Share

7. Perkara Bocor

“Bang, bisa minggirin mobilnya? Gue mau lewat nih!”

Yanuar berjengkit ketika kaca jendela mobilnya diketuk seseorang. Ia menurunkan kaca dan mengangguk memenuhi permintaan dari seorang gadis tadi. Ada senyum malu yang tertinggal sebelum gadis itu bergerak masuk ke indekos yang sama dengan Chiara.

Mendapati sikap kaum wanita yang malu-malu salah tingkah bagi Yanuar seperti sebuah tradisi. Ia kerap mendapati gelagat seperti itu. Ia biasa menganggapnya sebagai dampak karena penampilannya yang tampan. Sayangnya, hal itu tak berlaku pada asisten barunya yang belum lama ini masuk ke dalam indekos.

Waktu baru berjalan lima menit semenjak Chiara masuk. Masih ada sisa 25 menit lagi, tapi Yanuar terlanjur bosan. Ia pun turun dari mobil, menyandarkan setengah tubuhnya di badan kendaraan bagian depan. Tangannya merogoh korek api di saku celana, lalu menyalakannya untuk membakar ujung rokok sebelum dihisapnya.

“Lama-lama kuping gue budek kalau terus-terusan tinggal di kosan kayak gini!”

Keluhan seseorang membuat kepala Yanuar tertoleh. Menyaksikan sepasang gadis baru keluar dari indekos yang ditempati Chiara. Ia tak berkeinginan mendengar percakapan dua gadis itu, tapi rungunya tetap menangkap seluruh pembicaraan.

“Tapi kasihan Chia, Bu Wati demen banget nagih ke dia. Padahal dari awal, Chiara udah bilang dia anak beasiswa, tapi Bu Wati masih aja ngotot minta biaya sewa,” timpal gadis lain.

“Bener, gue aja heran. Apalagi Bang Joko kelihatan ngebet deketin Chia. Padahal Chia-nya kelihatan nggak tertarik sama bentukan anak ibu kos. Lihat mereka udah kayak sinetron, hubungan tanpa restu.”

“Udah, ah, nggak usah ikut campur, yang ada kita dijulidin Bu Wati dan nggak dapat keringanan lagi.”

Sembari mencuri dengar, ia mengisap nikotin dan mengembuskannya melalui mulut dan hidung. Begitu memastikan dua gadis tadi pergi dan menghilang di pertigaan jalan, barulah Yanuar beringsut. Mencoba melihat-lihat bangunan indekos yang tampaknya memiliki banyak kamar. Sampai kemudian, matanya menangkap sosok Chiara sedang diomeli seorang wanita paruh baya.

Alih-alih menyusul gadis itu, Yanuar malah melirik arloji di pergelangan tangan. Kakinya bergerak munduru, hendak kembali ke mobil yang terparkir di depan. Namun, teriakan dari seorang wanita yang memaki Chiara menghentikan geraknya.

“Emang dasanya udah berani, tapi kalau diterusin bakal adu jotos,” komentar Yanuar lirih ketika berhasil memerhatikan Chiara dan ibu kos beserta sosok pria yang tengah berdebat cukup alot. “Mana udah malam begini.”

Menggaruk rambutnya asal, Yanuar membuang napas kasar sebelum akhirnya mendekati Chiara. Ibu kos yang terlihat sudah marah sekali itu hendak melayangkan tamparan, tapi Yanuar sigap menahannya dengan mencengkeram hebat. Beberapa sandiwara digencarkannya demi kebaikan asistennya yang sejak tadi melongo lantaran terkejut.

Sampai di detik ke sekian, ibu kos itu melayangkan ancaman, “Masalah ini belum selesai ya, Chiara. Saya nggak akan melepaskan kamu begitu saja setelah apa yang pacarmu ini lakukan!”

Merasa diseret lagi, Yanuar menyorot tajam wanita paruh baya itu dan berujar, “Memang saya melakukan apa?”

“Tindak kekerasan-lah, pakai ditanya!” Joko menimpali, nada bicaranya terkesan meledak-ledak karena tak terima kenyataan Chiara sudah ada pemiliknya.

Lantas Yanuar menyeringai. “Bukannya yang mengawali hal itu jelas emak lo? Dia duluan yang mau gampar pacar gue!”

Sementara Chiara masih bergeming, tak tahu harus bersikap apa terhadap tingkah bosnya. Ia ingin berdalih dan menganggap ucapan Yanuar adalah kebohongan, tapi di lain sisi, ia merasa terbantu. Mengingat ibu kosnya dan Joko tak lagi menggencarkan aksi main hakim sendiri seperti tadi.

“Nggak usah ngaku-ngaku jadi pacar Chiara, mentang-mentang muka lo ganteng kayak artis, belagu bener! Paling lo juga sama-sama nggak mampunya,” cecar Joko muntab. Tatapannya kini beralih pada Chiara, berubah melembut. “Lebih kaya Abang, Neng Rara. Kamu pasti menyesal kalau milih cowok begini.”

“Joko, tutup mulutmu!” teriak Bu Wati yang kontan membungkam bibir sang anak dengan sebelah tangan. “Sekarang kita pulang aja!”

“Tunggu dulu, saya belum selesai bicara lho padahal.” Yanuar langsung melangkah cepat dan menghadang ibu serta anak itu.

