Se connecterMonica segera berdiri dengan wajah yang pura-pura panik, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. "Aruna! Ini... Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku hanya mencoba membantu membersihkan tumpahan kopi di celana Pak Keenan."
Aruna melangkah masuk dengan hentakan langkah kaki yang keras. Ia menatap celana Keenan yang basah, lalu menatap Monica yang tampak berantakan. "Membantu membersihkan atau sedang mencoba mencicipi milik orang lain?!" Nadanya terdengar rendah dan dingin.Keenan segera melumat bibir Aruna, dengan penuh gairah. Tangannya meremas bakpao Aruna dengan gemas, sementara tubuhnya mendorong Aruna hingga menyentuh cermin besar yang dingin. Kontras antara kulit hangat Keenan dan cermin dingin membuat Aruna memekik nikmat di dalam ciuman mereka."Kamu milikku, Aruna. Semua yang kamu pakai hanya untuk ku," geram Keenan di sela hisapannya pada dada Aruna.Suasana di ruang ganti itu menjadi sangat panas dan pengap karena gairah Keenan. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu luar area ruang ganti."Pak Keenan, maaf mengganggu. Ada telepon penting dari Pak Alexander di lobi," suara pelayan itu memecah suasana.Keenan menghentikan aktivitasnya dengan umpatan kasar. Ia menyandarkan dahinya di bahu Aruna, mencoba mengatur nafasnya yang memburu. "Sial! Papa selalu tahu kapan harus menggangguku."Ia menatap Aruna yang wajahnya sudah sangat berantakan karena gairah, bibirnya bengkak dan merah. "Pakai bajumu. Kita ambil semua ini. Tidak perl
Keenan menyeringai nakal. "Pakaian dalammu. Nando bilang dia tidak berani menyentuh laci itu. Jadi... Sekarang kamu tidak punya pakaian dalam bersih untuk besok pagi, disini.." Aruna membelalak. "Apa?! Terus aku pakai apa besok?" Keenan bangkit dan menarik tangan Aruna. "Itu artinya... Besok pagi-pagi sekali, kita punya agenda penting sebelum ke kantor." "Agenda apa?" "Belanja pakaian dalam. Dan kali ini, aku yang akan memilihkan semuanya untukmu. Aku ingin kamu memakai apa yang aku suka," kata Keenan dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah. ** Pagi ini Keenan sudah bangun dengan energi yang sangat perih semangat. Ia menatap Aruna yang masih meringkuk di balik selimut sutra mereka. Wajah wanitanya tampak begitu tenang, namun Keenan tahu, begitu Aruna bangun dan menyadari bahwa ia tidak punya pakaian dalam bersih, wanita itu akan kembali panik. "Aruna, bangun sayang. Kita ada janji penting pagi ini," bisik Keenan sambil menciumi bahu polos Aruna yang terekspos. A
Mobil sport Keenan meluncur masuk ke area parkir eksklusif gedung penthouse baru mereka. Aruna melirik Keenan yang sejak tadi tak berhenti tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya menandakan kalau pria itu sedang merencanakan sesuatu yang nakal. "Keenan, kamu benar-benar sudah memindahkan semua barang kita? Secepat itu?" tanya Aruna masih sedikit tidak percaya. "Nando itu efisien, Aruna. Lagipula, aku tidak sabar ingin memulai hidup baru bersamamu di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun, terutama Mama," jawab Keenan sambil mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Aruna, menatapnya dengan tatapan begitu mendalam. "Siap melihat rumah barumu, Aruna?" Aruna mengangguk pelan. Saat mereka melangkah keluar dari lift pribadi di lantai teratas, suasana sudah jauh berbeda dari kunjungan mereka sebelumnya. Penthouse itu kini sudah terisi dengan furnitur mewah yang dipilih secara khusus. Pencahayaan temaram memberikan kesan hangat sekaligus intim. Keenan menggandeng tang
Sepanjang perjalanan menuju kantor Wedding Organizer (WO) milik Felicia, Keenan tampak lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas kemudi, sementara tangan kirinya tak pernah lepas menggenggam jemari Aruna. "Kamu kenapa, Keenan? Dari tadi diam saja. Apa ada masalah dengan WO pilihan Papa?" tanya Aruna yang menyimpan rasa penasaran sejak semalam. Keenan menoleh sejenak, lalu mengecup punggung tangan Aruna. "Tidak ada, Aruna. Aku hanya berharap semuanya berjalan lancar. Felicia itu... Mmm.. Ya, dia semoga saja profesional. Hanya saja, namanya mirip dengan wanita yang ada hubungannya dengan Mama.." "Apa maksud kamu Keenan? Jangan bilang kalau dia salah satu 'kandidat' Mama lagi?" tanya Aruna dengan nada curiga. Keenan menghela nafas panjang. "Begitulah. Tapi itu dulu, Aruna. Sebelum aku bertemu kamu. Jadi, tolong jangan terpancing kalau dia sedikit... Berlebihan.. Karena aku dan dia sama sekali tidak pernah terikat hu jangan apapun.." “Hhh.. Entah berapa banyak wanita ya
Aruna yang awalnya memohon untuk istirahat karena kelelahan, kini hanya bisa mendesah pasrah di bawah kungkungan tubuh Keenan. Sentuhan pria itu seolah memiliki daya magic yang mampu membangkitkan kembali gairah yang sempat meredup karena lelah. Keenan tidak membiarkan satu inci pun kulit mulus Aruna terlewatkan. Ciumannya yang menuntut kini merambat turun dari bibir, menyesap ceruk leher Aruna yang sensitif, meninggalkan jejak kemerahan yang baru. "Keenan... Pelan-pelan..." desis Aruna sambil mencengkeram bahu Keenan, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu. "Aku tidak bisa pelan-pelan kalau kamu terlihat semenarik ini, Sayang," bisik Keenan dengan suara serak yang berat. Tangan Keenan bergerak liar, meremas lembut squishy kenyal milik Aruna yang membusung indah di balik sisa pakaiannya yang setengah terbuka. Punggung Aruna melengkung indah saat Keenan mulai melahap dan melumat ujung choco chips miliknya dengan penuh gairah. Sensasi nikmat begitu terasa ke seluruh bagian
Keenan memperhatikan tangan Aruna yang gemetar saat menerima panggilan video call dari nomor tidak dikenal. “Angkat teleponnya Aruna, aku disini,” Keenan memegang tangan Aruna dengan lembut. Begitu layar terbuka, tampak wajah Chelsea yang sembab karena menangis, namun di belakangnya terlihat kerumunan wartawan dengan kamera dan mikrofon yang mengarah padanya. Chelsea tampak sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar, sementara beberapa staf keamanan perusahaan menjaganya agar media tidak masuk lebih jauh. [Aruna... Keenan…] suara Chelsea terdengar serak dan manja, namun kali ini ada ketakutan yang nyata di sana. Aruna hanya diam, ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, membiarkan Keenan mendekat ke arahnya agar wajah pria itu juga masuk ke dalam bingkai kamera. Keenan merangkul bahu Aruna posesif, wajahnya sedingin es, menatap tajam ke arah kamera seolah ingin menembus layar itu dan mencekik Chelsea. [Aku... Aku ingin mengklarifikasi semuanya di depan teman-teman media,] u







