan sendoknya lalu menghadap ke arah Petra datar. “Aku hanya butuh stabilitas di wilayah yang aku taklukkan,” lanjutnya. “Jika kau patuh, rakyatmu selamat. Jika kau melawan, eksekusi massal akan berlanjut.” Mendengarnya, Petra meremas gaunnya dibawah meja. Dia menyadari bahwa hidupnya sekarang adalah tawar menawar bagi nyawa rakyatnya yang tersisa. Ia mulai menahan amarahnya dan mulai “mengamati” cara Viel memotong daging—setiap gerakannya adalah efisiensi militer.Fajar yang terbit di atas langit Azheriq tidak lagi membawa awan kelabu yang mencekam. Sisa-sisa bau mesiu dan darah dari perang perbatasan perlahan menguap, digantikan oleh hembusan angin pagi yang bersih. Setelah pesta perdamaian dua bangsa yang legendaris itu usai, agenda terakhir untuk mengokohkan fondasi kedamaian ini harus segera dituntaskan. Sebuah negara tidak akan bisa tumbuh di atas tanah yang masih menyimpan akar-akar pembusukan.Hari ini adalah hari pembersihan total.Alun-alun agung ibu kota dipenuhi oleh lautan manusia sejak matahari belum sepenuhnya naik. Ribuan rakyat Azheriq dan warga baru dari Halfghon berdiri berdesakan, mengelilingi panggung tinggi berbahan kayu ek hitam yang telah didirikan di tengah lapangan. Di atas panggung itu, berdiri sebuah pisau algojo yang berkilat tajam di bawah sinar matahari.Lord Vane dan belasan antek-anteknya berjalan dengan rantai yang menyeret di lantai. Pria yang dulunya selalu tampil parlente dengan jubah sutra mahal dan senyuman
Aula Agung istana Amborgio hari ini didekorasi dengan kemegahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Spanduk kain sutra biru tua khas Halfghon bersanding megah dengan panji hitam serigala Amborgio di sepanjang dinding marmer. Di bawah kilauan lampu kristal yang memantulkan cahaya keemasan, ratusan pasang mata—terdiri dari sisa-sisa bangsawan loyalis Halfghon yang tersisa dan seluruh jajaran dewan Azheriq—duduk berhadapan dalam keheningan yang khidmat. Hari ini bukan sekadar perjamuan biasa. Hari ini adalah saksi sejarah bagi penandatanganan perjanjian damai yang kelak akan disebut oleh para sejarawan sebagai "Perjanjian Dua Bangsa". Di ujung altar aula, Petra berdiri dengan keanggunan yang mutlak. Di sampingnya, Viel Amborgio berdiri tegak mengenakan jubah kebesaran militernya. Meski tangan kirinya masih bersandar kaku di atas hulu pedang karena kelumpuhan sementara yang belum pulih total, binar matanya telah kembali. Naga itu telah bangun, dan ketajamannya telah kembali seperti se
Hari-hari kian berlalu. Kondisi Viel dan tentu saja kondisi ibunya Petra juga sudah mulai membaik. Hari ini Petra sedikit luang, itu sebabnya dia memiliki waktu untuk menemui ibunya. Dayang-dayangnya berkata kalau kondisi ibunya sudah mulai membaik, dia sudah mulai mengingat kejadian-kejadian yang dilaluinya tanpa merasa takut dan letih. Kini, wanita yang sudah menginjak usia tua itu sedang duduk di ayunan taman belakang kediaman Amborgio dengan ketenangan yang membuat Petra kerap mengucapkan syukur. Mata Petra sudah lebih dulu menangkap ibunya yang sedang menikmati udara pagi hari yang segar itu. “Ibu,” panggil Petra begitu kakinya melangkah memasuki taman itu dengan pelan. Hanya satu kata yang diucapkan oleh sang putri, wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Senyumannya langsung terbentuk meski masih terlihat lemah. Dia membuka suaranya. “Petra… kemari, nak,” katanya. Petra mengangguk kecil. Dia lalu mendekat dan duduk di bangku panjang yang dekat dengan ayuna
Malam merayap makin pekat di atas atap kediaman Amborgio. Setelah seharian penuh menguras tenaga untuk membungkam dewan jenderal dengan darah Kaelen, Petra akhirnya bisa menarik napas di ruang kerja pribadinya. Bau anyir darah di gaunnya telah digantikan oleh aroma minyak lavendel, namun ketegangan di pundaknya belum juga luruh.Tepat saat ia hendak menuangkan teh hangat untuk menenangkan diri, bayangan hitam berkelebat dari balik tirai jendela yang tinggi.Sret!Sebelum Petra sempat meraih belati di balik jubahnya, sebilah pedang berdesain tipis khas militer Halfghon telah melingkar di lehernya. Tiga orang berpakaian jubah kelam melompat masuk dari balkon, mengepung meja kerja sang Grand Duchess dengan gerakan yang teramat terlatih."Jangan bersuara, Yang Mulia," bisik pria yang memegang pedang. Suaranya berat, parau, namun sangat familiar di telinga Petra.Petra memicingkan mata, menatap lurus pada pria di depannya yang perlahan menurunkan penutup wajahnya. "Kapten Logan...?"Pria i
Fajar merekah di ufuk timur, membawa seberkas cahaya pucat yang menembus tirai beludru kamar medis. Petra masih setia di posisinya. Kepalanya terkulai di tepi ranjang, sementara jemarinya masih bertaut erat dengan tangan Viel. Matanya berkantung hitam, wajahnya kuyu setelah semalaman bertaruh nyawa melawan racun yang menggerogoti suaminya.Keheningan pagi itu mendadak pecah oleh sebuah gerakan halus.Petra tersentak bangun saat merasakan jemari di dalam genggamannya berkedut. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat. Di atas ranjang, kelopak mata Viel bergerak perlahan, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Manis mata yang biasanya berkilat kejam dan penuh kewaspadaan itu kini tampak redup, kosong, dan kebingungan."Viel?" Suara Petra serak, dipenuhi harapan yang membubung tinggi. "Kau bisa mendengarkanku? Kau sudah sadar?"Viel menolehkan kepalanya dengan kaku. Ia menatap Petra lama, mengamati setiap inci wajah wanita berambut keperakan di depannya. Tidak ada tatapan tajam yang biasa ia b
Malam itu, kamar medis utama mansion Amborgio terasa begitu menyesakkan. Hanya ada suara helaan napas Viel yang pendek dan berat, berkejaran dengan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa hidup sang jenderal besar. Di atas ranjang, tubuh Viel tampak kian menyusut di bawah cengkeraman racun hitam yang kini telah merayap naik hingga ke pangkal lehernya. Para tabib kerajaan telah angkat tangan, mundur satu per satu dengan kepala tertunduk, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan yang mematikan.Di sudut ruangan, lembaran perkamen tebal yang dijatuhkan Petra tadi masih tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Surat pembebasan mutlak bagi seluruh rakyat Halfghon.Petra berjalan perlahan, memungut kertas itu dengan jemari yang gemetar. Air matanya menetes, membasahi stempel darah resmi yang dibubuhkan Viel sebelum kesadarannya hilang. Ironi yang teramat kejam kini menampar wajahnya. Viel memberikan kebebasan yang selama ini ia tangisi, namun di saat yang sama, Viel juga







