Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 256 Semua Pada Naik

Share

Bab 256 Semua Pada Naik

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-10-27 12:19:29

"Nama itu udah keren. Ibu yang bikin resepnya," jawab Nindy, sambil memegangi perutnya yang sudah dua puluh dua minggu.

"Kamu duduk dulu, Dok. Dari tadi berdiri terus," ucap Malik, menarik kursi plastik ke dekat pintu.

"Kamu udah nyuruh aku duduk dua kali sebelum jam sembilan," balas Nindy, tetapi dia tetap duduk sambil tertawa.

Di dalam, Bi Inah sudah memimpin dapur dengan suara galak yang sama seperti di unit dulu. Dia membuka setiap laci dan memeriksa setiap rak dengan teliti.

"Nin, rak ini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 256 Semua Pada Naik

    "Nama itu udah keren. Ibu yang bikin resepnya," jawab Nindy, sambil memegangi perutnya yang sudah dua puluh dua minggu."Kamu duduk dulu, Dok. Dari tadi berdiri terus," ucap Malik, menarik kursi plastik ke dekat pintu."Kamu udah nyuruh aku duduk dua kali sebelum jam sembilan," balas Nindy, tetapi dia tetap duduk sambil tertawa.Di dalam, Bi Inah sudah memimpin dapur dengan suara galak yang sama seperti di unit dulu. Dia membuka setiap laci dan memeriksa setiap rak dengan teliti."Nin, rak ini kenapa tingginya nggak sama? Aku bisa naruh panci di bawah, tapi nanti pegal," ucap Bi Inah."Itu sengaja, Bi. Biar tangan Bibi nggak pegal naik turun," jawab Nindy sambil tertawa. Tukang yang memasang kompor salah meletakkan tabung gas, dan Bi Inah memukul pelan meja sambil memanggil pemiliknya."Mas, ini kompor kok ngadep tembok? Mau masak sambil lihat tembok?" tegur Bi Inah."Kan sesuai gambarnya, Bu," jawab tukang itu sambil menggaruk kepala."Gambarnya dibalik, Mas. Ibu aja tahu dari tempat

  • Dok, Please Cukup!   Bab 255 Dapur Suryani

    Malik menempelkan telapak tangannya ke perut istrinya di depan cermin. Dia menunggu tanpa bergerak, dan wajahnya berubah ketika sesuatu menyentuh telapak tangannya dari dalam."Dia nendang," bisik Malik, nyaris tidak percaya."Dari tadi dia gerak terus. Kamu aja yang baru sadar," jawab Nindy, dan dia menggenggam tangan suaminya di atas perutnya."Kamu pakai parfum apa tadi? Aku kecium dari parkiran," bisik Malik di bahu istrinya."Sisa yang kamu beliin waktu Ibu ulang tahun. Masih wangi, kan?" jawab Nindy."Wangi banget. Makanya aku nggak sabar dari tadi," balas Malik.Malik mengecup bahu istrinya, lalu pelan-pelan menarik kebaya itu turun dari pundak. Nindy menutup matanya sebentar, sebelum berbalik dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan."Kamu bawa kamar ini ke mana-mana, Dok?" tanya Nindy, menarik kerah kemeja suaminya."Kamu yang narik aku dari tadi," jawab Malik sambil membuka kancing kemejanya sendiri dengan tergesa.Nindy duduk di tepi ranjang, lalu menarik Malik agar be

  • Dok, Please Cukup!   Bab 254 Keseimbangan

    Om Har mendekat sambil membawa termosnya, lalu berbisik ke Malik dengan wajah serius. "Dokter, laki-laki topi cokelat itu tadi berdiri di luar pagar. Om lihat dari balik kaca.""Kenapa Om nggak bilang dari tadi?" tanya Malik."Om baru yakin tadi, waktu dia buka topinya buat ngelap kepala. Itu wajah yang sama dengan di lobi," jawab Om Har.Di meja sebelah, Marni sedang berbicara pelan dengan suaminya. Pak Harso menunduk dan memegang gelas air putih tanpa meminumnya."Kamu minta maaf sama Nindy, Mas?" tanya Marni."Sudah tadi pagi. Tapi aku belum minta maaf sama kamu," jawab Pak Harso, suaranya nyaris hilang."Kalau begitu nanti malam saja, di rumah. Jangan di depan tamu," balas Marni, lalu kembali menata sendok.Pak Harso naik ke pelaminan sebentar sebelum sesi foto dimulai. Dia menyalami Fajar dengan dua tangan, lalu menghadap Nindy dan menunduk sedikit, kaku tetapi tidak main-main."Terima kasih sudah datang, Nin. Saya minta maaf untuk yang dulu," ucap Pak Harso, suaranya rendah supa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 253 Lancarr

