Share

Perubahan Aiza

last update publish date: 2025-12-10 22:16:37

"Om Bas nakal! Om Bas bohong! Katanya mau ada badut, tapi nggak ada! Aiz nggak suka sama Om Bas!"

Entah berapa kali putriku menyerukan kekesalannya pada Bas. Aku sampai bosan mendengarnya. Namun, sengaja tak kularang atau kuminta untuk diam.

Jujur saja, melihat Aiza yang seperti ini merupakan pemandangan yang langka sekali. Di rumah, jika dia merasa kesal pada Mas Bagus pun paling hanya diam. Tak pernah kulihat Aiza berseru dengan lantang menyuarakan kekesalan. Putri kecilku itu nyaris tanpa ekspresi jika sedang berhadapan dengan ayah kandungnya sendiri.

Tapi, ajaibnya Aiza benar-benar berani bersuara di depan Bas. Meskipun terlihat belum akur, tapi aku cukup senang karena Aiza sudah mengalami perubahan.

"Iya, iya. Om Bas minta maaf. Nanti janji deh, nggak bohong lagi," sesal Bas yang sejak tadi berjalan sambil merayu Aiza. Namun, putriku itu tetap kesal dan tak mau memaafkannya.

"Bohong! Om Bas kan, tukang bohong! Aiz nggak percaya sama Om Bas!"

Setelah tiba di dekat kosan, Aiza langsung melepas gandengan tanganku dan berlari lebih dulu. Kini aku beralih menatap Bas yang tampak frustasi karena dimusuhi Aiza.

"Lain kali jangan bohong lagi, Bas. Aiz memang masih kecil, tapi dia anak yang kritis. Nggak bisa dibohongi."

Ya, salah Bas sendiri yang malah berbohong segala. Aku sampai rela menunggu cukup lama untuk menemani Aiza yang katanya ingin melihat badut lewat. Tapi, ternyata tak ada juga hingga kami menunggu 30 menit lamanya.

"Maaf, Mbak. Aku kira anak seusia Aiz masih bisa dibohongi," kekehnya yang terlihat tanpa dosa. Beda sekali saat tadi sedang membujuk Aiza. Hah, aku jadi penasaran Bas ini makhluk macam apa!

Aku hanya menggelengkan kepala, tak bisa berkata-kata. Selanjutnya, kubawa kaki ini meneruskan langkah hingga sampai di depan kamar. Sudah ada Aiza di sana.

"Makasih sudah traktir makan, Bas. Lain kali nggak usah seperti itu lagi," ucapku setelah memutar kunci pada lubang pintu.

Entahlah maksudnya apa, tadi Bas tiba-tiba membayar makananku juga Aiza. Sekuat tenaga kutolak pun tetap memaksa.

"Cuma bayar makan, Mbak, bukan mahar. Nggak masalah," sahutnya yang membuat keningku seketika dipenuhi kerutan. Mata ini menatapnya sedikit tajam. Entah kenapa, setiap kali Bas melontarkan candaan demikian, aku merasa seperti sedang diintai.

Ditatap seperti itu, Bas langsung berubah pada mode serius. Terbukti dia sudah tak cengengesan lagi. "Bercanda, Mbak. Ya sudah, selamat istirahat Mbak Ayu."

Mulutku seketika menganga mendengar Bas memanggilku seenak jidat. Aku hendak protes, tapi Bas sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.

Dasar, bocah aneh!

"Mama ... Aiz mau masuk. Mama lama banget," keluh Aiza yang membuatku langsung tersadar. Segera kudorong pintu kamar hingga terbuka agar Aiza bisa masuk ke dalam.

"Yun!"

Sebuah suara membuat kakiku tak jadi melangkah masuk. Terlihat Desi yang berjalan menghampiri.

"Des," sapaku dengan mata yang berkaca-kaca. Meskipun seolah bersikap kuat, tetap saja ada sisi rapuh yang kusembunyikan.

