Beranda / Urban / Disengat Lebah / BAb 10 Jawaban Juki

Share

BAb 10 Jawaban Juki

Penulis: MasBrey
last update Tanggal publikasi: 2026-10-26 12:04:04

Tangan Juki masih digenggam Ayu. Matanya tidak berkedip.

Juki tahu, kalau dia diam sekali lagi, Ayu bakal berdiri, mengambil bantalnya, dan balik ke kamarnya yang bocor itu. Besok pagi, tidak bakal ada lagi teh manis di meja kiosnya.

“Dulu nggak, Yu,” kata Juki akhirnya. Suaranya serak. “Dulu aku nggak pernah ngelihat. Aku bego.”

Genggaman Ayu sedikit mengendur.

“Tapi Kamis kemarin,” lanjut Juki buru-buru, “waktu kamu jongkok di pinggir got, nyuciin gelang dari orang yang barusan buang aku... itu aku lihat.”

Ayu memandanginya. Bibirnya bergetar.

“Aku lihat kamu nggak jijik megang gelang bekas got. Aku lihat kamu ngusir orang sepasar. Aku lihat kamu minta anggrek lima belas ribuan kayak minta barang mahal.” Juki menunduk ke tangan mereka. “Sejak itu aku lihat terus, Yu. Cuma nggak berani ngaku.”

“Kenapa nggak berani?”

“Takut kamu cuma kasihan sama aku.”

Ayu tertawa. Air matanya jatuh juga, satu tetes, ke punggung tangan Juki.

“Mas ini...” Dia mengusap pipi pakai bahu. “Orang kasihan mana mau bawain teh dua tahun, Mas.”

“Iya, Yu. Sekarang aku ngerti.”

“Terus?” tanya Ayu.

“Terus apa?”

“Terus Mas mau ngapain? Udah lihat, udah ngaku. Terus apa?” Ayu mengerutkan hidung. “Jangan bilang mau mikir dulu. Mas tuh kalau mikir lama. Kipas angin ini aja udah bunyi dua tahun, nggak pernah Mas benerin.”

“Itu kan gara-gara nggak ada duit, Yu.”

“Sekarang udah ada duit, kipasnya tetep bunyi tuh.”

Juki ketawa kecil. Ayu tidak ikut ketawa. Dia menunggu.

Juki membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kepalanya penuh. Wangi parfum Sandra yang masih nempel di kerah. Pesan Dinda yang bilang utangnya masih jalan. Muka Silvi yang menertawakannya.

‘Aku mesti ngapain? Ngomong apa?’

Ayu menunggu tiga detik. Lalu dia menghela napas, setengah kesal, setengah geli.

“Aduh, Mas. Lama amat.”

Dia mencondongkan badan dan mencium Juki.

Pelan dan sebentar. Bibirnya dingin, sedikit asin sisa air mata. Juki membeku. Tangannya masih dalam genggaman Ayu, dan dia tidak tahu mesti ditaruh di mana.

Ayu menarik mukanya sedikit. Pipinya merah padam.

“Gitu, Mas,” bisiknya. “Kalau Mas bingung, biar aku duluan.”

‘Ini Ayu? Ayu yang pemalu? Yang tiap pagi cuma bilang “minum, Mas” terus kabur ke kiosnya?’

Kali ini Juki yang bergerak. Genggaman itu dia lepas, lalu pipi Ayu dia sentuh pakai telapak tangannya yang kapalan. Ayu memejamkan mata dan bersandar ke tangan itu.

Ciuman yang kedua lebih lama.

Ayu gemetar, tapi tidak mundur. Jemarinya meremas kaus Juki di bagian dada. Wangi madu memenuhi kamar sempit itu sampai Juki sendiri bisa menciumnya, bercampur wangi sampo melati di rambut Ayu.

Napas Ayu jadi pendek-pendek. Dia yang lebih dulu menarik diri, dahinya menempel ke dahi Juki.

“Tangan Mas panas banget,” bisiknya. “Aku sampai pusing, tahu.”

“Maaf, Yu.”

“Ngapain minta maaf. Aku bilang pusing, bukan nggak suka.”

Mereka sama-sama tertawa pelan. Di atap seng, hujan mulai jarang-jarang.

Ayu kembali duduk, memungut bantalnya dari lantai, dan memeluknya. Matanya tidak lepas dari muka Juki.

“Yang di Kemang itu,” celetuknya tiba-tiba. “Namanya siapa?”

Juki tersedak napasnya sendiri. “Mbak Sandra. Yang punya toko. Dia yang beli tanaman-tanamanku.”

“Cantik?” tanya Ayu.

Juki kelamaan mikir.

“Tuh, kan. Cantik.” Lengan Juki dia pukul pakai bantal. Pelan, tapi bertubi-tubi. “Soal aku, Mas jawabnya lama. Soal dia, mikirnya juga lama. Sama aja.”

“Galak, Yu. Orangnya galak banget.”

“Galak tapi parfumnya nempel di kerah Mas.” Ayu berhenti memukul. Suaranya turun. “Aku nggak nanya Mas ngapain di sana. Nggak mau tahu juga. Aku cuma nggak mau kalah sebelum mulai.”

Untuk kalimat itu, Juki tidak punya jawaban.

“Mas,” panggil Ayu, pelan sekali.

“Hm?” sahut Juki.

“Kita ini sekarang apa?”

Pertanyaan itu bikin dada Juki berat. Dia ingin bilang pacaran. Kata itu sudah di ujung lidah. Tapi kerahnya masih bau parfum perempuan lain, dan baru empat hari dia diputus di depan orang sepasar.

“Yu,” katanya hati-hati. “Aku nggak mau kamu cuma jadi pelarian. Kamu nggak pantes digituin.”

Kepala Ayu miring sedikit. “Terus?”

“Kasih aku waktu. Bentar aja. Biar kalau nanti aku bilang iya, itu iya beneran. Bukan gara-gara aku lagi sakit hati.”

Ayu diam cukup lama. Juki sudah siap ditampar, atau ditinggal pergi.

Ternyata Ayu malah senyum.

“Ya udah,” katanya enteng. “Aku anggep kita udah pacaran. Mas tinggal nyusul.”

“Hah? Yu, maksudku bukan gitu...”

“Aku udah nunggu dua tahun, Mas. Nunggu Mas nyusul seminggu-dua minggu mah gampang.” Ayu berdiri sambil memeluk bantal. “Tapi jangan kelamaan. Ntar aku tagih juga.”

‘Kenapa sih semua cewek sekarang hobinya nagih?’

Hujan di luar sudah reda. Yang tersisa cuma tetes-tetes dari talang yang jatuh ke ember depan kamar.

“Kamarmu masih bocor, Yu,” kata Juki sambil ikut berdiri. “Terus tidurnya di mana?”

“Kasurnya aku geser ke pojok. Yang nggak kena tetesan.” Ayu melirik kamar Juki yang lembap. “Lagian kalau aku nginep di sini, besok Bu Rahmi cerita lagi ke semua orang.”

“Besok gentengnya aku benerin.”

“Pakai duit yang enam bulan itu?” goda Ayu.

“Pakai tangga, Yu.”

Ayu tertawa sampai harus menutup mulut biar tetangga tidak bangun. Dia membuka pintu, melangkah ke teras, lalu berhenti dan menoleh. Bantalnya dia peluk erat di dada, mukanya setengah sembunyi di baliknya.

“Mas.”

“Iya?”

“Tadi aku yang berhenti duluan,” bisiknya. Pipinya merah lagi. “Soalnya aku takut sama diri sendiri. Tapi kalau Mas serius... lain kali jangan berhenti.”

Sebelum Juki sempat menjawab, dia sudah lari kecil ke kamarnya, tiga pintu dari situ.

Klik.

Pintu kamar Ayu menutup.

Lama Juki berdiri di ambang pintu, sampai kakinya dingin diterpa angin sisa hujan.

Lalu dia masuk dan membuka laci. Gelang perak penyok itu masih di situ, terbungkus plastik.

“Aku mau,” kata Ayu tadi, waktu Juki bertanya siapa yang mau dikasih gelang sama tukang rumput.

‘Gelang ini buat janjiku ke Silvi. Ayu nggak boleh dapet barang bekas got.’

Laci itu dia tutup pelan-pelan. Ayu harus dapat gelang baru. Yang bagus. Yang dia beli pakai hasil tangannya sendiri, tangan yang sekarang bisa menghidupkan tanaman mati.

‘Pelan-pelan, Juk. Satu-satu.’

*****

Malam itu Juki tidur dengan HP dicas di samping bantal dan bibir yang masih terasa asin.

Di dalam tidur, dengung itu datang lagi.

Bzzzz...

Lebah putih terbang rendah melewati pagar besi hitam yang tinggi, menyusuri halaman berumput rapi, lalu naik ke sebuah teras luas bertiang putih. Di pojok teras ada ayunan rotan dan pot monstera besar. Daunnya menguning dan layu, hampir mati.

Lebah itu hinggap di daun monstera. Sayapnya bergetar tiga kali.

Di balik pintu kaca teras, di dinding ruang tamu, tergantung foto berbingkai emas. Seorang perempuan muda bertoga, tersenyum lebar.

Juki terbangun dengan napas tercekat. Kamarnya masih gelap. Bau madu tercium samar.

Muka di foto itu dia kenal. Kenal banget.

‘Itu... rumahnya Silvi?’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Disengat Lebah   BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RT

    Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.

  • Disengat Lebah   BAB 16 Surat di Meja Bos

    Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T

  • Disengat Lebah   BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam

    “Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K

  • Disengat Lebah   BAB 14 Mobil Hitam di Mulut Gang

    Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu

  • Disengat Lebah   BAB 13 Cek dari Kebayoran

    Jam delapan pagi, sedan hitam Bu Hesti sudah menunggu di mulut gang Kebon Jeruk.Dari kaca belakang, Juki melihat Ayu keluar dari gang sambil menenteng ember mawar. Langkah Ayu terhenti. Matanya mengikuti sedan itu sampai hilang di tikungan.‘Nanti malem aku jelasin, Yu. Sumpah.’“Pacarmu?” tanya Bu Hesti, ikut melirik kaca belakang.“Te-tetangga kos, Bu.”“Tetangga kos kok ngelihatnya begitu.” Bu Hesti tersenyum tipis. “Bohongmu jelek, Juki. Sama kayak sabun colek kemarin.”“Bu, Pak Darto nggak marah saya ikut Ibu?”“Tadi pagi Darto udah saya telepon. Hari ini kamu saya pinjam, urusan pribadi.” Bu Hesti melirik spion. “Dia nggak bakal berani nolak.”Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Tante Melinda di Kebayoran Baru. Di halaman belakangnya berdiri greenhouse kaca, luasnya sepuluh kali kamar kos Juki.Tante Melinda menyambut di pintu. Empat puluh lima tahun, rambutnya dicat cokelat tembaga, gelang emas berderet di kedua pergelangan.“Ini tukang tamannya? Kok kurus amat. Aku s

  • Disengat Lebah   BAB 12 Monstera Albo

    Pelan-pelan Juki berdiri. Gunting pangkas masih di tangannya.Kamis lalu, tatapan itu bikin dia menunduk sampai ke got. Pagi ini lututnya masih gemetar, tapi kepalanya tidak ikut tertunduk.‘Senyumin aja, Juk. Biar dia yang bingung.’“Kerja, Sil,” jawab Juki. “Mamamu yang manggil CV.”Silvi tertawa pendek. Kacamatanya dia turunkan dari kepala ke hidung, lalu dia melangkah mendekat.“Mama? Bohong. Pasti kamu yang minta Darto naruh kamu di sini.” Silvi melipat tangan. “Mau ketemu aku, kan? Nggak usah ngarep, Juk. Bulan depan aku tunangan.”“Selamat, ya.”Silvi tertegun. Dia menunggu Juki memohon, atau marah, atau minimal pura-pura cuek dengan muka merah. Juki cuma berdiri di sebelah monstera itu dan menunggu.“Kamu kenapa sih?” Nada Silvi mulai naik.“Kenapa apanya?”“Sok gaya banget. Biasanya juga nunduk.”“Kamu sendiri yang nyuruh aku kerja yang bener dulu.” Juki mengangkat gunting pangkasnya sedikit. “Nih, lagi kerja.”Silvi menatapnya lebih lama. Hidungnya bergerak sedikit, lalu dah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status