Mag-log inKamar Dinda paling ujung, pintunya langsung menghadap samping rumah. Rapi, ber-AC, wanginya wangi sabun. Isinya kasur busa berseprai biru, meja rias kecil, lemari plastik, dan pemanas air listrik di rak. Di dinding tertempel foto Dinda bareng dua anak muda berjaket almamater.
“Adik-adikku,” kata Dinda tanpa ditanya. Dia melempar handuk dan kaus oblong gombrong ke arah Juki. “Ganti gih. Ntar masuk angin.”
“Di sini, Mbak?”
“Aku ganti di kamar mandi, kamu di sini. Adil, kan?” Dinda mengambil baju dari lemari, masuk ke kamar mandi, lalu menguncinya.
Juki berganti kaus sambil menghadap tembok. Kausnya kebesaran dan wangi deterjen. Celana jinsnya masih basah, tapi masa iya minta pinjam celana juga.
Dia duduk di lantai dekat pintu. Kasur itu sengaja tidak dia dekati. Tahu diri.
‘Tunggu hujan reda, terus pulang. Dorong motor juga nggak apa-apa.’
Lima menit kemudian Dinda keluar pakai kaus lengan panjang dan celana training abu-abu. Rambutnya dibungkus handuk kecil, maskaranya sudah bersih. Tanpa riasan, dia kelihatan lebih muda, juga lebih capek.
Pemanas air dia isi, lalu dua sachet teh jahe dia sobek.
“Kok duduk di lantai, Mas? Kayak tamu RT aja.”
“Celana saya basah, Mbak. Ntar kasurnya ikut basah.”
“Ya udah, aku ikut ngelantai.” Dinda duduk bersila di depannya dan menyandarkan punggung ke pinggir kasur. “Biar sama-sama tamu RT.”
Klik.
Airnya mendidih. Dinda menuang dua gelas dan menyodorkan satu ke Juki. Uapnya hangat dan pedas di hidung.
“Tadi kamu berani banget,” kata Dinda. “Kenapa mau nolongin aku? Kenal aja nggak.”
Lama Juki memutar-mutar gelas di tangannya.
“Kemarin pagi saya baru diputusin, Mbak.”
Alis Dinda terangkat. “Terus?”
“Di depan orang sepasar. Saya dikatain tukang rumput. Gelang yang saya kasih dilempar ke got.” Juki ketawa kecil, padahal tidak ada yang lucu. “Saya diem aja. Orang-orang ngetawain, saya tetep diem.”
Dinda tidak menyela.
“Tadi pas denger suara Mbak di mobil, saya keinget pagi itu. Rasanya sama. Ada yang diinjek, semua orang diem.” Juki menatap teh jahenya. “Saya nggak mau diem dua kali.”
Hujan menderu di atap. Dinda memandanginya lama.
“Terus gelangnya?”
“Saya ambil lagi. Dari got.” Juki merogoh saku jinsnya yang basah dan mengeluarkan gelang perak penyok itu. “Saya simpen.”
“Buat apa? Mau ngajak balikan?”
“Nggak.” Jawaban itu keluar lebih cepat dari dugaannya sendiri. “Saya udah bilang ke dia, suatu hari dia bakal nyesel. Nanti kalau hari itu dateng, gelang ini saya balikin. Di depan orang sepasar juga.”
Dinda bersiul pelan. “Galak juga kamu. Nama mantanmu siapa?”
“Silvi. Anaknya bos saya.”
“Anak bos?” Dinda hampir tersedak tehnya. “Kamu diputusin anak bos, terus kamu nantangin dia di kios bapaknya sendiri?”
“Bapaknya nggak ada, Mbak. Cuma ada karyawannya.”
“Sama aja.” Dinda geleng-geleng, tapi bibirnya senyum. “Nekat bener kamu.”
“Ngomong doang, Mbak. Gaji saya sebulan cuma sejuta.”
“Terus caranya gimana?”
“Belum tahu.” Juki diam sebentar. “Tapi tadi sore ada bapak-bapak ngasih saya tip sejuta. Katanya cuma saya yang bisa ngurus bonsainya. Baru kali itu kerjaan saya dihargain orang.”
“Nah. Itu awalnya.” Dinda menunjuk gelang di tangan Juki pakai dagu. “Orang yang berani ngomong kayak tadi ke Pak Yoga nggak bakal jadi tukang rumput selamanya. Percaya deh sama aku.”
Juki bingung mau jawab apa. Gelang itu dia kantongi lagi.
“Kalau Mbak sendiri gimana?” tanyanya. “Soal Pak Yoga?”
