LOGIN
“Evelyn, kalau kamu nggak nikah sama Bram besok malam, besok pagi Rara mati di rumah sakit.”
Cangkir mi instan yang Evelyn pegang terlepas dari tangan. Kuah panas tumpah membasahi lantai apartemen sempit, pecahan keramik berhamburan. “Apa?” Suara Evelyn bergetar. Di depan pintu, ayahnya berdiri dengan kemeja lusuh. Wajah pria lima puluh tahun itu pucat pasi, matanya merah. Rambutnya yang beruban terlihat acak-acakan. “Papa ngomong apa?” bisik Evelyn pelan. Ia meraih tepi meja kecil di sampingnya untuk menopang tubuhnya. Pria itu menunduk, bahunya bergetar. “Papa nggak punya pilihan, Evelyn.” “Jawab aku!” Suara Evelyn meninggi. “Kenapa Rara dibawa-bawa? Rara nggak ada hubungannya sama semua ini!” Ayahnya menutup wajah dengan kedua tangan. “Biaya operasinya, Evelyn. Rumah sakit nggak mau lanjut kalau tagihannya belum lunas mereka udah kasih peringatan tiga kali. Papa nggak tahu harus gimana lagi.” Evelyn membeku. Sudah enam bulan adiknya keluar masuk rumah sakit karena penyakit jantung bawaan. Evelyn masih ingat jelas hari pertama Rara pingsan di sekolah. Wajah adiknya yang pucat, bibirnya yang membiru, dan suara dokter yang mengatakan Rara membutuhkan operasi besar. Selama ini Evelyn bekerja pagi sampai malam, mengambil pekerjaan tambahan, bahkan menjual motor demi membayar biaya pengobatan. Ia pikir semua itu cukup, ternyata tidak. “Aku bakal cari uang.” kata Evelyn, suaranya mulai pecah. “Aku bakal kerja lebih keras lagi atau pinjam ke siapa pun, tapi jangan pernah bilang aku harus menikah sama orang yang bahkan nggak aku kenal!” Air mata Evelyn mulai memenuhi pelupuk matanya. Satu tetes jatuh. Ayahnya menggeleng pelan. “Bukan cuma soal uang, Evelyn.” Belum sempat Evelyn bertanya lagi, ketukan pintu terdengar. Tok. Tok. Tok. Ayahnya semakin pucat, tangannya yang tadi menutupi wajah kini di sisi tubuhnya. Siapa yang datang malam-malam begini ke apartemen kumuhnya? Ia melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, napasnya tercekat. Seorang pria tinggi berdiri di sana. Jas hitam mahal, sepatu kulit mengkilap, matanya dingin, wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tetapi tatapan itu tajam. Rambutnya rapi disisir ke belakang. Di belakangnya berjajar beberapa pria berbadan besar dengan setelan hitam, mereka mungkin pengawal. “Evelyn Widyadana.” Suara pria itu rendah, tenang. “Aku Bram Wijaya.” Nama itu menghantam kepala Evelyn seperti palu godam. Siapa yang tidak mengenalnya? Pengusaha muda kerajaan bisnis keluarga Wijaya. Media selalu menyebutnya pria kaya, dingin, dan tak pernah memberi kesempatan kedua bagi yang mengkhianatinya. Foto wajahnya hampir setiap minggu ada di sampul majalah bisnis. “Ada urusan apa?” Suara Evelyn bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. Bram tidak langsung menjawab. Tatapannya ke isi apartemen. Dinding mengelupas, sofa tua, kipas angin berdecit, meja kayu dengan kaki miring. “Ayahmu berhutang.” kata Bram akhirnya. Evelyn mengepalkan tangan, kukunya menusuk telapak tangannya. “Itu urusan Papa.” “Benar dan sekarang menjadi urusanmu.” Tatapan Bram kembali padanya. " “Aku nggak ikut berhutang.” “Kamu enggak ikut berhutang, tapi kamu bisa membayarnya.” Evelyn mengernyit. “Dengan apa? Pagi sampai malam aku bekerja saja belum cukup—” Bram memasukkan satu tangan ke saku celananya dengan gerakan santai. “Dengan menjadi istriku.” Evelyn tertawa kecil. “Kamu bercanda? Aku nggak kenal kamu, aku bahkan nggak pernah ketemu kamu sebelumnya.” “Aku nggak punya waktu untuk bercanda.” Nada suara Bram tetap datar, tidak marah. Justru itu yang membuat Evelyn semakin kesal. “Kamu pikir uang bisa membeli semua orang?” Suara Evelyn mulai meninggi. “Kamu pikir semua wanita akan berlutut di depanmu hanya karena kamu kaya? Kamu salah orang, aku lebih baik mati daripada dijual seperti barang.” Bram menatapnya lalu ia mengeluarkan sebuah map tipis. Ia menyerahkannya dengan tenang. “Ini berisi tagihan rumah sakit.” Evelyn meraihnya. Tangannya gemetar saat membaca angka di sana. Nominalnya lebih besar daripada yang diberitahukan pihak rumah sakit. Benar-benar mustahil ia bisa melunasinya. “Apa ini?” bisiknya. “Kenapa bisa sebanyak ini?” “Ayahmu menunggak selama empat bulan, bunga menumpuk dan biaya perawatan Rara menghabiskan banyak sekali.” jawab Bram. “Mustahil melunasinya dalam waktu dekat!” “Besok pagi rumah sakit akan menghentikan semua