LOGINSudah beberapa kali kucoba putar ingatan ini ke belakang. Namun, tak satu pun ingatanku tentang Bas keluar. Desi bilang, Bas adalah orang yang pernah mengirim surat padaku. Tapi surat yang mana?
Seperti yang pernah Bas bilang jika dulu aku cukup populer di kampus. Karena itu tak heran lagi jika banyak laki-laki yang memberi surat untukku. Ada yang sekedar iseng, ada juga yang sampai mencurahkan isi hatinya. Tapi, saat itu hatiku tetap diisi oleh nama Mas Bagus. Bagus Dewantoro, pria yang paling kucintai. Namun, kini hampir menjadi pria yang kubenci. Tring! Bak memiliki firasat kuat, pria itu tiba-tiba mengirim sebuah pesan. Gegas kuperiksa pesan tersebut dengan malas. [Cepat kirim alamatmu! Kamu sengaja mengabaikanku?!] Kuhembuskan napas kasar setelah membaca pesan itu. Dengan malas jari ini bergerak di atas layar untuk mengetik balasan. [Jalan mawar, gang pelangi. Kos Desi.] Dia hanya butuh alamat, kan? Kurasa itu sudah cukup. Tak mau menghabiskan waktu hanya dengan menunggu balasan dari Mas Bagus, segera kumatikan daya ponsel yang ada di genggaman. Selanjutnya, kurebahkan tubuh lelah ini di samping Aiza yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi. Kutatap lamat-lamat wajah cantik nan polos putri kecilku ini. Hatiku kembali sakit mengingat nasibnya yang tak beruntung sejak bayi. Harusnya Aiza mendapat kasih sayang penuh dari Mas Bagus. Harusnya Aiza mendapat perhatian Mas Bagus setiap harinya, dan masih banyak harus-harus yang lain. Namun, itu semua hanya inginku, karena pada dasarnya Mas Bagus memang tak peduli pada Aiza bahkan sejak dilahirkan ke dunia. Tuhan ... sungguh malang nasib putriku tercinta. Kulabuhkan sebuah kecupan sayang pada kening Aiza. Putriku itu terlihat mulai gelisah dalam tidurnya. Tubuh Aiza juga mengeluarkan keringat yang cukup banyak. Aku mengerti, mungkin dia belum terbiasa tidur di kamar sempit ini tanpa ada pendingin ruangan sama sekali. "Huhu ... panas, Mama ...." Aiza bergumam dengan mata yang masih tertutup sepenuhnya. Otakku berpikir cepat, mengingat di mana kusimpan kipas. Hingga setelah beberapa saat, aku teringat jika kipas itu masih tersimpan di dalam tas besar. Benar saja. Setelah kubuka tas besar itu, bisa kutemukan sebuah kipas di sana. Segera kugunakan untuk mengipasi Aiza. Beberapa lama tanganku terus bergerak mengipasi tubuh Aiza agar dia nyaman. Setelah dia kembali terlelap, baru kurebahkan tubuh ini di sampingnya. 5 menit, 10 menit, hingga 30 menit, mataku masih belum juga terpejam. Semua hal tiba-tiba masuk ke dalam pikiran seolah tak mengizinkanku untuk tenang. Merasa pengap berada di kamar, kulangkahkan kaki ini menuju pintu. Mungkin aku harus mencari angin lebih dulu agar mata ini diserang kantuk. "Belum tidur, Mbak?" Aku terlonjak saat tiba-tiba mendengar sebuah suara. Kutolehkan kepala ke arah kanan, ternyata ada Bas di sana. "Bas, kamu buat saya kaget! Kirain bukan manusia!" omelku yang kemudian menjatuhkan bokong pada kursi kayu. Bas terkekeh di atas kursi depan kamarnya. Pemuda itu tampak sedang merokok ditemani secangkir kopi yang sisa setengah. "Terus Mbak kira apa? Mana mungkin ada setan seganteng saja." Aku tak meladeni ucapan Bas. Kufokuskan tatapan ini ke depan dengan pikiran yang jauh menerawang. Besok aku harus benar-benar memulai usaha kembali untuk menyambung hidup. Memang, Aiza masih tanggung jawab Mas Bagus, begitu pun denganku karena masih istri sahnya secara hukum. Namun, aku tak yakin Mas Bagus akan membiayai kami. "Lagi mikirin apa sih, Mbak?" Lamunanku terputus karena suara Bas. Pemuda itu tampak serius menatapku. "Nggak ada," jawabku, tak ingin Bas tahu. Bagaimanapun pemuda itu adalah orang asing bagiku. "Nggak mungkin ngelamun kalau nggak memikirkan sesuatu. Saya udah dewasa lho, Mbak." "Saya tahu," sahutku sekenanya. Lagipula siapa yang bertanya dia sudah dewasa apa belum? "Maksudnya saya tahu kalau Mbak Yuni lagi berpikir berat. Pasti lagi mikirin suaminya, kan? Nggak usah dipikirkan laki-laki kayak gitu, Mbak. Masih ada saya." Kali ini mataku menatap tajam pada Bas. Mulut pemuda itu kadang-kadang membuatku kesal meski selalu berdalih candaan. "Jangan melotot gitu, Mbak. Nih, daripada Mbak Yuni ngelamun, mending baca ini," ucapnya seraya menyerahkan sebuah kertas padaku. Aku tak lantas menerima. Kutatap sejenak kertas yang terlihat sudah lusuh itu. "Kamu koleksi kertas jaman purba?" Dia malah terkekeh menanggapi pertanyaanku. "Ternyata Mbak Yuni bisa bercanda juga." "Sudah, ambil aja. Lumayan buat hiburan," tukasnya dengan tangan yang meletakkan kertas itu di atas mejaku. Setelah itu, dia memutar gagang pintu. "Saya masuk dulu, Mbak. Jangan lupa dibaca biar bisa tidur nyenyak." Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapi sikap Bas. Baru kuambil kertas itu setelah dia benar-benar masuk ke dalam kamarnya. "Surat?" gumamku saat membuka lipatan kertas itu. Dear, Mbak Ayu. Jangan marah kupanggil seperti itu, ya? Mbak, entah kenapa sejak pertama kali melihatmu aku merasa ada yang aneh dengan hatiku. Mungkin aku terlalu dini untuk mengartikan bahwa ini perasaan cinta. Pun aku juga terkesan lancang. Tapi, aku yakin sepuluh ribu persen jika kamu adalah jodohku, Mbak. Aku dengar jika kamu sudah memiliki kekasih, tapi aku tak peduli. Jika kita tidak berjodoh sekarang, mungkin nanti. Yang pasti nama indah Ayunina Maharani sudah kupatenkan sebagai pemilik hati. Dari Baskara Jaya Putra. "Itu salinan surat yang pernah saya kasih sama Mbak Ayu dulu." Degh! Aku terperanjat kaget karena dua hal. Pertama, karena ini surat ini. Kedua, karena suara Bas yang tiba-tiba muncul kembali. "Apa maksudnya ini, Bas?" Aku menatap pemuda itu penuh tanya. Bas terlihat serius menatapku. Dia menghela napas dan duduk pada kursi di samping mejaku. "Saya yakin Mbak Ayu paham meski nggak saya jelaskan." Sikap Bas kali ini benar-benar membuatku tertegun. Pemuda itu terlihat sangat dewasa, berbeda dengan siang tadi yang selalu cengengesan. "Dan surat itu masih berlaku sampai sekarang, Mbak." Aku masih diam menunggu pemuda itu melanjutkan ucapan. "Saya tahu Mbak Ayu punya masalah sama suami. Mbak diusir dari rumah, kan?" Degh! Kenapa Bas bisa tahu? Apa Desi yang bercerita pada pemuda itu? "Demi Tuhan, saya nggak rela Mbak Ayu diperlakukan seperti itu. Dari dulu saya diam, cuma mantau Mbak Ayu dari jauh. Saya relakan laki-laki itu menikahi Mbak Ayu hingga lahir Aiza. Tapi, ternyata dia nggak bisa dipercaya. Dia terlalu pengecut untuk seorang Mbak Ayu!" Aku terperangah mendegar kata demi kata yang keluar dari mulut Bas. Kenapa dia sangat tahu tentang kehidupanku? "Apa selama ini kamu memata-matai saya, Bas?" Kutatap pemuda itu dengan tajam dan penuh tuntutan. Namun, dia malah melengkungkan senyuman lebar. "Saya akan lakuin apa pun untuk wanita yang saya cintai, Mbak." Degh!Jika di dunia ini ada gelar laki-laki paling bahagia, maka aku adalah orangnya. Penantian panjang penuh perjuangan untuk memiliki wanita bernama Ayunina Maharani kini hampir berakhir.Hah, entah aku bermimpi apa semalam, hingga sekarang benar-benar bisa mengenakan pakaian pengantin dan siap menyandang status baru. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diganti oleh apa pun.Kutatap pantulan diriku lewat cermin. Kuletakkan tangan ini tepat di bagian hati. Menikmati rasa cinta yang kian meningkat berkali-kali lipat untuk satu anak manusia.Tuhan ... apa aku sudah gila? Padahal, aku belum resmi menjadi suaminya. Kenapa sekarang aku sudah merasa memiliki dia seutuhnya?"Papa!"Suara bocah yang selalu kurindu masuk pada pendengaran. Kuputar tubuh ini ke belakang hingga terlihat sosok cantik dan manis tengah berlari sembari mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi."Halo, Princess."Cup!Satu kecupan kudaratkan di pipi calon putri sambungku ini. Sontak saja dia terkekeh lu
Malam ini begitu mendebarkan. Bukan hanya karena aku akan bertemu dengan keluarga Bas, tapi karena acara ini juga terjadi begitu cepat. Bayangkan saja, siang tadi Ibu tiba-tiba meminta pria itu datang tanpa menerima penolakan. Beruntung Bas yang memang tengah menunggu momen ini pun langsung bersedia untuk memboyong keluarganya."Wah, Mama cantik sekali!" Aiza berseru dari ambang pintu. Aku yang tengah mematut di depan cermin pun menoleh pada putriku. "Sini, Sayang!"Aiza mendekat, disusul oleh Risma yang muncul juga. Aiza mengitari tubuhku sembari memeriksa dress yang kukenakan. Ya, sebuah dress berwarna nude dengan lapisan brukat sederhana. Hah, aku ingin tertawa saat mengingat bagaimana perjuangan untuk mendapat dress ini.Siang tadi, aku bersama Risma langsung menuju butik untuk mencari dress yang akan aku kenakan. Namun, ketika sampai kami justru malah kebingungan. Bayangkan saja, harga dress paling murah di sana begitu jauh di atas budget yang kupunya. Alhasil, aku dan Risma me
Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Bahkan sudah kejelaskan berkali-kali pun Ibu tetap memandang rendah pada Bas."Pilihanmu itu selalu jelek, Yuni! Lihat pernikahanmu sama Bagus, nggak awet, kan? Itu karena dulu Ibu nggak setuju!" hardik Ibu.Kupejamkan mata ini untuk menahan emosi yang bergejolak. Setelah dirasa tenang, baru kembali kubuka untuk menatap pada Ibu. "Jangan samakan Bas sama Bas Bagus, Bu! Lagipula aku dan Mas Bagus pisah karena sudah nggak cocok lagi, bukan karena hal lain!" Ibu menatapku makin tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh. "Terus! Bela saja terus! Nanti kalau rumah tanggamu kacau lagi, baru tahu rasa dan percaya omongan ibumu ini!"Aku diam, tak menyahut hingga Ibu keluar dari kamarku. Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan pada Bas?Tadi saat Ibu benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik, aku meminta Bas untuk pergi lebih dulu. Biar aku yang mengurus Ibu. Namun, nyatanya hingga ma
"Jangan pergi lagi, Yu. Jangan ...."Ucapan itu terus terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan. Lihatlah, sebuah tangan kekar bahkan tak mau melepaskan genggaman sejak mobil ini melaju. "Kenapa lihat aku gitu? Makin ganteng, ya?"Aku hanya terkekeh menghadapi sikap Bas yang sudah berubah seperti semula setelah tadi sempat kacau. Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan perasaan hingga aku pun kembali tenang."Aku mau beli sesuatu untuk Aiza. Tapi, apa ya?" tanyanya."Nggak usah," larangku. "Lihat kamu saja Aiz pasti senang." Bahkan gadis kecil itu selalu menyebut nama Bas ketika hendak tidur. Entahlah apa yang membuat dia begitu jatuh cinta pada sosok Bas."Tapi aku mau kasih Aiz hadiah," tukas Bas. Dia menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah toko mainan. Hem, aku tahu apa yang hendak dia beli untuk Aiza."Nggak mau ikut turun?" tanyanya dengan alis yang tertarik. Mungkin bingung karena aku hanya diam tanpa membuka pintu mobil.Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku d
Rasa panas menjalar di pipiku saat Bas bertanya seperti itu. Gejolak di dalam sana pun semakin kuat terasa. Tapi, tidak! Aku harus sadar jika Bas kali ini sudah berbeda.Kutepis tangan Bas yang masih memegang daguku hingga terlepas. Lalu, kutatap dia dengan tajam. "Jangan kurang ajar, Bas! Aku bukan perempuan yang bisa kamu mainkan!" Aku menekan setiap kata yang terucap. Bukannya apa, aku hanya ingin berhati-hati dan menjaga jarak dari pemuda ini."Sejak kapan aku mempermainkanmu? Kalau mau, dulu aku bisa diam-diam membongkar kamarmu. Aku bisa melakukan hal bodoh sesuka hatiku. Tapi, buktinya aku nggak melakukan itu, Ayu!" Bas membantah penuh penekanan, tapi masih dengan nada rendahnya."Aku nggak peduli! Intinya, mulai sekarang tolong jauhi aku, dan jangan lihatkan wajahmu lagi di depan aku dan putriku! Silakan urus hidup kamu dan kekasihmu, Bas!" Gegas aku beranjak dari atas sofa setelah mengatakan itu. Kubawa kaki ini melangkah menuju pintu. Namun, sial! Pintunya malah tak bisa di
Aku terkejut setengah mati. Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa sesak dan senang secara bersamaan saat bisa menatap pria tampan yang kini ada di hadapan.Ini ... bukan mimpi, kan?Laki-laki yang mengenakan setelan jas warna abu itu beranjak dari duduk. Kakinya melangkah perlahan seiring jantungku yang kian berdebar kencang. Semakin dekat langkahnya, maka bertambah beku tubuhku."Apa kabar?" tanyanya yang kini benar-benar ada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.Aku sedikit mendongak dengan sudut mata yang mulai terasa panas. Lidah ini kelu. Mulut pun ikut terkunci rapat hingga hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tampan yang masih sama.Jika saja tak ingat laki-laki ini sudah memiliki kekasih, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi istri, maka aku akan langsung memeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang tertahan. Namun, aku tak bisa. Ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.Kubawa pandangan ini menunduk setelah puas menatapnya. Kutarik napas dalam agar sesak di dada