“Apa lagi sih?” keluh Bu Wati.

“Mulai detik ini, Chiara nggak akan tinggal di indekos milik Ibu lagi. Jadi, masalah biaya sudah selesai. Jangan lagi Ibu seenaknya nagih kayak lintah darat.”

Wanita itu menggersah kasar, melirik malas pada Chiara yang mematung di tempat. “Kalau begitu, cepat pindah sekarang juga. Jangan sisakan barang kamu satupun di sini biar nggak bawa sial!”

 “Ya ampun, Neng beneran mau pindah? Mau ninggalin Abang?” Joko kembali mendekati Chiara, hendak menyentuh tangan si gadis, tapi Yanuar sigap menghadang.

“Ini apa-apaan?” keluh Bu Wati melihat aksi putranya yang belum mau berhenti mendekati Chiara. “Buruan kita balik!” Ia sontak menjewer telinga Joko dan menyeretnya pergi. Tak peduli ringisan sang putra yang memekakan telinga.

Sepeninggalnya Bu Wati dan Joko, Chiara tak berhenti memerhatikan gerak-gerik Yanuar. Sampai sikapnya itu  ketahuan dan ditanggapi dengkusan kasar.

“Apa?”

Membuang napas panjang, Chiara angkat suara, “Bapak nggak seharusnya melakukan ini.”

“Kamu pikir, saya niat membantu kamu?” balas Yanuar tampak arogan dan kelewat gengsi. “Jangan kepedean, saya begini karena nggak mau kemalaman. Besok saya harus kerja, berangkat pagi.”

Chiara tak menanggapi apa pun, meski sedikit terkejut mendengar penjelasan pria itu. Ia baru  tahu kalau ada seorang bos yang seniat itu berangkat pagi ke kantor. Biasanya, atasan seenaknya masuk dan pulang, tak melihat aturan yang jelas dibuat tanpa memandang jabatan.

Daripada membuang banyak waktu, Chiara pun membereskan beberapa barang yang sudah diletakkan di luar. Ia memilah beberapa yang bisa dibawanya pergi pada urutan pertama. Tak peduli bagaimana Yanuar sekarang menilainya menyedihkan, kenyataan memang seperti itu. Hidup Chiara selalu seperti ini, kerap diremehkan dan dianggap sebelah mata oleh orang lain.

“Ini mau ngapain lagi?”

Chiara mengangkat wajah. “Beberes, Pak. Tadi Bu Wati minta saya kudu pindah malam ini juga.”

“Nggak perlu beresin semua, ambil aja seperlunya,” titah Yanuar seraya menyandarkan tubuh ke dinding sembari memantau Chiara. “Sisanya biar anak buah saya yang urus.”

“Tapi, Pak—“

Pria itu memotong, “Jika keberatan, kamu bisa pakai taksi online. Saya mau pulang sekarang.”

Seandainya Yanuar tak jadi pahlawan dadakan seperti tadi, Chiara bisa saja tak terpengaruh sama sekali dengan ancaman murahan seperti itu. Mengingat kondisinya sedang datang bulan dengan nyeri di perut yang tak tertahankan, akan ribet urusannya jika ia naik taksi.

“Sebentar, Pak, saya ambil dalaman dulu sama pakaian lain,” terangnya sebelum masuk ke kamar.

“Hmm, oke. Saya tunggu kamu di mobil.”

Beberapa potong pakaian sudah dimasukkan ke dalam tas. Ditambah buku materi yang akan ia pelajari di kampus pun ikut serta tak tertinggal. Setelah yakin semua beres, barulah Chiara keluar kamar dan hendak menguncinya. Namun, ia terkejut ketika menangkap Yanuar masih berdiri menunggunya.

“Nggak jadi nunggu di mobil?” tanyanya ringan.

Tanpa membalas sama sekali, pria itu menyambar tas yang berada di punggung Chiara. Yanuar mengambil alih dan melangkah lebih dulu keluar bangunan indekos tanpa menoleh ke belakang. Pelan-pelan Chiara mengikuti sembari bergumam dalam hati.

“Mendadak perasaanku nggak enak.” Chiara meraba bagian celana belakangnya dan merasakan sesuatu yang basah. Lantas ia memejamkan mata dan menghentikan langkah.

“Kenapa lagi?” tanya Yanuar dengan kepala menyembul dari pintu mobil. “Ada yang kelupaan?”

Chiara menggigit bibir. Bingung sekali harus menjelaskan apa yang tengah dialaminya pada seorang pria dewasa. Apalagi orang itu adalah bosnya sendiri. Bagaimana jika ia diejek ke depannya karena momen memalukan seperti ini?

Alih-alih kesal karena pertanyaannya tak dijawab, Yanuar turun dari mobil dan melangkah menuju tempat Chiara berdiri. Selagi berjalan, pria itu melepaskan jaket kulitnya dan merendahkan tubuh saat sudah berdekatan dengan Chiara. Kedua tangannya bergerak melingkari pinggul si gadis dan mengikat bagian lengan jaketnya di tubuh mungil itu.

“Pak—“

“Nggak perlu makasih. Saya lakukan ini biar jok mobil saya nggak kotor,” sambar Yanuar. “Kamu jelas nggak bisa bersihinnya, apalagi mampu bayar ganti rugi kalau jok saya kena noda darah kamu, ‘kan?”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status