เข้าสู่ระบบ"Ma, kita mau ke rumah Nenek?"
Pertanyaan Aiza membawa kesadaranku kembali setelah melamun sejak tadi. Kutatap gadis kecil yang duduk di sebelahhku itu. Wajah polosnya benar-benar membuat hati ini sakit. Bagaimana jika suatu saat Aiza tahu perangai Mas Bagus yang sama sekali tak peduli? Sungguh aku tak sanggup membayangkan hancurnya hati Aiza nanti. "Ma ...." Aku terkesiap. Segera kubenarkan posisi duduk menghadap pada Aiza. "Enggak. Mama mau ke suatu tempat. Nanti kita tinggal di sana. Mama janji di sana juga akan nyaman seperti di rumah." Pulang ke kampung halaman bukanlah keputusan yang tepat saat ini, sebab aku tak terlalu yakin jika keluargaku akan mengerti. Apalagi keluarga Mas Bagus yang sejak dulu seperti menjauhiku. Di mata keluargaku, pernikahan kami adalah yang paling harmonis di antara adik-adikku yang lain. Belum lagi terlihat mampu secara ekonomi. Padahal, tanpa mereka tahu, gaji Mas Bagus selalu habis oleh dirinya sendiri. Semua berjalan normal saat awal pernikahan. Hingga sikap Mas Bagus mulai berubah saat aku hamil Aiza. Saat itu juga dia ditugaskan untuk memantau cabang gudang pakan ternak di kota ini. Karena itulah, kami sekeluarga memutuskan untuk pindah dari kampung dan menetap di sini. Sejak pindah, Mas Bagus mulai tak terbuka dalam masalah keuangan. Gajinya mengalami kenaikan, tapi uang yang dia beri padaku tak bertambah sedikit pun. Padahal, aku perlu biaya lain untuk Aiza yang masih bayi kala itu. Dengan segala kesabaran yang tersisa, aku mulai membuka usaha dari rumah, menjual daster secara online. Lumayan, aku bisa memiliki penghasilan yang kugunakan untuk memenuhi kebutuhan Aiza. Seiring berjalannya waktu, usahaku mulai mengalami kenaikan. Aku pun memutuskan untuk lebih fokus lagi saat itu. Namun, tugas sebagai ibu dan istri tetap kujalani. Aiza tak pernah kekurangan suatu apa pun, begitu juga Mas Bagus. Aku tetap memperlakukan suamiku dengan baik meski dia seperti tak memikirkan kami. Tak ada selisih paham di antara kami. Hingga pada hari ini, untuk pertama kalinya aku bertengkar hebat dengan Mas Bagus hanya karena dia tak suka dengan penampilanku. Padahal, sejak dulu aku tak pernah berubah dan dia bersikap biasa-biasa saja. Hah, entahlah. Jalan hidup memang sulit untuk ditebak. "Alamatnya sudah sesuai, kan, Bu?" Aku kembali terkesiap. Kali ini karena sopir taksi memanggil dari kursi depan. "Eh, iya, Pak. Alamatnya sesuai yang ada di aplikasi." "Oh, kalau gitu kita sudah sampai, Bu." "Hah?" Kuedarkan pandangan pada sekeliling. Benar saja, ternyata sopir taksi ini sudah berhasil mengantarku pada sebuah kawasan kos-kosan. "Aduh ... maaf, saya tadi nggak fokus, Pak. Baru sadar kalau sudah sampai," sesalku. Ternyata aku sudah terlalu banyak melamun. "Nggak apa-apa, Bu. Ini barang-barangnya mau dibawa ke mana?" tanya sopir itu lagi sebelum aku turun dari taksinya. "Oh, dibawa ke teras saja, Pak. Nanti saya kasih lebih ongkosnya." Sopir itu pun mengangguk, membuatku langsung turun bersama Aiza. Kami berdiri di teras, menunggu Pak Sopir selesai mengeluarkan beberapa tas besar. Kuberi Pak Sopir uang lima puluh ribu sebagai tanda terima kasih, di luar tarif dari rumah ke sini. "Terima kasih