Share

2. Tamparan

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-06-28 22:58:58

Tamparan keras mendarat di pipi Bram, suara tamparan menggema di ruangan sempit itu.

Semua pengawal langsung bergerak maju tapi Bram mengangkat satu tangan. Mereka berhenti seketika, kembali ke posisi semula.

Perlahan ia menoleh kembali pada Evelyn. Bekas tamparan itu mulai memerah tetapi ekspresinya tetap dingin bahkan matanya tidak berkedip.

“Apa sudah selesai?” tanyanya tetap tenang.

Evelyn menggertakkan gigi, dadanya naik turun dengan cepat, matanya merah dan basah. “Aku benci kamu, aku benar-benar membencimu.”

“Kebencianmu tidak menarik bagiku.” Bram mengeluarkan ponselnya. “Aku butuh jawaban sekarang.”

Seketika ponsel Evelyn berdering. Ia melihat layar, nomor rumah sakit. Tangannya gemetar saat mengangkat panggilan. Ia menekan tombol speaker.

“Selamat malam, Mbak Evelyn.” Suara perawat di ujung telepon terdengar jelas. “Kami ingin mengonfirmasi pembayaran perawatan adik Mbak atas nama Rara belum masuk. Kami sudah menunggu empat bulan. Kalau sampai besok pagi belum ada pelunasan minimal lima puluh persen, tindakan operasi akan kami tunda sesuai prosedur rumah sakit.”

Panggilan berakhir.

“Aku kasih waktu sampai sekarang.” Bram melirik jam tangannya lagi. “Tentukan pilihanmu. Menikah denganku, atau adikmu mati besok pagi.”

“Evelyn.” suara ayahnya lirih. “Papa tahu Papa nggak berhak minta apa-apa, tapi Rara masih kecil, dia belum sembuh.”

“DIAM!” teriak Evelyn. “Papa nggak berhak ngomong soal Rara!”

Ayahnya terdiam, bahunya bergetar.

Bram melangkah mendekat. “Aku nggak suka mengulang perkataan.” Tangannya menggenggam pergelangan tangan Evelyn.

“Lepasin aku!” Evelyn meronta. “Aku bilang lepas!”

Evelyn memukul dada Bram dengan tangan satunya, tapi pria itu hanya menangkap tangannya yang lain dengan mudah.

Ayahnya hanya menangis di sudut ruangan. “Maaf, Evelyn. Papa benar-benar gagal.”

Bram menarik Evelyn keluar apartemen. Tubuhnya terseret keluar pintu, melewati lorong sempit apartemen, menuruni tangga yang berbau.

Mobil sedan hitam mewah sudah menunggu di depan. Lampu mobil menyorot, membuatnya menyipit. Pintu belakang terbuka.

“Aku nggak mau ikut!” Evelyn berusaha melepaskan diri. “Kamu nggak bisa memaksaku! Ini penculikan!”

Genggaman Bram semakin erat. Pria itu menatap lurus ke matanya tanpa ampun.

“Mulai malam ini, hidupmu bukan milikmu lagi. Selama Rara masih membutuhkan bantuan, kamu akan melakukan apa pun yang aku perintahkan.” katanya pelan.

Sebelum Evelyn sempat membalas, tubuhnya didorong masuk ke dalam mobil itu. Ia jatuh di kursi belakang. Pintu tertutup rapat. Bram masuk dari sisi lain, duduk di sampingnya.

