Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 3 Bonsai Pak Gunawan

Share

BAB 3 Bonsai Pak Gunawan

Author: MasBrey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-13 20:49:31

Besok paginya, demam Juki lenyap begitu saja.

Bengkak di lehernya sudah kempis. Yang tersisa cuma satu bintik putih kecil, bersih, berkilau samar kalau kena cahaya.

Lalu matanya tertumbuk ke pot di jendela.

Aglonema lima belas ribuan yang kemarin hijau polos dan setengah layu itu pagi ini belang putih dan merah muda. Daunnya tegak. Waktu Juki menyentuhnya, daunnya terasa hangat.

‘Lho. Yang begini paling murah sejuta, kan?’

Tapi dia tidak sempat mikir panjang. Motornya mogok lagi, padahal pikap berangkat jam delapan. Buru-buru dia menyiram dua pot aglonema afkiran lainnya, mendorong motor ke bengkel di Jalan Panjang, lalu lari ke pangkalan pikap.

“Akinya soak, Mas! Ambil jam sembilan malem!” teriak montir di belakangnya.

Tujuan hari itu rumah Pak Gunawan di Menteng, dua blok dari rumah tua kemarin.

Pak Gunawan umurnya enam puluh lima, pensiunan diplomat. Rambutnya putih semua, kemejanya licin bekas setrika. Dia berdiri di teras dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap tiga tukang taman CV Darma satu per satu dari kepala sampai sandal.

Tamannya luas, tapi separuh tanamannya merana. Daunnya menguning, batangnya lemas, tanah potnya retak-retak.

“Sudah tiga tukang taman saya ganti. Nggak ada yang becus,” katanya. “Yang terakhir malah bikin akar anggrek saya busuk.”

“Siap, Pak. Kali ini dijamin beres,” sahut Darto sambil membungkuk dalam-dalam.

Pak Gunawan tidak menanggapi. Telunjuknya mengarah ke teras samping.

“Yang paling penting yang itu. Jangan sampai mati.”

Di teras samping berjajar anggrek dendrobium, ditambah satu bonsai cemara dalam pot keramik cokelat tua. Batangnya meliuk, umurnya kelihatan sudah puluhan tahun. Tapi separuh daunnya cokelat dan rontok.

Begitu Pak Gunawan masuk rumah, Darto langsung balik badan.

“Juki. Teras samping, kamu yang pegang.”

“Saya, Pak? Saya belum pernah ngurus bonsai...”

“Ya makanya belajar!” Darto mendekat dan memelankan suara. “Kalau bonsai itu mati, yang disalahin kamu. Bukan aku. Ngerti?”

Dari balik semak, Asep melirik Juki dan menggerakkan bibir tanpa suara. Sabar.

Juki memulai dari anggrek.

Anggrek-anggrek itu dia keluarkan satu per satu dari potnya. Akar yang busuk dia buang, medianya dia ganti pakis dan arang baru. Sebelum dimasukkan lagi ke pot, batangnya dia pegang sebentar.

Telapak tangannya hangat. Hangatnya datang dari dalam, lalu mengalir ke batang yang dia genggam.

‘Perasaanku aja kali, ya.’

Sejam kemudian Asep lewat sambil memanggul karung pupuk, lalu mendadak berhenti.

“Juk.”

“Kenapa, Kang?”

“Anggrek yang itu tadi bukannya udah lemes?”

Juki menoleh. Dendrobium yang tadi terkulai sekarang tegak dengan daun hijau mengilap. Satu tangkai bunga ungu yang tadi masih kuncup sudah mekar.

“Lho...”

“Kamu kasih apaan? Pupuk apa?”

“Air doang, Kang. Sumpah,” jawab Juki.

“Air doang dari Hongkong.” Asep menyipitkan mata. “Kamu ngumpetin pupuk mahal, ya? Bagi atuh. Aku juga pengin dipuji.”

“Beneran, Kang. Air sama media baru doang.”

Asep memandangi anggrek itu, lalu Juki, lalu anggrek itu lagi.

“Juk. Kemarin kamu kesengat lebah putih, kan?”

“Terus?”

“Nggak. Nanya doang.” Asep memanggul karungnya lagi dan berlalu. Tapi dua kali dia menoleh ke belakang.

Menjelang sore, kerjaan tinggal bonsai cemara.

Lama Juki jongkok di depannya. Dia bingung mau mulai dari mana. Di kampung, tanaman paling ribet yang pernah dia urus cuma cabai.

Ranting yang benar-benar kering dia pangkas. Tanah potnya dia gemburkan pelan-pelan pakai sumpit bambu, lalu dia siram sedikit-sedikit.

Setelah itu kedua telapak tangannya dia tempelkan ke batang bonsai, dan matanya dia pejamkan.

Hangat itu datang lagi, lebih kuat. Mengalir dari dada ke lengan, lalu ke telapak. Bintik putih di lehernya berdenyut pelan.

Samar-samar tercium bau madu.

“Kamu lagi ngapain?”

Juki terlonjak. Pak Gunawan berdiri di tangga teras sambil membawa dua gelas teh.

“Ma-maaf, Pak. Saya... lagi ngecek batangnya. Masih hidup apa nggak.”

Pak Gunawan diam saja. Gelas teh dia taruh di meja, lalu dia mendekat. Matanya terpaku ke bonsai itu.

Ujung ranting yang tadi pagi cokelat kini mulai hijau. Tunas-tunas kecil menyembul di sela daun.

Waktu menyentuh tunas itu, tangan tua Pak Gunawan gemetar.

“Ini punya istri saya,” katanya pelan. “Tiga puluh tahun dia rawat, sejak kami tugas di Tokyo. Dua tahun lalu dia meninggal. Sejak itu bonsai ini ikut sakit. Saya pikir... ya sudah. Biar ikut pergi juga.”

Juki cuma bisa diam. Tangannya masih belepotan tanah.

“Saya cuma ngerapiin, Pak. Sama nyiram.”

“Tiga tukang taman sebelum kamu juga ngerapiin dan nyiram.” Pak Gunawan menatapnya lama. “Nama kamu siapa?”

“Juki, Pak. Marjuki.”

“Asalnya dari mana?”

“Kebumen, Pak.”

“Merantau sendiri?” tanya Pak Gunawan lagi.

“Iya, Pak. Emak saya di kampung.”

Pak Gunawan mengangguk pelan. Satu gelas teh dia ambil dan sodorkan ke Juki. Juki ragu sebentar, lalu menerimanya pakai dua tangan.

“Almarhumah dulu suka bilang, tanaman itu tahu siapa yang sayang sama dia,” kata Pak Gunawan. “Saya kira cuma omongan orang tua.”

“Mungkin bener, Pak.”

“Mungkin.” Pak Gunawan memandangi tunas-tunas kecil itu lagi. Matanya basah, tapi suaranya tetap tegas. “Minggu depan kamu datang lagi. Ajari saya cara nyiramnya. Saya mau rawat sendiri.”

“Siap, Pak.”

Pak Gunawan membuka dompet, menghitung sepuluh lembar seratus ribuan, lalu menyelipkannya ke tangan Juki yang masih kotor.

“Buat kamu.”

Darto langsung muncul dari balik semak. “Wah, makasih banyak, Pak! Nanti uangnya saya masukin kas CV, biar...”

“Saya bilang itu buat dia,” potong Pak Gunawan. Suaranya tidak keras, tapi Darto langsung bungkam. “Satu lagi. Taman ini mau saya kontrak, dirawat tiap bulan. Syaratnya, anak ini yang datang. Bukan yang lain. Nanti saya telepon Darma.”

Darto melongo. Mulutnya menganga, tapi tidak ada suara yang keluar.

Juki memandangi uang di tangannya. Sejuta. Tip paling gede seumur hidupnya.

Dari balik semak, Asep mengacungkan dua jempol sambil nyengir lebar.

Sepanjang jalan pulang, Darto tidak bicara sepatah kata pun. Tapi Juki bisa merasakan tatapannya menembus kaca kabin.

Asep menyikut bahunya. “Sejuta, euy. Traktir nasi padang atuh.”

“Iya, Kang. Nanti.”

“Nanti kapan? Ntar kamu lupa. Orang kaya baru mah suka lupaan.”

“Cuma sejuta, Kang. Kaya dari mananya.”

“Hari ini sejuta. Besok?” Asep mendekat dan berbisik. “Juk, aku serius. Itu bonsai tadi pagi udah sekarat. Aku lihat sendiri.”

“Kebetulan aja, Kang.”

“Kebetulan mah sekali. Ini anggrek, bonsai, semuanya.” Asep mengetuk-ngetuk leher Juki, pas di bintik putih itu. “Jangan-jangan gara-gara ini.”

Juki ketawa. Lalu dia memandangi telapak tangannya sendiri. Kapalan, kotor tanah, kukunya hitam. Tangan yang kemarin pagi ditepis Silvi gara-gara bau pupuk.

Tangan yang sama barusan menghidupkan bonsai umur tiga puluh tahun.

‘Ini tanganku kenapa, sih?’

Gelang penyok itu dia keluarkan dari saku, dia pandangi sebentar, lalu dia masukkan lagi. Sejuta memang belum ada apa-apanya dibanding mobil putih Rendi. Tapi kemarin dia tidak punya apa-apa sama sekali.

‘Sabar, Sil. Tunggu aja.’

Uang sejuta itu cukup buat beli aki baru. Sisanya bisa buat nyicil kos.

Malam ini dia mau ambil motor di bengkel, lewat jalan pintas yang biasa, lewat parkiran ruko gelap di belakang Jalan Panjang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status