Desi langsung memeluk tubuhku dengan erat. "Aku ikut sedih dengar ceritamu, Yun. Aku pun nggak nyangka Mas Bagus bisa punya pikiran seperti itu," katanya setelah melerai pelukan.

Kutarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dulu. Setelah dirasa tenang, kuajak Desi untuk duduk pada kursi kayu yang ada di depan kamar.

"Aku ambil minuman dulu ya, Des," pamitku sembari beranjak. Namun, wanita itu malah menahan lenganku untuk tetap di sana.

"Nggak usah, Yun. Kayak sama siapa aja. Duduklah, aku mau dengar cerita banyak dari kamu."

Baiklah, aku kembali duduk pada kursi di samping Desi. Kuceritakan semua tentang perubahan sikap Mas Bagus pada sahabatku ini.

"Yun, apa jangan-jangan ... Mas Bagus ada hubungan sama perempuan lain?" terka Desi dengan suara pelan.

Aku menggeleng sebagai jawaban.

"Nggak ada, atau emang kamubnggak tahu?" Dia meminta penjelasan.

Kuhembuskan napas ini secara kasar. Setelahnya baru menjawab, "Aku nggak tahu, Des. Kalaupun ada, aku udah nggak peduli. Toh, sejak Aiza kecil pun aku udah biasa mandiri."

"Emang kamu nggak cemburu kalau ternyata Mas Bagus ada wanita lain?" tanyanya yang membuatku terdiam.

Cemburu? Pasti! Bagaimanapun aku adalah seorang istri yang mencintai suami. Aku berbakti sebisaku dan menjaga diri hanya untuk Mas Bagus. Bagaimana aku tidak cemburu? Namun, di tengah kondisi seperti ini, aku tak lagi memikirkan urusan hati. Fokusku hanya untuk Aiza, bagaimana aku bisa membesarkannya sebagai ibu sekaligus ayah.

"Ya sudah, Yun. Aku ngerti perasaanmu," ujar Desi seolah mengerti meski tak kujawab pertanyaannya tadi. "Sekarang kamu tenangkan pikiran dulu. Sampai kapan pun kamu bisa tinggal di sini. Nanti aku bantu daftarkan Aiz ke sekolah yang sama dengan Devin," lanjutnya.

Aku mengangguk mengerti sembari mengucapkan terima kasih. Beruntung di saat seperti ini, Tuhan masih mau memberi pertolongan lewat orang yang benar-benar tulus seperti sahabatku ini.

"Nanti malam ke rumah, ya. Ajak Aiz sekalian. Aku mau ajak kalian makan malam buat penyambutan."

Sontak saja aku terkekeh mendengarnya. "Nggak usah dirayakan segala. Memangnya aku lagi ulang tahun?"

Desi pun ikut terkekeh juga. Setelahnya, kami berbincang tentang banyak hal. Biasa, ciri khas wanita jika baru bertemu setelah sekian lama.

Malam harinya, aku pun memenuhi undangan Desi siang tadi. Kini aku sudah memasuki rumah sahabatku itu. Bersama Aiza tentunya.

"Mama suruh langsung ke meja makan, Tante." Devin memberitahu sambil berjalan di sampingku. Tadi pemuda kecil itu juga yang membukakan pintu.

Devin merupakan anak angkat Desi dan suami yang seumuran dengan Aiza. Mereka mengadopsi Devin dari salah satu panti asuhan sejak masih bayi. Alasannya karena Desi divonis tak akan bisa memiliki keturunan.

Sungguh beruntungnya dia. Di balik kekurangan itu, sang suami masih menerima penuh kasih sayang. Bahkan dengan berlapang dada mau mengadopsi seorang putra. Sedangkan nasibku? Sudah memiliki putri sepintar Aiza pun, mata Mas Bagus seolah tertutup.

Langkahku terhenti saat tiba di ruang makan. Namun, ada satu hal yang membuat fokusku buyar.

Bas.

Kenapa pemuda itu ada di sini juga?

"Hai, Mbak," sapa Bas dengan senyuman yang menjadi ciri khas.