“Perjalanan sekitar empat puluh menit.” kata Bram tanpa menatapnya. “Gunakan waktu itu untuk menerima kenyataan.”

~~~

Mobil hitam itu akhirnya berhenti.

Evelyn memandang keluar jendela. Tangannya masih gemetar di pangkuannya.

Di balik gerbang besi tiga meter, berdiri sebuah mansion megah. Cahaya lampu menyinari setiap sudut halaman luas. Air mancur besar menghiasi halaman depan, dengan patung peri memegang kendi. Deretan mobil mewah terparkir di garasi terbuka.

Pintu mobil dibukakan pria paruh baya berjas rapi. “Silakan, Nona Evelyn.”

Evelyn tidak bergerak, tatapannya beralih pada Bram yang baru turun dari sisi lain mobil.

“Aku nggak mau masuk.” kata Evelyn dengan suara seperti anak kecil merengek.

Bram melirik sekilas. Ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu melewati pintu gerbang besar.

Tak punya pilihan, Evelyn akhirnya mengikuti.

Begitu memasuki foyer, matanya dibuat kagum. Lantai marmer putih mengilap, dinding dihiasi lukisan-lukisan besar. Tangga utama melingkar di tengah ruangan.

Seorang wanita paruh baya turun dari tangga utama dengan anggun. Gaun sutra merah marun membungkus tubuhnya. Perhiasan emas dan berlian berkilau di leher dan tangannya. Rambutnya disanggul rapi.

Tatapannya langsung pada Evelyn lalu berubah menjadi jijik.

“Jadi ini gadisnya?” Suara wanita itu tajam seperti pisau.

Bram menjawab singkat. “Iya, Bu. Ini Evelyn.”

Wanita itu mendekat, mengamati Evelyn dari kepala sampai kaki.

“Biasa saja.” kata wanita itu dengan nada menghina. Ia mendengus pelan, berbalik ke arah Bram. “Aku nggak ngerti kenapa kamu milih gadis pinggiran seperti ini. Anak dari keluarga yang bahkan nggak sanggup bayar utang.”

Evelyn mengepalkan tangan. “Maaf, saya—”

“Diam.” Wanita itu memotong dengan tatapan tajam. “Kamu tahu berapa harga tas yang kupakai?” Ia mengangkat tas tangan di lengannya.

Evelyn menggeleng pelan.

“Harganya lebih mahal daripada apartemen kumuhmu selama sepuluh tahun.” Wanita itu tersenyum sinis. “Cewek murahan dari got seperti kamu benar-benar beruntung. Berani-beraninya masuk ke keluarga Wijaya, seharusnya kamu bersujud dan berterima kasih pada Bram karena sudah mengangkat derajatmu.”

Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling melirik tak ada yang berani bersuara. Mereka menunduk dan terus bekerja seolah tidak mendengar apa pun.

Evelyn menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah meminta semua ini, tapi suara Bram lebih dulu terdengar.

“Bu, jangan rusak suasana.” Suaranya datar, tapi ada nada peringatan.

Wanita itu mengangkat bahu dengan santai. “Aku cuma bilang kenyataan. Nggak ada salahnya gadis ini tahu di mana posisinya.” Ia kembali menatap Evelyn dengan tajam. “Jadi, dengar baik-baik. Aku Nyonya Wijaya, ibu dari Bram. Selama kamu tinggal di rumah ini, ada aturan yang harus kamu ikuti.”

Evelyn menggigit bibirnya lebih kuat.

“Pertama, jangan sentuh barang-barangku. Kalau ada yang hilang aku tahu harus menuduh siapa.” Nyonya Wijaya melanjutkan tanpa menunggu jawaban. “Kedua, jangan pernah menyebut namaku di depan umum. Aku malu punya menantu seperti kamu. Ketiga—”

“Bu.” Bram memotong dengan nada yang sedikit lebih tegas. “Cukup.”

Nyonya Wijaya menatap putranya dengan alis terangkat. “Aku cuma menyambut tamu baru di rumah kita.”

“Dia bukan tamu, dia calon istriku. Perlakukan dia dengan hormat.”

Nyonya Wijaya tertawa kecil. “Hormat? Pada gadis ini?” Ia menggeleng. “Sebaiknya kamu ingat, keluarga Wijaya adalah keluarga terpandang dan menikahi gadis seperti ini adalah aib.”

“Jangan bicara aib, Ibu.” jawab Bram dingin.

