Home / Urban / Disengat Lebah / BAB 9 Mati Lampu

Share

BAB 9 Mati Lampu

Author: MasBrey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-25 13:40:54

Senin malam, Juki mengetuk pintu rumah ibu kosnya.

Bu Rahmi, enam puluhan, membuka pintu dengan daster dan rol rambut. Matanya langsung menyipit. Dua bulan ini, setiap kali Juki mengetuk, ujung-ujungnya minta diundur.

“Kalau mau minta mundur lagi, Juk...”

“Nggak, Bu. Saya mau bayar.”

Juki menyodorkan amplop. Isinya tunggakan dua bulan plus enam bulan ke depan, dari uang tunai Sandra.

Bu Rahmi menghitungnya dua kali. Lalu menatap Juki. Lalu menghitung sekali lagi.

“Kamu menang undian, Juk?”

“Lagi ada rezeki aja, Bu. Tanaman laku.”

Bu Rahmi masih curiga, tapi amplop itu tetap masuk ke kantong dasternya. Dia tersenyum. Senyum pertamanya buat Juki dalam dua bulan.

*****

Di kamar, Juki menelepon emak.

“Mak, Juki transfer sepuluh juta ya. Besok cek rekening Mbak Narti sebelah.”

Di seberang sana, hening lama.

“Le, iki duit apa? Kowe ora nyolong to?”

“Mboten, Mak. Tanaman Juki payu,” jawab Juki cepat.

Emak diam lagi, lalu suaranya pecah. “Dadi Emak ora usah ning sawahe wong maneh, Le?”

Juki tertawa sampai matanya basah. “Mboten usah, Mak. Mboten usah.”

Begitu telepon ditutup, dia duduk di kasur tipisnya dan menghitung ulang semuanya.

Lebah putih. Tangan yang bikin tanaman hidup lagi. Wangi madu yang bikin perempuan betah. Dinda. Sandra di gudang tadi. Lalu mimpi lebah, yang datang pas setelah malam di kamar Dinda.

‘Jangan-jangan lebahnya baru nongol kalau aku habis deket sama cewek?’

Laci dia buka. Gelang perak penyok itu masih di situ, terbungkus plastik.

Muka Silvi muncul lagi di kepalanya. Kacamata hitam. Tukang rumput Papa.

‘Tunggu tanggal mainnya, Sil.’

*****

Menjelang jam sepuluh, hujan turun lagi.

Tok, tok.

“Mas Juki? Ini aku, Ayu.”

Juki membuka pintu. Ayu berdiri di teras dengan rambut setengah basah dan bantal di pelukan. Kaus oblongnya kegedean, celananya pendek selutut. Kamarnya cuma tiga pintu dari kamar Juki, satu kos.

“Atap kamarku bocor, Mas. Pas banget di atas kasur. Boleh numpang bentar? Sampai hujannya reda aja.”

“Bo-boleh, Yu. Masuk.”

Ayu masuk dan melihat sekeliling. Kipas angin yang berderit. Kasur tipis di lantai. Tembok dengan bercak bekas rembesan.

“Kamar Mas kok masih gini-gini aja? Katanya lagi banyak duit.”

“Kata siapa?” Juki balik bertanya.

“Kata Bu Rahmi. Barusan dia cerita ke semua orang di depan, Mas bayar enam bulan sekaligus.”

Juki menggaruk kepala. “Baru tadi bayarnya, Yu. Belum sempat beli apa-apa.”

Ayu duduk di ujung kasur, Juki di ujung satunya. Di antara mereka ada jarak selebar satu bantal.

“Anggreknya mekar lagi lho, Mas,” kata Ayu. “Yang dari Mas. Sekarang bunganya lima.”

“Lima? Kemarin kan masih tiga.”

“Iya. Tiap pagi aku siramin.” Ayu tersenyum kecil. “Aku taruh di meja kios. Orang-orang pada nanya belinya di mana. Aku bilang nggak dijual.”

“Kok nggak dijual?”

“Ya nggak aja.” Bantalnya dia peluk makin erat. “Eh, Mas. Tadi siang Silvi ke pasar.”

Juki menoleh. “Ngapain?”

“Ngambil setoran kios. Sekalian pamer.” Bibir Ayu manyun. “Pakai cincin gede banget. Katanya bulan depan tunangan sama Rendi. Di hotel.”

“Oh.”

“Terus dia nanya, Mas Juki ke mana. Kok udah beberapa hari nggak jaga kios.”

“Silvi nanyain aku?”

“Bukan nanya baik-baik. Nanya biar bisa ngetawain.” Ayu menirukan suara Silvi, dibikin cempreng. “‘Tukang rumputnya udah mudik, ya? Nggak kuat patah hati?’”

Juki ketawa kecil. Tapi dadanya tetap agak sesak.

“Aku bilang aja Mas lagi sibuk,” lanjut Ayu. “Sibuk jadi orang kaya.”

“Yu...”

“Biarin. Biar dia mikir sendiri.”

Pet!

Satu gang gelap. Kipas angin berhenti berderit.

Juki menyalakan senter HP. Cahayanya cuma bertahan beberapa detik, lalu padam. Baterainya habis.

Ayu memekik kecil. Tangannya langsung mencengkeram lengan Juki.

“Mas... aku takut gelap, Mas.”

“Nggak apa-apa, Yu. Paling sebentar.”

Gelap gulita. Yang terdengar cuma hujan di atap seng dan napas mereka berdua. Tangan Ayu masih menempel di lengan Juki. Jarinya dingin.

“Mas...” panggil Ayu lirih.

“Hm?” sahut Juki.

“Beberapa hari ini, tiap Mas lewat kios, aku nyium wangi madu. Orang sepasar juga pada ngomongin.”

“Ngomongin apaan?”

Ayu tertawa kecil di dalam gelap. “Katanya Mas Juki sekarang pakai pelet. Ibu-ibu yang belanja di kios Mas kok betah banget, sampai lupa pulang.”

“Hah? Nggaklah, Yu. Sumpah.”

“Aku juga nggak percaya pelet.” Ayu diam sebentar. Kasurnya bergerak sedikit. Bantal di antara mereka melorot ke lantai. “Tapi kok aku jadi pengin deket terus, ya?”

Hidung Ayu bergerak di dekat bahu Juki. Lalu berhenti.

“Mas.”

“Hm?”

“Kok ada bau parfum lain, sih?”

Juki membeku.

‘Sandra. Mampus aku.’

“Parfum... parfum apaan, Yu?”

“Parfum cewek. Yang mahal,” jawab Ayu. Dia mengendus lagi, pelan, di kerah kaus Juki. “Mas abis dari mana?”

“Dari... toko tanaman. Di Kemang. Jualan tanaman.”

“Yang jual cewek?” Suara Ayu turun.

“Yang punya tokonya cewek,” jawab Juki pelan.

“Deket banget ya jualannya. Sampai nempel di kerah.” Nada Ayu datar. Dia menarik napas, lalu mengembuskannya panjang. “Ya udah. Bukan urusanku juga.”

Tapi tangannya tetap menempel di lengan Juki. Malah makin erat.

Juki menelan ludah.

Wangi madu di kamar itu makin pekat. Bahu Ayu yang hangat sekarang menempel di lengannya. Rambut Ayu yang setengah basah menyentuh pipinya, wangi sampo murah aroma melati.

‘Ayu. Ini Ayu. Yang ngasih aku teh pas aku diputusin. Jangan macem-macem, Juk.’

“Mas deg-degan ya?” bisik Ayu. “Kedengeran, lho.”

“Itu... hujan, Yu.”

“Hujan nggak bunyi dag-dig-dug, Mas.”

Juki kehabisan jawaban.

“Mas,” bisik Ayu lagi, lebih pelan. “Waktu Mas nanya siapa yang mau dikasih gelang sama tukang rumput...”

“Iya?”

“Aku mau.”

Juki terdiam. Kepalanya mendadak kosong.

“Tapi Mas nggak pernah lihat,” lanjut Ayu. Suaranya sedikit bergetar. “Dua tahun aku di kios sebelah. Tiap pagi aku bawain teh. Mas lihatnya ke Silvi terus.”

“Yu...”

“Nggak apa-apa. Aku cuma pengin bilang.” Ayu ketawa kecil, malu. “Mumpung gelap. Kalau terang aku nggak bakal berani.”

Napas Ayu terasa di pipinya. Pelan, hangat, dan makin dekat. Juki tidak bisa melihat apa-apa, tapi dia tahu muka Ayu tinggal sejari.

Ayu tidak menjauh.

Juki juga tidak.

Tangannya bergerak pelan, meraba mencari tangan Ayu di kasur. Ketemu. Jari mereka bertaut.

Tangan Ayu kecil dan dingin, tapi pelan-pelan menghangat di genggamannya.

“Tangan Mas kok panas,” bisik Ayu.

“Iya, Yu. Udah beberapa hari begini.”

Juki menarik napas. Di kepalanya, semua suara mendadak sunyi. Tidak ada Silvi. Tidak ada Sandra. Tidak ada Dinda. Yang ada cuma hujan, gelap, dan perempuan yang dua tahun membawakannya teh tiap pagi tanpa pernah dia sadari.

‘Bego banget kamu, Juk. Dua tahun lho.’

Mendadak lampu menyala terang.

Mereka sama-sama tersentak. Ternyata muka Ayu cuma sejengkal dari mukanya. Sekarang Juki bisa melihat semuanya. Mata Ayu basah. Pipinya merah sampai ke kuping. Bibir bawahnya dia gigit kuat-kuat.

Juki menunggu Ayu menjauh.

Ayu tidak mundur.

“Tadi aku bilang kalau terang aku nggak bakal berani,” kata Ayu. Suaranya gemetar, tapi matanya tidak kabur ke mana-mana. “Ternyata berani juga.”

“Yu...”

“Aku suka sama Mas Juki.” Ayu menarik napas panjang. “Bukan suka ala tetangga kios. Suka beneran. Dari dua tahun lalu, waktu Mas bantuin aku ngangkat ember mawar yang tumpah di lorong.”

Kamar itu hening. Cuma hujan di atap seng yang terdengar, keras sekali.

“Aku tahu Mas baru diputusin. Aku juga tahu ada cewek wangi parfum mahal di Kemang.” Ayu tersenyum kecil, getir. “Tapi aku capek nunggu dilirik.”

Bantalnya dia taruh di lantai, lalu tangan Juki dia genggam pakai dua tangan.

“Jadi aku nanya sekali aja ya, Mas. Abis ini aku nggak bakal nanya lagi.”

Juki menelan ludah.

“Mas pernah lihat aku nggak?” bisik Ayu. “Sekali aja?”

Mulut Juki terbuka. Tidak ada suara yang keluar.

‘Jawab, Juk. Kali ini jangan diem lagi.’

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status