banyak, Bu. Semoga rejekinya lancar terus." Aku hanya mengangguk sambil meng-aminkan. Setelahnya, kubawa bokong ini duduk pada kursi kayu yang ada di sana. Tak lupa Aiza kunaikkan agar ikut duduk juga. "Ini di mana, Mama?" Aiza bertanya dengan raut bingungnya. Ini memang kali pertama aku dan Aiza ke tempat ini. "Ini rumah teman Mama. Sebentar, ya. Mama mau telpon dulu," kataku. Gegas kukeluarkan benda pilih dari dalam tas, lalu kudekatkan pada telinga. "Halo, Yun. Gimana? Kamu udah sampai?" Suara Desi terdengar di seberang panggilan. "Aku baru sampai, Des. Kamu di mana? Kok, kosannya sepi?" Desi, temanku adalah pemilik kos di sini. Tadi saat benar-benar kalut, aku menghubunginya dan diminta untuk datang ke sini. Katanya masih ada satu kamar yang belum dihuni. "Duh, maaf, Yun. Aku lagi di luar, mendadak banget ini. Tapi, kunci kamarnya udah aku titipkan sama anak kos, kok. Sekalian biar dia bantu bawa barang-barang kamu. Sebentar deh, aku telpon dia dulu." Tut! Panggilan diputus sepihak oleh Desi, membuatku kesal sekali. Bagaimana aku bisa mengenali orang suruhan Desi? Laki-laki atau perempuan, ciri-ciri tubuh, bahkan namanya pun aku tak tahu. Di sini hanya ada 2 kamar yang berada di samping rumah Desi. Sedangkan kamar kos yang lain ada di belakang sana. Entah seperti apa rupanya, aku pun belum tahu. Hanya saja Desi pernah bercerita jika itu merupakan kos putra dan putri yang sengaja dipisah. "Eh, Mbak yang namanya Yuni? Ayunina Maharani?" Aku mengernyit heran saat melihat seorang pemuda yang tiba-tiba datang dan menyebutkan namaku dengan lengkap. Siapa dia? "Saya Bas, orang yang disuruh Mbak Desi buat antar Mbak Yuni ke dalam," jelasnya yang membuat aku seketika mengerti. "Oh, gitu. Saya kira siapa," ucapku sembari bangkit dari duduk. "Memangnya menurut Mbak siapa? Pangeran berkuda?" Sekali lagi aku mengernyit sembari menatap pemuda ini. Tampan memang, terlihat terawat. Namun, sikap cengengesannya sedikit membuatku mual. "A-ah, saya cuma bercanda, Mbak. Jangan kaget karena kita mulai sekarang tetanggan." "Hem." Aku hanya menyahut dengan dehaman. Selanjutnya kuminta dia untuk membantu membawa tas-tasku. Kamar yang menempel pada samping rumah Desi ternyata adalah kamar Bas. Sedang kamarku tepat ada di samping kamar pemuda itu. "Di sini agak sepi karena penghuninya cuma saya dan keluarga Mbak Desi. Kalau di belakang sih, rame pake banget. Tapi, saya lebih suka di sini. Bawaannya tenang. Apalagi sekarang ada Mbak Yuni," ujarnya panjang lebar dengan senyuman yang lebar juga. Aku terkekeh kecil untuk menghargai leluconnya. Lelucon yang sama sekali tak lucu bagiku. "Ya sudah, Bas. Makasih sudah bantu saya," ucapku, sengaja mempercepat waktu. Lama-lama meladeni pemuda ini, aku jadi ngeri sendiri. "Sama-sama, Mbak," sahutnya dibarengi dengan senyuman yang mengembang. Aku masih berdiri di ambang pintu kamar, menunggu Bas pergi dari sini. Namun, hingga beberapa menit berlalu, pemuda itu tak beranjak sama sekali. Padahal, aku sudah ingin menyusul Aiza yang sedang asik merebahkan diri. "Emh ... Bas. Maaf—" "Eh, Mbak sadar nggak kalau kita pernah ketemu?" Sial! Ucapanku harus terpotong saat Bas mengajukan pertanyaan. Tapi, tunggu! Katanya