Mag-log inSenin sore, pot biru itu dibawa Juki ke Kemang. Potnya dia bungkus sarung dan dia ikat di dek motor, terjepit di antara kedua kakinya.
Sepanjang jalan dia tidak berani ngebut sedikit pun.
Toko kaca itu sudah setengah tutup. Papan di pintu sudah dibalik ke tulisan Tutup. Tapi sebelum Juki sempat mengetuk, Sandra sudah membukakan pintu.
“Masuk. Cepetan.”
Di dalam sudah ada lelaki lima puluhan yang duduk di kursi rotan dekat meja kasir. Kemejanya batik sutra cokelat, jam tangannya emas, sepatunya kinclong. Di meja depannya ada kaca pembesar dan secangkir kopi yang belum disentuh.
“Ini Pak Hendro,” kata Sandra pendek. “Kolektor. Udah nunggu setengah jam.”
Pelan-pelan Juki membuka sarung dan menaruh pot biru itu di meja.
Pak Hendro tidak bicara sepatah kata pun. Kaca pembesar dia angkat, lalu dia membungkuk di atas daun anthurium itu. Lama sekali. Daun pertama. Daun kedua. Urat-urat peraknya. Bagian bawah daun. Pangkal batang.
Toko itu hening. Cuma dengung AC yang terdengar.
Juki berdiri kaku di samping meja. Telapak tangannya basah. Dia melirik Sandra. Sandra bersandar di rak sambil melipat tangan, mukanya datar.
“Dapet dari mana kamu?” tanya Pak Hendro akhirnya, kepalanya masih menunduk.
“Dari pasar loak, Pak. Jatinegara.”
Pak Hendro tertawa pendek. “Pasar loak, katanya.”
“Beneran, Pak.”
“Saya percaya.” Akhirnya dia menegakkan badan dan melepas kacamata. “Justru karena percaya, saya ketawa. Orang nyari barang ginian sampai ke Thailand, ke Ekuador. Saya sendiri udah dua kali ke Bangkok. Kamu malah nemu di pasar loak.”
Kaca pembesar dia letakkan di meja.
“Seratus dua puluh. Saya transfer sekarang.”
Juki belum nyambung. “Seratus dua puluh... ribu, Pak?”
Pak Hendro menatapnya, lalu menoleh ke Sandra.
“Juta,” kata Sandra datar. “Kasih nomor rekeningmu, Juk.”
Juki menoleh ke Sandra. Mulutnya ternganga.
“Nggak usah lihatin aku,” kata Sandra. “Komisiku urusanku sama Bapak ini. Kamu terima bersih seratus dua puluh.” Alisnya terangkat. “Malam Minggu sombong nolak ngopi, sekarang butuh juga, kan?”
“Maaf, Mbak.”
“Nomor rekening.”
Juki mengeluarkan buku tabungan BRI yang sampulnya sudah lecek dan menyebutkan nomornya. Pak Hendro mengetik di HP-nya. Lima menit itu rasanya lama banget. Juki sampai menghitung napasnya sendiri.
Ting!
HP Juki bergetar.
Saldo rekening yang biasanya mentok di tiga ratus ribu itu sekarang seratus dua puluh juta lebih.
Juki sampai harus berpegangan ke pinggir meja kasir.
Pak Hendro membungkus sendiri pot biru itu pakai plastik gelembung dua lapis, lalu memasukkannya ke kotak kayu yang sudah dia siapkan di mobil. Di ambang pintu, dia menoleh.
“Kalau ada lagi, lewat Sandra. Jangan ke orang lain. Di luar sana banyak makelar busuk.” Dia menatap Juki sebentar. “Kelihatannya kamu orang lurus. Jangan sampai dimakan.”
Pintu kaca menutup. Mobilnya pergi.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, muka datar Sandra langsung luntur.
Dia mengunci pintu toko. Klik. Lalu dia jalan pelan-pelan memutari meja kasir sampai berdiri pas di depan Juki.
“Seratus dua puluh juta dari pasar loak,” katanya. “Kamu ini tukang taman apa dukun, sih?”
“Tukang taman, Mbak.”
“Bohongmu masih jelek.”
Sandra mendekatkan muka ke leher Juki dan menghirup napas dalam-dalam. Hidungnya nyaris menempel ke kulit.
“Kamu pakai apa sih? Dari Sabtu aku kepikiran bau ini terus. Mau tidur aja kepikiran.”
“Nggak pakai apa-apa kok, Mbak...”
“Sabun colek?”
“I-iya.”
“Bohong yang ketiga.” Telunjuk Sandra menyentuh dada Juki. “Kopiku kamu tolak. Padahal yang ngenalin kamu ke kolektor siapa?”
“Mbak.”
“Terus yang bikin kamu dapet seratus dua puluh juta siapa?”
“Mbak juga.”
“Nah. Berarti kamu utang.” Kerah kaus Juki dia tarik. “Ikut. Ada yang mau kutunjukin di belakang.”
*****
Ruang belakang toko itu sempit dan lembap. Isinya rak pot kosong, karung media tanam, dan gulungan selang. Lampunya cuma satu, bohlam kuning yang menggantung tanpa kap.
Begitu pintu tertutup, Sandra mendorong Juki sampai punggungnya membentur rak. Pot-pot plastik bergoyang.
‘Mau nunjukin apa? Pot? Pot yang mana?’
“Mbak, katanya mau nunjukin...”
Yang ditunjukkan Sandra bukan pot. Dia mencium Juki.
Silvi dulu selalu mencium dengan ragu, lalu cepat-cepat menarik diri. Sandra tidak menunggu apa-apa. Ini ciuman perempuan yang sudah memutuskan sejak dua hari lalu. Bibirnya menekan, menuntut, dan tidak memberi Juki kesempatan berpikir. Tangannya menyelinap ke balik kaus Juki, telapaknya dingin dan halus. Kukunya menggaris pelan sepanjang perut, dari pusar sampai dada.
Juki tersentak. Bulu kuduknya meremang.
Seketika wangi madu memekat di ruangan sempit itu.
“Tuh, kan,” bisik Sandra di bibirnya. Napasnya mulai berat. “Makin kenceng wanginya. Sengaja ya kamu?”
“Nggak, Mbak... sumpah...”
“Diem.”
Entah sejak kapan, tangan Juki sudah berada di pinggang Sandra. Pinggang itu ramping dan kencang. Kain celananya licin.
Dua kancing teratas blus tipisnya dibuka Sandra sendiri. Satu. Dua. Lalu dia menatap Juki dengan tatapan menantang.
“Sabtu kamu pura-pura lihat daun. Sekarang nggak usah pura-pura lagi.”
Juki menelan ludah. Di bawah bohlam kuning, kulit Sandra kelihatan hangat. Tulang selangkanya tegas. Renda hitam mengintip dari balik blus yang terbuka.
‘Waduh. Ini toko orang, Juk. Di toko!’
“Lihat aja,” bisik Sandra. “Aku nggak gigit, kok.” Dia diam sebentar. “Belum.”
Badan Juki sudah tidak mau nurut sama kepalanya. Dia menunduk. Bibirnya turun ke leher Sandra. Kulit itu wangi parfum, sedikit asin keringat.
Sandra mendesah pendek. Jemarinya mencengkeram rambut Juki dan menariknya makin dekat. Lututnya menyelip di antara kaki Juki. Rak di belakang mereka berderit.
“Nah...” Suaranya serak. “Ternyata bisa juga kamu, ya.”
Kring!
Lonceng di pintu depan berbunyi.
Mereka sama-sama membeku.
“Mbak Sandraaa! Saya mau ambil pesenan monstera, ya! Tadi udah WA!”
Sandra mengumpat pelan. Dada Juki dia dorong, lalu blusnya dia kancingkan lagi dengan jari yang belum stabil. Napasnya belum teratur. Matanya masih lekat di muka Juki.
“Tadi pintunya udah kukunci,” desisnya. “Pasti si Ani udah balik. Dia megang kunci.”
“Ani siapa, Mbak?”
“Pegawaiku. Udah, diem.” Sandra merapikan rambut, lalu menatap Juki sekali lagi. Lama.
“Ini belum lunas,” bisiknya. “Lain kali kuajak ngopi, jangan nolak lagi.”
Sandra keluar duluan, suaranya langsung berubah ramah dan datar. “Iya, Bu. Monsteranya udah saya siapin dari tadi.”
Juki menunggu semenit di antara karung media tanam sampai napasnya tenang. Baru dia keluar lewat depan.
Ibu pelanggan itu memandanginya dari ujung rambut sampai sandal, curiga. Matanya pindah ke rambut Juki yang acak-acakan, lalu ke Sandra.
“Masnya ini siapa, Mbak?”
“Tukang angkut karung, Bu,” jawab Sandra tanpa mengangkat kepala. “Barusan saya suruh beresin gudang.”
“Oh. Pantes keringetan gitu.”
“Karungnya berat, Bu,” sahut Juki.
Sandra sudah berdiri di balik meja kasir. Menoleh pun tidak.
HP Juki baru bergetar setelah dia sampai di parkiran.
Mbak Sandra: Satu lagi. Kalau ada makelar yang tiba-tiba sok akrab dan nanya-nanya, jangan diladenin. Kabar beginian cepet nyebar.
Juki membuka dompet. Kartu nama dari pasar loak kemarin masih terselip di sana. Bang Rudi.
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu
Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s
Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah







