Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 2 Sarang Putih

Share

BAB 2 Sarang Putih

Author: MasBrey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-13 20:44:50

“Diputusin di depan orang sepasar, euy. Mantap.”

Asep, dua puluh sembilan tahun, perantau asal Garut, menyikut bahu Juki begitu pikap keluar dari Rawa Belong. Mereka duduk berhadapan di bak belakang, terjepit di antara gergaji, tangga lipat, dan tumpukan karung kosong.

“Kok Kang Asep udah tahu?”

“Yang nggak tahu mah tinggal ikan di got.” Asep nyengir. “Eh, ikannya juga tahu ding. Kan rumahnya tadi kamu acak-acak.”

Juki mengusap muka. “Kang...”

“Udah atuh, jangan ditekuk gitu mukanya. Cewek mah banyak.”

“Yang mau sama aku tuh yang nggak banyak, Kang.”

Tawa Asep meledak sampai Darto menggedor kaca kabin dari dalam.

Juki ikut senyum sedikit. Asep memang begitu. Mulutnya tidak ada remnya, tapi di CV Darma cuma dia yang mau berbagi rokok dan nasi bungkus dengan Juki.

“Kang,” kata Juki setelah lama diam. “Tadi aku bilang ke Silvi, dia bakal nyesel suatu hari.”

“Iya, sepasar denger.” Asep nyengir lagi. “Terus? Bikin dia nyeselnya pakai apa? Gaji tukang rumput?”

“Belum tahu. Pokoknya aku nggak mau jadi tukang rumput seumur hidup.”

Cengiran Asep hilang. Dia menatap Juki agak lama, lalu menepuk lututnya.

“Nah, gitu atuh. Laki-laki mah kudu punya dendam dikit. Asal dendamnya jadi duit, jangan jadi galau.”

Pikap berbelok ke jalan-jalan lebar Menteng dan berhenti di depan sebuah rumah tua.

Rumahnya besar dan sunyi.

Cat putihnya kusam dan mengelupas di sana-sini. Jendelanya dipaku papan. Pagar besinya karatan, setengah roboh. Rumput liar di halaman tingginya sepinggang.

“Minggu depan dirobohin,” kata Darto sambil membuka gembok. “Yang beli mau bangun baru. Pohon tebang semua, tanaman angkut semua. Sore udah harus beres!”

“Ini rumah siapa, Pak?” tanya Juki.

“Mana kutahu. Yang penting dibayar.”

Sambil menurunkan gergaji, Asep berbisik. “Kata tukang parkir depan, dulu yang tinggal di sini nenek-nenek. Sendirian. Hobinya melihara lebah.”

“Lebah?”

“Heeh. Terus suatu hari si nenek nggak keluar-keluar. Pas pintunya didobrak, rumahnya kosong melompong. Neneknya ilang.”

“Kang, jangan nakut-nakutin ah.”

“Siapa yang nakut-nakutin? Aku mah ngasih info doang.” Asep melirik pohon besar di tengah halaman. “Ntar kamu aja yang manjat itu. Aku mah takut papasan sama neneknya.”

Sampai siang mereka membabat rumput, mencabuti perdu, dan mengangkut pot-pot pecah ke pikap. Matahari Jakarta menyengat ubun-ubun. Kaus Juki basah kuyup sampai ke pinggang celana.

Di halaman belakang, di balik rumpun kembang sepatu yang sudah liar, Juki menemukan tujuh kotak kayu berjajar di atas tiang besi pendek. Kayunya lapuk dan berlumut. Tiap tutupnya bertuliskan dua huruf cat putih yang sudah pudar, R.S.

Satu tutup dia buka. Isinya kosong, cuma sisa lilin kering dan bau manis yang samar sekali.

“Kang. Sini deh.”

Asep mendekat, lalu buru-buru mundur dua langkah. “Tuh, kan. Kotak lebahnya si nenek. Apa aku bilang.”

“R.S. itu apaan, Kang?”

“Rumah Seram,” sahut Asep cepat. “Udah, tutup lagi. Jangan diubek-ubek.”

“Tadi katanya cuma ngasih info.”

“Lha ini infonya. Tutup.”

Juki ketawa dan menutup kotak itu. Entah kenapa, sebelum lanjut kerja, dia masih menoleh dua kali ke deretan kotak itu.

Darto duduk santai di teras sambil merokok, sesekali teriak.

“Juki! Itu masih ada rumput! Matamu di mana?!”

“Iya, Pak.”

“Pantes aja diputusin. Kerja lelet gitu.”

Arit di tangan Asep berhenti terayun. Juki cuma menunduk dan meneruskan kerjanya.

‘Tahan, Juk. Kamu masih butuh gaji ini.’

Jam tiga sore, tinggal satu kerjaan, pohon kenari tua di tengah halaman. Batangnya tidak muat dipeluk dua orang. Akarnya mencuat ke mana-mana sampai jalan setapaknya retak.