tindakan medis jika pembayaran belum diterima. Tidak ada operasi dan perawatan. Adikmu akan dipindahkan ke ruang biasa tanpa alat bantu napas.” Evelyn menoleh ke arah ayahnya yang masih berdiri di sudut ruangan, tubuhnya gemetar hebat. “Papa....” Pria itu menangis tersedu. “Maaf, Evelyn.... Papa benar-benar nggak tahu harus gimana. Papa sudah mencoba segalanya pinjam ke sana kemari, tapi semua pintu tertutup.” “Papa pinjam uang sebanyak apa?” Ayahnya diam, hanya isak tangis yang terdengar. “PA!” teriak Evelyn, suaranya pecah. “Lima belas miliar.” Evelyn merasa lututnya lemas. Lima belas miliar? Bagaimana mungkin ayahnya mendapatkan utang sebanyak itu? “Apa yang Papa lakukan?” bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. Ayahnya hanya terus menangis, ia tidak bisa menjawab. Bram yang menjawab untuk menggantikannya. “Bisnisnya gagal, dia punya pinjaman berbunga di beberapa tempat. Judi juga lumayan dari laporan yang saya terima.” Kepala Evelyn langsung menoleh, tatapan penuh luka itu mengarah kepada ayahnya. “Judi? Papa janji sudah berhenti. Papa berjanji di makam Mama!” Ayahnya tak sanggup menjawab, ia hanya jatuh berlutut di lantai apartemen. “Maaf, Papa gagal jadi papa yang baik.” Air mata Evelyn jatuh. Selama ini ia bekerja mati-matian mengorbankan masa mudanya, menahan lapar agar Rara bisa makan sementara papanya berjudi. “Kenapa, Pa?” bisiknya, suaranya serak oleh tangis. “Kenapa Papa melakukan ini lagi? Setelah Mama meninggal karena Papa juga, kenapa Papa nggak belajar?” Bram melirik jam tangan mewahnya bosan. “Aku tidak suka membuang waktu.” Ia mengeluarkan dokumen. “Besok malam pernikahan, tiga hari setelahnya kamu resmi tinggal di rumah keluarga Wijaya. Semua persiapan sudah dilakukan.” Evelyn merobek dokumen itu tanpa berpikir. Sobekan kertas berhamburan di lantai apartemen, bercampur dengan pecahan cangkir dan kuah mi yang mengering. “Aku nggak akan pernah nikah sama monster seperti kamu!” Bram hanya mengangguk pelan, sudah menduga reaksi ini. “Lima menit lagi surat penghentian tindakan medis untuk adikmu akan dikirim ke rumah sakit. Dokumen sudah siap.” Darah Evelyn seperti berhenti mengalir. “Kamu bajingan!” Plak!“Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men
Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu
Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap
Di mansion, sore itu Kak Sari sedang membantu Rara menyiram tanaman di taman belakang.Dari balkon lantai dua, Ibu Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon.Tatapannya beralih ke halaman depan mansion yang kini lebih sering dipenuhi mobil-mobil tamu dan semua itu datang untuk menemui Evelyn.Ia menyadari, perlahan Evelyn mulai memiliki tempat di keluarga Wijaya. Semakin banyak orang yang datang ke mansion bukan lagi untuk menemui Bram, melainkan untuk bertemu Nyonya Evelyn Wijaya.Kemudian, ia berbalik memasuki kamarnya. Ia menarik napas panjang dan menekan bel kecil di atas meja.Bel itu berbunyi, tak lama setelah itu langkah kaki Pak Budi terdengar mendekati pintu. Ia mengetuk pelan sebelum masuk dengan sikap hormat. “Anda memanggil saya, Nyonya?”Ibu Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”Pak Budi tetap berdiri dengan tegak, tangannya di belakang punggung. “Saya lebih nyaman berdiri, Nyonya. Terima kasih.”Ibu Wijaya tidak mempermasalah
Sesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra
Evelyn menatap Bram sekilas, mencari konfirmasi. Bram tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang.Evelyn kembali memandang Sinta. “Saya tidak mengatakan ditolak, Nona Sinta. Saya mengatakan bahwa proposal ini perlu direvisi.”Sinta menyilangkan tangan, senyumnya berubah menjadi seringai tipis. “Direvisi? Kau cukup berani memberi masukan. Biasanya orang butuh waktu untuk membangun keberanian sebelum mengkritik proposalku.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Nona Sinta.”Sinta mengembuskan napas pelan, ia mengambil kembali proposal itu. “Baiklah.”Ia berdiri, lalu memandang Bram. “Aku tidak menyangka sekarang semua keputusan harus melewati istrimu, Bram.”Bram mengangguk tipis. “Sampai bertemu lagi, Sinta. Semoga revisi proposalnya berjalan lancar.”Sinta menatap Evelyn sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar.Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup. “Apa aku tadi terlalu keras?”Bram menggeleng, meletakkan cangkir ko







