LOGIN“Aki udah baru, Mas. Businya lagi kosong, besok ke sini lagi,” kata montir sambil menyerahkan kunci. “Bawanya pelan-pelan. Jangan keujanan dulu.”
Jam sembilan malam. Juki menuntun motornya keluar bengkel dan menyalakannya. Mesinnya batuk dua kali sebelum hidup.
Jalan pintas ke kos melewati parkiran ruko di belakang Jalan Panjang. Siang hari tempat itu ramai. Malam begini gelap dan sepi. Lampu jalannya tinggal satu yang hidup, itu pun kedap-kedip.
Di pojok parkiran ada satu mobil hitam. Mesinnya menyala, lampu kabinnya mati, kaca depannya terbuka sedikit.
Juki tidak berniat menoleh. Gasnya sudah siap dia tarik.
“Pak Yoga, saya mau pulang...”
Suara perempuan. Bergetar.
“Kontrakmu habis bulan depan, Dinda. Mau diperpanjang nggak?” Suara laki-laki, berat dan santai. “Nurut dikit aja. Nggak bakal ada yang tahu.”
“Pak, tolong...”
Juki menghentikan motornya.
Kakinya lemas. Jantungnya berdebar sampai ke kuping.
‘Bukan urusanmu, Juk. Pulang. Kamu cuma tukang rumput. Kalau ribut, kamu yang kena.’
Dia menatap mobil itu. Dari celah kaca, kelihatan tangan perempuan meraba-raba pintu, mencari gagang. Gagangnya ditarik, tapi pintunya tidak mau terbuka.
Dikunci dari dalam.
‘Kemarin pagi kamu diem aja pas dihina sepasar. Sekarang mau diem lagi?’
Juki mematikan mesin. Tangannya bergerak duluan sebelum kepalanya sempat mikir.
Tok! Tok! Tok!
“Pak! Itu Mbaknya mau turun!”
Hening sebentar. Lalu kaca jendela sopir turun pelan-pelan.
Lelaki empat puluhan. Kemejanya rapi, rambutnya klimis, jam tangannya mahal. Matanya menyapu Juki dari kaus belel sampai sandal jepit.
“Urusan kantor. Minggir kamu.”
“Kayaknya Mbaknya mau pulang, Pak.”
“Kamu siapa? Tukang ojek?” Pak Yoga tersenyum tipis. “Sana, cari penumpang di tempat lain.”
Juki tidak beranjak.
Pintu sopir terbuka. Pak Yoga turun. Badannya lebih tinggi sekepala dari Juki, juga lebih besar. Dia berdiri dekat sekali sampai bau parfumnya menyengat hidung.
“Saya bilang minggir,” katanya pelan. “Kamu nggak tahu saya siapa.”
“Nggak tahu, Pak.”
“Bagus. Mau tetap nggak tahu, atau mau kenalan?”
Kerah kaus Juki dia cengkeram dan tarik ke atas sedikit. Tumit Juki terangkat.
“Anak kampung kayak kamu,” bisik Pak Yoga, “sekali saya telepon orang, besok kamu nggak bisa kerja di mana pun di Jakarta. Ngerti?”
Dinda menggedor kaca dari dalam mobil. “Pak! Lepasin dia, Pak!”
Juki membalas tatapan Pak Yoga. Dia takut. Takut sekali. Tapi kemarin pagi dia sudah dihina di depan orang sepasar dan cuma diam. Malam ini dia tidak mau pulang membawa rasa yang sama.
“Lepasin, Pak,” katanya pelan.
Pak Yoga mendengus, lalu mendorongnya mundur. Kerah kaus Juki jadi melar. Pak Yoga mengelap telapak tangannya ke celana, lalu meludah ke aspal, dekat sandal Juki.
Juki menelan ludah. Lututnya gemetar. Tapi tangannya merogoh HP dari saku dan mengarahkannya ke plat mobil.
Cekrek.
Lalu ke muka Pak Yoga.
Cekrek.
“Plat sama muka Bapak udah saya foto.”
Senyum Pak Yoga lenyap. “Kamu...”
“Mbaknya turun sekarang, atau saya teriak.” Suara Juki gemetar, tapi kalimatnya keluar utuh. “Satpam ruko depan kenal saya semua.”
Pak Yoga melirik ke depan ruko yang gelap, lalu ke HP di tangan Juki. Rahangnya mengeras.
“PAK SATPAAAM!” Juki berteriak sekencang-kencangnya.
Pak Yoga mundur selangkah. Dia mengumpat pelan, memencet tombol kunci, lalu masuk ke mobil.
Klik.
Pintu penumpang terbuka. Perempuan itu langsung keluar dan berdiri di balik punggung Juki.
Ngeeeng!
Mobil hitam itu melesat keluar parkiran, lampu belakangnya lenyap di tikungan.