Nyonya Wijaya membuang napas dengan putus asa. “Baiklah, terserah kamu. Jangan salahkan aku kalau nanti kamu menyesal.” Ia berbalik, memberikan Evelyn tatapan terakhir penuh kebencian. “Ingat aturan pertama, aku selalu tahu jika ada yang hilang.”

Suara langkah sepatu hak tingginya menghilang di lantai atas.

Evelyn menunduk, harga dirinya terasa diinjak habis-habisan. Ia tidak mau menangis di depan orang-orang ini.

“Ikut aku.” Perintah Bram membuatnya kembali berjalan. Ia mengikuti pria itu melewati koridor panjang. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berukir.

“Ini kamar tamu.” Bram membuka pintu, membiarkannya terbuka lebar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   86. Debat

    Jam demi jam berlalu tanpa terasa. Evelyn masih duduk di tempat yang sama sejak tiga jam lalu. Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya terlipat di pangkuan, dan matanya menatap kosong ke arah pintu ruang operasi.Di sampingnya, Ibu Wijaya duduk dengan punggung yang lebih tegak, meskipun usianya sudah senja dan ia baru saja pulih dari sakitnya. Sejak tadi, perempuan tua itu lebih banyak diam.Pak Budi berada di seberang mereka, duduk di kursi yang sedikit jauh dari keduanya. Sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menundukkan kepala. Ia sudah menawarkan untuk membeli kopi, untuk menelepon keluarga, untuk melakukan apa pun yang bisa membantu. Tetapi tidak ada yang benar-benar ia lakukan sekarang selain menunggu.Kemudian, dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki. Ketiganya refleks menoleh ke arah suara itu. Dari balik tikungan, muncul seorang pria mengenakan pakaian formal yang masih terlihat rapi. Rambutnya sedikit berantakan. Satu tangannya masih memeg

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   85. Operasi

    Mobil akhirnya berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Begitu kendaraan benar-benar berhenti, Evelyn langsung membuka pintu."Aku masuk dulu, Yah."Ayahnya bahkan belum sempat menjawab ketika Evelyn sudah turun dari mobil."Evelyn, Ayah pulang untuk menemani adikmu. Jaga diri baik-baik dan titip salam untuk keluarga Wijaya."Evelyn mengangguk sekali lalu berjalan cepat menuju pintu masuk rumah sakit, hampir berlari ketika melihat papan petunjuk menuju Unit Gawat Darurat.Ia sempat berhenti di meja informasi untuk memastikan lokasi Bram, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, matanya menangkap dua sosok yang sudah dikenalnya.Pak Budi dan Ibu Wijaya berdiri tidak jauh dari pintu Unit Gawat Darurat.Pak Budi terlihat mondar-mandir beberapa langkah sebelum kembali berhenti. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak tegang. Sementara Ibu Wijaya berdiri di dekat kursi tunggu dengan kedua tangan saling menggenggam."Nyonya Evelyn." Pak Budi menyadari kedatangannya lebih dulu.Evelyn

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   84. Mengejutkan

    Malam itu, perjalanan Bram pulang menuju mansion.Hujan mulai turun ketika mobilnya memasuki ruas tol yang cukup jauh dari pusat kota. Awalnya hanya berupa gerimis tipis, tetapi hujan berubah semakin deras.Bram memperlambat laju mobilnya.Jalanan yang sebelumnya masih dipenuhi kendaraan kini terlihat lebih lengang. Lampu-lampu kendaraan di kejauhan tampak samar di balik tirai hujan. Sesekali, cahaya lampu dari kendaraan yang berpapasan memantul di permukaan jalan yang basah.Bram menyandarkan punggungnya sedikit lebih nyaman ke kursi. Kedua tangannya tetap berada di kemudi.Sebuah getaran pendek terdengar dari kursi penumpang.Bram melirik sekilas. Ponselnya menyala dan memperlihatkan satu pesan masuk dari Evelyn."Sampai rumah dengan selamat ya. Terima kasih sudah datang hari ini, Rara senang sekali."Sudut bibir Bram terangkat sedikit. Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum kembali memusatkan pandangan ke jalan."Nanti kubalas." gumamnya pelan.Tangannya sempat terangkat hendak m