kami pernah bertemu? Di mana? Aku menggeleng sebagai jawaban. Lagipula aku merasa belum pernah bertemu dengan Bas selain sekarang. "Mbak alumni Universitas Bina Bakti, kan? Saya pun alumni saja juga." Ah, aku mengerti sekarang. Ternyata Bas adalah adik tingkatku dulu. "Oh gitu." Aku manggut-manggut. "Kok, bisa kebetulan banget, ya." "Apa mungkin kita jodoh, ya, Mbak?"Malam yang terasa lebih panjang ini kuhabiskan di rumah sakit, menatap pada seorang laki-laki yang terbaring lemah di atas bangsal dengan kepala diperban. Sudah beberapa jam lamanya setelah berhasil melakukan operasi, tapi dia masih belum sadarkan diri. Padahal, aku benar-benar sudah menanti kedua mata itu kembali menatapku. "Kamu belum makan, kan? Makanlah!" Pak Anwar meletakkan sebuah kotak makanan di depanku. Entah dari mana dia mendapatkan itu."Saya nggak lapar, Pak." Jangankan ingin makan, minum air putih saja rasanya enggan karena pikiranku belum tenang."Tetap harus makan walau tidak lapar. Makanlah! Saya tidak mau Bas marah saat sadar karena lihat kamu sakit."Aku terhenyak. Kenapa Pak Anwar bisa bicara demikian? Apa Bas banyak menceritakan tentangku pada pria ini? Tapi, untuk apa?Pak Anwar tampak mengambil duduk pada sofa di sampingku. Tangannya dengan terampil membuka penutup kotak yang terletak di atas meja hingga aroma ayam bakar menguar pada indera penciuman. "Makanla
Duniaku kembali hancur saat menyaksikan seorang laki-laki bersimbah darah di atas aspal. Matanya tertutup rapat, denyut nadinya nyaris tak terasa.Baskara Jaya Putra. Entah apa yang terjadi padanya hingga bisa mengalami kecelakaan yang sangat parah. "Bertahan, Bas." Aku berbisik dengan suara lirih. Tanganku terus menggenggam tangan Bas yang tak sadarkan diri di atas brankar. Sekarang kami sedang berada di dalam ambulan.Aiza yang ikut bersamaku mendadak bisu saat melihat kondisi Bas dari dekat. Bibir bocah itu terkunci rapat. Beruntung dia mau duduk di pangkuan seorang perawat sembari ditenangkan.Kutatap wajah yang kini penuh dengan darah, berharap matanya terbuka walau sebentar saja. Aku hanya ingin berkata, aku ada di sini bersamanya.Tolong buka matamu, Bas ....Dadaku kian sesak mengingat saat terakhir dia berpamitan dengan hati yang hancur. Ya, aku tahu itu. Dan jika sekarang dia membuka mata, aku berjanji akan mengungkapkan semuanya. Aku tidak akan membiarkan Bas pergi dengan
Pria tua baik hati bernama Pak Anwar itu ternyata tak main-main. Dia sungguh membeli rumahku dan Mas Bagus tanpa ba bi bu. Bahkan, kini uang yang Pak Anwar berikan lewat cek tengah Mas Bagus urus di bank. Rumah kami pun sekarang sudah resmi berpindah tangan.Huft!Tak apa. Semoga ini menjadi awal kehidupan baru yang akan lebih baik ke depannya. Aku sangat yakin, dengan uang hasil penjualan rumah ini, bisa kubelikan tempat tinggal baru yang lebih kecil. Aku sudah tak mau tinggal di kos Desi. Semua sudah kupertimbangkan dengan matang. Aku tak ingin merepotkan siapa pun lagi. Terlebih, Desi dan Mas Bakri yang selalu berbaik hati. Harapanku, semoga cara ini juga bisa membuat kenangan tentang Bas perlahan memudar.Ya, aku tak sanggup jika harus dibayangi kenangan pemuda itu setiap waktu, seumur hidupku. Sungguh, aku tidak sekuat itu."Sudah, Yun. Coba cek rekeningmu."Aku terhenyak kala mendengar suara Mas Bagus. Ternyata dia sudah selesai mengurus uang itu. Gegas aku berdiri sambil menga