Aku hanya menarik kedua sudut bibir seadanya. Kemudian, menghampiri Desi yang sudah melambaikan tangan memintaku untuk mendekat.

"Selamat datang, Yun. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri." Mas Bakri, suami Desi menyambut dengan ramah.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih juga sudah diizinkan tinggal di kos milik kalian," ucapku merasa sedikit tak enak. Sejak awal aku sudah memutuskan untuk membayar kos seperti yang lainnya. Namun, Desi malah menolak dan memberikan kamar itu untuk kutempati secara cuma-cuma.

"Jangan berlebihan gitu, Yun. Kita lho, teman dari gadis," sela Desi.

"Oh ya, si Bas ini adik tingkat kita di kampus dulu," lanjutnya yang membuatku mengangguk.

"Ya, aku tahu. Meskipun nggak ingat, sih."

"Itu lho, Yun. Yang dulu pernah kasih surat sama kamu. Ingat nggak?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   POV Bas

    Jika di dunia ini ada gelar laki-laki paling bahagia, maka aku adalah orangnya. Penantian panjang penuh perjuangan untuk memiliki wanita bernama Ayunina Maharani kini hampir berakhir.Hah, entah aku bermimpi apa semalam, hingga sekarang benar-benar bisa mengenakan pakaian pengantin dan siap menyandang status baru. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diganti oleh apa pun.Kutatap pantulan diriku lewat cermin. Kuletakkan tangan ini tepat di bagian hati. Menikmati rasa cinta yang kian meningkat berkali-kali lipat untuk satu anak manusia.Tuhan ... apa aku sudah gila? Padahal, aku belum resmi menjadi suaminya. Kenapa sekarang aku sudah merasa memiliki dia seutuhnya?"Papa!"Suara bocah yang selalu kurindu masuk pada pendengaran. Kuputar tubuh ini ke belakang hingga terlihat sosok cantik dan manis tengah berlari sembari mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi."Halo, Princess."Cup!Satu kecupan kudaratkan di pipi calon putri sambungku ini. Sontak saja dia terkekeh lu

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kamu Membuatku Gila

    Malam ini begitu mendebarkan. Bukan hanya karena aku akan bertemu dengan keluarga Bas, tapi karena acara ini juga terjadi begitu cepat. Bayangkan saja, siang tadi Ibu tiba-tiba meminta pria itu datang tanpa menerima penolakan. Beruntung Bas yang memang tengah menunggu momen ini pun langsung bersedia untuk memboyong keluarganya."Wah, Mama cantik sekali!" Aiza berseru dari ambang pintu. Aku yang tengah mematut di depan cermin pun menoleh pada putriku. "Sini, Sayang!"Aiza mendekat, disusul oleh Risma yang muncul juga. Aiza mengitari tubuhku sembari memeriksa dress yang kukenakan. Ya, sebuah dress berwarna nude dengan lapisan brukat sederhana. Hah, aku ingin tertawa saat mengingat bagaimana perjuangan untuk mendapat dress ini.Siang tadi, aku bersama Risma langsung menuju butik untuk mencari dress yang akan aku kenakan. Namun, ketika sampai kami justru malah kebingungan. Bayangkan saja, harga dress paling murah di sana begitu jauh di atas budget yang kupunya. Alhasil, aku dan Risma me

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Restu Ibu

    Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Bahkan sudah kejelaskan berkali-kali pun Ibu tetap memandang rendah pada Bas."Pilihanmu itu selalu jelek, Yuni! Lihat pernikahanmu sama Bagus, nggak awet, kan? Itu karena dulu Ibu nggak setuju!" hardik Ibu.Kupejamkan mata ini untuk menahan emosi yang bergejolak. Setelah dirasa tenang, baru kembali kubuka untuk menatap pada Ibu. "Jangan samakan Bas sama Bas Bagus, Bu! Lagipula aku dan Mas Bagus pisah karena sudah nggak cocok lagi, bukan karena hal lain!" Ibu menatapku makin tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh. "Terus! Bela saja terus! Nanti kalau rumah tanggamu kacau lagi, baru tahu rasa dan percaya omongan ibumu ini!"Aku diam, tak menyahut hingga Ibu keluar dari kamarku. Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan pada Bas?Tadi saat Ibu benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik, aku meminta Bas untuk pergi lebih dulu. Biar aku yang mengurus Ibu. Namun, nyatanya hingga ma

