로그인Tamparan keras mendarat di pipi Bram, suara tamparan menggema di ruangan sempit itu.
Semua pengawal langsung bergerak maju tapi Bram mengangkat satu tangan. Mereka berhenti seketika, kembali ke posisi semula. Perlahan ia menoleh kembali pada Evelyn. Bekas tamparan itu mulai memerah tetapi ekspresinya tetap dingin bahkan matanya tidak berkedip. “Apa sudah selesai?” tanyanya tetap tenang. Evelyn menggertakkan gigi, dadanya naik turun dengan cepat, matanya merah dan basah. “Aku benci kamu, aku benar-benar membencimu.” “Kebencianmu tidak menarik bagiku.” Bram mengeluarkan ponselnya. “Aku butuh jawaban sekarang.” Seketika ponsel Evelyn berdering. Ia melihat layar, nomor rumah sakit. Tangannya gemetar saat mengangkat panggilan. Ia menekan tombol speaker. “Selamat malam, Mbak Evelyn.” Suara perawat di ujung telepon terdengar jelas. “Kami ingin mengonfirmasi pembayaran perawatan adik Mbak atas nama Rara belum masuk. Kami sudah menunggu empat bulan. Kalau sampai besok pagi belum ada pelunasan minimal lima puluh persen, tindakan operasi akan kami tunda sesuai prosedur rumah sakit.” Panggilan berakhir. “Aku kasih waktu sampai sekarang.” Bram melirik jam tangannya lagi. “Tentukan pilihanmu. Menikah denganku, atau adikmu mati besok pagi.” “Evelyn.” suara ayahnya lirih. “Papa tahu Papa nggak berhak minta apa-apa, tapi Rara masih kecil, dia belum sembuh.” “DIAM!” teriak Evelyn. “Papa nggak berhak ngomong soal Rara!” Ayahnya terdiam, bahunya bergetar. Bram melangkah mendekat. “Aku nggak suka mengulang perkataan.” Tangannya menggenggam pergelangan tangan Evelyn. “Lepasin aku!” Evelyn meronta. “Aku bilang lepas!” Evelyn memukul dada Bram dengan tangan satunya, tapi pria itu hanya menangkap tangannya yang lain dengan mudah. Ayahnya hanya menangis di sudut ruangan. “Maaf, Evelyn. Papa benar-benar gagal.” Bram menarik Evelyn keluar apartemen. Tubuhnya terseret keluar pintu, melewati lorong sempit apartemen, menuruni tangga yang berbau. Mobil sedan hitam mewah sudah menunggu di depan. Lampu mobil menyorot, membuatnya menyipit. Pintu belakang terbuka. “Aku nggak mau ikut!” Evelyn berusaha melepaskan diri. “Kamu nggak bisa memaksaku! Ini penculikan!” Genggaman Bram semakin erat. Pria itu menatap lurus ke matanya tanpa ampun. “Mulai malam ini, hidupmu bukan milikmu lagi. Selama Rara masih membutuhkan bantuan, kamu akan melakukan apa pun yang aku perintahkan.” katanya pelan. Sebelum Evelyn sempat membalas, tubuhnya didorong masuk ke dalam mobil itu. Ia jatuh di kursi belakang. Pintu tertutup rapat. Bram masuk dari sisi lain, duduk di sampingnya. “Perjalanan sekitar empat puluh menit.” kata Bram tanpa menatapnya. “Gunakan waktu itu untuk menerima kenyataan.” ~~~ Mobil hitam itu akhirnya berhenti. Evelyn memandang keluar jendela. Tangannya masih gemetar di pangkuannya. Di balik gerbang besi tiga meter, berdiri sebuah mansion megah. Cahaya lampu menyinari setiap sudut halaman luas. Air mancur besar menghiasi halaman depan, dengan patung peri memegang kendi. Deretan mobil mewah terparkir di garasi terbuka. Pintu mobil dibukakan pria paruh baya berjas rapi. “Silakan, Nona Evelyn.” Evelyn tidak bergerak, tatapannya beralih pada Bram yang baru turun dari sisi lain mobil. “Aku nggak mau masuk.” kata Evelyn dengan suara seperti anak kecil merengek. Bram melirik sekilas. Ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu melewati pintu gerbang besar. Tak punya pilihan, Evelyn akhirnya mengikuti. Begitu memasuki foyer, matanya dibuat kagum. Lantai marmer putih mengilap, dinding dihiasi lukisan-lukisan besar. Tangga utama melingkar di tengah ruangan. Seorang wanita paruh baya turun dari tangga utama dengan anggun. Gaun sutra merah marun membungkus tubuhnya. Perhiasan emas dan berlian berkilau di leher dan tangannya. Rambutnya disanggul rapi. Tatapannya langsung pada Evelyn lalu berubah menjadi jijik. “Jadi ini gadisnya?” Suara wanita itu tajam seperti pisau. Bram menjawab singkat. “Iya, Bu. Ini Evelyn.” Wanita itu mendekat, mengamati Evelyn dari kepala sampai kaki. “Biasa saja.” kata wanita itu dengan nada menghina. Ia mendengus pelan, berbalik ke arah Bram. “Aku nggak ngerti kenapa kamu milih gadis pinggiran seperti ini. Anak dari keluarga yang bahkan nggak sanggup bayar utang.” Evelyn mengepalkan tangan. “Maaf, saya—” “Diam.” Wanita itu memotong dengan tatapan tajam. “Kamu tahu berapa harga tas yang kupakai?” Ia mengangkat tas tangan di lengannya. Evelyn menggeleng pelan. “Harganya lebih mahal daripada apartemen kumuhmu selama sepuluh tahun.” Wanita itu tersenyum sinis. “Cewek murahan dari got seperti kamu benar-benar beruntung. Berani-beraninya masuk ke keluarga Wijaya, seharusnya kamu bersujud dan berterima kasih pada Bram karena sudah mengangkat derajatmu.” Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling melirik tak ada yang berani bersuara. Mereka menunduk dan terus bekerja seolah tidak mendengar apa pun. Evelyn menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah meminta semua ini, tapi suara Bram lebih dulu terdengar. “Bu, jangan rusak suasana.” Suaranya datar, tapi ada nada peringatan. Wanita itu mengangkat bahu dengan santai. “Aku cuma bilang kenyataan. Nggak ada salahnya gadis ini tahu di mana posisinya.” Ia kembali menatap Evelyn dengan tajam. “Jadi, dengar baik-baik. Aku Nyonya Wijaya, ibu dari Bram. Selama kamu tinggal di rumah ini, ada aturan yang harus kamu ikuti.” Evelyn menggigit bibirnya lebih kuat. “Pertama, jangan sentuh barang-barangku. Kalau ada yang hilang aku tahu harus menuduh siapa.” Nyonya Wijaya melanjutkan tanpa menunggu jawaban. “Kedua, jangan pernah menyebut namaku di depan umum. Aku malu punya menantu seperti kamu. Ketiga—” “Bu.” Bram memotong dengan nada yang sedikit lebih tegas. “Cukup.” Nyonya Wijaya menatap putranya dengan alis terangkat. “Aku cuma menyambut tamu baru di rumah kita.” “Dia bukan tamu, dia calon istriku. Perlakukan dia dengan hormat.” Nyonya Wijaya tertawa kecil. “Hormat? Pada gadis ini?” Ia menggeleng. “Sebaiknya kamu ingat, keluarga Wijaya adalah keluarga terpandang dan menikahi gadis seperti ini adalah aib.” “Jangan bicara aib, Ibu.” jawab Bram dingin. Nyonya Wijaya membuang napas dengan putus asa. “Baiklah, terserah kamu. Jangan salahkan aku kalau nanti kamu menyesal.” Ia berbalik, memberikan Evelyn tatapan terakhir penuh kebencian. “Ingat aturan pertama, aku selalu tahu jika ada yang hilang.” Suara langkah sepatu hak tingginya menghilang di lantai atas. Evelyn menunduk, harga dirinya terasa diinjak habis-habisan. Ia tidak mau menangis di depan orang-orang ini. “Ikut aku.” Perintah Bram membuatnya kembali berjalan. Ia mengikuti pria itu melewati koridor panjang. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berukir. “Ini kamar tamu.” Bram membuka pintu, membiarkannya terbuka lebar.Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga
Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“
Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang







