LOGINKeenan mencoba membuka pintu mobil, namun Aruna menahannya dengan sekuat tenaga. Ia memeluk leher Keenan, membenamkan wajahnya di dada pria itu. "Keenan, jangan! Jangan hancurkan rencana kita hanya karena bajingan mabuk itu!" isak Aruna. "Dengarkan aku... jika kamu menyerangnya sekarang, Alexander akan punya alasan untuk memenjarakanmu lagi. Kita butuh Global Medika. Kita butuh bukti kejahatannya. Tolong, tenanglah demi aku... Demi bayi kita." Mendengar kata 'bayi', tubuh Keenan yang tegang perlahan melunak. Ia mengatur napasnya yang memburu, meski matanya masih berkilat penuh amarah. Ia mencium kening Aruna dengan kasar, menyalurkan rasa protektifnya yang luar biasa. "Satu kali lagi... Kalau dia menyentuhmu satu kali lagi, aku tidak akan peduli pada rencana apa pun. Aku akan meratakan gedung itu," desis Keenan. Keenan menoleh pada Nando. "Nando, pastikan CCTV kejadian tadi diamankan. Itu akan jadi kartu as kita nanti.
Di dalam ruang bawah tanah yang kini menjadi wilayah kekuasaannya, Aruna menatap monitor laptop dengan tatapan serius. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard, menyusun formula molekul polimer terbaru yang ia yakini akan mengubah standar industri alat kontrasepsi dunia. "Sedikit lagi... Kalau elastisitasnya ditambah 0,5%, ketipisannya bisa mencapai 0,01 milimeter tanpa risiko robek," gumam Aruna dengan mata yang mulai memerah karena kurang tidur. Earphone kecil di telinganya bergetar. Suara berat Keenan terdengar, mengisi kesunyian ruangan pengap itu. [Aruna, istirahatlah. Ini sudah jam dua siang dan kamu bahkan belum menyentuh air minummu,] tegur Keenan. Meski suaranya terdengar otoriter, ada nada kecemasan yang mendalam di sana. Aruna tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. [Aku hampir menemukannya, Keenan. Inovasi ini... Ini akan menjadi tiket kita untuk membungkam Julian dan para direks
Aruna tersenyum melihat reaksi Keenan, ia mulai melepaskan pakaiannya sendiri di depan mata Keenan yang menggelap karena gairah. Dalam remang lampu kamar, lekukan tubuh Aruna tampak seperti pahatan paling indah di mata Keenan. Aruna merangkak naik kembali, memposisikan dirinya di atas pangkuan Keenan. "Aruna... Kamu akan membunuhku dengan cara seperti ini," gumam Keenan parau. Tangannya yang besar merayap naik, meremas kedua squishy Aruna dengan penuh tuntutan, sementara ibu jarinya memainkan puncak choco chips hingga Aruna melenguh panjang. “Sshhh.. Oouugghhh..” Ciuman mereka kembali bertaut, kali ini lebih dalam dan basah. Lidah mereka saling memagut, bertukar saliva yang semakin liar. Aruna mulai bergerak perlahan di atas Keenan, memberikan gesekan lembut yang membuat Keenan mengumpat dalam keinginan yang menyiksa. "Ahhh... Aruna... Cepat masukkan, sayang," pinta Keenan sambil mencengkram paha Aruna, membantunya menga
Mereka sampai di depan sebuah gedung apartemen menengah, Keenan tampak ragu. Unitnya berada di lantai 12. Saat pintu terbuka, aroma kayu, furnitur lama dan udara yang agak lembab menyambut mereka. Ruang tamunya kecil, hanya ada sofa sederhana, televisi, dan dapur minimalis yang menyatu. Tapi masih ada dua kamar dengan kamar mandi di masing-masing kamar. "Maaf, Aruna. Tempat ini jauh dari kemewahan yang biasa kuberikan padamu," kata Keenan pelan saat Nando meletakkan koper terakhir di sudut ruangan. Aruna melihat sekeliling. Ia melihat jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota yang sederhana. Ia berbalik dan merangkul leher Keenan. "Ini sempurna, Keenan. Tidak ada pelayan yang menguping, tidak ada pengawal di depan pintu, dan tidak ada Papa atau Mama yang bisa masuk sembarangan. Di sini, kita hanya kita berdua.." Keenan tertegun, lalu ia tersenyum tulus, senyum yang jarang sekali terlihat. Ia menarik pinggang Aruna, menekan tubuh wanita itu ke tubuhnya yang masih te
Aruna segera menyelesaikan laporan yang Raisya minta, laporan riset awal tentang bahan latex terbaru. Ia sudah pernah membuat sebelumnya dan tentu saja mempunyai salinan datanya di flashdisk pribadinya. “Untung aku selalu mengcopy setiap pekerjaanku, selain berjaga karena data eror, juga untuk hal urgent seperti ini.. Harusnya dia tidak perlu memintanya padaku karena di komputer ku ada semua, tapi ya sudahlah.. Biarkan dia bahagia karena merasa berhasil menyiksaku..” gerutu Aruna. [Aruna, apa semua baik-baik saja? Wanita itu menyusahkan mu?! Siapa tadi namanya? Akan aku masukkan target pembalasan!] suara Keenan masih terdengar memantau situasi di ruang kerja Aruna. [Tidak apa-apa Keenan,hanya pekerjaan copy paste aja.. Sebentar lagi juga selesai.. Oh ya, aku mau merenovasi ruangan ku.. Tolong sampaikan Papa ya..] [Hmm.. Aku akan bilang padanya, seharusnya itu tidak masalah karena untuk kepentingan perusahaan..] [Oke selesai.. Sekarang aku mau menelpin Nando dulu, aku mau minta
Aruna tetap melangkah tegak menuju lift. Ia tidak menuju lantai atas, melainkan menuju lantai paling bawah, tempat Divisi Riset dan Pengembangan berada. Di sana, ia disambut oleh Maya, wakil kepala bagian yang dulu menjadi bawahannya saat Aruna masih menjabat sebagai kepala bagian asisten. "Aruna... Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat banyak," Maya memeluk Aruna dengan sedih. "Tidak apa-apa, Maya. Di mana meja kerjaku?" Maya ragu sejenak sebelum menunjuk ke arah lorong gelap di ujung lantai. "Kepala bagian yang baru, Bu Raisya, meminta mu menempati laboratorium riset lama. Di samping gudang arsip." ”Oke gak masalah..” Aruna mengangguk pelan. Ia melangkah menuju ruangan yang dimaksud. Ruangan itu berdebu, pengap, dan hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip. Namun, Aruna justru tersenyum. “Hmm.. Lumayan sepi.. Tapi sepertinya disini aku akan punya banyak ide dan bisa bekerja tanpa gangguan..” gumamn







