LOGINAku termenung di dalam kamar kos yang sempit ini. Bukan memikirkan Mas Bagus, aku justru terngiang pada pengakuan Bas yang mengatakan jika dia adalah adik tingkatku dulu. Demi apa pun, aku tak mengingat sama sekali kita pernah bertemu.
"Wajar sih, kalau Mbak nggak ingat. Secara dulu Mbak populer banget, sedangkan saya masih mahasiswa baru yang planga-plongo." Begitulah yang diucapkan Bas tadi. Hem, memang ada benarnya. Zaman kuliah dulu, aku tak pernah banyak memerhatikan sekeliling. Aku hanya akan fokus pada akademik hingga bisa lulus dengan baik. Namun, sayang. Belum sempat aku memiliki karir yang cerah, Mas Bagus sudah mengajak menikah. Sebagai perempuan yang juga mencintainya, aku hanya bisa menerima. Bahkan pasrah saja ketika suamiku itu melarang bekerja setelah kami berumah tangga. Hah, tapi ujung-ujungnya tetap saja aku membuka usaha meski masih kecil-kecilan. Kembali lagi pada Bas. Aku jadi penasaran pada pemuda itu. Dia seperti sangat mengenalku. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya, ia masih mengingat wajahku dengan baik. Tring! Lamunanku terputus karena sebuah notifikasi pesan pada ponsel. Kuraih benda pipih tersebut, lalu kubuka pesan yang baru saja masuk itu. Dari Mas Bagus. [Pindah ke mana kamu? Kirim alamatnya!] Aku berdecih. Untuk apa Mas Bagus bertanya alamat segala? Bukannya dia sudah tidak peduli? Mataku melirik pada Aiza yang tengah asik bermain dengan bonekanya. Seketika aku tersadar jika tak boleh sampai memutus tali silaturahmi dengan Mas Bagus. Bagaimanapun, pria itu adalah ayah dari anakku. Kugerakkan jari ini di atas layar untuk membalas pesan. [Untuk apa? Apa kamu berubah pikiran?] Tring! [Nggak usah geer kamu, Yun! Aku sudah jijik lihat kamu! Aku hanya minta alamat untuk sewaktu-waktu jika perlu!] Aku terkekeh miris. Jijik katanya? Oh, Tuhan ... aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran suamiku ini. Padahal, semalam dia masih tidur sambil memeluk tubuhku. Apa secepat itu aku berubah jadi menjijikan di matanya? "Mama ...." Suara Aiza mengalihkan perhatianku. Gegas kuhampiri gadis kecil itu tanpa menghiraukan lagi pesan dari Mas Bagus. "Apa, Sayang? Aiz mau apa?" Kuusap rambut hitam bergelombang milik Aiza penuh kelembutan. Kini kami duduk di atas kasur tanpa dipan. Kasur yang sudah disediakan oleh Desi untuk kami. Tak hanya itu, Desi juga menyiapkan sebuah lemari. Tak terdapat dapur atau alat masak di kamar kecil ini. Maklum, mungkin karena ruangannya terlalu sempit. Ketika membuka pintu saja langsung menghadap pada kasur saking sempitnya. Meskipun begitu, aku tetap bersyukur karena masih ada kamar mandi yang bisa digunakan di dalam. "Aiz lapar, Mama ...." Oh, Tuhan ... aku sampai tak sadar jika putriku belum makan siang. "Ya ampun ... maafin Mama, Sayang. Ya sudah, sekarang kita cari makan di luar." Aku segera bangkit untuk meraih blazer rajut, lalu kukenakan untuk menutupi bahu. Tak lupa memasukkan dompet dan ponsel pada saku. "Ayo, Aiz!" Kuulurkan tangan ini pada Aiza yang langsung diterima olehnya. Kami pun gegas keluar dari kamar untuk mencari makan. Sejujurnya, aku tak begitu hafal daerah ini. Tempat menjual makanan pun tak tahu. Namun, aku harus tetap mencari makan untuk putriku. "Eh, Mbak Yuni mau ke mana?" Aku terperanjat saat tiba-tiba mendengar ada suara. Terlihat Bas yang tengah melongokan kepala lewat kaca jendelanya. "Bas, kamu bikin saya kaget!" gerutuku dengan kesal. Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut. Aiza pun sama. Terbukti dari bibirnya yang langsung mengerucut. "Om ini seperti hantu! Huh, Aiz tidak suka!" omel Aiza dengan mata yang mndelik pada Bas. Sontak saja aku menutup mulut Aiza menggunakan telapak tangan. "Eh, nggak boleh gitu, Sayang. Bicaranya harus sopan sama Om Bas," peringatku. Aku tak mau Aiza memiliki perangai yang tak sopan. Apalagi pada orang yang lebih tua. "Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak kecil," ujar Bas yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar. "Bukan gitu. Saya cuma nggak mau ini jadi kebiasaan nantinya. Lagipula nggak semua hal bisa dibenarkan hanya karena yang melakukannya anak kecil," terangku. Bas malah terkekeh hingga memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Entah apa yang lucu menurut pemuda itu. "Ternyata Mbak Yuni bijak juga, ya. Padahal, dulu di kampus terkenal galak," kekehnya. Aku