로그인Aruna tersenyum tipis, ia mendekat dan berbisik tepat di telinga Keenan, "Karena aku adalah istrimu, dan aku ingin pria yang kucintai tidak memiliki penyesalan dalam hidupnya. Sekarang, lepaskan aku sebentar, atau naga milikmu itu akan membuat ku tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini." Keenan terkekeh rendah, rasa panas menjalar di tubuhnya saat merasakan napas Aruna di telinganya. Ia menarik tengkuk Aruna dan membungkam bibirnya dengan lumatan yang penuh gairah di koridor rumah sakit yang sepi itu. Ciuman yang menuntut, penuh rasa lapar yang belum tuntas dari kejadian di kantor tadi siang. "Segeralah kembali. Aku tidak bisa menjamin kewarasanku kalau kamu terlalu lama pergi disaat baru saja datang," bisik Keenan setelah melepaskan tautan bibir mereka. “Aku akan kembali secepatnya, Keenan..” Aruna melangkah kembali ke parkiran menuju mansion bersama sopir, sementara Nando menemani Keenan dirumah sakit.
[Kamu selalu tahu cara melunakkan hatiku, bahkan di saat aku ingin menjadi batu, Aruna. Baiklah, akan aku pikirkan sambil menunggumu datang ke sini..] [Baiklah aku kan segera datang, Keenan. Aku akan segera menyelesaikan draf ini dan menyusulmu. Aku merindukanmu,] bisik Aruna, memberikan sentuhan romantis untuk meredakan ketegangan suaminya. [Aku lebih merindukanmu. Cepatlah datang,] pinta Keenan dengan nada sensual yang membuat perut Aruna berdesir. Setelah panggilan terputus, Aruna masih menggenggam ponselnya erat. Suara berat suaminya yang penuh keletihan sekaligus hasrat yang tak tersembunyi masih terngiang di telinganya. Ada beban berat yang kini terpikul di pundak Keenan, beban sebagai seorang anak yang melihat ayahnya sekarat, sekaligus beban sebagai pemimpin yang harus menjaga agar kerajaan bisnisnya tidak runtuh. ‘Aku harus segera menyelesaikan sekarang, Keenan membutuhkan ku saat ini..’ Aruna me
Aruna terdiam. ‘Apa ini sebuah rahasia? Di saat kondisi perusahaan sedang di ujung tanduk seperti ini, Papa masih menyimpan sesuatu yang bahkan tidak boleh diketahui oleh anaknya sendiri?’ "Maksudmu... Ini rahasia dari Keenan juga?" Aruna memastikan. "Iya. Beliau sangat bersikeras," jawab Nando pelan. Aruna mengepalkan tangannya di balik saku jas lab. Ia merasa ada masalah besar yang sedang mengintai di balik kesembuhan mertuanya nanti. Namun, ia tidak ingin memaksa Nando lebih jauh. Ia tahu loyalitas Nando adalah pilar bagi Keenan. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu sekarang. Tapi ingat, Nando, kalau rahasia itu justru membahayakan Keenan, aku tidak akan tinggal diam," tegas Aruna. “Kamu tenang saja, Aruna. Bagaimanapun juga aku orang kepercayaan Keenan..” kata-kata Nando membuat Aruna sedikt merasa lega, itu artinya Nando masih di pihak Keenan. Mereka kembali fokus pada pekerjaan. Arun
Aruna mendongak sebentar. Matanya bertemu dengan mata Keenan. "Syok kardiogenik, Keenan. Tekanan darahnya turun drastis. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang. Tim medis ambulans sudah di bawah." Keenan mendekat, ia berdiri di samping Aruna. Ia menatap wajah Papanya yang tampak sangat rentan dalam kondisi pingsan. Kebencian yang tadi membara seolah tertutup oleh rasa kemanusiaan yang mendesak. "Yosua setuju," bisik Keenan di telinga Aruna saat mereka membantu tim medis mengangkat Alexander ke tandu. Aruna meremas tangan Keenan sekilas. "Bagus. Itu artinya satu masalah selesai. Sekarang kita harus memastikan Papa selamat, bukan hanya karena dia Papamu, tapi karena hanya dia yang bisa menandatangani pengalihan otonomi laboratorium itu secara legal di depan notaris nanti." Keenan menatap Aruna dengan tatapan intens. "Kamu masih bisa memikirkan bisnis di saat seperti ini?" Aruna menatap balik dengan
Keenan dan Aruna seketika terdiam mendengar suara teriakan Nando, mereka berdua saling berpandangan dengan penuh tanya dan rasa penasaran. Gairah dan kebahagiaan yang baru saja terjadi di atas meja kerja itu seketika membuat keduanya merasa cemas. Karena suara ketukan pintu dari Nando bukan sekadar ketukan biasa, melainkan ketukan darurat yang mampu menjungkirbalikkan fokus Keenan dalam sekejap. Keenan masih memegang ponsel di telinganya. Di seberang sana, suara Yosua, dari Global Corporation, terdengar jelas dan penuh selidik. [Halo? Keenan? Kenapa diam saja? Penawaran apa yang kamu maksud?] suara Yosua terdengar menuntut di speaker telepon. Keenan masih membeku. Matanya yang biru melebar dan menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara kemarahan yang belum tuntas, kecemasan alami seorang anak, dan tanggung jawab bisnis yang sedang dipertaruhkan. "Keenan! Papa kamu pingsan! Cepat buka pintunya!" teriak Na
"Karena produk inovasi terbaru kita adalah Silk-Graphene, Keenan," Aruna menjelaskan dengan mata yang berbinar cerdas. "Global Corporation sedang berjuang menembus pasar kesehatan di Eropa dengan inovasi baru. Kalau kita menawarkan mereka hak distribusi eksklusif tahap pertama melalui jaringan logistik mereka yang sudah mapan, mereka tidak perlu waktu lama untuk 'meloloskan' sertifikasi itu. Mereka punya jalur hijau di bea cukai internasional dan badan kesehatan dunia." Aruna menarik napas dalam, wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Keenan hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Global Corporation butuh produk revolusioner untuk menaikkan harga saham mereka di kuartal ini, dan kita butuh jalur cepat. Ini simbiosis mutualisme. Kalau Yosua setuju, peluncuran tiga puluh hari bukan lagi mimpi, tapi kepastian." Keenan menatap Aruna dengan tatapan kagum yang dalam. Ia tidak menyangka Aruna memperhatikan struktur kepemilikan Global Corporation hingga se
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







