Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 6 Toko Kaca

Share

BAB 6 Toko Kaca

Author: MasBrey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-22 20:07:05

Sabtu pagi, Juki beli busi, naik ojek ke Kemanggisan, lalu memasangnya di depan pagar hijau. Pintu kamar paling ujung masih tertutup rapat. Mungkin Dinda belum bangun.

Sebelum berangkat tadi, dia sempat mengecek jendela kosnya. Dua pot aglonema afkiran ternyata ikut berubah. Yang satu belang kuning, yang satu merah muda bertotol putih.

Di bak pikap, foto-fotonya dia tunjukkan ke Asep.

HP itu langsung direbut Asep. Fotonya dia perbesar lama sekali. “Juk. Ini mah harganya jutaan. Jangan dijual ke kios Pak Darma, ntar dihargain murah. Bawa ke Mbak Sandra di Kemang.”

“Mbak Sandra siapa, Kang?”

“Yang punya toko tanaman paling mahal se-Kemang. Aku pernah nganter pot ke sana.” Asep menepuk bahunya. “Orangnya galak, tapi duitnya tebel. Inget, ya. Di bawah dua puluh, jangan mau.”

Sorenya, sepulang kerja, Juki membawa tiga pot aglonema itu ke Kemang naik motor.

Dinding toko Sandra kaca semua, dari lantai sampai plafon. Di dalam, AC-nya dingin menusuk. Pot-pot keramik putih berbaris rapi di rak kayu jati, lengkap dengan label harga yang bikin Juki pengin putar balik.

Monstera albo dua belas juta. Anthurium crystallinum delapan juta. Philodendron pink princess enam setengah juta.

Juki mendekap kardusnya makin erat. Isinya tiga pot aglonema yang dibungkus koran bekas.

“Nyari apa, Mas?”

Sandra keluar dari balik meja kasir. Tiga puluh satu tahun, rambutnya digelung asal-asalan pakai pensil. Blus putihnya longgar dan agak tipis, celananya kain hitam. Matanya menyapu Juki dari kaus belel sampai sandal jepit, lalu berhenti di kardus mi instan dalam pelukannya.

“Mau jual tanaman, Mbak.”

“Oh.” Nadanya langsung anjlok. “Kalau sirih gading, ke Rawa Belong aja. Di sini nggak nerima.”

“Bukan, Mbak. Aglonema.”

Kardus itu dia buka, lalu tiga potnya dia jajarkan di meja kasir. Kertas koran masih menempel di daunnya.

Sandra melirik sekilas. Lalu matanya tertahan.

Dia diam. Pensil di rambutnya dia cabut, dan rambutnya jatuh tergerai ke bahu.

“Nyolong dari mana?”

“Bukan nyolong, Mbak! Saya rawat sendiri.”

“Tukang taman bikin variegata?” Alis Sandra naik. “Bohong kamu jelek.”

“Sumpah, Mbak.”

“Kalau gitu ini disuntik pewarna. Sekarang lagi banyak yang gitu.”

Sandra membungkuk di atas meja buat memeriksa daunnya dari dekat. Blus longgarnya ikut melorot.

Mata Juki langsung kabur ke pot.

‘Daun. Daun. Lihat daun aja, Juk.’

“Matamu ke mana?” tanya Sandra tanpa mengangkat kepala.

“Ke... daun, Mbak.”

“Daun yang mana?”

“Yang... ijo.”

“Ijo semua, Mas.” Sandra mendongak dengan senyum miring. Blusnya tetap tidak dia rapikan. “Gugup amat. Belum pernah lihat cewek?”

“Pernah, Mbak. Tapi belum pernah... dari atas.”

Tawa Sandra pecah keras di toko yang sepi itu.

“Mukanya polos, matanya mesum. Lucu juga kamu.”

“Saya nggak mesum, Mbak. Kaget doang.”

“Iya, iya. Kagetnya dua kali.” Sandra masih senyum, tapi tangannya sudah bekerja. Urat putih di daun dia gosok pakai ujung kuku, lalu pakai tisu basah. Setelah itu satu daun kecil dia cabut dan dia sobek. Warnanya rata sampai ke dalam.

Mukanya berubah serius.

“Bukan suntikan,” gumamnya. “Asli ini. Indukannya dari mana?”

“Dari kios, Mbak. Barang afkiran.”

“Afkiran.” Sandra menatapnya. “Kamu tahu nggak, orang Thailand butuh tiga tahun buat bikin belang kayak gini?”

“Nggak tahu, Mbak.”

“Ya udah. Mending nggak usah tahu.”

Mendadak Sandra mengulurkan tangan. “Sini. Tanganmu.”

“Buat apa, Mbak?”

“Mau kulihat. Siniin.”

