LOGINDeru mesin mobil MPV mewah melaju halus membelah jalanan menurun pegunungan Puncak menuju jalur utama tol arah Jakarta.Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat nyaman, diiringi alunan musik instrumental bernuansa santai yang menemani perjalanan siang menuju sore itu.Di kursi tengah, Diana dan Wanda duduk berdampingan sambil berbincang ringan membahas agenda mingguan bisnis kuliner dan properti Wanda di Depok.Sementara itu, Wina duduk di kursi baris ketiga bersama Weni, sesekali melempar candaan ringan dan saling menggoda mengenai liburan mereka yang berkesan di vila Puncak.Tama memegang kemudi dengan penuh konsentrasi, memastikan laju kendaraan tetap stabil di tengah kepadatan lalu lintas arus balik akhir pekan."Gimana, Mas? Perjalanannya nggak bikin ngantuk kan?" tanya Diana menengok ke depan dari kursi tengah."Aman banget, Ma. AC-nya dingin dan musi
Pemandangan bukit pinus yang hijau membentang luas di seberang lembah Puncak diselimuti sisa kabut pagi yang berarak tipis.Sebelum seluruh pintu mobil dirapatkan untuk perjalanan pulang, Diana mengusulkan agar rombongan menikmati sajian sarapan pagi terlebih dahulu di balkon lantai dua vila.Sinar matahari pagi yang mulai meninggi membiarkan pendar hangatnya menyentuh meja kayu tebal di sudut balkon yang menghadap langsung ke hamparan jurang dan pepohonan hijau.Tama melangkah menaiki anak tangga kayu membawa nampan berisi piring-piring roti panggang beroles mentega gurih, selai stroberi, serta potongan buah melon dan apel yang sudah diiris rapi."Awas pelan-pelan bawa nampannya, Mas," ingat Wanda yang sudah duduk anggun di kursi jati balkon memakai kardigan rajut tipis."Tenang aja, Mbak Wanda. Pegangan nampannya kokoh kok," sahut Tama tersenyum manis meletakkan piring-piring s
Sinar matahari pagi menerobos halus celah tirai tipis kamar utama lantai dua, membiarkan pendar keemasan membelai kehangatan tempat tidur king-size.Tama membuka matanya perlahan, merasakan deru napas halus dari keempat wanita yang masih tertidur pulas mengelilingi tubuh tegapnya.Dengan gerakan sangat pelan dan berhati-hati, Tama menggeser lengan mulus Weni yang menindih dadanya agar gadis itu tidak terbangun dari mimpi indahnya.Pemuda itu beranjak dari tempat tidur, merapikan selimut tebal untuk Diana, Wanda, Wina, dan Weni sebelum melangkah keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.'Ngerapiin koper empat wanita cantik sekaligus tuh tingkat kerumitannya udah menyamai bongkar pasang mesin jet pribadi tanpa buku panduan,' batin Tama tersenyum geli sambil berjalan menuruni anak tangga kayu menuju dapur lantai dasar.Hawa segar khas pegunungan Puncak menyapa wajah
Hawa dingin Puncak di luar vila semakin menusuk tulang seiring jarum jam dinding kayu yang telah melewati pukul dua dini hari.Di dalam kamar utama lantai dua yang hangat berkarpet tebal, pendar lampu tidur bercahaya kuning temaram menaungi sebuah tempat tidur berukuran king-size yang sangat luas.Tama melangkah masuk membawa nampan kayu berisi empat cangkir teh chamomile hangat yang baru saja diseduhnya di dapur bawah.Di atas kasur empuk tersebut, keempat wanita cantik penghuni rumah megah sudah berkumpul rapi berselimut kain tebal berbulu halus.Diana duduk bersandar di bagian tengah kepala tempat tidur, diapit oleh Wanda di sisi kirinya, serta Wina dan Weni yang saling merapat di sisi kanannya.Keempat bidadari itu tampil sangat anggun dan memesona dalam balutan gaun tidur santai masing-masing, memancarkan rona wajah bahagia yang luar biasa usai maraton relaksasi di
Napas teratur Wanda terdengar lembut berirama, menemani keheningan malam yang mulai merayap di sudut ruang istirahat sofa tepi kolam bawah tanah.Tama perlahan melepaskan dekapannya yang hangat, membiarkan Wanda berbaring pulas di atas sofa dengan selimut tipis sutra yang menutup tubuh moleknya.Pemuda itu merapikan rambut panjang Wanda yang berantakan di atas bantal, lalu berdiri meregangkan otot bahunya yang terasa penat setelah melayani maraton keintiman berturut-turut.'Kalau malam ini kolam bawah tanah buka loket layanan dua puluh empat jam, gue bakal diklaim jadi karyawan teladan telat tidur paling menderita se-Depok,' batin Tama menghela napas panjang sambil tersenyum tipis.Baru saja Tama hendak membereskan botol minyak aromaterapi di atas meja kecil, suara derap langkah kaki yang anggun dan berwibawa terdengar turun dari anak tangga kayu.Tama menengok cepat ke arah pintu masuk dan mendapati sosok wanita paruh baya berpenampilan luar biasa
Suara gemericik air dari kucuran shower membilas tepi kolam perlahan reda saat Wina mematikan krannya.Wanita berfigur hourglass itu merapikan handuk tebal di tubuhnya, menatap Tama dengan binar mata yang memancarkan rasa puas dan kebahagiaan mendalam."Mas... aku naik duluan ke kamar atas ya? Kaki aku udah nggak begitu gemetaran lagi kok," pamit Wina dengan nada suara 'aku-kamu' yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan sikap juteknya di awal."Iya, Mbak Wina. Hati-hati langkah kakinya di tangga kayu, masih agak licin," pesan Tama lembut mengusap bahu mulus sang kakak tiri kedua."Iya, Mas Ganteng kesayangan," bisik Wina mengecup singkat pipi kanan Tama sebelum memutar selot kunci dan melangkah menaiki anak tangga bawah tanah.Pintu kayu jati tebal itu kembali tertutup pelan, menyisakan Tama sendirian di dalam ruangan beruap hangat yang temaram.