hanya merespon dengan senyuman tipis. Segera kulangkahkan kaki karena tangan ini ditarik oleh Aiza. "Ayo, Mama. Aiz sudah lapar!" Aku pun mulai melangkah sembari memberi Aiza pengertian agar lebih sopan pada Bas. Putri keciku itu hanya mengangguk tanpa menyahut. "Mbak Yuni, tunggu!" Langkahku terhenti sampai Bas tiba dan bergabung dengan kami. "Mbak Yuni mau cari makan, ya? Ayo, barengan! Saya juga mau cari makan siang," katanya sembari tersenyum lebar. Entah apa alasan yang membuat pemuda itu terus mempertahankan senyuman saat berbicara. Aku sendiri pegal melihatnya. "Boleh, deh," sahutku. Kulangkahkan kaki ini kembali menuju jalan raya di depan. Mungkin di sana ada penjual makanan. "Hei, nama kamu itu Aiza?" Bas bertanya pada putriku sambil sedikit membungkuk. "Iya." "Wah, nama yang cantik. Sama seperti mamanya." Sontak saja langkahku terhenti mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bas. Mataku menatap tajam pada pemuda itu. "Apa maksud kamu, Bas?" Bas malah terkekeh sembari mengusap tengkuk lehernya sendiri. "Enggak ada, Mbak. Saya cuma bercanda. Kan, udah saya bilang kalau saya ini hobi bercanda," terangnya. "Ya, saya tahu. Tapi, tetap saja jangan berlebihan. Saya ini istri orang," tegasku. Meskipun rumah tanggaku bersama Mas Bagus sedang berada di ujung tanduk, tetap saja aku tak mau memanfaatkan situasi ini untuk berteman lebih dengan laki-laki lain. Kecuali ... Mas Bagus yang bermain licik lebih dulu. "Iya, Mbak. Maaf," sesal Bas dengan kepala yang tertunduk. Tak ada lagi percakapan hingga kaki kami sampai di depan sebuah warung makan yang cukup ramai. Semua tempat duduk hampir terisi penuh. Hanya ada satu meja dengan dua kursi yang masih belum ada penghuni. "Di sana aja nggak apa-apa, Mbak. Nanti saya bisa cari tempat duduk lain," ucap Bas seolah tahu isi pikiranku. Kutundukkan kepala agar bisa melihat Aiza. "Aiz mau makan di sini atau dibawa pulang?" tanyaku, berharap Aiza memilih makan di kosan saja. Berada di antara banyaknya orang membuatku tak nyaman karena perasaan ini masih kacau. "Dibungkus—" "Mending makan di sini aja. Sekalian tunggu badut lewat," sela Bas hingga Aiza tak menyelesaikan ucapannya. Aku tak memedulikan Bas. Tatapan ini tetap tertuju pada Aiza yang tampak tengah berpikir berat. "Emh ... nggak jadi. Makan di sini, ya, Ma? Aiz mau lihat badut dulu." Kuhembuskan napas berat mendengar jawaban Aiza yang akan menambah lama waktuku berada di tengah banyaknya manusia. "Oke kalau gitu," putusku. Setelahnya, aku beralih menatap pada Bas dengan penuh tuntutan. "Kamu ... nggak lagi bohongin anak saya kan, Bas?"Jika di dunia ini ada gelar laki-laki paling bahagia, maka aku adalah orangnya. Penantian panjang penuh perjuangan untuk memiliki wanita bernama Ayunina Maharani kini hampir berakhir.Hah, entah aku bermimpi apa semalam, hingga sekarang benar-benar bisa mengenakan pakaian pengantin dan siap menyandang status baru. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diganti oleh apa pun.Kutatap pantulan diriku lewat cermin. Kuletakkan tangan ini tepat di bagian hati. Menikmati rasa cinta yang kian meningkat berkali-kali lipat untuk satu anak manusia.Tuhan ... apa aku sudah gila? Padahal, aku belum resmi menjadi suaminya. Kenapa sekarang aku sudah merasa memiliki dia seutuhnya?"Papa!"Suara bocah yang selalu kurindu masuk pada pendengaran. Kuputar tubuh ini ke belakang hingga terlihat sosok cantik dan manis tengah berlari sembari mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi."Halo, Princess."Cup!Satu kecupan kudaratkan di pipi calon putri sambungku ini. Sontak saja dia terkekeh lu
Malam ini begitu mendebarkan. Bukan hanya karena aku akan bertemu dengan keluarga Bas, tapi karena acara ini juga terjadi begitu cepat. Bayangkan saja, siang tadi Ibu tiba-tiba meminta pria itu datang tanpa menerima penolakan. Beruntung Bas yang memang tengah menunggu momen ini pun langsung bersedia untuk memboyong keluarganya."Wah, Mama cantik sekali!" Aiza berseru dari ambang pintu. Aku yang tengah mematut di depan cermin pun menoleh pada putriku. "Sini, Sayang!"Aiza mendekat, disusul oleh Risma yang muncul juga. Aiza mengitari tubuhku sembari memeriksa dress yang kukenakan. Ya, sebuah dress berwarna nude dengan lapisan brukat sederhana. Hah, aku ingin tertawa saat mengingat bagaimana perjuangan untuk mendapat dress ini.Siang tadi, aku bersama Risma langsung menuju butik untuk mencari dress yang akan aku kenakan. Namun, ketika sampai kami justru malah kebingungan. Bayangkan saja, harga dress paling murah di sana begitu jauh di atas budget yang kupunya. Alhasil, aku dan Risma me
Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Bahkan sudah kejelaskan berkali-kali pun Ibu tetap memandang rendah pada Bas."Pilihanmu itu selalu jelek, Yuni! Lihat pernikahanmu sama Bagus, nggak awet, kan? Itu karena dulu Ibu nggak setuju!" hardik Ibu.Kupejamkan mata ini untuk menahan emosi yang bergejolak. Setelah dirasa tenang, baru kembali kubuka untuk menatap pada Ibu. "Jangan samakan Bas sama Bas Bagus, Bu! Lagipula aku dan Mas Bagus pisah karena sudah nggak cocok lagi, bukan karena hal lain!" Ibu menatapku makin tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh. "Terus! Bela saja terus! Nanti kalau rumah tanggamu kacau lagi, baru tahu rasa dan percaya omongan ibumu ini!"Aku diam, tak menyahut hingga Ibu keluar dari kamarku. Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan pada Bas?Tadi saat Ibu benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik, aku meminta Bas untuk pergi lebih dulu. Biar aku yang mengurus Ibu. Namun, nyatanya hingga ma
"Jangan pergi lagi, Yu. Jangan ...."Ucapan itu terus terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan. Lihatlah, sebuah tangan kekar bahkan tak mau melepaskan genggaman sejak mobil ini melaju. "Kenapa lihat aku gitu? Makin ganteng, ya?"Aku hanya terkekeh menghadapi sikap Bas yang sudah berubah seperti semula setelah tadi sempat kacau. Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan perasaan hingga aku pun kembali tenang."Aku mau beli sesuatu untuk Aiza. Tapi, apa ya?" tanyanya."Nggak usah," larangku. "Lihat kamu saja Aiz pasti senang." Bahkan gadis kecil itu selalu menyebut nama Bas ketika hendak tidur. Entahlah apa yang membuat dia begitu jatuh cinta pada sosok Bas."Tapi aku mau kasih Aiz hadiah," tukas Bas. Dia menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah toko mainan. Hem, aku tahu apa yang hendak dia beli untuk Aiza."Nggak mau ikut turun?" tanyanya dengan alis yang tertarik. Mungkin bingung karena aku hanya diam tanpa membuka pintu mobil.Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku d
Rasa panas menjalar di pipiku saat Bas bertanya seperti itu. Gejolak di dalam sana pun semakin kuat terasa. Tapi, tidak! Aku harus sadar jika Bas kali ini sudah berbeda.Kutepis tangan Bas yang masih memegang daguku hingga terlepas. Lalu, kutatap dia dengan tajam. "Jangan kurang ajar, Bas! Aku bukan perempuan yang bisa kamu mainkan!" Aku menekan setiap kata yang terucap. Bukannya apa, aku hanya ingin berhati-hati dan menjaga jarak dari pemuda ini."Sejak kapan aku mempermainkanmu? Kalau mau, dulu aku bisa diam-diam membongkar kamarmu. Aku bisa melakukan hal bodoh sesuka hatiku. Tapi, buktinya aku nggak melakukan itu, Ayu!" Bas membantah penuh penekanan, tapi masih dengan nada rendahnya."Aku nggak peduli! Intinya, mulai sekarang tolong jauhi aku, dan jangan lihatkan wajahmu lagi di depan aku dan putriku! Silakan urus hidup kamu dan kekasihmu, Bas!" Gegas aku beranjak dari atas sofa setelah mengatakan itu. Kubawa kaki ini melangkah menuju pintu. Namun, sial! Pintunya malah tak bisa di
Aku terkejut setengah mati. Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa sesak dan senang secara bersamaan saat bisa menatap pria tampan yang kini ada di hadapan.Ini ... bukan mimpi, kan?Laki-laki yang mengenakan setelan jas warna abu itu beranjak dari duduk. Kakinya melangkah perlahan seiring jantungku yang kian berdebar kencang. Semakin dekat langkahnya, maka bertambah beku tubuhku."Apa kabar?" tanyanya yang kini benar-benar ada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.Aku sedikit mendongak dengan sudut mata yang mulai terasa panas. Lidah ini kelu. Mulut pun ikut terkunci rapat hingga hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tampan yang masih sama.Jika saja tak ingat laki-laki ini sudah memiliki kekasih, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi istri, maka aku akan langsung memeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang tertahan. Namun, aku tak bisa. Ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.Kubawa pandangan ini menunduk setelah puas menatapnya. Kutarik napas dalam agar sesak di dada