“Juki, naik,” perintah Darto. “Potong dulu dahan yang ngarah ke tembok. Biar pas ditebang nggak nimpa rumah sebelah.”

“Sendirian, Pak?”

“Tadi pagi pikap nungguin kamu ngubek got, kan? Anggap aja ini dendanya.”

Juki mengikat gergaji tangan di pinggang, lalu mulai memanjat. Kulit pohonnya kasar dan berlumut. Makin tinggi, anginnya makin kencang.

Sampai di dahan ketiga, dia mulai menggergaji.

Srek. Srek. Srek.

Krak!

Dahan itu patah separuh dan menggantung. Di rongga pangkalnya, ada sesuatu yang putih susu.

“Kang! Ada sarang lebah di sini!”

“Hah?! Turun, Juk! Buruan turun!” teriak Asep dari bawah.

Juki sudah setengah jalan turun, lalu berhenti.

Tidak ada dengung. Tidak ada lebah yang menyerbu keluar. Rongga itu sepi.

Pelan-pelan dia naik lagi dan mengintip.

Sarangnya putih bersih. Sarang lebah di kampungnya dulu selalu cokelat kehitaman. Sel-sel yang ini rapi, mengilap, ukurannya sama semua. Bagian bawahnya penuh madu putih kental yang sudah mengkristal.

Di permukaan sarang cuma ada satu ekor lebah. Badannya putih, sebesar ruas kelingking, sayapnya bening. Lebah itu diam saja, tidak terbang, tidak bergerak.

‘Lebah kok putih? Baru kali ini aku lihat.’

“Juk! Itu lebah apaan?!” teriak Asep.

“Cuma seekor, Kang! Kayaknya udah tua!”

“Ya udah, usir aja! Jangan dipegang!”

Pelan-pelan Juki mengulurkan tangan, mau mengusirnya pakai punggung tangan.

Bzzzt!

Lebah itu melesat lurus dan menyengat leher kirinya.

“Aduh! Sial!”

Rasanya beda dari sengatan lebah biasa. Panasnya merambat cepat dari leher ke dada, lalu ke kedua lengan. Kepalanya berputar. Juki mencengkeram dahan erat-erat biar tidak jatuh.

Matanya dia pejamkan. Napasnya dia hitung. Satu. Dua. Tiga.

Pelan-pelan pusingnya reda.

Waktu telapak tangan kanannya dia buka, lebah putih itu sudah tergeletak di sana. Diam. Mati.

‘Lho, kok bisa ada di tanganku?’

“JUK! KAMU KENAPA?!”

“Kesengat, Kang! Nggak apa-apa!”

“Turun dulu, atuh! Itu lehermu merah!”

Juki memandangi lebah mati itu, lalu sarangnya. Baunya manis sekali. Manisnya hangat, bikin dadanya terasa penuh.

Tanpa mikir panjang, dia mematahkan sepotong sarang yang berisi kristal madu dan memasukkannya ke saku celana. Bangkai lebahnya ikut masuk.

“Woy! Kerja! Bukan main lebah!” bentak Darto dari teras.

Begitu Juki turun mengambil tali, Asep langsung menarik kerah kausnya dan memeriksa lehernya.

“Bengkak, Juk. Tapi kok...” Mata Asep menyipit. “Kok tengahnya putih?”

“Putih gimana?”

“Ya putih. Ada titik putih kecil di tengah-tengah.” Asep menggaruk kepala. “Aneh, euy. Disengat tawon mah biasanya merah semua.”

“Udah, Kang. Nggak sakit, kok, beneran.”

Juki bohong. Lehernya berdenyut panas. Tapi di balik panas itu ada rasa lain yang tidak bisa dia jelaskan. Hangat dan penuh, dari dada sampai ujung jari.

Juki memanjat lagi. Waktu dia minta duduk sebentar, Darto mengibaskan tangan.

“Disengat lebah doang. Dulu aku kesengat tawon lima biji, besoknya masih nyangkul.”

Juki kerja terus sampai pohon itu beres dipangkas.

Di bak pikap waktu pulang, Asep diam-diam menempelkan uang koin dingin ke leher Juki. “Kalau malam ini kamu demam, jangan sok jagoan. Telepon aku.”

“Iya, Kang.”

Malamnya, di kamar kos tiga kali tiga meter, Juki menggigil di atas kasur tipis.

Badannya panas tinggi. Bekas sengatan berdenyut-denyut. Kipas angin berderit, tapi keringatnya terus mengucur.

Potongan sarang dan bangkai lebah dia keluarkan dari saku, lalu dia taruh di ambang jendela, di sebelah pot aglonema murah yang daunnya setengah layu. Pot itu dia siram dengan sisa air minum, kebiasaan tiap malam. Tangannya gemetar.

Lalu dia rebahan dan tertidur, setengah sadar.

Di dalam mimpi, ada dengung yang dekat sekali. Bunyinya datang dari dalam telinganya sendiri.

Bzzzz...

Bau madu memenuhi kamar. Pekat, manis, hangat.

‘Aku ini kenapa, sih...’

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status