Dinda mengangkat gelas mau minum. Tangannya mendadak berhenti di udara.
Gelas itu bergetar. Sedikit, lalu makin kencang. Teh jahenya tumpah ke celana training.
“Eh... eh, kok...” Dinda menatap tangannya sendiri, bingung. “Kok gemeterannya baru sekarang, sih.”
Juki cepat-cepat mengambil gelas itu dan menaruhnya di lantai.
“Mbak...”
“Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa, kok.” Suaranya pecah di ujung. “Tadi pintunya dikunci, Mas. Aku tarik-tarik nggak kebuka. Aku udah mikir...”
Kalimatnya putus. Bahunya mulai berguncang.
Juki membeku. Dia tidak pernah tahu harus ngapain kalau ada perempuan menangis. Dulu waktu emak menangis di terminal Kebumen, dia cuma bisa berdiri sambil memegangi tas.
Tangannya naik, turun, lalu naik lagi.
Ujung-ujungnya dia menepuk bahu Dinda. Dua kali. Kaku banget.
Di sela tangisnya, Dinda malah ketawa. “Kamu nepuk aku kayak nepuk kambing.”
“Maaf, Mbak. Saya nggak jago ginian...”
“Sini aja.” Dinda bergeser dan menyandarkan dahi ke bahu Juki. “Bentar. Bentar aja.”
Juki tidak bergerak. Dia membiarkan Dinda menangis di bahunya. Kaus pinjaman itu basah lagi, kali ini oleh air mata.
Pelan-pelan, tanpa dia sadari, wangi madu memenuhi kamar. Pekat dan hangat, keluar dari kulitnya sendiri.
Tangis Dinda mereda. Napasnya yang tadi putus-putus jadi panjang dan teratur.
“Aneh,” gumamnya, masih bersandar. “Kok aku tenang banget ya deket kamu. Kayak abis minum obat.”
“Mungkin karena teh jahenya, Mbak.”
“Teh jahenya kan tumpah, Mas.”
Juki kehabisan alasan. Dinda ketawa lagi, kali ini tanpa air mata.
Dia menegakkan badan dan mengusap pipi pakai lengan kaus. Matanya bengkak, tapi sudah tidak gemetar.
“Senin aku mau ke HRD,” katanya. “Bawa foto yang kamu ambil tadi. Kalau dipecat ya udah, dipecat. Daripada tiap lembur ketakutan.”
“Mbak yakin?”
“Nggak juga. Tapi tadi ada tukang rumput yang berani. Masa aku kalah sama dia.”
Hujan di luar mulai reda.
Juki berdiri dan meraih jaketnya yang basah. “Saya pamit ya, Mbak. Motornya saya tinggal dulu. Besok pagi saya ambil.”
“Catet nomorku dulu.” Dinda menyebutkan dua belas angka. Juki mengetiknya, salah dua kali. “Fotonya kirim sekarang. Dua-duanya.”
Juki mengirim foto plat dan muka Pak Yoga. HP Dinda berbunyi di atas kasur.
“Kabarin kalau udah nyampe,” kata Dinda.
“Iya, Mbak.”
“Satu lagi.” Dinda bersandar di kusen pintu sambil melipat tangan. “Kalau mantanmu itu udah nyesel, kamu wajib cerita ke aku duluan. Lengkap. Sampai bagian gelangnya.”
“Kenapa, Mbak?”
“Soalnya aku pengin ikut seneng.” Dinda tersenyum, untuk pertama kalinya malam itu tanpa sisa takut. “Inget ya. Itu utang. Nanti aku tagih.”
*****
Menjelang tengah malam, Juki pulang naik ojek.
Di kamar kos, dia mengetik pesan.
Juki: Udah nyampe, Mbak.
Balasannya cepat.
Dinda: Makasih udah nggak kayak dia. Tidur yang nyenyak ya, Mas.
Gelang penyok itu dia taruh di samping bantal, lalu dia rebahan.
Di dalam tidur, dengung itu datang lagi.
Bzzzz...
Seekor lebah putih terbang di depannya, melintasi deretan lapak barang bekas. Kandang burung, setrika arang, radio tua. Di atasnya terpasang papan seng karatan bertuliskan Pasar Loak Jatinegara.
Lebah itu hinggap di pot keramik biru yang bibirnya retak. Sayapnya bergetar tiga kali, lalu diam.
Juki terbangun. Kamarnya masih gelap. Bau madu tercium samar.
‘Jatinegara? Ngapain aku mimpiin pasar loak?’
Dia meraba bintik putih di lehernya. Hangatnya sama dengan waktu dia memegang bonsai Pak Gunawan sore tadi.
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