Juki berdiri mematung. Napasnya ngos-ngosan.
‘Satpam apaan. Di sini ada satpam apa nggak aja aku nggak tahu.’
Perempuan itu mendekap tasnya erat-erat. Kemejanya kusut, satu kancingnya copot. Maskaranya luntur sampai ke pipi. Umurnya kira-kira dua puluh enam.
“Mbak nggak apa-apa?”
“Nggak tahu.” Dia ketawa kecil, tapi tangannya masih gemetaran. “Makasih ya, Mas. Beneran.”
“Saya Juki, Mbak.”
“Dinda.” Pipinya dia seka pakai punggung tangan, malah bikin maskaranya makin belepotan. “Aku staf pemasaran di ruko situ. Dia atasanku. Tadi katanya mau nganterin pulang abis lembur.”
“Udah sering kayak gini, Mbak?”
Dinda lama tidak menjawab.
“Udah tiga kali,” katanya akhirnya. “Dua kali kemarin aku masih bisa kabur. Tadi... pintunya dikunci.”
Juki tidak menemukan kata yang pas. Dia cuma mengangguk.
“Mas.” Dinda menatapnya. “Boleh anterin aku pulang? Malam ini aku takut naik ojol sendirian. Kosku di Kemanggisan, deket kok.”
“Boleh, Mbak. Tapi motor saya butut, lho.”
“Yang penting bukan mobil item.”
Di atas motor, mula-mula Dinda cuma memegang ujung jaket Juki. Jarak mereka sejengkal.
Lewat lubang pertama, jaraknya tinggal setengah jengkal.
Lewat lubang kedua, tangan Dinda pindah melingkar ke pinggang Juki.
“Maaf ya, Mas. Jalannya jelek banget.”
“Nggak apa-apa, Mbak. Pegangan aja.”
Lalu pipi Dinda menempel di punggung Juki.
Badan Juki langsung tegak. Di punggungnya, Dinda masih gemetar.
‘Fokus nyetir, Juk. Busi belum ganti. Jangan sampai mogok di jalan.’
“Mas pakai parfum apa sih?” tanya Dinda dari belakang. “Wangi madu.”
“Saya nggak pakai parfum, Mbak. Paling bau keringet.”
“Bohong.” Dinda menarik napas panjang di punggungnya. “Mana ada keringet seenak ini.”
“Paling bau sabun colek, Mbak.”
Dinda ketawa. Itu tawa pertamanya malam itu yang tidak bergetar. Pegangannya makin kencang.
“Aku jadi tenang, tahu nggak,” katanya pelan. “Tadi di mobil, aku udah mikir aku bakal...”
Kalimat itu tidak dia teruskan.
“Udah lewat, Mbak,” kata Juki. “Besok lapor aja ke kantor.”
“Lapor ke siapa? Dia kepala divisi.” Dinda mendengus. “Paling aku yang ditendang duluan.”
“Kalau gitu, jangan berduaan lagi sama dia.”
“Iya, Pak Guru.”
“Mbak aslinya mana?”
“Semarang. Ke Jakarta biar bisa kirim duit buat adik-adik. Dua-duanya masih kuliah.” Dinda menghela napas di punggungnya. “Makanya aku takut kontrakku nggak diperpanjang. Dia tahu itu.”
“Saya juga tiap bulan kirim duit ke emak, Mbak. Kalau ada.”
“Kalau ada?”
“Bulan ini belum ada duitnya.”
Dinda diam sebentar. Lalu dia menepuk perut Juki dua kali, pelan. “Kita senasib ya, Mas.”
Juki ikut ketawa. Dinda menyandarkan dagunya di bahu Juki, dan untuk sesaat mereka diam. Jalanan Kemanggisan lengang. Yang terdengar cuma suara mesin motor dan napas Dinda yang mulai tenang.
Jderrr!
Petir menyambar. Hujan turun deras tanpa permisi.
Lima detik saja, mereka sudah basah kuyup.
“Itu kosku! Yang pagernya ijo!” teriak Dinda.
Pas di depan pagar hijau itu, mesin motor tersendat dua kali, lalu mati total.
Juki menginjak selah. Sekali. Dua kali. Lima kali. Hening.
‘Busi. Sial.’
“Mas! Masuk dulu! Udah basah kuyup gitu!”
“Nggak usah, Mbak. Saya nunggu di teras aja sampai redaan.”
“Terasnya bocor!” Dinda menarik lengan Juki. “Ibu kosnya nggak tinggal di sini, nggak ada yang ngomel. Udah, masuk!”
Hujan makin menggila. Air mengalir dari rambut Juki ke matanya.
Dinda sudah membuka pagar, lalu menoleh. Rambutnya lepek, bibirnya mulai pucat kedinginan.
“Mas Juki,” katanya pelan. “Masuk.”
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