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   83. Bersiap

    Sore harinya, sebuah amplop cokelat resmi dikirimkan ke apartemen Sinta oleh kurir khusus.Ia duduk di sofa kulit putih, menatap amplop itu sebelum membukanya dengan tangan gemetar.Di dalamnya, terdapat surat resmi dari kantor pengacara Grup Wijaya. Di bagian bawah surat, tertulis permintaan agar Sinta menghadiri pertemuan mediasi dalam waktu tujuh hari, sebelum kasus ini dibawa lebih jauh ke ranah hukum resmi.Sinta meremas surat itu dalam genggamannya. Matanya panas menahan air mata. Ia tidak menyangka Bram akan bertindak sejauh ini sampai melibatkan pengacara secara resmi.Sinta meraih ponselnya. Ia memaksakan diri untuk mengetik."Bram, kumohon, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa melibatkan pengacara. Aku tahu aku salah, tapi jangan hancurkan hidupku hanya karena satu kesalahan ini."Akhirnya, balasan itu muncul."Ini bukan lagi soal kesalahan kecil, Sinta. Kau menyerang keluargaku, menyerang perusahaan yang menghidupi ribuan orang hanya karena kau tidak bisa menerima penola

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   82. Runtuh

    Hari rapat komisaris tiba lebih cepat dari yang Bram kira.Ruang rapat utama Grup Wijaya di lantai dua puluh lima sudah penuh sejak pukul sembilan pagi.Bram masuk ruangan dengan membawa map tebal berisi seluruh bukti yang telah ia kumpulkan bersama Pak Budi."Selamat pagi." Bram membuka rapat setelah duduk di kursinya. "Saya tahu ada kekhawatiran yang beredar terkait penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi saya. Hari ini saya akan menjelaskan semuanya secara terbuka dan menyediakan bukti lengkap untuk setiap klaim yang saya sampaikan."Ia membuka map di depannya, membagikan salinan dokumen ke setiap anggota komisaris."Pertama, soal biaya operasi jantung adik dari istri saya, Rara Widyadana. Total biaya yang saya keluarkan adalah dua miliar tiga ratus juta rupiah, seluruhnya dibayarkan dari rekening pribadi saya, bukan dari dana perusahaan dalam bentuk apa pun. Berikut catatan transfer lengkap beserta stempel dan validasi dari pihak Bank."Salah satu anggota komisaris me

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   81. Terduga

    Sementara itu, di apartemennya, Sinta duduk di depan laptop, membaca ulang artikel bisnis lama tentang rapat komisaris Grup Wijaya yang akan datang. Ia tersenyum puas membaca kabar bahwa Pak Halim mulai mempertanyakan integritas Bram di depan pemegang saham lain.Ponselnya berdering.Pesan dari kontak yang baru ia hubungi kemarin malam, seseorang yang bekerja di divisi hubungan investor Grup Wijaya, yang selama ini diam-diam kecewa karena tidak mendapat promosi yang ia harapkan di bawah kepemimpinan Bram."Berhasil. Pak Halim sudah minta pertemuan resmi. Rapat komisaris minggu depan bakal jadi momen penting. Semoga ini yang kau inginkan."Sinta mengetik balasan singkat, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. "Ini baru permulaan. Terima kasih sudah membantu."Ia menutup laptopnya, menatap keluar jendela apartemennya yang menghadap gemerlap kota malam itu.Kalau Bram tidak bisa ia miliki, setidaknya ia bisa memastikan Bram merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status