เข้าสู่ระบบDi saat yang bersamaan, Tirta juga tidak menemukan jejak Arshala. Namun, dia malah merasa lebih tenang. "Aku sudah mencari seluruh bagian bawah. Sekarang hanya ada satu kemungkinan, yaitu Arshala sudah mencapai puncak tebing."Melihat cahaya yang sudah lama tak dirasakannya, Tirta merasa sangat akrab serta hangat dan kecepatan terbangnya pun secara refleks makin cepat. Pada akhirnya, dia berhasil keluar dari tempat terlarang itu.Namun, karena kesadaran spiritual terkuras dan kekuatan spiritual juga hampir habis, Tirta hanya bisa berdiri di atas sebuah batu besar. Dia mengambil posisi tertinggi dan melihat ke sekeliling, lalu duduk bersila untuk memulihkan diri."Arshala!" Tepat pada saat itu, Tirta tiba-tiba menemukan jejak Arshala.Tirta sedang berada tidak jauh dari tepi tebing. Namun, dia tidak mendengar panggilan Tirta, malahan berdiri di depan sebuah makam yang tersusun dari batu. Dengan ekspresi penuh kesedihan dan bahu bergetar, dia menulis satu per satu kata dengan jari tangan
"Aneh sekali. Kesadaran spiritualnya belum pulih sepenuhnya pun, aura yang dipancarkannya sudah begitu kuat. Tapi sekarang, hampir nggak terasa sama sekali. Jangan-jangan dia yang menyegel dirinya sendiri?" gumam Tirta dengan kebingungan. Lagi pula, meskipun saat ini Genta sudah hampir bangkit kembali, Genta masih berada dalam kondisi tertidur. Jika tidak, Genta juga bisa membantunya mencari."Sekarang aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri," kata Tirta sambil menenangkan pikirannya.Obat spiritual yang tersisa memang tidak banyak, sehingga sekarang dia hanya bisa menyerap batu spiritual untuk memulihkan diri. Namun, batu spiritual tidak memiliki energi untuk memulihkan kesadaran spiritual, dia hanya bisa mengatur napasnya sendiri. Setelah beristirahat sekitar dua jam, dia melanjutkan pencariannya ke atas tebing.Proses pencarian berlangsung sekitar empat jam. Tirta kembali kelelahan, sehingga dia menggunakan cara yang sama untuk menggali sebuah lubang di tebing dan masuk ke dalamnya
Setelah segel di tempat ini terbuka, kabut hitam pekat yang tadinya menyelimuti tempat ini pun kini mulai menghilang.Tirta awalnya mengira kabut yang bisa menghalangi kesadaran spiritual dan juga menghasilkan angin ganas yang sangat merugikan para kultivator itu berasal dari kepala wanita itu. Namun sekarang, kenyataannya sepertinya tidak seperti itu. Dia terkejut saat menyadari seluruh kabut di jurang yang tak diketahui kedalamannya ini kini malah terus mengalir masuk ke dalam pedang kecil di tangannya."Benar-benar aneh sekali. Sebenarnya ini senjata macam apa sih? Jangan-jangan ini benaran senjata iblis," kata Tirta.Setelah pedang kecil itu kembali ke wujud aslinya, Tirta memang sudah merasa tidak nyaman. Setelah sekarang melihat kabut hitam seperti ditelan habis ke dalam pedang, dia segera menyimpannya secara terpisah di dalam ruang batu giok. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa menghentikan aliran kabut hitam. Bahkan batu giok yang tadinya putih bersih pun ikut berubah menjadi
Tirta mencoba menggenggam gagang pedang itu dengan kedua tangannya, tetapi hasilnya seperti memegang kehampaan karena kedua tangannya langsung menembus pedang itu begitu saja. Padahal pedang kecil berwarna emas itu jelas-jelas ada di depan matanya, tidak ada perubahan sedikit pun."Kenapa bisa begini?" seru Tirta yang terkejut."Ah ... aku lupa memberitahumu .... Kalau mau cabut pedang ini, kamu harus memurnikannya lebih dulu," kata wanita itu melalui kesadaran spiritualnya. Api yang terus membakarnya malah membuatnya lebih sadar, bahkan penyampaian pikirannya pun menjadi lebih cepat."Kultivasiku terlalu rendah, bahkan kesadaran spiritualku pun nggak bisa mendekat. Aku nggak mungkin bisa memurnikan pedang ini," kata Tirta yang sangat sadar diri."Nggak apa-apa, aku bisa membantumu. Dulu pemilik pedang ini juga salah satu rakyatku. Saat menyegelku, dia sudah mati. Jadi, niatnya nggak akan terlalu kuat. Selama bisa pakai kesadaran spiritualmu sebagai perantara, aku bisa memurnikannya ..