"Yun!"Aku memutar kepala saat mendengar sebuah suara. Terlihat Mas Bagus yang tengah menghampiri. Mantan suamiku itu sudah mengenakan kemeja rapi."Ada apa, Mas?" tanyaku. Tumben sekali dia datang ke sekolah Aiza masih pagi. Biasanya kalau pun akan menjemput, pasti muncul beberapa menit sebelum putriku keluar dari kelas."Aku ada perlu," jawabnya. Laki-laki yang merupakan papa kandung Aiza itu mengambil duduk di sebelahku. "Jadi, aku mau ketemuan sama orang yang mau beli rumah kita. Kalau dia jadi beli, sih."Mulutku langsung menganga tak percaya pada apa yang baru saja Mas Bagus sampaikan. "Kamu serius, Mas?" Sudah beberapa bulan aku dan Mas Bagus memasang iklan agar rumah lama kami terjual, tapi belum ada satu pun yang berminat. Karena itulah, aku cukup terkejut saat dia membawa kabar baik ini tiba-tiba.Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu mengangguk sambil menatapku. "Serius, Yun. Kita sudah janji ketemu jam 10. Habis Aiza keluar, kita ke sana sama-sama, ya?"Tentu saja aku
Dulu sering kudengar jika di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tak menunggu esok hari, Bas benar-benar pergi dari kos Desi malam ini. Barang-barang miliknya sudah dimasukkan ke dalam mobil, siap untuk dibawa pergi oleh sang pemilik.Dari balik jendela kamar, aku hanya bisa menyaksikan Bas yang tengah menenangkan Aiza. Sejak tadi putriku itu langsung menangis saat tahu Bas akan pergi, menambah perih hati ini. Aiza terlihat terpukul sekali melebihi saat dia harus meninggalkan papa kandungnya sendiri."Nggak mau! Om Bas nggak boleh pergi!" Teriakannya masih terdengar nyaring diiringi suara tangis. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang Bas dengan sekuat tenaga. Sedang, pemuda itu dengan sabar memberi pelukan juga usapan."Nanti kita tetap ketemu, kok. Om Bas bisa video call sama Aiz. Ya?""Enggak! Aiz nggak mau!" teriak putriku. "Nanti nggak ada yang antar Aiz sekolah! Aiz juga mau diantar jemput sama Papa seperti teman-teman!"Perih? Sangat! Apa
Sebuah taman yang berada di tengah kota menjadi pilihan Bas sebagai tempat untuk kami berbicara. Entahlah, dia akan membicarakan apa. Hanya saja, dari raut wajah yang diperlihatkan sejak tadi, aku yakin jika Bas akan membicarakan hal yang serius kali ini.Sejak beberapa menit lalu kami sudah duduk berdampingan pada kursi taman. Namun, belum ada satu patah kata pun yang diucapkan. Baik aku atau pun Bas sama-sama betah dalam kebisuan."Aku mau pindah, Mbak."Degh!Aku terdiam sambil menatap Bas dengan kening yang berkerut. "Maksudnya?" tanyaku tak mengerti. Tatapan Bas yang semula lurus ke depan, kini beralih padaku. "Aku nggak tinggal di kos Mbak Desi lagi," jelasnya yang membuatku cukup terkejut.Kenapa tiba-tiba dia pindah? Bukankah dulu dia sendiri yang bilang senang tinggal di kos Desi? Aku belum merespon apa pun. Mata ini hanya bisa menatap Bas tanpa kata sambil merasakan sesak yang mulai menghantam dada. Jika Bas tak ada, bukankah hari-hari semakin tak berwarna? Lantas, dengan







