بيت / Romansa / Dirty Office / Bab 212 Wedding Organizer Milik Mantan

مشاركة

Bab 212 Wedding Organizer Milik Mantan

مؤلف: Cynta
last update آخر تحديث: 2026-02-25 17:28:32

​Sepanjang perjalanan menuju kantor Wedding Organizer (WO) milik Felicia, Keenan tampak lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas kemudi, sementara tangan kirinya tak pernah lepas menggenggam jemari Aruna.

​"Kamu kenapa, Keenan? Dari tadi diam saja. Apa ada masalah dengan WO pilihan Papa?" tanya Aruna yang menyimpan rasa penasaran sejak semalam.

​Keenan menoleh sejenak, lalu mengecup punggung tangan Aruna. "Tidak ada, Aruna. Aku hanya berharap semuanya berjalan lancar. Felicia itu... Mm
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dirty Office   Bab 214 Belanja Lingerie 'Mencicipi’ 

    Keenan menyeringai nakal. "Pakaian dalammu. Nando bilang dia tidak berani menyentuh laci itu. Jadi... Sekarang kamu tidak punya pakaian dalam bersih untuk besok pagi, disini.." ​Aruna membelalak. "Apa?! Terus aku pakai apa besok?" ​Keenan bangkit dan menarik tangan Aruna. "Itu artinya... Besok pagi-pagi sekali, kita punya agenda penting sebelum ke kantor." ​"Agenda apa?" ​"Belanja pakaian dalam. Dan kali ini, aku yang akan memilihkan semuanya untukmu. Aku ingin kamu memakai apa yang aku suka," kata Keenan dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah. ** Pagi ini Keenan sudah bangun dengan energi yang sangat perih semangat. Ia menatap Aruna yang masih meringkuk di balik selimut sutra mereka. Wajah wanitanya tampak begitu tenang, namun Keenan tahu, begitu Aruna bangun dan menyadari bahwa ia tidak punya pakaian dalam bersih, wanita itu akan kembali panik. ​"Aruna, bangun sayang. Kita ada janji penting pagi ini," bisik Keenan sambil menciumi bahu polos Aruna yang terekspos. ​A

  • Dirty Office   Bab 213 Penthouse Baru dan ‘Sofa Baru’

    ​Mobil sport Keenan meluncur masuk ke area parkir eksklusif gedung penthouse baru mereka. Aruna melirik Keenan yang sejak tadi tak berhenti tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya menandakan kalau pria itu sedang merencanakan sesuatu yang nakal. ​"Keenan, kamu benar-benar sudah memindahkan semua barang kita? Secepat itu?" tanya Aruna masih sedikit tidak percaya. ​"Nando itu efisien, Aruna. Lagipula, aku tidak sabar ingin memulai hidup baru bersamamu di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun, terutama Mama," jawab Keenan sambil mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Aruna, menatapnya dengan tatapan begitu mendalam. "Siap melihat rumah barumu, Aruna?" ​Aruna mengangguk pelan. Saat mereka melangkah keluar dari lift pribadi di lantai teratas, suasana sudah jauh berbeda dari kunjungan mereka sebelumnya. Penthouse itu kini sudah terisi dengan furnitur mewah yang dipilih secara khusus. Pencahayaan temaram memberikan kesan hangat sekaligus intim. ​Keenan menggandeng tang

  • Dirty Office   Bab 212 Wedding Organizer Milik Mantan

    ​Sepanjang perjalanan menuju kantor Wedding Organizer (WO) milik Felicia, Keenan tampak lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas kemudi, sementara tangan kirinya tak pernah lepas menggenggam jemari Aruna. ​"Kamu kenapa, Keenan? Dari tadi diam saja. Apa ada masalah dengan WO pilihan Papa?" tanya Aruna yang menyimpan rasa penasaran sejak semalam. ​Keenan menoleh sejenak, lalu mengecup punggung tangan Aruna. "Tidak ada, Aruna. Aku hanya berharap semuanya berjalan lancar. Felicia itu... Mmm.. Ya, dia semoga saja profesional. Hanya saja, namanya mirip dengan wanita yang ada hubungannya dengan Mama.." ​"Apa maksud kamu Keenan? Jangan bilang kalau dia salah satu 'kandidat' Mama lagi?" tanya Aruna dengan nada curiga. ​Keenan menghela nafas panjang. "Begitulah. Tapi itu dulu, Aruna. Sebelum aku bertemu kamu. Jadi, tolong jangan terpancing kalau dia sedikit... Berlebihan.. Karena aku dan dia sama sekali tidak pernah terikat hu jangan apapun.." “Hhh.. Entah berapa banyak wanita ya