"Tapi, wanita ini langsung mau memakannya begitu melihat manusia. Dia sudah membunuh begitu banyak ahli dunia awani, dia jelas bukan orang baik. Mungkin saja rakyatnya mengkhianatinya juga karena terpaksa," kata Tirta yang sama sekali tidak merasa iba pada wanita itu.Pada saat yang bersamaan, perkataan wanita itu juga membuktikan dugaan Tirta. Pasti pedang kecil di dahi itu bersama dengan kepala wanita itu yang jatuh dari langit hingga membentuk Tebing Maut yang tak berdasar.Selain itu, ada semacam hukum alam juga yang tertanam di dalam pedang kecil itu untuk mencegah wanita itu pergi dari tempat ini. Bahkan seluruh ruang di sekitarnya juga ikut disegel, sehingga dia tidak bisa terbang."Mungkin dengan mencabut pedang ini, aku bisa keluar dari tempat ini," kata wanita itu.Tatapan Tirta tertuju pada pedang kecil berwarna emas itu, tetapi dia sangat ragu. "Bagaimana kalau aku membebaskan wanita ini karena rasa egoisku sendiri dan buat seluruh dunia awani dilanda kehancuran? Bukankah a
Tirta bahkan tidak tahu siapa yang lebih kuat di antara pria yang pernah menyelamatkannya atau pemilik pedang kecil ini. Namun, ada satu hal yang dia yakin, yaitu mereka jauh lebih kuat darinya.Radius dari luas jurang Tebing Maut itu kira-kira mencapai puluhan mil. Sayangnya, meskipun sudah mencari ke setiap sudut, Tirta tetap tidak menemukan sedikit pun jejak tentang Arshala."Sepertinya Arshala nggak jatuh ke dasar jurang ...."Pandangan Tirta tertuju pada kedua sisi tebing yang gelap gulita. "Ada beberapa pohon kering yang tumbuh di bagian atas tebing .... Tapi, aku nggak bisa terbang ke atas di tempat ini, jadi bagaimana aku bisa mencarinya satu per satu?"Saat sedang mencari di dasar jurang, Tirta sudah berkali-kali mencoba mengendalikan harta sihir untuk terbang. Dia juga mencoba menggunakan Teknik Rahasia Tubuh untuk meningkatkan kultivasinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Bahkan memanjat ke atas pun tidak bisa.Tempat ini seolah-olah sudah diberi semacam segel, memb
Mendengar perkataan Tirta, wajah ketua Sekte Kura menjadi pucat. Kemudian, dia tersenyum canggung dan menyahut, "Dik, kamu bercanda ya? Aku memang menyuruh anggota sekteku untuk menyerang bibimu, tapi dia nggak terluka. Jangan terlalu kejam, mungkin ke depannya kita akan berhubungan lagi. Kuharap ka
Bahkan napas dan denyut nadi Juwita sangat lemah sampai-sampai tidak bisa dirasakan lagi. Pikiran Juwita kalut sehingga energi internal yang kehilangan kendali di pusat energi memutuskan pembuluh darahnya. Juwita telah menjadi orang lumpuh."Bu Juwita!" panggil tetua lain. Ekspresi 7 tetua Sekte Muj
Begitu Tirta melontarkan ucapannya, Meisya langsung maju untuk menunjukkan kehebatannya. Dia tertawa dan berbicara dengan sombong, "Hei, nyalimu besar sekali. Beraninya kamu datang ke Sekte Kristala cuma karena salah paham kecil! Kami nggak perlu maju sama-sama untuk melawanmu! Ketua sekte kami juga
Heidi dan Elisa tidak tahu Sekte Mujarab dikepung karena Elisa. Ketua Sekte Mujarab yang melarang anggota lain membocorkan hal ini kepada mereka berdua. Dia takut Heidi cemas setelah tahu hal ini. Nantinya Heidi mungkin bisa melakukan hal ekstrem demi melindungi muridnya.Jadi, sekarang Heidi baru b