    Waktu Nindy pamit menjelang pukul enam, Marni mengantarnya sampai ke ruang tamu sambil membawa tas rotan berisi sisa rendang. "Bawa pulang. Malik pasti belum makan benar," ucap Marni.Pak Harso berdiri di ruang tamu dengan kedua tangan di belakang punggung. Dia menahan Nindy di pintu dan meminta waktu sebentar, cuma berdua, dan dia sudah menyiapkan kalimatnya sejak Fajar bilang Nindy akan duduk di barisan keluarga.Kalimat Pak Harso di ruang tamu Kamis lalu cuma permintaan maaf yang kaku, disertai pengakuan bahwa dulu dia malu punya anak yang sakit dan karena itu menyalahkan menantunya. Sabtu siang ini Nindy duduk di barisan keluarga dengan kebaya hijau pastel yang dibelikan Eleanor, dan perutnya yang hampir lima bulan kelihatan jelas di balik kain.Gedung resepsi itu penuh sejak pukul sebelas. Lampu kristal di langit-langit berkilat, dan meja prasmanan memanjang sampai ke dinding samping."Malik, kamu di mana? Kursinya udah aku siapin dari tadi," ucap Nindy dari tengah ruangan, sambi

  • Dok, Please Cukup!   Bab 252 Ketakutan Fajar

    Nindy tidak langsung menjawab. Dia menurunkan api lagi, lalu duduk di kursi sebelah Marni dengan kedua tangan terlipat di perutnya."Ibu sudah bilang itu dulu waktu aku keluar dari rumah. Ibu juga nggak bilang sekarang," jawab Nindy."Aku juga minta maaf soal tenggat satu bulan itu. Aku kasih kamu tenggat buat keluar, padahal kamu belum sembuh," ucap Marni, menatap panci."Makasih, Bu. Itu yang aku tunggu," jawab Nindy, dan dia mengulurkan tangan untuk menepuk punggung tangan mertuanya yang kasar oleh minyak dapur."Ibu mau tahu satu hal dari aku?" tanya Nindy."Apa?" tanya Marni, masih menatap panci."Kebaya buat besok itu Eleanor yang beliin. Ibu nggak perlu iri sama dia, cukup nyiapin rendang yang paling hitam," jawab Nindy, dan Marni mendengus pelan sambil menahan senyum.Marni menatap tangan itu sebentar, lalu membalikkan telapaknya dan menggenggam jari Nindy sekejap sebelum melepasnya lagi. Dia berdeham dan menyebut satu hal yang dia simpan lebih lama lagi."Perempuan bergamis y

  • Dok, Please Cukup!   Bab 251 Gelang

    Danu memasukkan kawat ke lubang gembok dan menekan pelan, berulang kali. Tangannya gemetar, dan butuh hampir sepuluh menit sampai bunyi klik kecil terdengar di tengah ruangan yang sunyi.Semua orang menahan napas. Andra memegang pinggiran lemari dengan dua tangan, sedangkan Pipit menggandeng lengan suaminya tanpa melepas pandangan dari laci itu."Dulu Suryani yang mengunci laci ini. Sekarang kamu yang harus membukanya," ucap Danu sambil mundur selangkah.Nindy membuka laci itu perlahan dengan dua jarinya. Di dalamnya ada sepasang gelang bayi perak yang masih terbungkus kertas toko, dan kertasnya sudah menguning di pinggir-pinggirnya."Gelangnya buat siapa, Kak?" tanya Pipit dari belakang Andra."Buat anak aku, Pit. Ternyata Ibu udah nyiapin dari sebelum aku lahir," jawab Nindy.Nindy mengeluarkan gelang itu dan memegangnya di telapak tangan. Ukurannya kecil sekali, dan dia teringat catatan Suryani tentang gelang yang dibeli di pasar sebelum dirinya lahir."Ibu beli ini sebelum aku lah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status