  • Dirty Office   Bab 211 ‘Tamu Tak Diundang’

    Aruna yang awalnya memohon untuk istirahat karena kelelahan, kini hanya bisa mendesah pasrah di bawah kungkungan tubuh Keenan. Sentuhan pria itu seolah memiliki daya magic yang mampu membangkitkan kembali gairah yang sempat meredup karena lelah. ​Keenan tidak membiarkan satu inci pun kulit mulus Aruna terlewatkan. Ciumannya yang menuntut kini merambat turun dari bibir, menyesap ceruk leher Aruna yang sensitif, meninggalkan jejak kemerahan yang baru. ​"Keenan... Pelan-pelan..." desis Aruna sambil mencengkeram bahu Keenan, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu. ​"Aku tidak bisa pelan-pelan kalau kamu terlihat semenarik ini, Sayang," bisik Keenan dengan suara serak yang berat. ​Tangan Keenan bergerak liar, meremas lembut squishy kenyal milik Aruna yang membusung indah di balik sisa pakaiannya yang setengah terbuka. Punggung Aruna melengkung indah saat Keenan mulai melahap dan melumat ujung choco chips miliknya dengan penuh gairah. Sensasi nikmat begitu terasa ke seluruh bagian

  • Dirty Office   Bab 210 Aku Lelah.. Tapi.. Pengen.. 

    Keenan memperhatikan tangan Aruna yang gemetar saat menerima panggilan video call dari nomor tidak dikenal. “Angkat teleponnya Aruna, aku disini,” Keenan memegang tangan Aruna dengan lembut. Begitu layar terbuka, tampak wajah Chelsea yang sembab karena menangis, namun di belakangnya terlihat kerumunan wartawan dengan kamera dan mikrofon yang mengarah padanya. Chelsea tampak sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar, sementara beberapa staf keamanan perusahaan menjaganya agar media tidak masuk lebih jauh. ​[Aruna... Keenan…] suara Chelsea terdengar serak dan manja, namun kali ini ada ketakutan yang nyata di sana. ​Aruna hanya diam, ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, membiarkan Keenan mendekat ke arahnya agar wajah pria itu juga masuk ke dalam bingkai kamera. Keenan merangkul bahu Aruna posesif, wajahnya sedingin es, menatap tajam ke arah kamera seolah ingin menembus layar itu dan mencekik Chelsea. ​[Aku... Aku ingin mengklarifikasi semuanya di depan teman-teman media,] u

  • Dirty Office   Bab 209 Suasananya Cukup Panas

    Aruna merasa wajahnya kini mungkin tidak lagi merah merona, tapi sudah putih pucat karena sangat malu. Sementara Keenan hanya bisa terbatuk-batuk kecil, kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. ​"Papa pergi dulu. Nando, urus sisanya," Alexander berbalik pergi dengan langkah gagah, meninggalkan Keenan dan Aruna dalam keheningan yang terasa sedikit memalukan. ​Nando yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, tapi bahunya terguncang hebat karena menahan tawa yang akhirnya pecah begitu Alexander menghilang di balik pintu lift. ​"Hahahaha! Astaga Keenan! Mungkin apa kata Papa kamu benar.. Suaranya mungkin terdengar sampai lorong?! Kamu benar-benar luar biasa!" tawa Nando meledak. ​"Nando! Keluar!" bentak Keenan dengan wajah merah padam. ​Sementara itu, Aruna menunduk sambil menutupi wajahnya dengan syal, tidak berani menatap siapa pun bahkan setelah Alexander pergi. ​"Keenan, aku mau pulang sekarang juga. Jangan bicara padaku, jangan sentuh aku! Kamu b

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status