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Melepas Rindu

    "Jangan pergi lagi, Yu. Jangan ...."Ucapan itu terus terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan. Lihatlah, sebuah tangan kekar bahkan tak mau melepaskan genggaman sejak mobil ini melaju. "Kenapa lihat aku gitu? Makin ganteng, ya?"Aku hanya terkekeh menghadapi sikap Bas yang sudah berubah seperti semula setelah tadi sempat kacau. Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan perasaan hingga aku pun kembali tenang."Aku mau beli sesuatu untuk Aiza. Tapi, apa ya?" tanyanya."Nggak usah," larangku. "Lihat kamu saja Aiz pasti senang." Bahkan gadis kecil itu selalu menyebut nama Bas ketika hendak tidur. Entahlah apa yang membuat dia begitu jatuh cinta pada sosok Bas."Tapi aku mau kasih Aiz hadiah," tukas Bas. Dia menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah toko mainan. Hem, aku tahu apa yang hendak dia beli untuk Aiza."Nggak mau ikut turun?" tanyanya dengan alis yang tertarik. Mungkin bingung karena aku hanya diam tanpa membuka pintu mobil.Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku d

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Jangan Seperti Ini ....

    Rasa panas menjalar di pipiku saat Bas bertanya seperti itu. Gejolak di dalam sana pun semakin kuat terasa. Tapi, tidak! Aku harus sadar jika Bas kali ini sudah berbeda.Kutepis tangan Bas yang masih memegang daguku hingga terlepas. Lalu, kutatap dia dengan tajam. "Jangan kurang ajar, Bas! Aku bukan perempuan yang bisa kamu mainkan!" Aku menekan setiap kata yang terucap. Bukannya apa, aku hanya ingin berhati-hati dan menjaga jarak dari pemuda ini."Sejak kapan aku mempermainkanmu? Kalau mau, dulu aku bisa diam-diam membongkar kamarmu. Aku bisa melakukan hal bodoh sesuka hatiku. Tapi, buktinya aku nggak melakukan itu, Ayu!" Bas membantah penuh penekanan, tapi masih dengan nada rendahnya."Aku nggak peduli! Intinya, mulai sekarang tolong jauhi aku, dan jangan lihatkan wajahmu lagi di depan aku dan putriku! Silakan urus hidup kamu dan kekasihmu, Bas!" Gegas aku beranjak dari atas sofa setelah mengatakan itu. Kubawa kaki ini melangkah menuju pintu. Namun, sial! Pintunya malah tak bisa di

  • Diusir Suami, Dikejar Berondong Tajir   Kamu Cemburu?

    Aku terkejut setengah mati. Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa sesak dan senang secara bersamaan saat bisa menatap pria tampan yang kini ada di hadapan.Ini ... bukan mimpi, kan?Laki-laki yang mengenakan setelan jas warna abu itu beranjak dari duduk. Kakinya melangkah perlahan seiring jantungku yang kian berdebar kencang. Semakin dekat langkahnya, maka bertambah beku tubuhku."Apa kabar?" tanyanya yang kini benar-benar ada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.Aku sedikit mendongak dengan sudut mata yang mulai terasa panas. Lidah ini kelu. Mulut pun ikut terkunci rapat hingga hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tampan yang masih sama.Jika saja tak ingat laki-laki ini sudah memiliki kekasih, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi istri, maka aku akan langsung memeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang tertahan. Namun, aku tak bisa. Ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.Kubawa pandangan ini menunduk setelah puas menatapnya. Kutarik napas dalam agar sesak di dada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status