Pelan-pelan Juki mengulurkan tangan kanannya. Sandra memegangnya pakai dua tangan, membaliknya, lalu mengusap telapaknya dengan ibu jari. Kapalan. Kuku hitam. Ada bekas luka gergaji di telunjuk.

Jari Sandra halus dan dingin. Usapannya pelan sekali, dari pangkal telapak sampai ke ujung jari.

“Kasar,” gumamnya. “Tapi anget banget. Kamu demam?”

“Nggak, Mbak.”

“Tangan kasar gini bisa bikin variegata.” Sandra mendongak, tangan Juki masih dalam genggamannya. “Bisa bikin apa lagi?”

“Bi-bisa nyangkul, Mbak.”

Sandra mendengus menahan tawa. Tangan itu tidak langsung dia lepas. Ibu jarinya mengusap sekali lagi, baru kemudian dilepaskan.

‘Ini mau beli tanaman apa mau beli orangnya?’

Sandra melipat tangan di meja. “Lima juta. Buat tiga-tiganya.”

Juki menelan ludah. Lima juta. Gajinya lima bulan.

‘Di bawah dua puluh, jangan mau.’

“Dua puluh lima juta, Mbak.”

Sandra mengangkat alis. “Wah. Ada yang ngajarin, nih.”

“Nggak ada, Mbak.”

“Bohongmu makin jelek.” Sandra mencondongkan badan ke meja, makin dekat. Wangi parfumnya bercampur bau tanah pot. “Sepuluh.”

“Dua puluh lima.”

“Lima belas. Bonus aku traktir ngopi.”

“Ngopi, Mbak?”

“Ngopi. Malam ini, di Kemang. Kamu sama aku.” Sandra menopang dagu. “Jarang-jarang lho aku nawarin.”

‘Waduh. Ini ngopi beneran apa ngopi yang lain?’

Juki menatap meja. Lalu tiga pot aglonema itu. Lalu Sandra. Sandra tidak berkedip sama sekali.

“Dua... dua puluh lima, Mbak. Maaf, ya.”

Sandra memandanginya lama.

Hidungnya bergerak sedikit. Dia mendekat lagi, sampai mukanya tinggal sejengkal dari leher Juki.

“Kamu pakai parfum apaan?”

“Nggak pakai apa-apa kok, Mbak.”

“Terus kok wangi madu?”

“Mungkin... sabun, Mbak.”

Sandra menahan senyum. “Sabun apa?”

“Sabun colek.”

Sandra ketawa lagi, lebih pelan. Lalu dia berbalik ke brankas di bawah meja kasir.

Klik.

Dia kembali dengan amplop cokelat tebal dan menaruhnya di depan Juki.

“Dua puluh lima. Itung.”

Juki tidak menghitungnya. Tangannya gemetar waktu mengambil amplop itu.

Sandra menyodorkan HP-nya. “Ketik nomormu.”

Juki menurut. Sandra mengecek layar, mengetik sesuatu, lalu menyelipkan HP-nya ke saku belakang.

“Juki,” bacanya. “Kampung banget namanya.”

“Marjuki, Mbak. Asli Kebumen.”

“Bawa lagi yang kayak gini, Marjuki dari Kebumen. Apa aja. Ke aku dulu, jangan ke orang lain.” Sandra mengedipkan sebelah mata. “Terus lain kali, lihat aja. Nggak usah pura-pura lihat daun.”

Sampai pintu kaca tertutup di belakangnya, pipi Juki masih panas.

*****

Di parkiran, Juki duduk di jok motor sambil mendekap amplop itu di dada. Seumur hidup, baru kali ini dia pegang amplop setebal ini.

Dua puluh lima juta rupiah.

Dua hari lalu dia masih ngitung receh buat bensin. Dua hari lalu tangannya masih nyemplung ke got nyariin gelang. Sekarang gelang penyok itu aman di laci kamar kos, terbungkus plastik.

HP-nya bergetar. Ada pesan dari nomor yang baru semalam dia simpan.

Dinda: Motornya udah nggak ada di depan. Kamu yang ambil? Kok nggak mampir sih.

Juki: Iya, Mbak. Takut ganggu, kirain Mbak masih tidur.

Dinda: Ganggu apaan. Aku nungguin dari pagi tahu.

Dinda: Inget ya. Utangmu masih jalan.

Lama Juki memandangi layar itu, lalu mengantongi HP sambil senyum-senyum sendiri.

Lalu dia teringat pot keramik biru dalam mimpinya semalam. Bibirnya retak. Lebah putih hinggap di situ dan menggetarkan sayap tiga kali.

Mimpi itu datang pas setelah wangi madunya memenuhi kamar Dinda.

‘Kalau aglonema bisa laku dua puluh lima juta... mimpi itu juga bisa beneran, kan?’

Motornya dia nyalakan. Sekali injak langsung hidup.

Besok Minggu. Dia libur. Dan pasar loak Jatinegara sudah buka dari pagi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status